Daftar isi
BAGIAN 3: RUKUN IMAN
SEBAGAI PILAR AKIDAH
BAGIAN 4: AKIDAH VS
FILSAFAT: BATASAN AKAL DALAM ISLAM
BAGIAN 5: TANTANGAN
AKIDAH DI ERA MODERN
PEMBUKAAN
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang di channel kami. Hari ini, kita akan
membahas topik yang sangat fundamental dalam Islam: Akidah. Apa itu Akidah?
Mengapa ia menjadi pondasi keyakinan seorang Muslim? Bagaimana kita memahaminya
secara mendalam? Mari kita telusuri bersama."
BAGIAN 1:
DEFINISI AKIDAH
1. Devinisi
Akidah
menurut Bahasa dan Istilah
Secara bahasa,
kata Akidah (عقيدة) berasal dari akar kata Arab ‘Aqoda-
Ya’qidu-‘Aqdun (عَقَدَ – يَعْقِدُ – عَقْـدٌ) yang berarti "ikatan, Tali/simpul,
atau perjanjian yang kokoh". Makna ini sering digunakan untuk sesuatu yang diikat dengan kuat, atau dikokohkan dalam hati
sehingga tidak mudah terlepas. Imam Ibnu Mandzur dalam kitab Lisān al-‘Arab menulis:
“العَقْدُ:
الشَّدُّ الوَثِيقُ” yang
artinya: kata "Al-'Aqdu maknanya adalah ikatan yang sangat kuat"[1] kata ini juga digunakan untuk pernikahan,
makanya ada istilah akad nikah (عقد النكاح) yang maknanya ikatan yang
sangat kokoh antara pria dan wanita untuk menjalin rumah tangga.
Sedangkan secara istilah, Akidah adalah:
العَقِيْدَةُ
الإِسْلَامِيَّةُ هِيَ الْإِيْمَانُ الْجَازِمُ بِاللَّهِ تَعَالَى،
وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَالْقَدَرِ
خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِذَلِكَ مِنْ أُصُولِ الدِّيْنِ
الْغَيْبِيَّةِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الْقُرْآنُ وَالسُّنَّةُ الصَّحِيْحَةُ.
Artinya: "Akidah Islam adalah
keyakinan yang kokoh kepada Allah Ta’ala, Malaikat-Malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, Takdir baik dan buruk, serta segala
prinsip gaib dalam agama yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah yang
sahih."[2]
Jadi makna Akidah Islam Secara istilah mencakup
Rukun Iman yang enam dan prinsip-prinsip dasar keimanan lainnya yang wajib
diyakini oleh setiap Muslim. Akidah bersifat qath’i (pasti), tidak mengandung
keraguan, dan menjadi pondasi seluruh amal ibadah.
2. Devinisi
Akidah menurut para Ulama lainya
1. Imam
Abu Hasan al-Asy'ari
Imam Abu Hasan al-Asy'ari dalam kitab Al-Ibanah 'an Ushul
ad-Diyanah berkata:
العَقِيْدَةُ هِيَ الإِيْمَانُ
بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْقَدَرِ
خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Artinya: "Akidah adalah iman kepada Allah, malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik dan
buruk."[3]
2. Imam Ibnu Qudamah
Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata:
العَقِيْدَةُ هِيَ الإِيْمَانُ
بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ،
وَالإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Artinya: "Akidah adalah iman kepada Allah, malaikat-Nya,
kitab-Nya, rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati, serta iman kepada takdir
baik dan buruk."[4]
3. Imam Abu Mansur al-Maturidi
Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam Kitab
at-Tawhid berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ التَّصْدِيْقُ بِالْجَلَانِيِّ وَالإِقْرَارُ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أُصُولِ الدِّيْنِ
Artinya: "Akidah adalah pembenaran
secara pasti dan pengakuan terhadap prinsip-prinsip agama yang dibawa oleh Nabi
Muhammad ﷺ."[5]
4. Imam At-Thabari
Imam At-Thabari dalam kitab Jami' al-Bayan
fi Tafsir al-Qur'an berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ الإِيْمَانُ بِاللهِ وَتَوْحِيْدِهِ، وَالإِقْرَارُ بِمَا أَخْبَرَ بِهِ
نَبِيُّهُ مِنْ أُمُورِ الْغَيْبِ
Artinya: "Akidah adalah iman kepada
Allah dan mengesakan-Nya, serta mengakui hal-hal gaib yang diberitakan oleh
Nabi-Nya."[6]
5. Imam an-Nawawi
Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Sahih
Muslim berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ أَنْ يُؤْمِنَ بِهِ قَلْبُهُ وَيَنْطِقَ بِهِ
لِسَانُهُ مِنْ أُصُولِ الدِّيْنِ
Artinya: "Akidah adalah hal-hal yang
wajib diimani oleh seorang mukallaf dengan hati dan diucapkan dengan lisan
berupa prinsip-prinsip agama."[7]
6. Imam al-Ghazali
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin
berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ عِلْمٌ يُطْلَبُ لِنَفْسِهِ، وَهُوَ التَّصَوُّرُ الصَّحِيْحُ لِلذَّاتِ
وَالصِّفَاتِ وَالأَفْعَالِ الإِلٰهِيَّةِ
Artinya: "Akidah adalah ilmu yang
dicari untuk dirinya sendiri, yaitu pemahaman yang benar tentang Dzat, Sifat,
dan Perbuatan Ilahi."[8]
7. Imam asy-Syafi'i
Imam asy-Syafi'i dalam kitab Ar-Risalah
berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ التَّسْلِيْمُ لِلَّهِ وَرَسُوْلِهِ فِيْمَا جَاءَ بِهِ الشَّرْعُ مِنْ
غَيْرِ تَأْوِيْلٍ
Artinya: "Akidah adalah kepasrahan
kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal-hal yang ditetapkan syariat tanpa interpretasi
(menyimpang)."[9]
8. Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah dalam kitab Al-Fiqh
al-Akbar berkata:
العَقِيْدَةُ
هِيَ الإِقْرَارُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ عَلَى
جِهَةِ الإِجْمَالِ وَالتَّفْصِيْلِ
Artinya: "Akidah adalah pengakuan
kepada Allah, para rasul-Nya, dan segala yang datang dari Allah secara global
maupun rinci."[10]
9. Imam Fakhruddin ar-Razi Mafatih al-Ghaib
berkata:
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab
العَقِيْدَةُ
هِيَ الْعِلْمُ بِمَا يَجِبُ لِلَّهِ مِنَ الصِّفَاتِ وَالتَّنْزِيْهِ عَنِ
النَّقَائِضِ وَالْمُحَالِ
Artinya: "Akidah adalah ilmu tentang
sifat-sifat wajib bagi Allah dan penyucian-Nya dari segala kekurangan dan
kemustahilan."[11]
10. Syaikh
Muhammad Abduh
Syaikh Muhammad Abduh dalam kitab Risalah at-Tauhid berkata:
العقيدة هي الأساس الذي يقوم عليه
بناء الدين، فإذا اختل الأساس اختل البناء كله
Artinya: "Akidah adalah fondasi yang menjadi tumpuan bangunan
agama. Jika fondasi rusak, seluruh bangunan akan runtuh."[12]
BAGIAN 2: RUKUN IMAN SEBAGAI PILAR AKIDAH
Akidah Islam dibangun atas 6 Rukun Iman, yakni: Iman kepada Allah, Iman
kepada para Malaikat-nya Allah, Iman kepada Kitab Suci, Iman kepada para Rasul-nya
Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada Qadha & Qadar. Hal Ini
tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 285 berikut::
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ
رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ
كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
Artinya: "Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari
Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya..."
Sekrang Mari
kita kupas satu per satu 6 rukun Iman tersebut dengan
merujuk pada penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah."
1. Iman kepada Allah
Artinya kita mengakui dengan sebenar-benar-nya
bahwa tidak ada Tuhan yang sejati yang berhak disembah kecuali Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum ad-Din berkata:
الإيمان بالله هو التصديق الجازم
بأن الله موجود لا شريك له، وأنه متصف بصفات الكمال المنزهة عن النقص
Artinya: Iman kepada Allah adalah keyakinan pasti bahwa Allah ada,
tiada sekutu bagi-Nya, dan Dia disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan yang
suci dari kekurangan.[13]
2. Iman kepada Malaikat
Yaitu meyakini bahwa Allah menciptakan para malaikat dari cahaya,
mereka tidak memiliki kehendak sendiri dan senantiasa taat kepada perintah Allah.
Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman berkata:
المؤمن يقر بأن الملائكة خلق من
نور، عباد مكرمون لا يعصون الله ما أمرهم
Artinya: Seorang mukmin meyakini bahwa malaikat adalah makhluk dari
cahaya, hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mendurhakai Allah."[14]
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Iman kepada kitab-kitab Allah berarti meyakini bahwa Allah
menurunkan wahyu kepada para rasul-Nya sebagai pedoman hidup. Al-Qur’an adalah
kitab terakhir yang menyempurnakan dan mengoreksi kitab-kitab sebelumnya.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an berkata
الإيمان بالكتب هو التصديق بأنها
منزلة من عند الله على رسله حقاً، وأنها مشتملة على الحق الذي لا يأتيه الباطل
Artinya: Iman kepada kitab-kitab adalah meyakini bahwa ia
diturunkan dari Allah kepada para rasul-Nya secara hakiki, dan mengandung
kebenaran yang tak tercampur kebatilan.[15]
Syaikh Muhammad Abduh dalam kitab Risalah at-Tauhid berkata:
القرآن خاتم الكتب، ناسخ لما قبله،
وحاكم عليها
Artinya: Al-Qur’an adalah penutup kitab-kitab suci, menghapus yang
sebelumnya, dan menjadi hakim atasnya.[16]
4. Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Seorang Muslim wajib percaya kepada semua nabi dan rasul tanpa
membeda-bedakan. Dari Adam hingga Muhammad ﷺ, mereka membawa misi yang sama: yakni mengajak
manusia menyembah Allah semata.
Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman
الرسل مبعوثون بالهدى ودين الحق،
فمن كفر بواحد منهم فقد كفر بالجميع
Artinya: Para rasul diutus dengan petunjuk dan agama yang benar.
Siapa yang mengingkari satu rasul, berarti mengingkari semuanya.[17]
Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir berkata:
محمد
خاتم الأنبياء، وجاءت رسالته عامة لكل البشرية إلى قيام الساعة
Artinya: Muhammad adalah penutup para nabi. Risalahnya universal
untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.[18]
5. Iman kepada Hari Akhir
Yaitu meyakini akan adanya kehidupan setelah mati, termasuk hisab,
surga, dan neraka. Keyakinan akan
hari akhir mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Setiap
amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah."
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum ad-Din berkata:
اليوم
الآخر هو دار الجزاء، فمن عمل صالحاً فلنفسه، ومن أساء فعليها
Artinya: Hari akhir adalah tempat pembalasan. Siapa berbuat baik,
ia menuai manfaatnya. Siapa berbuat jahat, ia menanggung risikonya."[19]
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghayb berkata:
البعث
حقيقة لا مرية فيها، دل عليه العقل والنقل
Artinya: Kebangkitan adalah kebenaran yang tak diragukan, dibuktikan
oleh akal dan wahyu."[20]
6. Iman kepada Qadha dan Qadar
Yaitu meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah
ditentukan oleh Allah, baik itu yang baik maupun yang buruk. Iman kepada takdir tidak berarti pasif. Kita tetap wajib
berikhtiar, karena Allah telah menetapkan bahwa usaha manusia adalah bagian
dari takdir-Nya."
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Sahih Muslim berkata:
القدر
سر الله تعالى في خلقه، فآمن به دون تعمق في كيفيته
Artinya: Takdir adalah rahasia Allah dalam ciptaan-Nya. Berimanlah
padanya tanpa menggali hakikatnya secara berlebihan."[21]
Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Haba’ik fi Akhbar al-Mala’ik
berkata:
العبد مجبول على الاختيار، والله
خالق كل فعل واختيار
Artinya: Manusia diciptakan dengan kebebasan memilih, tetapi Allah
adalah Pencipta setiap perbuatan dan pilihan.[22]
Enam rukun iman ini adalah fondasi yang mengikat hati seorang
Muslim dengan Sang Pencipta. Tanpa keyakinan utuh pada semua rukun ini, iman
kita ibarat bangunan retak yang mudah runtuh."
BAGIAN 3: SUMBER AKIDAH ISLAM
Akidah Islam bersumber dari dua wahyu utama: Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah ﷺ. Keduanya adalah pedoman
mutlak yang tidak boleh dipertentangkan dengan akal atau hawa nafsu.
1.
Dalil Dari Hadits
Dalil yang paling jelas dan populer tentang rukun iman adalah hadis
Jibril yang sangat masyhur yakni:
Sanad:
حَدَّثَنِي
أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمُرَ وَحُمَيْدِ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ:
Matan (Teks Arab Lengkap):
بَيْنَمَا
نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ
يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ
سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا
أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ
وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ,
وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ
اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ.
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ
بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ,
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ: صَدَقْتَ.
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ,
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: صَدَقْتَ.
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ, قَالَ: مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ
مِنَ السَّائِلِ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ: أَنْ تَلِدَ
اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ
الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ. ثُمَّ انْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ
مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اَللهُ
وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ.
Artinya:
Telah menceritakan kepadaku Abu Khaitsamah
Zuhair bin Harb, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Kahmas
dari Abdullah bin Buraidah dari Yahya bin Ya’mur dan Humayd bin ‘Abdirrahman
al-Himyari dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
"Ketika kami duduk bersama Rasulullah
ﷺ pada
suatu hari, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya,
sangat hitam rambutnya, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh, dan tidak
seorang pun dari kami mengenalnya. Hingga dia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu menyandarkan kedua
lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua
paha Nabi, kemudian berkata: 'Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.'
Rasulullah ﷺ menjawab: 'Islam adalah engkau
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan
haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.' Orang itu
berkata: 'Engkau benar.'
Orang itu bertanya lagi:
'Beritahukan kepadaku tentang Iman.' Beliau menjawab: 'Iman adalah
engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun
yang buruk.' Orang itu berkata: 'Engkau benar.'
Orang itu bertanya lagi: 'Beritahukan
kepadaku tentang Ihsan.' Beliau menjawab: 'Ihsan adalah engkau beribadah
kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya,
maka sesungguhnya Dia melihatmu.' Orang itu berkata: 'Engkau benar.'
Orang itu bertanya lagi: 'Beritahukan
kepadaku tentang Hari Kiamat.' Beliau menjawab: 'Orang yang ditanya
tentangnya tidaklah lebih tahu daripada orang yang bertanya.' Orang itu
berkata: 'Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.' Beliau menjawab: 'Yaitu
apabila seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang
yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, penggembala kambing,
berlomba-lomba meninggikan bangunan.'
Kemudian orang itu pergi. Aku diam
sejenak, lalu Nabi ﷺ
bertanya: 'Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?' Aku menjawab:
'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya dia
adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian agama
kalian.'"
(Hadis Riwayat Muslim, Kitab
al-Iman, Hadis No. 8)
2.
Dalil dari Al-Qur’an
Surah Al-Baqarah ayat 177 juga menyebutkan rukun-rukun iman secara
tersirat:
۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا
وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ
بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ
وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ
وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ
وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ
وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧
Terjemahan Kemenag 2019
177.
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat,
melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari
Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta,
dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati
janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa.
Imam Al-Qurthubi didalam kitab Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an berkata:
القرآن أصل
العقائد، ومنه تؤخذ مسائل الإيمان.
Artinya: Al-Qur’an adalah sumber utama akidah, darinya diambil
semua persoalan keimanan."[23]
Lalu Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Sahih Muslim berkata:
السنة مبينة
للقرآن، فمن رد السنة فقد رد القرآن
Artinya: Sunnah adalah penjelas Al-Qur’an. Siapa yang menolak
Sunnah, berarti menolak Al-Qur’an."[24]
PENUTUP
Akidah
adalah jantung keislaman kita. Tanpanya, amal ibadah hanyalah ritual tanpa ruh.
Mari kita pelajari, pahami, dan pertahankan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
dengan merujuk pada ulama yang otoritatif. Wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh."
REFERENSI
LENGKAP
Al-Asy’ari,
Abu Hasan. *Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah*. Beirut: Dar al-Basyair, 1990.
Abduh,
Muhammad. *Risalah at-Tauhid*. Kairo: Dar al-Manar, 2001.
Al-Qurthubi.
*Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004.
An-Nawawi.
*Syarh Sahih Muslim*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 2001.
Al-Ghazali.
*Ihya Ulum ad-Din*. Kairo: Dar al-Minhaj, 2011.
Shihab,
Quraish. *Membumikan Al-Qur’an*. Bandung: Mizan, 1999.
Ar-Razi,
Fakhruddin. *Mafatih al-Ghayb*. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
As-Suyuthi,
Jalaluddin. *Al-Haba’ik fi Akhbar al-Mala’ik*. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi,
2002.
Az-Zuhaili,
Wahbah. *Tafsir al-Munir*. Damaskus: Dar al-Fikr, 2009.
[1] [Referensi: Ibnu Mandzur, *Lisān al-‘Arab*, Beirut: Dar Sadir, 1414 H,
Jilid 3, h. 296].
[2] Ibnu Taymiyyah, Al-‘Aqidah al-Wasitiyyah, (Riyadh: Dar al-Fadhilah,
2001), hlm. 1
[3] Abu Hasan al-Asy'ari, Al-Ibanah 'an Ushul ad-Diyanah, Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, 2011, hlm. 5.
[4] Ibnu Qudamah, Lum'atul I'tiqad, Damaskus: Dar al-Fikr, 1998, hlm. 10.
[5] Abu Mansur al-Maturidi, Kitab at-Tawhid, (Kairo: Dar al-Jil, 2010), hlm. 23.
[6] At-Thabari, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, (Beirut: Muassasah
ar-Risalah, 2005, jilid 1), hlm. 45.
[7] An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, (Riyadh: Dar Tayyibah, 2006, jilid 1),
hlm. 156.
[8] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Jeddah: Dar al-Minhaj, 2011, jilid 1),
hlm. 89.
[9] Asy-Syafi'i, Ar-Risalah, (Kairo: Dar al-Hadits, 2009), hlm. 78.
[10] Abu Hanifah, Al-Fiqh al-Akbar, (Beirut: Dar al-Basha'ir al-Islamiyyah,
2002), hlm. 12.
[11] Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 2000,
jilid 1), hlm. 67.
[12] Muhammad Abduh, Risalah at-Tauhid, (Kairo: Dar al-Manar, 2001), Hlm. 32.
[13] Kitab: Ihya Ulum ad-Din*, Karya: Al-Ghazali, Penerbit: Dar al-Minhaj,
Kairo, 2011, Jilid 1, Hlm. 89.
[14] Kitab: Syu’ab al-Iman*, Karya: Al-Baihaqi, Penerbit: Maktabah
ar-Rushd, Riyadh, 2003, Jilid 2, Hlm. 210.
[15] Kitab: Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an*, Karya: Al-Qurthubi, Penerbit: Dar
al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 2004, Jilid 1, Hlm. 95.
[16] Kitab: Risalah at-Tauhid*, Karya: Muhammad Abduh, Penerbit: Dar
al-Manar, Kairo, 2001, Hlm. 67.
[17] Kitab: Syu’ab al-Iman*, Karya: Al-Baihaqi, Penerbit: Maktabah
ar-Rushd, Riyadh, 2003, Jilid 2, Hlm. 225.
[18] Kitab: Tafsir al-Munir*, Karya: Wahbah Az-Zuhaili, Penerbit: Dar
al-Fikr, Damaskus, 2009, Jilid 1, Hlm. 210.
[19] Kitab: Ihya Ulum ad-Din*, Karya: Al-Ghazali, Penerbit: Dar al-Minhaj,
Kairo, 2011, Jilid 4, Hlm. 302.
[20] Kitab: Mafatih al-Ghayb*, Karya: Fakhruddin Ar-Razi, Penerbit: Dar
al-Fikr, Beirut, 1995, Jilid 10, Hlm. 156.
[21] Kitab: Syarh Sahih Muslim*, Karya: An-Nawawi, Penerbit: Dar Ihya
at-Turats al-Arabi, Beirut, 2001, Jilid 1, Hlm. 180.
[22] Kitab: Al-Haba’ik fi Akhbar al-Mala’ik*, Karya: Jalaluddin As-Suyuthi,
Penerbit: Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 2002, Hlm. 77.
[23] Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,
2004, Jilid 1), Hlm. 78.
[24] An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 2001, Jilid 5), Hlm. 123.
