Serial Akhir Zaman (Bagian 2): Mukjizat Terbelahnya Bulan (Studi Komprehensif tentang QS. Al-Qamar: 1-2)
On Senin, April 13, 2026
Daftar isi
Muqaddimah: Signifikansi Mukjizat dalam Membangun Keimanan
A. Landasan Tekstual: Antara Al-Qur'an
dan Hadits Shahih
1. QS. Al-Qamar Ayat 1-2: Analisis
Kebahasaan dan Konteks Ayat
2. Hadits-Hadits Shahih tentang
Terbelahnya Bulan
a. Riwayat Anas bin Malik radhiyallahu
'anhu
b. Riwayat Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu 'anhu
c. Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhuma
d. Riwayat Jubair bin Muth'im
radhiyallahu 'anhu
3. Derajat Hadits dan Ijma' Ulama
B. Asbabun Nuzul dan Konteks Historis
Permintaan Kaum Musyrik
1. Latar Belakang Permintaan Mukjizat
2. Respons Kaum Musyrik: Antara
Pengakuan dan Pembangkangan
3. Analisis Mengapa Azab Tidak Segera
Turun
C. Analisis Tafsir Ayat 2: "Sihir
yang Terus-Menerus"
1. Makna "سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ"
dalam Perspektif Ulama Tafsir
2. Karakteristik Pembangkangan Kaum
Musyrik
D. Korelasi Terbelahnya Bulan dengan
Kedekatan Hari Kiamat
1. Kedekatan Hari Kiamat dalam
Perspektif Al-Qur'an
2. Terbelahnya Bulan sebagai Tanda Kiamat
(أشراط الساعة)
3. Hikmah Diabadikannya Peristiwa Ini
dalam Al-Qur'an
E. Klarifikasi terhadap Kisah-Kisah
Dhaif
1. Bantahan terhadap Kisah "Bulan
Masuk ke Lengan Baju Nabi"
2. Sumber Kesalahan dan Cara
Menyikapinya
F. Perspektif Saintifik: Antara
Pengakuan dan Penolakan
1. Klaim Penemuan Jejak Terbelahnya
Bulan oleh Ilmuwan Muslim
2. Klarifikasi Resmi NASA dan Para
Astronom
3. Sikap Ulama terhadap Klaim Saintifik
G. Hikmah dan Pelajaran dari Peristiwa
Terbelahnya Bulan
1. Mukjizat sebagai Rahmat dan Ujian
2. Pentingnya Niat yang Ikhlas dalam
Mencari Kebenaran
3. Kedekatan Hari Kiamat sebagai
Pengingat untuk Beramal
Muqaddimah: Signifikansi
Mukjizat dalam Membangun Keimanan
Dalam
diskursus teologi Islam, mukjizat (معجزة) menempati posisi sentral sebagai
instrumen pembuktian kenabian yang bersifat empiris dan inderawi. Mukjizat
didefinisikan sebagai peristiwa luar biasa yang Allah perlihatkan melalui para
nabi-Nya, yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia biasa, dan bertujuan
untuk menguatkan kebenaran risalah yang dibawa para utusan-Nya . Di antara
sekian banyak mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, peristiwa terbelahnya bulan (انشقاق القمر) memiliki keistimewaan tersendiri karena
peristiwa ini diabadikan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dan disaksikan secara
langsung oleh masyarakat Makkah pada masa kenabian.
Peristiwa
agung ini tidak hanya menjadi bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, tetapi juga mengandung pesan eskatologis
yang mendalam tentang kedekatan hari kiamat. Allah SWT berfirman:
اِقْتَرَبَتِ
السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ - وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا
وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ
Artinya:
"Telah dekat (datangnya) saat (hari kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan
jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka
berpaling dan berkata, '(Ini adalah) sihir yang terus-menerus'." (QS.
Al-Qamar [54]: 1-2)
Naskah
ini akan mengupas secara komprehensif dan mendalam tentang peristiwa
terbelahnya bulan, dimulai dari landasan tekstual dalam Al-Qur'an dan
hadits-hadits shahih, asbabun nuzul ayat, analisis terhadap respon kaum
musyrik, korelasi peristiwa ini dengan kedekatan hari kiamat, klarifikasi
terhadap kisah-kisah dhaif yang beredar di masyarakat, hingga perspektif
saintifik dalam memahami fenomena ini. Dengan pendekatan tafsir tematik (المنهج
الموضوعي) dan analisis kritis
terhadap sumber-sumber primer Islam, diharapkan naskah ini dapat memberikan
pemahaman yang utuh, sistematis, dan mendalam tentang salah satu mukjizat
terbesar Rasulullah ﷺ ini.
A. Landasan
Tekstual: Antara Al-Qur'an dan Hadits Shahih
1. QS. Al-Qamar Ayat 1-2: Analisis Kebahasaan dan Konteks Ayat
Para
ulama tafsir sepakat bahwa Surah Al-Qamar termasuk dalam kategori surah
Makkiyyah yang diturunkan sebelum peristiwa hijrah. Imam Jalaluddin Al-Mahalli
dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa ayat ini
turun sebagai respons atas permintaan kaum musyrik Quraisy kepada Nabi Muhammad
ﷺ untuk menunjukkan bukti
kebenaran kenabiannya .
Secara
linguistik, kata اقْتَرَبَت (iqtarabat) adalah bentuk fi'il madhi yang menunjukkan makna
masa lampau, tetapi mengandung makna masa depan yang pasti terjadi. Bentuk ini
dipilih untuk menunjukkan kepastian kedatangan hari kiamat, seolah-olah
peristiwa tersebut telah terjadi. Sementara itu, kata وَانْشَقَّ (wansyaqqa) juga dalam bentuk madhi,
mengindikasikan bahwa peristiwa terbelahnya bulan telah benar-benar terjadi di
masa lampau .
Imam
Abu Ja'far Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami' Al-Bayan 'an Ta'wil
Al-Qur'an menegaskan bahwa penyandingan antara kedekatan hari kiamat dan
peristiwa terbelahnya bulan mengandung makna bahwa terbelahnya bulan merupakan
salah satu tanda besar (أشراط الساعة الكبرى) yang mengindikasikan semakin dekatnya
hari kiamat. Beliau menulis:
إن
الله تعالى أخبر عباده بقرب قيام الساعة، وجعل انشقاق القمر آية على ذلك، ليكون
ذلك دليلاً لهم على صدق رسوله محمد صلى الله عليه وسلم، وقرب قيام الساعة
Artinya:
"Sesungguhnya Allah SWT mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang
dekatnya hari kiamat, dan menjadikan peristiwa terbelahnya bulan sebagai tanda
atas hal tersebut, agar peristiwa itu menjadi bukti bagi mereka atas kebenaran
Rasul-Nya Muhammad ﷺ dan kedekatan
hari kiamat."[1]
2. Hadits-Hadits Shahih tentang Terbelahnya Bulan
Peristiwa
terbelahnya bulan tidak hanya tercatat dalam Al-Qur'an, tetapi juga
diriwayatkan oleh para sahabat melalui jalur-jalur periwayatan yang mencapai
derajat mutawatir maknawi. Berikut adalah beberapa riwayat shahih yang
menjelaskan peristiwa tersebut:
a. Riwayat
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
Imam
Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka:
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً فَأَرَاهُمُ
انْشِقَاقَ الْقَمَرِ مَرَّتَيْنِ
Artinya:
"Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Makkah meminta
Rasulullah ﷺ untuk memperlihatkan
kepada mereka suatu tanda (kebenaran kenabian). Maka beliau pun memperlihatkan
kepada mereka terbelahnya bulan sebanyak dua kali." (HR. Bukhari no. 4864
dan Muslim no. 2802)
Dalam
riwayat lain yang juga dari Anas bin Malik, Imam Al-Bukhari menambahkan:
حَتَّى
رَأَوْا حِرَاءً بَيْنَ فِلْقَتَيْهِ
Artinya:
"Sehingga mereka melihat gunung Hira' berada di antara dua belahan bulan."
(HR. Bukhari no. 3867)
b. Riwayat
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Imam
Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud:
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: انْشَقَّ الْقَمَرُ
عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْقَتَيْنِ،
فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ، وَفِرْقَةً دُونَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اشْهَدُوا
Artinya:
"Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Bulan terbelah
menjadi dua bagian pada masa Rasulullah ﷺ. Satu bagian berada di atas gunung dan
bagian lainnya berada di bawahnya. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Saksikanlah!"'"
(HR. Bukhari no. 4864 dan Muslim no. 2802)
Ibnu
Mas'ud juga meriwayatkan dalam konteks yang berbeda:
بَيْنَمَا
نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنَى إِذَا
الْقَمَرُ فَلْقَتَيْنِ فَكَانَتْ فِلْقَةٌ وَرَاءَ الْجَبَلِ وَفِلْقَةٌ دُونَهُ
فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اشْهَدُوا
Artinya:
"Ketika kami sedang bersama Rasulullah di Mina, tiba-tiba bulan terbelah
menjadi dua bagian. Belahan pertama berada di balik bukit dan satunya lagi di
bawah bukit. Lalu Rasulullah bersabda kepada kami: 'Saksikanlah.'" (HR.
Muslim no. 2802)
c. Riwayat
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
Imam
Al-Bukhari meriwayatkan secara ringkas dari Ibnu Abbas:
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: انْشَقَّ الْقَمَرُ فِي زَمَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 'Bulan terbelah pada
zaman Nabi ﷺ.'" (HR. Bukhari no.
4865)
d. Riwayat
Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu
Imam
Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan:
عَنْ
جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى
عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَارَ
فِرْقَتَيْنِ عَلَى هَذَا الْجَبَلِ وَعَلَى هَذَا الْجَبَلِ فَقَالُوا: سَحَرَنَا
مُحَمَّدٌ فَقَالُوا: إِنْ كَانَ سَحَرَنَا فَإِنَّهُ لَنْ يَسْتَطِيعَ أَنْ
يَسْحَرَ النَّاسَ جَمِيعًا
Artinya:
"Dari Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Bulan terbelah
pada masa Rasulullah ﷺ hingga menjadi dua bagian; sebagian di gunung ini dan sebagian
di gunung itu. Lalu mereka (kaum musyrik) berkata: "Muhammad telah
menyihir kita." Kemudian sebagian mereka berkata: "Jika ia menyihir
kita, ia tidak akan mampu menyihir semua manusia."'" (Musnad Ahmad
no. 16762)
3. Derajat Hadits dan Ijma' Ulama
Para
ulama hadits dan ahlussunnah telah mencapai kesepakatan (ijma') bahwa peristiwa
terbelahnya bulan benar-benar terjadi secara fisik pada masa Rasulullah ﷺ. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya
menegaskan:
وَقَدْ
اتَّفَقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ قَدْ وَقَعَ فِي
زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ آيَةً مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ الْبَاهِرَةِ وَدَلَالَةً قَاطِعَةً عَلَى صِدْقِهِ وَعَلَى صِحَّةِ
نُبُوَّتِهِ
Artinya:
"Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa terbelahnya bulan benar-benar
terjadi pada zaman Nabi ﷺ, dan peristiwa itu merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran
Allah yang cemerlang serta bukti yang pasti atas kebenaran beliau dan kebenaran
kenabiannya."[2]
Imam
Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an juga menegaskan:
أَجْمَعَ
أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى أَنَّ الْقَمَرَ انْشَقَّ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّ ذَلِكَ كَانَ آيَةً لَهُ عَلَى صِدْقِ
دَعْوَتِهِ
Artinya:
"Ahlussunnah telah sepakat bahwa bulan terbelah pada masa Rasulullah ﷺ dan bahwa peristiwa itu merupakan tanda
baginya atas kebenaran dakwahnya."[3]
B. Asbabun
Nuzul dan Konteks Historis Permintaan Kaum Musyrik
1. Latar Belakang Permintaan Mukjizat
Para
sejarawan dan ulama tafsir menjelaskan bahwa masyarakat Quraisy terus-menerus
mendesak Nabi Muhammad ﷺ untuk menunjukkan mukjizat yang bersifat inderawi, sebagaimana
mukjizat para nabi terdahulu. Mereka tidak merasa puas hanya dengan mukjizat Al-Qur'an
yang bersifat rasional dan abadi, meskipun Al-Qur'an sendiri merupakan mukjizat
terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ .
Dalam
sebuah riwayat yang disebutkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah,
para pemuka Quraisy berkumpul dan mengutus Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahl,
Al-'Ash bin Wa'il, dan beberapa tokoh lainnya untuk menemui Nabi ﷺ. Mereka berkata:
إِنْ
كُنْتَ صَادِقًا فَشُقَّ لَنَا الْقَمَرَ فِرْقَتَيْنِ نِصْفًا عَلَى أَبِي
قُبَيْسٍ وَنِصْفًا عَلَى قُعَيْقِعَانَ
Artinya:
"Jika engkau benar (seorang nabi), maka belahlah bulan untuk kami menjadi
dua bagian; setengah di atas gunung Abu Qubais dan setengah lagi di atas gunung
Qu'aiqa'an."
Nabi
ﷺ kemudian bertanya kepada
mereka:
إِنْ
فَعَلْتُ تُؤْمِنُوا؟
Artinya:
"Jika aku lakukan, apakah kalian akan beriman?"
Mereka
menjawab: "Ya." Maka pada malam itu -yang merupakan malam purnama (ليلة بدر)- Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah agar mengabulkan
permintaan mereka. Seketika itu juga bulan terbelah menjadi dua bagian; satu
bagian tampak di atas gunung Abu Qubais dan bagian lainnya di atas gunung
Qu'aiqa'an .
2. Respons Kaum Musyrik: Antara Pengakuan dan Pembangkangan
Meskipun
telah menyaksikan peristiwa dahsyat tersebut dengan mata kepala sendiri, kaum
musyrik Quraisy tetap menunjukkan sikap pembangkangan. Mereka berkata:
سَحَرَنَا
مُحَمَّدٌ
Artinya:
"Muhammad telah menyihir kita."
Sebagian
mereka yang lebih moderat berkata:
إِنْ
كَانَ سَحَرَنَا فَإِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْحَرَ النَّاسَ جَمِيعًا
فَانْظُرُوا إِلَى الرُّكْبَانِ فَإِنَّهُمْ قَدِمُونَ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ فَسَلُوهُمْ
Artinya:
"Jika ia menyihir kita, ia tidak akan mampu menyihir semua orang. Maka
tunggulah para musafir yang akan datang dari berbagai penjuru, dan tanyakanlah
kepada mereka."
Keesokan
harinya, datanglah para musafir dari berbagai daerah. Ketika ditanya, mereka
semua mengaku telah menyaksikan hal yang sama: bulan terbelah menjadi dua pada
malam sebelumnya. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa para musafir dari
Yaman menceritakan bahwa mereka melihat belahan bulan seperti dua gunung yang
terpisah . Meskipun demikian, kaum musyrik tetap bersikeras dengan kekafiran
mereka dan berkata:
سَحَرَ
أَهْلَ السَّمَاءِ يَتِيمُ أَبِي طَالِبٍ
Artinya:
"Anak yatim Abu Thalib telah menyihir penduduk langit."
3. Analisis Mengapa Azab Tidak Segera Turun
Sebuah
pertanyaan penting yang muncul adalah: mengapa Allah tidak segera menurunkan
azab kepada kaum musyrik yang telah mendustakan mukjizat yang begitu nyata?
Bukankah Allah telah menegaskan dalam QS. Al-Isra' ayat 59 bahwa jika suatu
kaum meminta mukjizat lalu mereka mendustakannya, maka azab akan diturunkan?
وَمَا
مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ
Artinya:
"Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu)
tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena (tanda-tanda) itu telah
didustakan oleh orang-orang dahulu." (QS. Al-Isra' [17]: 59)
Imam
Ibnu Katsir memberikan penjelasan mendalam tentang hal ini. Dalam tafsirnya,
beliau menyatakan bahwa sebenarnya kaum Quraisy telah menyaksikan mukjizat yang
lebih besar dari apa yang mereka minta, yaitu terbelahnya bulan. Namun, Allah
memberikan pilihan kepada Rasulullah ﷺ: antara mengabulkan permintaan mereka
(dengan konsekuensi jika mereka tetap ingkar maka azab akan turun), atau
menangguhkan pengabulan permintaan tersebut. Rasulullah ﷺ memilih untuk menangguhkannya, sebagaimana
kebiasaan beliau yang selalu bersabar dalam menghadapi kaumnya .
Imam
Al-Qurthubi menambahkan:
إِنَّمَا
لَمْ يَنْزِلْ بِهِمُ الْعَذَابُ مَعَ مُشَاهَدَتِهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ
الْعَظِيمَةَ وَتَكْذِيبِهِمْ بِهَا رَحْمَةً مِنَ اللَّهِ بِهِمْ وَلِأَنَّ
فِيهِمْ مَنْ سَيُؤْمِنُ بَعْدَ ذَلِكَ كَحَمْزَةَ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا
Artinya:
"Tidak turunnya azab kepada mereka meskipun mereka telah menyaksikan ayat
yang agung ini dan mendustakannya adalah karena rahmat Allah kepada mereka, dan
karena di antara mereka ada yang akan beriman setelah peristiwa itu, seperti
Hamzah dan Umar radhiyallahu 'anhuma."[4]
C. Analisis
Tafsir Ayat 2: "Sihir yang Terus-Menerus"
1. Makna "سِحْرٌ
مُّسْتَمِرٌّ" dalam Perspektif Ulama Tafsir
Firman
Allah سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ (sihrun mustamirr) dalam QS. Al-Qamar ayat 2 menjadi objek
pembahasan menarik di kalangan ulama tafsir. Kata مُّسْتَمِرٌّ (mustamirr) memiliki beberapa makna yang
saling melengkapi:
Pertama,
makna "sesuatu yang terus-menerus" atau "berkelanjutan".
Dalam konteks ini, kaum musyrik menuduh bahwa sihir Muhammad ﷺ telah berlangsung terus-menerus dan
mempengaruhi persepsi mereka .
Kedua,
makna "sesuatu yang akan segera berlalu" atau "fana". Imam
Mujahid dan Qatadah menafsirkan mustamirr dalam arti "sesuatu yang akan
segera hilang dan lenyap". Mereka berkata:
أَيْ
سِحْرٌ ذَاهِبٌ لَيْسَ بِثَابِتٍ
Artinya:
"Yakni sihir yang akan segera hilang, tidak permanen."[5]
Ketiga,
Imam Al-Farra' berpendapat bahwa mustamirr bermakna "kuat" atau
"hebat". Maksudnya, mereka mengakui bahwa sihir itu sangat kuat
sehingga mampu mempengaruhi seluruh penduduk Makkah.
Imam
Ath-Thabari lebih cenderung menggabungkan makna-makna tersebut, karena semuanya
dapat diterima dalam konteks tuduhan kaum musyrik yang berusaha mencari alasan
untuk tidak beriman meskipun bukti telah tampak jelas.
2. Karakteristik Pembangkangan Kaum Musyrik
Allah
SWT berfirman selanjutnya:
وَكَذَّبُوا
وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
Artinya:
"Dan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka." (QS.
Al-Qamar [54]: 3)
Ayat
ini menggambarkan karakteristik fundamental kaum musyrik: penolakan terhadap
kebenaran bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena hawa nafsu dan keengganan
untuk tunduk. Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ
كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ وَاتَّبَعُوا مَا دَعَتْهُمْ إِلَيْهِ
أَهْوَاؤُهُمْ مِنَ الْجَهْلِ وَالضَّلَالِ
Artinya:
"Mereka mendustakan kebenaran ketika datang kepada mereka, dan mereka
mengikuti apa yang diserukan oleh hawa nafsu mereka berupa kebodohan dan
kesesatan."[6]
D. Korelasi
Terbelahnya Bulan dengan Kedekatan Hari Kiamat
1. Kedekatan Hari Kiamat dalam Perspektif Al-Qur'an
Frasa
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ (telah dekat hari kiamat) mengindikasikan bahwa seluruh umat
manusia, termasuk umat Nabi Muhammad ﷺ, hidup di akhir zaman. Imam Ibnu Katsir
meriwayatkan beberapa hadits yang menggambarkan kedekatan tersebut:
عَنْ
سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ هَكَذَا»
وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
Artinya:
"Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku diutus dan
hari kiamat seperti ini.' Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari
tengah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits
ini menunjukkan bahwa masa kenabian Muhammad ﷺ berada sangat dekat dengan hari kiamat,
bagaikan jarak antara dua jari. Dengan demikian, terbelahnya bulan yang terjadi
pada masa beliau merupakan salah satu tanda besar yang mengonfirmasi kedekatan
tersebut.
2. Terbelahnya Bulan sebagai Tanda Kiamat (أشراط الساعة)
Para
ulama mengkategorikan terbelahnya bulan ke dalam tanda-tanda besar hari kiamat
(أشراط الساعة الكبرى). Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan
bahwa ayat ini mengandung dua peringatan sekaligus: pertama, penegasan tentang
mukjizat Rasulullah; kedua, isyarat bahwa hari akhir semakin dekat. Ketika hari
kiamat tiba, peristiwa-peristiwa alam yang tidak lazim akan semakin jelas
terlihat. Tidak hanya bulan yang terbelah, tetapi seluruh jagat raya akan
hancur, gunung-gunung berhamburan, dan bintang-bintang berjatuhan .
Peristiwa
terbelahnya bulan yang terjadi di dunia ini merupakan gambaran kecil dari
kehancuran kosmik yang akan terjadi pada hari kiamat kelak. Dengan menyaksikan
terbelahnya bulan secara fisik, para sahabat dan kaum musyrik seolah-olah
diperlihatkan preview tentang bagaimana alam semesta akan hancur pada hari
akhir.
3. Hikmah Diabadikannya Peristiwa Ini dalam Al-Qur'an
Allah
SWT memilih untuk mengabadikan peristiwa terbelahnya bulan dalam Al-Qur'an yang
akan dibaca hingga hari kiamat, bukan sekadar membiarkannya tercatat dalam
buku-buku sejarah. Hal ini mengandung hikmah yang dalam:
1.
Sebagai bukti abadi bahwa mukjizat itu benar-benar terjadi, karena
Al-Qur'an akan selalu terjaga keasliannya.
2.
Sebagai peringatan lintas generasi bahwa hari kiamat semakin dekat,
sehingga setiap generasi dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini.
3.
Sebagai tantangan ilmiah bagi generasi mendatang untuk merenungkan
bagaimana mungkin bulan dapat terbelah dan menyatu kembali tanpa meninggalkan
jejak yang signifikan.
E. Klarifikasi
terhadap Kisah-Kisah Dhaif
1. Bantahan terhadap Kisah "Bulan Masuk ke Lengan Baju
Nabi"
Di
tengah masyarakat, beredar kisah bahwa setelah bulan terbelah, salah satu
belahannya masuk ke dalam lengan baju Nabi Muhammad ﷺ lalu keluar dari lengan yang lain. Kisah
ini perlu diluruskan karena tidak memiliki dasar dalam hadits shahih.
Imam
An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Masail Al-Mantsurah bi Fatawa
An-Nawawi memberikan penjelasan tegas tentang hal ini. Beliau ditanya mengenai
dua orang yang berselisih tentang peristiwa terbelahnya bulan. Salah seorang
mengatakan bahwa bulan terbelah menjadi dua lalu satu bagiannya masuk ke lengan
baju Nabi dan keluar dari lengan yang lain. Sementara yang lain mengatakan
bahwa bulan yang terbelah itu turun dan berada di hadapan Nabi tanpa masuk ke
lengan baju.
Imam
An-Nawawi menjawab:
الْجَوَابُ:
الِاثْنَانِ مُخْطِئَانِ؛ بَلِ الصَّوَابُ أَنَّهُ انْشَقَّ وَبَقِيَ فِي
مَوْضِعِهِ مِنَ السَّمَاءِ، وَظَهَرَتْ إِحْدَى الْفِرْقَتَيْنِ فَوْقَ
الْجَبَلِ، وَالْأُخْرَى دُونَهُ؛ هَكَذَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ
وَغَيْرِهِمَا مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Artinya:
"Jawabannya: Kedua orang itu salah. Yang benar adalah bahwa bulan terbelah
dan tetap berada di tempatnya di langit, dan tampak satu belahan di atas gunung
dan belahan lainnya di bawah gunung. Demikianlah yang shahih dalam Shahihain
(Bukhari-Muslim) dan lainnya dari riwayat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu."[7]
Pernyataan
Imam An-Nawawi ini sangat jelas membantah kedua versi cerita yang tidak
berdasar. Beliau menegaskan bahwa bulan tetap berada di langit, tidak turun ke
bumi apalagi masuk ke lengan baju Nabi. Yang benar adalah satu belahan tampak
di atas gunung dan belahan lainnya di bawah gunung - ini menunjukkan bahwa
bulan memang berada di posisinya di langit, hanya saja secara visual terlihat
seolah-olah satu bagian berada di atas gunung dan bagian lain di sisi lainnya .
2. Sumber Kesalahan dan Cara Menyikapinya
Para
ulama menjelaskan bahwa kisah-kisah semacam ini masuk ke dalam khazanah Islam
melalui dua jalur: pertama, cerita-cerita Israiliyat yang tidak terverifikasi;
kedua, berlebihan dalam mengagungkan Nabi (ghuluw) sehingga menambah-nambahkan
kisah yang tidak ada dasarnya.
Imam
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fath Al-Bari mengingatkan:
يَنْبَغِي
لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَثَبَّتَ فِي نَقْلِ الْأَخْبَارِ الْمُتَعَلِّقَةِ
بِالْمُعْجِزَاتِ، فَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْقُصَّاصِ يَرْوُونَ مَا لَا أَصْلَ
لَهُ، فَيُدْخِلُونَ فِي الدِّينِ مَا لَيْسَ مِنْهُ
Artinya:
"Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam menukil berita-berita yang
berkaitan dengan mukjizat. Sesungguhnya banyak para qashash (tukang cerita)
yang meriwayatkan hal-hal yang tidak berdasar, sehingga mereka memasukkan ke
dalam agama apa yang bukan bagian darinya."[8]
Dengan
demikian, sudah menjadi kewajiban kita untuk hanya menerima kisah-kisah
mukjizat yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits shahih, serta menolak segala
tambahan yang tidak memiliki dasar yang valid.
F. Perspektif
Saintifik: Antara Pengakuan dan Penolakan
1. Klaim Penemuan Jejak Terbelahnya Bulan oleh Ilmuwan Muslim
Beberapa
ilmuwan Muslim kontemporer, seperti Prof. Dr. Zaghlul An-Najjar, pernah
menyatakan bahwa foto-foto bulan yang diambil oleh misi Apollo NASA menunjukkan
adanya garis memanjang di permukaan bulan yang diyakini sebagai bekas
terbelahnya bulan yang kemudian menyatu kembali. Menurutnya, garis tersebut
adalah bukti ilmiah yang mengonfirmasi kebenaran Al-Qur'an dan hadits tentang
peristiwa terbelahnya bulan .
Klaim
ini kemudian menyebar luas di kalangan Muslim melalui berbagai ceramah dan
tulisan, sehingga banyak yang meyakini bahwa NASA telah "membuktikan"
mukjizat Nabi Muhammad ﷺ.
2. Klarifikasi Resmi NASA dan Para Astronom
Namun,
klaim tersebut telah mendapat bantahan resmi dari NASA dan para astronom. Brad
Bailey, staf ilmuwan dari NASA Lunar Science Institute, menyatakan dalam situs
resmi NASA:
"No current
scientific evidence reports that the Moon was split into two (or more) parts
and then reassembled at any point in the past."
Artinya:
"Tidak ada bukti ilmiah saat ini yang melaporkan bahwa Bulan terbelah
menjadi dua (atau lebih) bagian dan kemudian menyatu kembali di masa
lalu."
Lebih
lanjut, Bailey menambahkan peringatan:
"Saran saya adalah
untuk tidak mempercayai semua yang Anda baca di internet. Artikel yang ditelaah
sejawat (peer-reviewed) adalah satu-satunya sumber informasi yang valid secara
ilmiah."
Foto
yang sering digunakan sebagai "bukti" terbelahnya bulan sebenarnya
adalah foto Rima Ariadaeus, sebuah ngarai panjang (rille) di permukaan bulan
yang panjangnya sekitar 300 km. NASA menjelaskan bahwa Rima Ariadaeus adalah
sistem patahan (fault system) yang mirip dengan patahan geologi di Bumi, yang
terbentuk akibat aktivitas tektonik ketika bulan masih aktif secara vulkanik .
Prof.
Paul Groot, astronom dari Radboud University di Belanda, juga menegaskan:
"The 'split'
indicated in the bottom picture is present on the Moon, but it definitely does
not extend around the Moon. It is a feature that is most likely connected to
the impact that created Tycho crater."
Artinya:
" 'Belahan' yang ditunjukkan dalam gambar itu memang ada di Bulan, tetapi
jelas tidak melingkari Bulan. Ciri ini kemungkinan besar terkait dengan dampak yang
menciptakan kawah Tycho."
3. Sikap Ulama terhadap Klaim Saintifik
Para
ulama kontemporer memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi klaim saintifik semacam
ini. Sebagian ulama, seperti Prof. Dr. Zaghlul An-Najjar, cenderung menggunakan
temuan saintifik sebagai sarana untuk memperkuat keimanan (ijaz 'ilmi).
Sementara itu, ulama lain mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada
pembuktian ilmiah, karena iman kepada mukjizat tidak memerlukan justifikasi
dari sains.
Syaikh
Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi rahimahullah pernah menyatakan:
إِنَّ
الْمُعْجِزَةَ خَارِقَةٌ لِلْعَادَةِ، فَلَا يُمْكِنُ قِيَاسُهَا بِالْقَوَانِينِ
الطَّبِيعِيَّةِ الَّتِي نَعْرِفُهَا
Artinya:
"Sesungguhnya mukjizat itu bersifat melampaui kebiasaan (hukum alam),
sehingga tidak mungkin diukur dengan hukum-hukum alam yang kita ketahui."[9]
Dengan
demikian, ketiadaan bukti ilmiah tentang terbelahnya bulan tidak sedikitpun
mengurangi keimanan seorang Muslim, karena mukjizat pada hakikatnya berada di
luar jangkauan hukum alam yang dapat diobservasi secara empiris.
G. Hikmah
dan Pelajaran dari Peristiwa Terbelahnya Bulan
1. Mukjizat sebagai Rahmat dan Ujian
Peristiwa
terbelahnya bulan mengajarkan kita bahwa mukjizat memiliki dua fungsi
sekaligus: sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman dan sebagai ujian bagi
orang-orang yang ingkar. Bagi para sahabat yang menyaksikan peristiwa itu,
keimanan mereka semakin kokoh. Bagi kaum musyrik yang membangkang, mukjizat itu
justru menjadi sumber kesesatan karena mereka menolak untuk beriman meskipun
bukti telah tampak nyata.
Allah
SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ
الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya:
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Isra' [17]: 82)
2. Pentingnya Niat yang Ikhlas dalam Mencari Kebenaran
Sikap
kaum musyrik Quraisy yang meminta mukjizat bukan karena ingin mencari
kebenaran, tetapi karena kesombongan dan keinginan untuk membantah, menyebabkan
mereka tidak mendapatkan hidayah meskipun mukjizat telah diperlihatkan. Hal ini
mengajarkan bahwa hidayah tidak semata-mata bergantung pada bukti eksternal,
tetapi juga pada kesiapan internal seseorang untuk menerima kebenaran.
Imam
Ibnu Katsir mengomentari hal ini:
إِنَّ
الْمُشْرِكِينَ لَمْ يَكُونُوا طَالِبِينَ لِلْحَقِّ بِطَلَبِهِمُ الْآيَاتِ،
وَإِنَّمَا كَانُوا مُعَانِدِينَ مُكَابِرِينَ، فَلِذَلِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا بَعْدَ
رُؤْيَةِ الْآيَةِ الْعُظْمَى
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu tidaklah mencari kebenaran dengan
permintaan mereka akan ayat-ayat (mukjizat), tetapi mereka hanyalah orang-orang
yang keras kepala dan sombong. Oleh karena itu, mereka tidak beriman setelah
menyaksikan ayat yang agung."[10]
3. Kedekatan Hari Kiamat sebagai Pengingat untuk Beramal
Peringatan
tentang kedekatan hari kiamat melalui peristiwa terbelahnya bulan seharusnya
mendorong kita untuk senantiasa mempersiapkan bekal menuju akhirat. Imam
Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin mengingatkan:
إِنَّمَا
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، فَمَنْ زَرَعَ فِيهَا خَيْرًا يَحْصُدْ
خَيْرًا، وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا يَحْصُدْ نَدَامَةً
Artinya:
"Sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Barangsiapa menanam kebaikan di
dalamnya, ia akan memanen kebaikan. Barangsiapa menanam keburukan, ia akan
memanen penyesalan."[11]
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian komprehensif di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan penting:
·
Pertama, peristiwa terbelahnya bulan (انشقاق القمر) merupakan mukjizat nyata yang benar-benar
terjadi pada masa Rasulullah ﷺ, berdasarkan nash Al-Qur'an (QS. Al-Qamar: 1-2), hadits-hadits
shahih yang mencapai derajat mutawatir, dan ijma' ulama Ahlussunnah.
·
Kedua, peristiwa ini terjadi sebagai respons atas permintaan kaum
musyrik Quraisy yang menantang Nabi ﷺ untuk menunjukkan bukti kenabian. Meskipun
mereka menyaksikan sendiri dan dikonfirmasi oleh para musafir dari berbagai
daerah, mereka tetap bersikeras mengingkarinya dengan tuduhan sihir.
·
Ketiga, penyandingan antara kedekatan hari kiamat dan terbelahnya
bulan dalam satu ayat mengindikasikan bahwa peristiwa ini merupakan salah satu
tanda besar hari kiamat, sekaligus memberikan gambaran tentang kehancuran
kosmik yang akan terjadi pada hari akhir.
·
Keempat, kisah tentang masuknya belahan bulan ke lengan baju Nabi
adalah kisah yang tidak berdasar dan telah dibantah oleh Imam An-Nawawi dan
para ulama hadits lainnya. Yang benar adalah bulan tetap berada di langit,
dengan satu belahan tampak di atas gunung dan belahan lainnya di bawah gunung.
·
Kelima, klaim saintifik tentang ditemukannya bukti terbelahnya
bulan oleh NASA tidak dapat diverifikasi secara ilmiah, dan pernyataan resmi
NASA justru membantah klaim tersebut. Namun, ketiadaan bukti ilmiah tidak
mengurangi keimanan seorang Muslim, karena mukjizat pada hakikatnya melampaui
hukum alam.
·
Keenam, peristiwa ini mengandung pelajaran berharga tentang
pentingnya niat yang ikhlas dalam mencari kebenaran, bahaya kesombongan dalam
menolak kebenaran, dan urgensi mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat yang
semakin dekat.
·
Semoga uraian ini dapat memperkuat keimanan kita kepada Allah dan
Rasul-Nya, serta menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang mengambil
pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Daftar
Pustaka
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (1379 H). Fath Al-Bari bi Syarh Shahih
Al-Bukhari. Beirut: Dar Al-Ma'rifah.
Al-Ghazali, Abu Hamid. (t.th.). Ihya' 'Ulumiddin. Beirut: Dar
Al-Ma'rifah.
An-Nawawi, Yahya bin Syarf. (2004). Al-Masail Al-Mantsurah bi
Fatawa An-Nawawi. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah.
Asy-Sya'rawi, Muhammad Mutawalli. (1997). Tafsir Asy-Sya'rawi.
Kairo: Akhbar Al-Yaum.
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. (2000). Jami' Al-Bayan 'an Ta'wil
Ay Al-Qur'an. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. (1964). Al-Jami' li Ahkam
Al-Qur'an. Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1999). Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim.
Beirut: Dar Thayyibah.
Ibnu Hajar Al-Haitami, Ahmad. (t.th.). Al-Jawhar Al-Munazhzham fi
Ziyarat Qabr Al-Nabi Al-Mu'azzham. Kairo: Maktabah Al-Qahirah.
Al-Mahalli, Jalaluddin, & As-Suyuthi, Jalaluddin. (t.th.).
Tafsir Al-Jalalain. Kairo: Dar Al-Hadits.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan
Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (1422 H). Shahih Al-Bukhari.
Beirut: Dar Thauq An-Najah.
Muslim bin Al-Hajjaj. (t.th.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya'
At-Turats Al-'Arabi.
Ahmad bin Hanbal. (1421 H). Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Al-Baihaqi, Ahmad bin Husain. (1405 H). Dala'il An-Nubuwwah. Beirut:
Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah.
An-Najjar, Zaghlul. (2008). Min Ayat Al-I'jaz Al-'Ilmi: Al-Qamar.
Kairo: Maktabah Al-Syuruq Al-Dawliyyah.
NASA. (2010). Evidence of the moon having been split in two. Solar
System Exploration Research Virtual Institute. Diakses dari https://sservi.nasa.gov/
AFP Fact Check. (2022). Social media posts falsely claim the Moon
'was once split in two'. Diakses dari https://factcheck.afp.com/
[1] Ath-Thabari, Jami' Al-Bayan, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2000, Juz
22, hlm. 485
[2] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, 1999,
Juz 7, hlm. 470
[3] Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Kairo: Dar Al-Kutub
Al-Mishriyyah, 1964, Juz 17, hlm. 128
[4] (Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Kairo: Dar Al-Kutub
Al-Mishriyyah, 1964, Juz 17, hlm. 130)
[5] (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, 1999,
Juz 7, hlm. 471)
[6] (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, 1999,
Juz 7, hlm. 472)
[7] (An-Nawawi, Al-Masail Al-Mantsurah bi Fatawa An-Nawawi, Beirut: Dar
Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, 2004, hlm. 174)
[8] (Ibnu Hajar, Fath Al-Bari, Beirut: Dar Al-Ma'rifah, 1379 H, Juz 10,
hlm. 215)
[9] (Asy-Sya'rawi, Tafsir Asy-Sya'rawi, Kairo: Akhbar Al-Yaum, 1997, Juz
1, hlm. 45)
[10] (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, 1999,
Juz 7, hlm. 474)
[11] (Al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin,
Beirut: Dar Al-Ma'rifah, Juz 4, hlm. 295)
