Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Usia Aisyah ketika menikah dengan Nabi Muhammad saw

By On Kamis, November 25, 2021



A. PENDAHULUAN

Selama ini kita diberitahu bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA. putri abu bakar ketika Aisyah ra. masih berumur 6 tahun, dan mulai tinggal serumah dengan beliau ketika Aisyah RA menginjak. umur 9 tahun. Riwayat ini tercatat didalam Kutubus Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa’i),

Ahmad bin hambal dalam Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, al-Hakim dalam al-Mustadrak, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan buku-buku sejarah Islam yang diajarkan selama ratusan tahun. Hal ini telah dianggap menjadi kebenaran dan dibenarkan oleh para ulama dan guru-guru agama dimanapun. Bahkan didalam banyak riwayat diceritakan ketika Aisyah RA. Menikah, beliau masih suka bermain-main dengan boneka dan ayunannya.

Pada zaman sekarang ketika kita mendengar ada seseorang yang berumur 50 tahun menikahi anak beruumur 6 tahun pasti orang tersebut akan dituduh yang negative seperti mengidap penyakit pedofilia[1] atau punya kelainan seksual. Akan tetapi sayangnya hal tersebut sudah pernah dipraktekan oleh rasulullah SAW sendiri. Lalu bagaimana para Ulama menjelaskan hal ini…?

Ada yang menarik…! belakangan muncul kajian kritis menyoroti usia Aisyah RA saat menikah dengan Rasulullah SAW. dipelopori oleh Muhammad Ali kemudian diteruskan oleh sarjana-sarjana Anak Benua India lainnya seperti: Abu Thahir ‘Irfani, Ghulam Nabi Muslim Sahib, dan Habibur-Rahman Siddiqui Kandhalvi. Menurut mereka, telah terjadi kekeliruan periwayatan umur Aisyah RA yang sebenarnya, di mana beliau pada saat menikah dengan rasulullah SAW, sesungguhnya umur beliau lebih tua dari umur yang diberitakan dalam literatur-literatur Hadits.

Tulisan ini mencoba mengecek kembali riwayat pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA yang telah berabad-abad lamanya diyakini kebenarannya, dan efek negativnya adalah orientalis Barat memanfaatkan data pernikahan ini sebagai alat untuk menuduh Rasulullah SAW dengan menganggapnya seorang pedofilia. Apakah riwayat tentang pernikahan Aisyah RA ini bisa dipertanggung jawabkan…? Mari kita cek bersama-sama.

B. TRADISI PERNIKAHAN DINI DISELURUH DUNIA

Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah RA dan tinggal serumah saat berusia sembilan tahun. Pernikahan pada umur tersebut banyak dianggap keliru oleh sebagian orang pada saat ini. Direktur Legacy Institute Amerika Serikat Syekh Hasib Noor menjelaskan : “pada masa dahulu hal tersebut benar-benar dianggap normal oleh masyarakat. Tidak ada yang membahas masalah ini, dan tidak ada yang menyerang karakter Nabi sampai 100 tahun terakhir sejarah manusia bahkan oleh orang-orang pada masanya.”

Sebelumnya perlu dicatat bahwa konsep masa dewasa dan usia berapa yang pantas dan dibolehkan untuk menikah, itu berbeda antara zaman dahulu dan zaman modern seperti saat ini.  konsep masa dewasa ini merupakan keputusan dari masyarakat dari waktu ke waktu dan bersifat situasional.[2]Tercatat Hingga pada abad ke-12 di Gereja Katolik normal bagi mereka untuk menikah di usia 12 tahun atau yang lebih muda. Pernikahan di usia tersebut pada waktu itu merupakan kebiasaan yang dianggap normal. bahkan di Amerika Serikat pada abad ke-17 anak perempuan menikah mulai dari umur 9-12 tahun. Itu merupakan sesuatu yang normal di Amerika Serikat pada waktu itu, bahkan saat ini di beberapa negara bagian, anak perempuan boleh menikah diumur 15 tahun dengan syarat mendapat persetujuan dari orang tua.

Demikian juga hampir diseluruh dunia pada masa lalu pernikahan dini atau anak dibawah umur adalah hal yang lumrah pada zamannya. Berbeda dengan zaman kita ini yang dianggap tidak wajar dan melanggar undang-undang perlindungan anak.

C. AWAL MULA FITNAH PEDOFILIA TERHADAP NABI

William Montgomary Watt seorang orientalist pernah berkata : “tak ada tokoh sejarah yang paling banyak menuai fitnah kecuali Muhammad.” Mengenai hal ini Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad Sang Nabi memberikan gambaran tentang bagaimana pandangan masyarakat Eropa terhadap Nabi Muhammad Saw terutama sekitaran abad 9-10 Masehi. Karen menulis bagaimana Nabi Muhammad Saw digambarkan sebagai tukang tipu, tukang obat yang menobatkan dirinya sebagai Nabi untuk menipu dunia. Nabi Muhammad Saw juga digambarkan sebagai seorang maniak yang bergelimang berbagai penyelewengan yang menjijikan. Bahkan hingga abad 12 Masehi-pun Nabi masih digambarkan sebagai sosok monster yang bernama Mohamet dan digunakan oleh para ibu untuk menakut-nakuti anaknya. Sebagian ada yang menyebut Nabi  Muhammad Saw sebagai setan bernama Mahound (dikemudian hari Salman Rusdhie mengarang novel "satanic Verses" dengan tokoh Mahound sebagai tokoh utamanya).

Perlu dicatat bahwa pada masa-masa tersebut sama sekali tidak ada tuduhan atau penggambaran kepada sosok Nabi Saw sebagai penganut pedofilia,[3] Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat itu pernikahan dengan wanita berusia dini kerap terjadi dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Isu Nabi Muhammad Saw pedofilia justru muncul dan menyebar untuk pertama kalinya setelah tragedi WTC pada tanggal 11 September. Seiring kemajuan tekhnologi isu ini masuk ke Indonesia melalui blog abal-abal yang bertujuan memecah belah kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

D. TAKHRIJ HADITS PERNIKAHAN AISYAH RA

1. contoh redaksi hadits dalam shahih bukhari dan shahih muslim

a. contoh redaksi hadits dalam shahih bukhari

حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي المَغْرَاءِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعْرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Artinya

Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abu Al Maghra' telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Mushir dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radhiallahu'anha beliau berkata; Nabi menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku, Ummu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku lalu aku datangi sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri. Kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukkan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada para wanita Anshar. Mereka berkata, "Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik". Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku. Dan tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah . Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau dimana saat itu usiaku sembilan tahun".

b. contoh redaksi hadits  dalam shahih muslim

وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، ح وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، وَاللَّفْظُ لَهُ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Artinya:

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Hisyam bin 'Urwah. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair sedangkan lafazhnya dari dia, telah menceritakan kepada kami 'Abdah yaitu Ibnu Sulaiman dari Hisyam dari ayahnya dari 'Aisyah beliau berkata, "Nabi menikahiku ketika saya berumur enam tahun, dan beliau memboyongku (membina rumah tangga denganku) ketika saya berumur sembilan tahun."

2. kritik terhadap perawi Hadits

·       Hadits terkait umur Aisyah RA saat menikah tergolong dho’if. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan Aisyah dengan rasulullah yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits hanya besumber pada satu-satunya rawi yakni hisyam bin urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya.

·       Mengherankan mengapa hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan aisyah r.a. tersebut. Bahkan tidak oleh abu Hurairah ataupun malik bin anas. Itupun baru diutarakan hisyam tatkala beliau telah bermukim diiraq. Hisyam pindah bermukim kenegeri itu dalam umur 71 tahun.

·       Mengenai hisyam ini ya’qub bin syaibah berkata: apa yang diutarakan hisyam sangat terpercaya, kecuali apa yang disebutkannya tatkala ia pindah ke Iraq. Syaibah menambahkan bahwa malik bin anas menolak penuturan hisyam yang dilaporkan oleh penduduk iraq.[4]

·       Termaktub dalam buku tentang seketsa kehidupan para perawi hadits, bahwa ketika hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun[5]

·       Mengenai Hisyam ini Adz-Dzahabi dalam kitab Mizan Al-I'tidal juz: 4[6] menyatakan bahwa Hisyam adalah periwayat hadist yang terpercaya, tetapi ia menjadi pikun ketika pindah ke Iraq. karenanya seluruh riwayat Hisyam ketika berumur 71 tahun, yaitu ketika Beliau di Iraq, wajib dipertanyakan kembali keakuratannya. Dengan keterangan Adz-Dzahabi ini, maka sangat mungkin Hisyam salah ketika menyebutkan umur Aisyah. Mungkin Hisyam ingin menyebutkan 16 tahun, tetapi karena kepikunan Beliau, maka yang terlontar adalah 6 tahun[7]

·       Al-hasil riwayat umur pernikahan aisyah yang bersumber dari hisyam bin urwah tertolak.

Kalau begitu berapakah usia Aisyah RA ketika menikah dengan rasulullah SAW sesungguhnya…? Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting, Urutan peristiwa kronologinya sebagai berikut:

·       Pra- 610 M : zaman jahilliyah

·       610 M : permulaan wahyu turun

·       610 M : abu bakar r.a. masuk islam

·       613 M : nabi Muhammad saw. Mulai mengsyiarkan islam secara terbuka

·       615 M: umat islam hijrah kehabasyah gelombang pertama

·       616 M : umar bin khatab masuk islam

·       620 M : aisyah r.a. dinikahkan

·       622 M : umat islam hijrah kemadinah

·       623/624 : aisyah serumah sebagai suami istri dengan nabi Muhammad saw.

jika Aisyah RA dinikahkan dalam umur 6 tahun, berarti Aisyah RA dilahirkan pada tahun 614 M. padahal menurut Imam at-Thabari, keempat anak Abu Bakar RA. dilahirkan pada zaman jahiliyyah yaitu sebelum tahun 610 M. Sejarah mencatat Aisyah RA dinikahkan tahun 620 M, berarti beliau dinikahkan pada umur diatas 10 tahun, dan hidup sebagai suami istri dengan Nabi Muhammad SAW diatas 13 tahun. Kalau diatas 13 tahun, dalam umur berapa pastinya beliau dinikahkan dan tinggal serumah dengan rasulullah saw… ? untuk itu kita perlu membandingkannya dengan kakak perempuan beliau yaitu asma.

menurut perhitungan abdurrahman bin abi zannad dan Ibn Katsir usia “asma 10 tahun lebih tua Aisyah RA.”[8] menurut Ibnu Hajar al-Asqalani asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 H. kalau begitu  asma berumur 27 tahun pada waktu hijrah, sehingga aisyah berumur (27) -10 = 17 tahun pada waktu hijrah, dengan demikian aisyah mulai hidup berumah tangga dengan nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 tahun bukan 9 tahun.


REFERENSI

Syuhudi M. Ismail, Metodologi Kesahihan Sanad Hadis Nabi, Cet ke-1 (Jakarta ; Bulan Bintang, 1992)

Abbott Nabia, Aishah-The Beloved of Mohammed, (London ; Al-Saqi Books, 1985)

Al-Shalah Ibnu, „Ulum Al-Hadits, ed. Nur Al-Din Al-Itr (Al-Madinah AlMunawarah ; Al-Maktabah Al-Ilmiyah, 1972)

Abdul Sa‟id Aziz, Wanita diantara Fitrah, Hak dan Kewajiban, (Jakarta ; Darul Haq, 2003)

Adhim Fuzil, Indahnya Pernikahan Dini, (Jakarta ; Gema Insani Press, 2002)

Al Hamdani H.S.A., Risalah Nikah, (Jakarta ; Pustaka Amami, 1989)

Al-Hamidi al-Husaini HMH, Baitun Nubuwwah: Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW, (Bandung ; Pustaka Hidayah, 1997)

Syabiq Sayyid, Fiqh As-Sunnah, (Beirut; Beirut Dar-al Fikr, 1981, Cet. IV Jilid 2)

ibnu hajar al-asqalani, tahdzib al-tahdzib, dar-ikhya al-turats al-islami, jlid ll, hal: 50 ) al-maktabah al-athriyah jilid 4 hal: 301 )

Syafi‟i Imam, al-Umm, (Mesir ; Dar al-Fikr, 1991, Jilid 3)

Abdul M. Mujieb, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta ; Pustaka Firdaus, 1994)

Syuhudi M. Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis ; telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah (Jakarta ; PT Bulan Bintang, 1988)

 

 



[1] pelaku perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur

[2] Selain itu anak perempuan Rasulullah SAW yaitu Ruqayyah menikah di usia sembilan tahun. “Tidak ada yang membahas dan menyerang Nabi perihal hal ini”

[3] pelaku perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur

[4] ( ibnu hajar al-asqalani, tahdzib al-tahdzib, dar-ikhya al-turats al-islami, jlid ll, hal: 50 )

[5] ( al-maktabah al-athriyah jilid 4 hal: 301 )

[6] (lihat pada Hisyam Ibn Urwah),

[7] Mizan Al-I'tidal juz: 4 (lihat pada Hisyam Ibn Urwah)

[8] ( at-thabari.tarikh al-mamluk jilid 4 hal: 50. At-thabari meninggal 922 M)

sejarah kurban mulai zaman nabi adam AS sampai zaman nabi muhammad SAW

By On Kamis, Agustus 05, 2021


Setiap tanggal 10 dzul hijah umat islam diseluruh dunia bersuka cita merayakan hari raya idul adha, mulai dari arab saudi, mesir, Iran, Malaysia, Indonesia, Amerika serikat sampai eropa. diindonesia sendiri hari raya idul adha lebih akrab dengan sebutan hari raya haji atau hari raya qurban, karena pada hari raya tersebut umat islam yang masuk kategori mampu, mereka berbondong-bondong dari seluruh dunia melaksanakan ibadah haji ketanah suci dan pada hari raya tersebut juga terdapat ritual ibadah qurban Yaitu menyembelih binatang ternak berupa kambing, sapi atau unta.

BAB I

KAJIAN ANALISIS  BAHASA

Kata “idul adha” terambil dari bahasa arab yaitu Kata  عَادَ – يَعُوْدُ – عَوْدًا وَعِيَادَةً yang artinya “kembali” dan kata أَضْحَى yang artinya adalah “binatang yang disembelih pada ritual ibadah tanggal 10 Dzulhijah dan hari tasyrik”. Kemudian kedua kata tersebut digabung dan diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi nama sebuah hari raya yaitu hari raya idul adha. Sedangkan Kata Qurban secara bahasa terambil dari kata قَرُبَ – يَقْرُبُ – قُرْبًا وَ قُرْبَانًا  yang artinya adalah dekat, karena tujuan awal  ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada allah swt dengan menyembelih binatang ternak.[1]


Perintah untuk berqurban terdapat didalam surat al-kautsar ayat 2.[2] Yang berbunyi:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya:

Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).[3]

Secara harfiah, kata nahr  berarti menyembelih, mengalirkan darah hewan kurban

 

BAB II

AWAL MULA DI SYARIATKANNYA QURBAN

a.      Pertemuan nabi adam as dan siti hawa setelah 30 tahun terpisah

Sekitar 8.000 tahun yang lalu nabi adam dan istrinya siti hawa  diturunkan kebumi oleh allah swt dari surga, para sejarawan mengatakan nabi adam diturunkan diindia, sedangkan siti hawa diturunkan dijeddah sebuah kota pelabuhan diarab Saudi sekarang, keduanya diturunkan pada malam hari yang gelap gulita dan terpisah, kemudian adam as mencari siti hawa selama 30 tahun sambil berdoa yang mana doa nabi adam ini diabadikan oleh al-Qur’an surat Al-Ara'f ayat 23 yang berbunyi:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

"Wahai Tuhan kami, kami telah berlaku dzalim pada diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."

akhirnya keduanya bertemu di padang arafah tepatnya dijabal rahman.[4] keduanya lalu thafah dika’bah[5] kemudian membangun keluarga dan mengelola bumi melaksanakan tugas dari allah sebagai khalifahnya.

b.      Qurban pertama umat manusia dibumi

Pada suatu hari nabi adam as dan istrinya memberikan pengumuman didepan anak-anaknya bahwa mereka akan menikahkan anak-anaknya.[6] pada saat itu nabi adam memiliki 4 orang anak yaitu qabil, iklima, habil dan labuda. Qabil dan iklma adalah saudara kembar, rupa mereka ganteng dan cantik, sedangkan habil dan labuda juga saudara kembar, yang merupakan adik dari qabil dan iklima, akan tetapi paras mereka biasa saja.

nabi adam as atas petunjuk allah swt disuruh mengawin silangkan mereka, yaitu qabil dinikahkan dengan labuda, sedangkan habil dinikahkan dengan iklima, tentu saja ini ditolak oleh qabil yang tidak terima saudara kembarnya yang cantik jelita yaitu iklima dinikahi oleh habil. Qabil ingin menikahi sendiri saudara kembarnya ini. Nabi adam kemudian membuat sayembara dengan mempersembahkan qurban kepada allah swt, barang siapa yang qurbannya diterima maka dia yang berhak meminang dan menikahi iklima yang cantik ini.

mereka berdua melakukan suatu kurban. Lalu keduanya menaiki bukit dan meletakkan kurbannya masing-masing, setelah itu mereka duduk seraya melihat ke arah kurban tersebut. Habil mengurbankan seekor domba yang gemuk, sedangkan Qabil mengurbankan seikat gandum, tetapi ketika ia menjumpai sebutir gandum yang besar di dalamnya, segera dirontokan dan dimakannya sendiri. kemudian api turun lalu melahap kurban Habil sedangkan kurban Qabil dibiarkan begitu saja (tidak dimakan api). Allah menerima domba qurban milik habil dan menyimpannya di dalam surga selama empat puluh tahun. Domba itulah yang kelak akan disembelih oleh Nabi Ibrahim as untuk menggantikan anaknya ismail yang akan disembelih.

Peristiwa ini diabadikan oleh al-Qur’an surat  Al Maidah ayat : 27

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa". [7]

c.       Ketika nabi Ibrahim berdoa

Nabi Ibrahim hidup sekitar 1.000 tahun setelah banjir nabi nuh atau 3.000 tahun setelah nabi adam diturunkan. Awal mula disyariatkannya berkurban adalah ketika nabi Ibrahim dan istrinya sarah selamat dari kobaran api raja namrudz, beliau berdua kemudian pergi ke mesir, lalu pergi lagi ke tanah palestina. Tetapi sebelum nabi Ibrahim dan siti sarah pergi dari mesir mereka berdua diberikan hadiah berupa budak wanita yang bernama hajar .

Singkat cerita nabi Ibrahim dan istri beliau sarah yang sudah menua tidak kunjung dianugrahi seorang anak, saat itu umur nabi Ibrahim adalah 86 tahun. kemudian beliau berdoa agar diberikan seorang anak, kejadian ini diabadikan oleh al-Qur’an surat As-saffat ayat: 100 yang berbunyi

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya:

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.[8]

Taklama  setelah nabi Ibrahim berdoa, atas inisiatif istri beliau sarah hajar budak perempuanya diberikan kepada suaminya untuk dinikahi dan allah swt mengabulkan doa beliau. akan tetapi yang mengandung bukan sarah istri pertama beliau, justru yang mengandung adalah hajar yaitu istri kedua beliau mantan budak perempuan milik sarah. hal ini disebutkan didalam al-Qur’an surat as-saffat ayat 101

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

Artinya:

Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).[9]

Dengan kelahiran putra petamanya ini tentu beliau sangat gembira, beliau sangat sayang kepada putra pertamanya ini, beliau menamainya ismail,[10]  kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama, hingga hari itu pun  datang.

d.      Padang pasir yang gersang

Tak berselang lama beliau kembali diuji oleh allah, sarah istri pertamanya cemburu dan gundah gulana, betapa tidak sekian lama menginginkan putra ternyata justru hajarlah yang mengandung anak nabi ibrahim yaitu mantan budak perempuannya. sarah kemudian meminta kepada nabi Ibrahim agar menjauhkan  hajar dan putranya dari dirinya. dengan meminta bimbingan kepada allah swt maka nabi Ibrahim membawa ismail dan ibunya kesuatu daerah yang kering tandus yang sangat jauh dari negeri asalnya palestina. Tempat kering nan tandus ini  kelak dinamai mekkah. Ketika nabi ibrahim mendapati tempat yang dimaksud adalah suatu lembah yang kering tandus yang sepanjang mata memandang hanya ada padang pasir dan bebatuan, nabi Ibrahim sangat bersedih hati.

e.       Dialog penuh harap dan cemas

Setelah memberi bekal kepada hajar sekantong kurma dan air nabi Ibrahim segera pamit dan berbalik.

·         hajar memburunya dan berkata “wahai Ibrahim hendak kemana kau” !

·         akan tetapi Ibrahim tidak menoleh dan terus berjalan pergi meninggalkan hajar seorang diri dan putranya

·         hajar gelisah ia ulangi pertanyaanya “akankah engkau tinggalkan kami digurun yang tidak ada orang dan tidak ada apa apa ?”

·         Ibrahim terus berlalu

·         Hajar semakin panik dan berkata lagi “apakah allah yang memerintahkanmu untuk ini ?”

·         Sambil berlalu nabi ibrahim menjawab singkat “iya”

·         Hajar hanya bisa pasrah dan bergumam “ jika demikian allah swt tidak akan menelantarkan kami”[11]

Ibrahim tetap tidak menoleh hingga sampai dibalik jalan perbukitan ditempat yang tidak terlihat oleh istrinya beliau menghadap qiblat dan berdoa yang mana doa ini diabadikan oleh al-Qur’an surat Ibrahim Ayat 37

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya:

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

f.       Asal usul sumur zam-zam

Siti Hajar yang sedang bersedih karena ditinggal sendirian oleh suaminya ditempat yang sunyi dan gersang tersebut, dia lalu menyusui anaknya dan meminum bekal air tadi. ketika semua bekal telah habis dan anaknya menangis kehausan, sedangkan kantong susu ibunya telah kering, siti hajar lalu mencari air dengan menaiki bukit shafa, tapi disana tidak ada apa-apa dan kembali turun kelembah, kemudian menaiki bukit sebelahnya yaitu bukit marwa berharap ada air atau orang yang mau menolongnya tapi juga tidak ada apa-apa, beliau pergi bolak balik dari bukit shafa dan marwa sebanyak 7 kali, dan inilah asal muasal sa’I dalam ritual ibadah haji yaitu pergi bolak balik dari bukit shafa menuju bukit marwa sebanyak 7 kali.

Setelah siti hajar kelelahan, kemudian beliau duduk bersimpuh disamping putranya yang sedang menangis. Siti hajar bergumam dalam hati “jika kau bisa memberi petolongan, maka tolonglahkami !” tak lama kemudian ismail bayinya ini yang sedang menagis kehausan  sambil menghentakan kakinya kebumi tiba-tiba dari bumi tersebut munculah mata air yang jernih, hajar melihat kejadian tersebut senang bukan kepalang, beliau berkata “zami-zami” yang artinya berkumpulah. beliau kemudian minum air tersebut sambil berlinang air mata dan memberi minum putranya. ternyata allah swt tidak meninggalkan mereka berdua.

Beberapa saat kemudian ada rombongan suku jumhur yaitu salah satu suku arab pengembara, karena melihat burung yang terbang sambil berputar-putar diatas sumur zam-zam tersebut mereka pasti meyakini ditempat itu ada sumber mata air, benar saja ternyata disana ada sumber mata air dan disampingnya ada ismail yang masih bayi dan ibunya yaitu siti hajar, kemudian suku jumhur meminta izin untuk mendirikan tempat dan pemukiman disamping sumur zam-zam tersebut. siti hajar pun mengizinkannya, lalu mereka hidup berdampingan sampai ismail besar dan diangkat menjadi nabi.[12]

g. Mimpi itu nyata

Setelah sekian lama nabi Ibrahim rindu ingin mengunjungi ismail dan siti hajar yang dulu ditinggalkan di mekkah. yang ketika itu mekah masih kering kerontang, namun sekarang mekah telah ramai. disana sudah banyak rumah yang berdiri, ismail telah tumbuh menjadi remaja yang gagah berani dan sholeh. Setelah menyiapkan perbekalan, nabi Ibrahim kemudian pergi ke mekah untuk menemui anak dan istrinya tersebut, disana ketiganya melepaskan rasa rindu setelah sekian lama berpisah. tidak berlangsung lama kebahagiaan itu terjadi, allah kembali menguji nabi Ibrahim dengan meyuruhnya menyembelih putranya tersebut lewat sebuah mimpi. [13]

Nabi Ibrahim menuruti printah allah swt tersebut, beliau lalu mengajak putranya ini berjalan-jalan keluar kota makkah dengan menggandeng ismail sambil menenteng seutas tali dan sebuah pedang.

·         ibrahaim berkata: “mari jalan-jalan nak untuk berkurban kepada allah !”

·         Ismail menjawab: “dimana qurbannya ayah ? sambil berkata riang nan polos”

·         Ibrahim yang sedari tadi melamun tersadar dan dengan berat hati mengatakan: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu !"

·         Lantas Ismail meminta Ayahnya untuk melakukan perintah Allah itu. "wahai bapakku, kerjakan lah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,"

Keduanya berserah diri, Ibrahim memabaringkan putranya. ismail menatap sayu pada bapaknya. Bibirnya terkatup rapat, lalu pelan-pelan kalimat terakhirnya terucap: wahai ayah kuatkan ikatanku! sehingga aku tak bergoncang gongcang. Sisingkan lengan bajumu! Agar tidak belepotan dengan darahku dan pahalaku bisa berkurang. Dan jika ibu melihat, ia akan menangisiku. Tajamkan golokmu ! segerakan saat menggerakan golok pada tenggorokanku! Agar kematian lebih mudah bagiku karena maut itu amat menyakitkan. Jika ayah sampai pada ibu, sampaikan salamku dan jika ayah merestuiku berikan bajuku agar jadi pelipur saat ia mengingatku“

“baiklah wahai putraku! Engkau telah menolongku menjalankan perintah allah,” pungkas Ibrahim menenangkan tangis putranya sambil Mencium keningnya sebagai salam perpisahan. Ibrahim memperkuat ikatanya. ismail terus menangis, goloknya ia pegang erat, ia tempelkan pada leher anaknya, berdesir hatinya, lalu dengan kepasrahan ia gerakan dengan kuat. Diluar dugaan goloknya ternyata tidak dapat menggores daging anaknya.

ismail berkata lirih, “balikkan wajahku, ayah ! sungguh ketika engkau melihat wajahku, engkau menjadi kasihan. Dan engkau jadi sedih”. Ibrahim menelungkupkan putranya, kemudia ia iriskan goloknya ditengkuk anaknya. Tiba-tiba goloknya terpelanting bersamaan dengan itu dari kejauhan terdengar seruan, “wahai Ibrahim ! kau telah bersungguh sungguh membenarkan mimpimu.”

Ibrahim kaget dan berpaling untuk melihat asal suara. disitu telah ada jibril membawa domba sambil mengucap takbir, Ibrahim membalas dengan tahlil, lalu putranya dengan tahmid. Kemudian ibrahim membawa domba yang dibawa Jibril dan menyembelihnya dimina, domba itu adalah domba surga milik habil dahulu. Kejadian penyembelihan ismail ini diabadikan oleh al-qur’an surat as-shaffat ayat 102 sampai 107.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

Artinya:

102. Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

103. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).

104. Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim!

105. sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

g.      Qurban dimasa islam

Tradisi kurban dimasa nabi Ibrahim dan nabi ismail as ini terus dilestarikan oleh suku arab selaku penerus nabi ismail. Suku-suku arab setiap bulan dzul hijjah selalu berkumpul disekitar ka’bah yang dahulu dibangun oleh nabi Ibrahim dan nabi ismail as tersebut untuk berqurban. Dimasa-masa jahiliyah kebanyakan orang arab telah tersesat dalam jurang paganisme yaitu berqurban untuk berhala-berhala sesembahan mereka, namun dimasa nabi Muhammad dimurnikan lagi seperti zaman nabi Ibrahim dan ismail yaitu berqurban untuk allah swt guna mendekatkan diri kepadanya saja.

·         dalil-dalil berqurban

1. suratAl Kautsar ayat 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Artinya:

 "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

2. Al Hajj ayat 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ

Artinya:

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)."

3. Al-Hajj ayat 37

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”

 

BAB III

BEBERAPA CATATAN

·         Nabi adam diturunkankebumi pada tahun 6.000 SM seperti catatan dalam kitab perjanjian lama

·         Allah swt menciptakan nabi adam dari seluruh permukaan bumi lalu adam berketurunan sesuai asal bumi itu, diantaranya ada yang berkulit merah, hitam, putih atau antara keduanya, ada yang  keras, halus atau antara keduanya sesuai warna dan jenis tanah tersebut.

·         Nabi adam dinamai adam karena dia diciptakan dari permukaan bumi yang bahasa arabnya adim al-ardh

·         Nabi adam berketurunan dibumi konon mencapai 40 kembar dampit, diantaranya adalah qabil yang membunuh habil, setelah tragedy pembunuhan tersebut nabi adam tidak dapat tersenyum selama 100 tahun

·         5 tahun setelah teragedi tersebut nabi adam dikaruniai seorang anak, tidak seperti azimnya anak adam yang lain yang biasanya kembar, kali ini anaknya tidak memiliki kembar dampit, maka nabi adam menamainya syits (anugrah dari allah)

·         Nabi adam hidup dibumi hingga usia 930 tahun, saat itu keturunannya telah mencapai 40.000 orang.

·         Ismail artinya orang yang dapat mendengar firman-firman tuhan

·         al-baghawi menceritakan dari as-siddy: saat nabi Ibrahim diberi kabar gembira bahwa dia akan dikaruniai seorang anak spontan beliau berujar: “jika benar ia akan kukurbankan.” Oleh karena itu allah mengujinya dengan memerintahkan menyembelih nabi ismail saat ismail tumbuh remaja.

·         Konon domba yang dijadikan ganti kurban nabi ismail adalah domba yang dahulu habil qurbankan saat beromba dengan qabil.

·         Teka-teki mengenai siapa yang disembelih masih menjadi perdebatan apakah ismail atau ishaq, orang kan’an menganggap yang disembelih adalah ishaq, hal ini didukung oleh: ali, ibn mas’ud, ka’ab, muqotil, qotadah, ikrimah dan as-sydi, adapun ibn abbas mengatakan ia adalahismail sebagaimana pendapat said bin musayyab, as-syi’bi, al-hasan, mujahid.

 

REFERENSI

  Munawwir, Ahmad warson. 1984. Kamus al munawwir arab Indonesia terlengkap. Yogyakarta: PUSTAKA PROGRESSIF

  Asep Supianudin. 2020. Iduladha dan Linguistik. ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (internet) Tersedia di:

https://bsa.uinsgd.ac.id/blog/2020/07/31/iduladha-linguistik/

  hakim, H. taufiqul. 2004. KAMUS AT-TAUFIQ. Bangsari: amtsilati

  Marzuki, Kastolani. 2020. Kisah Qabil-Habil, Tragedi Pembunuhan Pertama Manusia di Dunia. (internet) tersedia di: https://jateng.inews.id/berita/kisah-qabil-habil-tragedi-pembunuhan-pertama-manusia-di-dunia/2 diakses pukul: 14:20

  https://tafsirweb.com/8222-quran-surat-as-saffat-ayat-100.html

  https://id.theasianparent.com/sejarah-qurban-dalam-islam

  Ismael, ibn. 2012. Sang penyeru. Kediri: TETES PUBLISHING



[1] Munawwir Ahmad warson. 1984. Kamus al munawwir arab Indonesia terlengkap. Yogyakarta: PUSTAKA PROGRESSIF

[2] Asep Supianudin. 2020. Iduladha dan Linguistik. ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (internet) Tersedia di:

https://bsa.uinsgd.ac.id/blog/2020/07/31/iduladha-linguistik/

[3] hakim, H. taufiqul. 2004. KAMUS AT-TAUFIQ. Bangsari: amtsilati

[4] Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, menyatakan, Adam akhirnya berjumpa dengan Hawa di Arafah, tepatnya di Jabal Rahmah. Setelah itu, mereka berdua melaksanakan tawaf dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kal.

[5] Al-Qurthubi meriwayatkan, orang yang pertama kali membangun Ka'bah adalah Adam AS. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu (RA) berkata, ''Allah memerintahkan para malaikat untuk membangun sebuah rumah di bumi dan agar mereka mengelilinginya (tawaf). Ini terjadi sebelum penciptaan Adam. Kemudian, Adam melanjutkan pembangunan Ka'bah dan melaksanakan tawaf. Lalu, para nabi sesudah Adam pun turut mengikuti apa yang pernah dilakukan Adam AS. Kemudian, pembangunan Ka'bah disempurnakan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS.

Nashrullah, nashih. 202. turunnya Adam dan Hawa dari Surga dalam Catatan Alquran.

[6] Nabi adam diturunkan kebumi kurang lebih sekitar 6.000 tahun SM hal ini termuat dalam kitab perjanjian lama vesi yunani yaitu kitab saptuaginta

[7] Marzuki, Kastolani. 2020. Kisah Qabil-Habil, Tragedi Pembunuhan Pertama Manusia di Dunia. (internet) tersedia di: https://jateng.inews.id/berita/kisah-qabil-habil-tragedi-pembunuhan-pertama-manusia-di-dunia/2 diakses pukul: 14:20

[10] Ismail artinya orang yang dapat mendengar firman-firman tuhan

[11] Ismael, ibn. 2012. Sang penyeru. Kediri: TETES PUBLISHING

[12] Ismael, ibn. 2012. Sang penyeru. Kediri: TETES PUBLISHING

[13] Beliau ingat nadzarnya beberapa tahun silam, al-baghawi menceritakan dari as-siddy: saat nabi Ibrahim diberi kabar gembira bahwa dia akan dikaruniai seorang anak spontan beliau berujar: “jika benar ia akan kukurbankan.”