Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Ratu Shima, Ratu Jawa yang menerapkan hukum islam

By On Minggu, Januari 22, 2023


Daftar isi

Pendahuluan. 1

1. sekilas tentang kerajaan kalingga. 2

2. Biografi Singkat Ratu Shima. 3

3. Ketegasan Ratu Shima. 5

4. Kehidupan beragama kerajaan kalingga di bawah kekuasaan Ratu Shima. 7

5. Puncak Keemasan kerajaan Kalingga. 7

6. Wafatnya Ratu Shima dan terbaginya Kerajaan kalingga menjadi dua. 8

  

Pendahuluan

jika kita berkunjung ke kota Jepara, kita akan melihat Patung tiga putri jepara dipertigaan ngabul, ketiga patung ini adalah tokoh asli jepara yang diabadikan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Mereka adalah tokoh asli jepara dimasa lalu yakni Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan R.A. Kartini. Patung tiga tokoh perempuan jepara ini menghadap ke arah yang berbeda-beda. Ratu Shima menghadap ke arah kecamatan Keling. Konon, wilayah ini merupakan pusat kerajaanya yakni Kerajaan Kalingga. Lalu Ratu Kalinyamat menghadap ke arah Mantingan, yang dimasa lalu adalah pusat kerajaan Kalinyamatan, sedangkan RA Kartini menghadap ke desa Mayong yang menjadi tempat kelahirannya. Dan Tulisan ini akan fokus membahas ratu sima, ratu kerajaan kalingga.

1. sekilas tentang kerajaan kalingga

Kerajaan Kalingga mempunyai pemimpin perempuan yang sangat masyhur bernama Ratu Shima yang berkuasa antara tahun  674-695 M. Di bawah pemerintahannya Kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaannya. Ratu Shima adalah raja yang terkenal keadilan dan kejujurannya. Beliau memerintah dengan disiplin, tegas, jujur dan adil, sehingga rakyatnya hidup dengan tertib, teratur  dan aman. hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, baik kepada rakyat jelata maupun para bangsawan.  

Ibu kota-nya dikelilingi tembok yang dibangun dari tonggak kayu, sementara sang raja mendiami bangunan besar bertingkat tinggi. Atap kerajaan Kalingga menggunakan palm sedangkan singgasana sang raja terbuat dari gading. Rakyat kerajaan Kalingga dikenal sangat pandai dalam membuat bunga kelapa dan minuman keras. Nama Kalingga sendiri berasal dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan.

Sumber utama mengenai Kerajaan Kalingga adalah berita Cina yang berasal dari Dinasti T’ang. Sumber lain adalah Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu. Letak kerajaan kalingga disekitaram jawa tengah jika merujuk kesumber-sumber tersebut. Dalam sumber tersebut khususnya berita china dikatakan seperti ini: di sebelah timur Kalingga ada Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-po-Teng (Sumatra). Sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra. Oleh karena itu, Kalingga diperkirakan terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling, sebelah utara Gunung Muria.

2. Biografi Singkat Ratu Shima

Ratu Shima adalah ratu Kerajaan Kalingga yang wilayahnya terletak di pantai utara Jawa Tengah, sekarang meliputi daerah disekitar kota pekalongan, semarang dan jepara. beliau lahir tahun 611 M di wilayah sungai Musi Banyuasin Sumatra Selatan. Ayahnya adalah seorang pendeta di Kerajaan Melayu Sribuja. Pendapat lain mengatakan sang ratu adalah putri Hyang Sailendra atau cucu Santanu dari Sriwijaya, Pendapat lain menyebutkan dia merupakan putri Depunta Hyang Sri Yayanaga, raja Sriwijaya dan Sempula. dari tiga pendapat itu, yang paling mendekati kebenaranya adalah pendapat pertama karena jika ditelusuri merunut tempat kelahirannya, yaitu di daerah sekitar Sungai Musi Banyuasin, maka diperkirakan bahwa Ratu Shima merupakan putri dari pendeta yang tinggal di wilayah kerajaan Melayu Sribuja (Palembang).

Ratu Sima adalah pemeluk Hindu Syiwa yang taat. Ratu Shima merupakan istri dari raja Kalingga yang bernama Kartikeyasinga yang memerintah tahun (648 - 674) M. Ketika suaminya meninggal, Sang Ratu naik tahta menjadi ratu di Kerajaan Kalingga menggantikan suaminya dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Beliau mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara). Parwati nantinya menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Sang Jalantara atau Rahyang Mandiminyak yang nantinya menjadi raja ke-2 Kerajaan Galuh. Setelah Ratu Shima meninggal pada 695 M, Kerajaan Kalingga ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Dari Carita Parahyangan, cucu Ratu Shima yang bernama Sanaha mempunyai putra bernama Sanjaya, yang nantinya mendirikan Kerajaan Mataram Kuno sekaligus Dinasti Sanjaya.

3. Ketegasan Ratu Shima

Selama memerintah, Ratu Shima terkenal dengan kebijakannya yang sangat keras dan tegas, tetapi juga adil dan dicintai oleh rakyatnya. Untuk menjaga agar kerajaannya aman, ia memastikan bahwa hukum diberlakukan tidak pandang bulu, sehingga siapa pun tidak berani melanggar peraturan. Peraturan yang paling terkenal adalah bahwa siapa pun yang mencuri akan dipotong tangannya.

Diceritakan bahkan barang yang jatuh di jalan pun tidak ada yang berani menyentuh. Kebijakan Ratu Shima ini terdengar oleh orang-orang Arab di India yang disebut Ta-shih, mereka penasaran dengan kabar tersebut. Mereka kemudian mengetes kebenaran berita tersebut dengan  meletakkan pundi-pundi emas dipersimpangan  jalan dekat alun-alun kerajaan Kalingga. Selama tiga tahun, pundi-pundi emas itu tidak tersentuh, karena orang yang lewat akan menyingkir untuk menghindarinya. Suatu ketika, pundi-pundi itu tidak sengaja terinjak oleh putra mahkota. Ratu Shima sangat marah dan memerintahkan hukuman mati bagi putranya itu. Hukuman itu akhirnya dibatalkan setelah Ratu Shima dibujuk oleh para menteri kerajaan. Akan tetapi, Ratu Shima mengatakan kaki putranya tetap salah, sehingga harus dipotong. Setelah para menteri kembali meminta pengampunan, akhirnya hanya ibu jari kaki putra mahkota yang dipotong sebagai peringatan bagi semua penduduk kerajaannya  dan bukti ketegasan Ratu Shima.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita legenda tersebut, menurut Gunawan Sumodiningrat dalam Membangun Indonesia Emas,  beliau memang sangat terkenal dengan Ketegasannya semasa memerintah dahulu kala. Nama Shima kerap diidentikkan dengan istilah kata simo yang berarti “singa" Kendati demikian tegasnya beliau, sang ratu sangat dicintai oleh rakyatnya.

4. Kehidupan beragama kerajaan kalingga di bawah kekuasaan Ratu Shima

Meski saat berkuasa Ratu Shima beragama Hindu Syiwa, ia sangat toleran. Sebab Dari catataan I-Tsing, disebutkan hampir semua penduduk Kerajaan Kalingga beragama Buddha.(mahayana). Namun, mengingat toleransi yang diterapkan penguasa Kalingga, sangat wajar apabila rakyat tidak selalu mengikuti agama rajanya

5. Puncak Keemasan kerajaan Kalingga

Di bawah pemerintahan Ratu Shima yang terkenal sangat tegas dan adil ini, Kerajaan Kalingga mencapai puncak kejayaanya, Kejayaan Kalingga ini dibuktikan dengan kemajuan di berbagai sektor seperti sector ekonomi, pertanian, militer, perdagangan, dan agama. Selain itu, Kalingga juga diketahui memiliki relasi perdagangan yang kuat dengan China. terutama setelah mengambil alih peran bandar perdagangan di pantai utara yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Tarumanegara. Selain sektor perdagangan, kerajaan kalingga juga menonjol dalam sektor-sektor lainya seperti pertanian, kerajinan dan pertukangan. dikerajaan kalingga waktu itu sektor pertanian menggunakan sistem pengairan subak, seperti yang diterapkan juga oleh masyarakat agraris Hindu di Bali. Dalam sektor Kerajinan, penduduk kalingga diera ratu shima terkenal mahir membuat aneka kerajinan tangan dan perabot rumah tangga, sedangkan dalam sektor pertukangan, mereka sangat ahli dalam membangun rumah, membuat kapal atau perahu dll. Seperti halnya raja terdahulu, Ratu Shima juga menjaga hubungan baik dengan China, yang dilakukan dengan cara mengirim utusannya..

6. Wafatnya Ratu Shima dan terbaginya Kerajaan kalingga menjadi dua

Setelah 21 tahun lamanya ratu sima memimpin kerajaan kalingga, akhirnya pada tahun 695 M beliau menghembuskan nafas terakhirnya alias meningal dunia. Sebelum beliau wafat, Kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram/ Kalingga Utara (dipimpin oleh Parwati, yang memerintah antara tahun 695 M-716 M bersama suaminya Rahyang Mandiminyak atau Prabu Suraghana. dan dibagian selatan disebut Bumi Sambara/ Kalingga Selatan dipimpin oleh Narayana yaitu adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala' yang memerintah antara tahun 695 M-742 M. Sepeninggal ratu sima kerajaan kalingga mulai melemah terutama  setelah terbagi menjadi dua, dan akhirnya runtuh diserang oleh kerajaan sriwijaya pada tahun 752 M, akhirnya Kerajaan Kalingga menjadi wilayah taklukan kerajaan Sriwijaya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Anton Dwi Laksono dalam Kebudayaan dan Kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Kelak keturunan ratu sima menjadi raja-raja besar ditanah jawa mulai dari kerajaan mataram, medang, kahuripan, panjalu, janggala, Kediri, singosari, majapahit hingga mataram islam.



Jaka Tingkir │Pendekar sakti yang dihianati anak sendiri

By On Selasa, Desember 27, 2022


Daftar isi

 

Daftar isi 1

Pendahuluan. 1

A. Lahirnya Jaka Tingkir. 3

B. Mendapat julukan jaka tingkir. 6

C. Mengabdi pada Kesultanan Demak. 7

D. Berguru pada Ki Buyut Banyubiru. 8

E. Kembali ke Kesultanan Demak. 10

F. Jaka Tingkir menjadi sultan pajang. 12

G. Dihianati anak angkatnya sendiri 13

  

Pendahuluan

Pada tulisan yang lalu saya sudah pernah bercerita tentang ratu kalinyamat dalam 3 judul tulisan yakni yang pertama berjudul Ratu kalinyamat, Ratu Jawa yang sangat ditakuti portugis, yang kedua berjudul Dendam Ratu Kalinyamat dan naiknya Jaka Tingkir menjadi Raja, dan yang ketiga berjudul Faktor kegagalan ratu kalinyamat melawan portugis. salah satu tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut ada yang bernama jaka tingkir, maka tulisan kali ini akan menceritakan secara singkat asal usul jaka tingkir sampai dirinya menjadi raja pajang berdasarkan cerita rakyat. Oke langsung saja kita simak ceritanya.

Jaka Tingkir adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang berkuasa antara tahun 1568 – 1582 M. ketika Menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijaya, beliau berhasil menjadikan daerah kadipaten Pajang mencapai kejayaannya, dengan merubah setatusnya yang asalnya daerah bawahan kesultanan demak menjadi kerajaan pajang menggantikan kerajaan sebelumnya yakni kesultanan demak bintoro. Namun, sepeninggal Jaka Tingkir, Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan dan digantikan oleh kerajaan matarama islam, Berikut ini ringkasan cerita Jaka Tingkir.

A. Lahirnya Jaka Tingkir

Berdasarkan sumber cerita rakyat, asal usul mengenai kisah Jaka Tingkir yang melegenda bermula dari kisah seorang pria bernama Ki Ageng Tingkir, pada suatu malam beliau mendapat sebuah mimpi,dalam mimpi tersebut, beliau mendengar suara yang menyuruhnya untuk memetik sebuah kelapa muda disamping rumahnya dan meminum airnya sampai habis. Pagi harinya Ki Ageng Tingkir segera mendatangi pohon kelapa disamping rumahnya tersebut untuk melihat apakah ada kelapa muda seperti dalam mimpinya semalam. Betapa terkejutnya beliau karena mendapati pohon kelapa tersebut berbuah satu biji kelapa muda seperti dalam mimpinya, padahal seharusnya pohon kelapa tersebut belum waktunya berbuah. Segera beliau memetik kelapa muda tersebut dan mengupasnya lalu ditaruh diatas meja, rencananya beliau akan meminum air kelapa muda tersebut setelah mengembala kerbau.

Tidak berapa lama setelah Ki Ageng Tingkir pergi, datanglah salah seorang kerabat beliau yang bernama ki ageng pengging. Karena Ki Ageng Tingkir sudah pergi mengembala kerbau, maka yang ada dirumah Cuma istrinya saja yang bernama nyi ageng tingkir, nah ketika kerabatnya itu yakni Ki Ageng pengging datang kerumah secara  mendadak, kebetulan dirumah ki ageng tingkir ketika itu tidak ada apa-apa untuk disuguhkan, baik makanan ataupun minuman. Lalu nyi ageng tingkir yang kebingungan karena belum menyiapakan apa-apa untuk tamunya tersebut, spontan melihat kelapa muda yang tadi diletakan oleh suaminya diatas meja, tanpa berfikir panjang, nyi ageng tingkir langsung menyuguhkan kelapa muda tersebut kepada tamunya itu yang sekaligus masih kerabatnya juga yakni ki ageng pengging. ki ageng pengging pun yang tidak tau asal usul kelapa muda tersebut langsung meminumnya

Tidak berapa lama ki ageng tingkir pulang dari mengembala kerbau dan ketika mau meminum kelapa muda tadi, beliau heran kok kelapa muda miliknya tidak ada, lalu beliau bertanya kepada istrinya prihal kelapa muda tersebut, dan disitu juga masih ada ki ageng pengging yang sedang menunggunya dari tadi. Ki ageng pengging menimpali bahwa kelapa muda tersebut sudah diminum oleh dirinya, karena tadi kelapa muda tersebut disuguhkan oleh istrinya. Mendengar jawaban tersebut ki ageng tingkir terduduk lemas dan berpesan kapada ki ageng pengging bahwa ki ageng pengging harus berjanji suatu saat nanti kalau anaknya menjadi penguasa tanah jawa, maka anak ki ageng tingkir juga harus ikut mendampinginya. Lalu ki ageng tingkir bercerita bahwa dia bermimpi disuruh meminum air kelapa muda dari pohon disamping rumahnya, dan jikat ia meminumnya maka keturunanya akan menjadi raja jawa, akan tetapi takdir berkata lain, ternyata yang meminum air kelapa muda tersebut adalah ki ageng pengging. maka ia yakin bahwa keturunan ki ageng pengginglah yang suatu saat nanti akan menjadi penguasa  atau raja tanah jawa.

Beberapa bulan setelahnya, benar saja ternyata nyi ageng pengging istri ki ageng pengging hamil besar, pada suatu hari beliau ngidam ingin melihat wayang beber, lalu suaminya yakni ki ageng pengging membawa istrinya untuk menonton pertunjukan wayang beber, yang kebetulan dalangnya adalah kerabatnya sendiri yakni ki ageng tingkir. di tengah pertunjukan tiba-tiba Nyi Ageng Pengging mengalami kontraksi dan merasa akan segera melahirkan. Nyi Ageng Pengging pun melahirkan dengan dibantu oleh Nyi Ageng Tingkir. Bayi tersebut kemudian dinamai Mas Karebet. Karena lahirnya pas pertunjukan wayang beber yang berbunyi brebet-brebet ketika terkena angin pas dimainkan.

B. Mendapat julukan jaka tingkir

Sepuluh tahun kemudian, ayah jaka tingkir yakni Ki Ageng Pengging terbunuh oleh senopati kesultanan demak yakni Sunan Kudus. Alasan eksekusi tersebut karena beliau dan gurunya yakni syaikh siti jenar mendapat tuduhan memberontak terhadap Kerajaan Demak. Setelah kematian ayahnya, Mas karebet kemudian diasuh oleh ibunya yang kini menjadi janda. Tak berlangsung lama ibunya yakni Nyi Ageng Pengging juga ikut meninggal karena sakit-sakitan setelah kematian suaminya. lalu Mas Karebet diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir yang saat itu statusnya juga sudah menjadi janda. Mas karebet kemudian tumbuh sebagai pemuda cerdas dan tangguh. Nyi ageng tingkir yang melihat potensi anak angkatnya itu, kemudian menyuruhnya berguru kepada Ki Ageng Sela. Ditangan gurunya ini, Mas Karebet belajar banyak hal mulai dari pemerintahan hingga masalah bela diri dan kanuragan. Ki Ageng Sela kemudian menjulukinya dengan nama Jaka Tingkir, yang diambil dari nama daerah asalnya. Guru Jaka Tingkir yang lain adalah Sunan Kalijaga

C. Mengabdi pada Kesultanan Demak

Setelah jaka tingkir berguru kepada ki ageng sela cukup lama dan sudah menyerap hampir sebagian besar ilmu gurunya tersebut, lalu gurunya memerintahkan jaka tingkir untuk mengabdi kepada kesultanan demak, jaka tingkir kemudian meminta restu kepada ibu angkatnya yang sudah mengasuhnya dari kecil. Sesudah mendapat restu guru dan ibunya, lalu jaka tingkir berangkat ke demak, pertama-tama dia menemui kerabatnya di demak yang bernama ki ganjur, atas lobi-lobi ki ganjur pula jaka tngkir akhirnya bisa diterima menjadi perajurit di kesultanan demak bintoro dimasa sultan trenggono. Berkat banyak keahlian yang dikuasainya, karir jaka tingkir terus melesat dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat dirinya diangkat menjadi panglima prajurit tamtama. Salah satu tugasnya ketika itu adalah menyeleksi calon perajurit baru.

Suatu hari, datanglah seorang calon prajurit baru yang bernama Dadung Awuk. Akan tetapi, si dadung awuk ini orangnya congkak dan sombong, dia tidak mau diseleksi karena merasa dirinya hebat dan sakti. Dia justru menantang Jaka Tingkir secara terng-terangan untuk memamerkan kehebatanya. Awalnya jaka tinggkir tidak menggubrisnya, akan tetapi si dadung awuk ini terus menerus memprofokasinya, karena terus menerus di profokasi akhirnya kesabaran jaka tingkirpun habis dan terjadilah pertarungan diantara mereka berdua yang mana dalam pertarungan tersebut, jaka tingkir tidak sengaja membunuh dadung awuk. Dan tak butuh waktu lama berita ini pun sampai ditelinga sultan trenggono dan membuat sang sultan marah atas kecerobohan jaka tingkir ini, akhirnya sultan trenggono memecat jaka tingkir.

D. Berguru pada Ki Buyut Banyubiru

Setelah jaka tingkir dipecat oleh Sultan Trenggana, dia sangat frustasi dan galau, kemudian dia memutuskan untuk mengembara kehutan di Pegunungan Kendeng dan disana dia bertemu dengan seorang kakek yang bernama Ki Ageng Ngerang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan ayahnya. setelah Jaka Tingkir menceritakan kisahnya, dirinya lalu langsung dibawa oleh Ki Ageng Ngerang untuk berguru kepada salah seorang kerabatnya yang bernama Ki Buyut Banyubiru. Tak terasa hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan jaka tingkir berguru pada Ki Buyut Banyubiru. Kini jaka tingkirpun semakin berkembang, baik kesaktian maupun sepiritualnya. Dan jiwanyapun jauh lebih matang dari sebelumnya. Setelah dirasa cukup, Ki Buyut Banyubiru menyuruh jaka tingkir kembali ke kerajaan demak untuk kembali mengabdi kepada kesultanan tersebut. Awalnya jaka tingkir agak keberatan karena dirinya sudah dipecat dan diusir oleh sang sultan trenggono sendiri, akan tetapi gurunya lebih tau yang terbaik bagi muridnya ini dan sudah mempersiapkan segalanya.

. Sebelum jaka tingir berangkat kedemak, gurunya yakni ki Buyut Banyubiru memberikan Jaka Tingkir sebuah bekal berupa segenggam tanah Siti Sangar, kemudian gurunya juga berpesan agar setelah dirinya sampai diistana prawoto di demak, jaka tingkir disuruh untuk memasukan tanah tadi ke dalam mulut Kerbau Danu yang ada di Istana Prawoto demak. Khasiatnya adalah, ketika mulut kerbau danu tersebut kemasukan tanah tadi, maka akan langsung mengamuk, dan hanya Jaka Tingkirlah yang bisa menghentikannya.

E. Kembali ke Kesultanan Demak

Sesampainya di istana prawoto Demak, Jaka Tingkirpun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh gurunya itu. Kerbau Danu pun langsung mengamuk dan menghancurkan Istana Prawoto demak setelah mulutnya dimasukin tanah milik jaka tingkir yang sengaja dibawanya itu. Semua prajurit, bahkan Sultan Trenggana sekalipun, tidak bisa menghentikan amukan kerbau tersebut yang bagaikan badai tornado. Segala macam senjata tak mempan terhadap kerbau ini. Kerbau Danu pun terus mengamuk hingga beberapa hari lamanya. Di tengah amukan kerbau tersebut Sultan Trenggana tiba-tiba melihat Jaka Tingkir, orang yang dipecatnya beberapa bulan yang lalu berjalan dengan sangat tenang di dekat kerbau tersebut seolah sama sekali tidak takut kepada kerbau itu. Sultan Trenggana sepontan memanggilnya dan langsung memintanya agar menghentikan amukan Kerbau Danu tersebut. Sultan trenggono juga berjanji Apabila jaka tingkir berhasil menghentikan amukan kerbau tersebut, dirinya dijanjikan bahwa jabatanya sebagai panglima prajurit tamtama di Kesultanan Demak akan dikembalikan lagi kepadanya.

Jaka tingkirpun langsung menyetujuinya. Dengan dibantu oleh ketiga temannya, yaitu Mas Wanca, Ki Wuragil, dan Ki Wila, Jaka Tingkir langsung mengepung kerbau Danu yang sedang mengamuk tersebut dan melawannya. Tak butuh waktu lama, Jaka Tingkir berhasil memukul leher kerbau tersebut dan tanah Siti Sangar keluar dari mulutnya. Kerbau Danupun seketika kembali tenang dan Jaka Tingkirpun kembali mendapatkan jabatannya di Kesultanan Demak.  Setelah jaka tingkir mendapatkan kembali jabatanya, dia bekerja dengan sangat professional dan berhasil menjadi orang terdekat sang sultan bahkan dia dinikahkan dengan salah satu putri sultan yang bernama ratu cempaka emas dan diberi tugas untuk mengurus wilayah pajang, kemudian jaka tingkir diangkat menjadi adipati dipajang.

F. Jaka Tingkir menjadi sultan pajang

Ketika terjadi perebutan tahta di Kerajaan Demak sepeninggal sultan trenggono, Jaka Tingkir dengan bantuan rekannya yaitu ke agrng pamanahan, ki penjawi dan ki juru martini berhasil memenangkan peperangan. Seperti yang sudah pernah saya bahas pada tulisan saya yang lalu yang berjudul Dendam Ratu Kalinyamat dan naiknya Jaka Tingkir menjadi Raja. singkat cerita Setelah dirinya berhasil menumpas lawan politiknya yang bernama arya penangsang, dia diangkat sebagai pemimpin kerajaan demak sesuai perjanjianya dengan ratu kalinyamat, akan tetapi dia memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Pajang, yang menandai berdirinya Kerajaan Pajang (1568-1582 M). Sebagai pengganti kerajaan demak. Jaka Tingkir menjadi raja pajang pertama dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Pajang berhasil mencapai kejayaannya dengan wilayah kekuasaan mencapai Madiun, Blora, dan Kediri.

G. Dihianati anak angkatnya sendiri

Pada 1582 M, terjadi perang antara Kerajaan Pajang yang dipimpin olehnya melawan kadipaten Mataram yang dipimpin oleh anak angkatnya sendiri yang bernama suta wijaya yang pernah saya singgung pada tulisan saya yang lalu. suta wijaya yaitu anak angkatnya yang sangat disayanginya. Dahulu suta wijaya berhasil membunuh arya penangsang dengan pusaka tombak kyai plered milik jaka tingkir, setelah berhasil membunuh arya penangsang lalu jaka tingkir menghadiahinya tanah mataram, nah setelah mendapat hadiah tanah mataram dari bapak angkatnya ini, sutawijaya kemudian membangun kekuatan dan sekarang malah melawan bapak angkatnya sendiri yaitu jaka tingkir. Kapan kapan kita bahas sedikit masalah ini. Dalam pertempuran itu, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Kemudian kerajaan pajang ditaklukan oleh kerajaan mataram dan daerah pajang kembali menjadi daerah bawahan. Kalo dulu menjadi daerah bawahan demak, kali ini menjadi daerah bawahan mataram. Menjadi daerah bawahan anak angkatnya sendiri.


Faktor kegagalan Ratu Kalinyamat mengusir portugis

By On Sabtu, Desember 24, 2022



Daftar isi

Daftar isi 1

Pendahuluan. 1

Pertempuran pertama. 2

Pertempuran kedua. 5

Kesimpulan akhir 9

 

 

Pendahuluan

Pada tulisanyang ini saya sudah pernah bercerita tentang ratu kalinyamat mulai dari asal usulnya, keterlibatanya dalam perebutan kekuasaan di kesultanan islam demak binroro, lalu keberhasilanya membangus jepara sebagai kota niaga yang besar dan misi penyeranganya terhadap dominasi portugis dimalaka.

Lalu pada tulisan yang ini saya bercerita tentang balas dendamnya ratu kalinyamat terhadap arya penangsang dan naiknya jaka tingkir menjadi sultan pajang. Maka pada tulisan kali ini saya akan bercerita tentang penyebab kegagalanya menyerang portugis dimalaka. Untuk mempersingkat waktu langsung saja kita mulai ceritanya.

 

Pertempuran pertama

Setelah kematian Arya Penangsang pada tahun 1549 M, Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati di Jepara. wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya sesuai kesepakatanya dengan ratu kalinyamat dahulu. Meskipun demikian, Sultan Hadiwijaya tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormatinya.

Ratu Kalinyamat bersikap anti atau tidak menyukai terhadap bangsa Portugis sebagaimana bupati Jepara sebelumnya yakni Pati Unus yang telah gugur. Pada tahun 1550 M beliau mengirimkan 4.000 tentara Jepara dengan membawa 40 buah kapal perangnya. Hal ini beliau lakukan untuk memenuhi permintaan sultan Johor yang meminta bantuan kepada ratu kalinyamat agar membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa tersebut.

Pasukan ratu kalinyamat yang datang dari jepara tersebut kemudian bergabung dengan pasukan persekutuan melayu hingga jumlahnya mencapai 200 kapal perang dari yang tadinya hanya 40 buah kapal perang saja. Pasukan gabungan tersebut menyerang portugis dari arah utara. Hal ini membuat portugis kalang kabut dan akhirnya pasukan gabungan tersebut berhasil merebut sebagian malaka. Akan tetapi tidak berapa lama portugis berhasil membalas serangan besar tersebut hingga berhasil memukul mundur pasukan persekutuan melayu. Sedangkan pasukan jepara masih tetap bertahan, sampai akhirnya pemimpin pasukan jepara ini gugur dimedan perang maka mau tidak mau pasukan jepara ditarik mundur. Sesudah itu pertempuran besar terus terjadi disepanjang bibir pantai dan laut malaka. Dalam pertempuran yang panjang dan melelahkan ini menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak. Korban jiwa dari pihak jepara mencapai 2.000 prajurit.

Ditengah pertempuran yang dahsyat ini tiba-tiba terjadi badai besar yang menerjang bibir pantai malaka hingga menyeret dua buah kapal perang milik jepara, sepontan hal ini dimanfaatkan oleh pihak portugis yang langsung membantai seluruh prajurit yang ada di dua kapal yang terdampar tadi. Melihat arah kemenangan yang sepertinya masih jauh maka paukan jepara kemudian ditarik pulang lagi dengan membawa kegagalan. Pasukan jepara yang berhasil pulang kejawa, jumlahnya tinggal setengah dari jumlah awal dikirimkan bahkan kurang dari itu.

 

Pertempuran kedua

Pertempuran kedua ratu kalinyamat dengan portugis dimulai Pada tahun 1564 M, ketika itu Sultan Alauddin Al-Qahhar dari Kesultanan Aceh, awalnya meminta bantuan Demak bintoro untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak bintoro dipimpin oleh Arya Pangiri yakni, putra Sunan Prawata. Jadi setelah sunan prawoto meninggal dunia dibunuh arya penangsang, anaknya yang bernama arya pangiri dirawat oleh ratu kalinyamat dan suaminya lalu dikembalikan ke demak menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Akan tetapi kedudukan arya pangiri ketika itu sebatas adipati bukan sultan lagi, sebab demak telah menjadi daerah bawahan kesultanan pajang yang dipimpin sultan hadiwijaya atau jaka tingkir.

Saat Utusan Aceh datang kedemak, utusan tersebut malah dibunuh oleh adipati arya pangiri karena menaruh curiga terhadap utusan tersebut. Arya pangiri ketika itu memang terkenal mudah menaruh curiga terhadap siapapun dan tidak mempercayai siapapun, mungkin karena masa lalunya yang dulu suram ketika melihat orang tuanya sendiri dibunuh dengan kejam oleh arya penangsang yang masih terhitung pamanya sendiri.

Setelah arya pangiri penguasa demak tidak mau membantu aceh, bahkan membunuh utusanya, Akhirnya kesultanan Aceh tetap menyerang Malaka pada tahun 1567 M meskipun tanpa bantuan demak. Serangan kesultanan Aceh tersebut dapat dihalao portugis dan akhirnya menemui jalan buntu. Enam tahun kemudian tepatnya Pada tahun 1573 M, sultan Aceh meminta bantuan lagi untuk menyerang portugis, kali ini yang dimintai bantuan adalah penguasa jepara yakni Ratu Kalinyamat. Tanpa berfikir panjang, Ratu kalinyamat segera mengirimkan 300 kapal yang berisi sekitar 15.000 prajurit Jepara.

Pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Demang sbagai Laksamananya. Pasukan ratu kalinyamat tersebut baru tiba di Malaka pada bulan Oktober tahun 1574 M, dan naasnya saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis. Jadi disni ada mis komunikasi antara pasukan aceh dan pasukan jepara yang dikirim oleh ratu kalnyamat, maklum zaman dahulu belum ada telephone apalagi medsos. jadi wajar terjadi mis komunikasi seperti ini dan inilah salah satu alasan atau penyebab kegagalan serangan ratu kalinyamat yang kedua yaitu kekurang kompakan dan mis komunikasi.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itupun langsung memberondong pasukan portugis dengan meriam dan panah-panah yang melesat dengan ganasnya dari Selat Malaka. Keesokan hariya, pasukan jepara tersebut mendarat dan membangun pertahanan. Akan tetapi, pertahanan tersbut akhirnya dapat ditembus juga oleh pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara pun mulai terdesak, akan tetapi mreka tetap menolak perundingan damai yang ditawarkan pihak portugis karena terlalu isi perundingan tersebut terlalu menguntungkan pihak Portugis. Sementara itu, sebanyak enam buah kapal perbekalan/logistik yang dikirim oleh Ratu Kalinyamat kemalaka brhasil direbut Portugis.

Akhirnya Pihak Jepara kekurangan bahan pangan dan kondisi mereka semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang berhasil pulang ke Jepara.

Kendati gagal dua kali dalam menyerang portugis dimalaka, ratu kalinyamat tetap dikenang sebagai "Rainha de Jepara senhora Poderosa e ride", yang artinya Ratu Jepara seorang perempuan kaya dan mempunyai kekuasaan yang besar. Jasa-jasa beliau sangat besar bagi bangsa Indonesia bahkan belakangan namanya disebut oleh ibu megawati soekarno putri agar diusulkan menjadi pahlawan nasional bersama tokoh wanita lain dari aceh yakni laksamana malahayati yang lain waktu kita bahas.

Kesimpulan akhir

Pelajaran yang dapat kita ambil dari sini adalah jangan pernah menyerah dan persiapkan segala sesuatu semaksimal mungkin. Walaupun kita dijalan yang benar dan musuh kita dijalan yang salah, akan tetapi jika kita tidak mempersiapkan dan merencanakan sesuatunya dengan matang dan teliti, sedangkan musuh kita mempersiapakan dan merencanakan sesuatunya dengan matang dan teliti, pada akhirnya kita juga yang akan dikalahkan. Dalam peperangan hukum alam lah yang berlaku bukan hukum keimanan.