Daftar isi
Pendahuluan: Urgensi Memahami Eskatologi
Islam
A. Manusia: Makhluk Terakhir di Panggung
Sejarah Kosmik
B. Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi:
Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat
C. Apakah Allah Menyembunyikan Waktu
Kiamat Secara Mutlak? (Hikmah di Balik Rahasia Ilahi)
D. Definisi Terminologis Tanda-Tanda
Hari Kiamat
1. Al-Asyrāth As-Sā'ah (أَشْرَاطُ السَّاعَةِ)
4. 'Alāmāt As-Sā'ah (عَلَامَاتُ السَّاعَةِ)
E. Pembagian Tanda-Tanda Kiamat
F. Tanda Kiamat Sughra Pertama:
Diutusnya Nabi Muhammad SAW
1. Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup
Para Nabi (Khatam an-Nabiyyīn)
2. Nabi Sebelum Muhammad Diutus Hanya
untuk Kaum Tertentu
3. Jumlah Para Nabi dan Rasul: Sebuah
Tinjauan Sanad dan Historis
4. Hadits-Hadits yang Menegaskan
Kedekatan Hari Kiamat
5. Perspektif Waktu: Antara Perhitungan
Manusia dan Allah
6. Pendapat Para Ulama tentang Tanda
Pertama Ini
Penutup: Refleksi dan Persiapan
Menghadapi Akhir Zaman
Pendahuluan: Urgensi Memahami
Eskatologi Islam
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ
الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ
Keyakinan
akan adanya hari akhir merupakan salah satu fondasi utama dalam bangunan akidah
Islam. Kepercayaan terhadap hari kiamat menempati posisi yang sangat strategis,
bahkan menjadi rukun iman yang kelima, yang berarti tidak sempurna keimanan
seseorang tanpa meyakininya. Dalam perspektif agama-agama Samawi (Yahudi,
Kristen, dan Islam), terdapat titik temu yang fundamental mengenai adanya hari
penghakiman atau eschaton masa di mana seluruh sejarah manusia dan alam semesta
akan mencapai titik kulminasinya. Meskipun detail teologisnya memiliki
perbedaan, ketiga agama besar ini sepakat bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir
dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat.
Serial
Akhir Zaman ini hadir untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam topik
eskatologi dalam perspektif Islam. Pembahasan ini akan mencakup spektrum yang
sangat luas, mulai dari analisis mendalam tentang tanda-tanda hari kiamat
(`asyrāth as-sā'ah`), deskripsi peristiwa dahsyat kiamat itu sendiri (yaum
al-qiyāmah) yang meliputi kehancuran alam raya (thammat al-kubrā), kemudian
dilanjutkan dengan pembahasan tentang fase-fase setelah kematian, seperti alam
barzakh (alam kubur), hari kebangkitan (yaum al-ba'ts), pengumpulan di padang
Mahsyar (yaum al-hasyr), perhitungan amal (yaum al-hisāb), penimbangan amal
(yaum al-mīzān), hingga akhirnya berujung pada surga (jannah) atau neraka (nār).
Mengingat
luasnya cakupan materi, serial ini akan dibagi ke dalam beberapa episode.
Pendekatan ini dipilih agar pembaca dapat mencerna setiap tahapan dengan lebih
tenang, mendalam, dan tidak terburu-buru. Sumber-sumber rujukan yang digunakan
dalam serial ini berpegang teguh pada Al-Qur'an al-Karim, kitab-kitab hadits
mu'tabarah (standar), serta karya-karya monumental para ulama klasik dan
kontemporer yang kompeten dalam bidang akidah dan eskatologi Islam.
Pada
episode pertama yang fundamental ini, kita akan mengawali perjalanan dengan
membahas tiga pokok bahasan utama. Pertama, kedudukan manusia sebagai
makhluk terakhir yang diciptakan Allah di muka bumi, sebuah fakta yang selaras
dengan temuan ilmiah modern. Kedua, analisis terhadap ayat-ayat
Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi yang dengan tegas menyatakan kedekatan hari
kiamat. Ketiga, pembahasan terminologis yang sangat krusial, yaitu
definisi dan ruang lingkup dari istilah-istilah yang berkaitan dengan
tanda-tanda kiamat, di mana mayoritas ulama membaginya menjadi dua kategori
utama: tanda-tanda kecil (sughrā) dan tanda-tanda besar (kubrā). Sebagian ulama
juga menambahkan kategori tanda menengah (wusthā), namun dalam serial ini kita
akan fokus pada pembagian yang paling masyhur dan komprehensif.
Mari
kita mulai pembahasan ini dengan memohon keberkahan dan ilmu yang bermanfaat
dari Allah subhanahu wa ta'ala, serta berharap agar kita semua termasuk
golongan yang mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
A. Manusia:
Makhluk Terakhir di Panggung Sejarah Kosmik
Salah
satu bukti ilmiah yang menguatkan pesan-pesan Al-Qur'an tentang kedekatan
kiamat adalah temuan para astronom mengenai usia alam semesta dan kemunculan
manusia. Pada tahun 1990 Masehi, ratusan ilmuwan astronomi dari berbagai
penjuru dunia berkumpul di Brussel, Belgia, dalam sebuah konferensi ilmiah
bergengsi. Mereka memaparkan hasil kajian mendalam mengenai awal mula
terjadinya alam semesta (big bang), proses penciptaan bintang-bintang,
planet-planet, serta perhitungan usia setiap entitas kosmik tersebut.
Hasil
kajian tersebut menghasilkan fakta-fakta ilmiah yang mencengangkan, namun
dipenuhi dengan angka-angka raksasa yang sulit dicerna oleh kebanyakan orang
awam. Untuk mengatasi kompleksitas ini, para ilmuwan menggunakan metode
penyederhanaan dengan menyimbolkan angka-angka tersebut. Misalnya, angka satu
miliar (1.000.000.000) disimbolkan dengan simbol tertentu, dan angka seratus
miliar (100.000.000.000) juga disimbolkan dengan simbol lainnya. Metode ini
memudahkan perhitungan, meskipun secara teknis tetap rumit.
Dalam
upaya untuk membuat pemahaman lebih intuitif, mereka kemudian membuat
kesepakatan epistemologis untuk menyamakan usia alam semesta yang mencapai
miliaran tahun itu dengan durasi satu hari penuh (24 jam). Ilustrasi ini
bertujuan untuk memetakan kronologi penciptaan secara sederhana. Mereka
menyusun narasi kosmik sebagai berikut:
·
Pada "jam pertama", terciptalah galaksi dan bintang-bintang yang jumlahnya melebihi
ribuan miliar.
·
Pada "jam kedua", galaksi-galaksi ini mulai mengalami pemisahan dan ekspansi.
·
Pada "jam ketiga", muncullah planet-planet, satelit-satelit, dan meteor-meteor.
·
Pada "jam keempat", galaksi dan bintang-bintang mulai menempati posisi orbitnya
masing-masing.
·
Pada "jam kelima", terjadi proses penciptaan lebih banyak planet dan satelit setelah
terpisah dari bintang-bintang induknya.
·
Pada "jam keenam", semua benda langit ini mulai bertingkat-tingkat, berlapis-lapis,
dan bergerombol membentuk gugusan bintang, gugusan galaksi, dan seterusnya.
Puncaknya,
mereka menyatakan bahwa bumi yang kita tempati ini tercipta pada "jam
terakhir" dari usia alam semesta, yakni di awal "jam ke-24".
Proses penciptaan bumi dimulai dengan terbentuknya tanah, lalu gunung-gunung
yang kokoh, kemudian lautan dan sungai-sungai. Setelah itu, kehidupan mulai
muncul di bumi, dimulai dari tumbuh-tumbuhan, lalu organisme sederhana di
lautan, kemudian makhluk hidup di darat seperti serangga, reptil, dan mamalia
dengan jumlah dan variasi yang sangat banyak.
Dan
yang paling signifikan dari ilustrasi ini adalah kesimpulan bahwa manusia mulai
eksis di bumi pada "10 menit terakhir" dari "jam terakhir"
tersebut. Lebih jauh lagi, mereka menyatakan bahwa kehidupan manusia di bumi
telah berlangsung selama "7 menit" dari total "10 menit"
yang merupakan durasi eksistensi manusia. Ini berarti, menurut analogi mereka, kita
saat ini tengah hidup pada "3 menit terakhir" dari rentang kehidupan
manusia di muka bumi.
Para
ahli astronomi ini, dengan segala perangkat ilmiahnya, menyimpulkan bahwa alam
semesta ini bersifat fana dan pasti akan mengalami kehancuran. Meskipun mereka
berbeda pendapat tentang kapan persisnya masa penghabisan itu tiba, kesimpulan
dasar bahwa alam semesta memiliki akhir adalah suatu keniscayaan. Yang menarik,
analogi dan kesimpulan para ilmuwan ini sama sekali tidak bertentangan dengan nash-nash
Al-Qur'an dan hadits. Justru, temuan ini memperkuat pesan-pesan wahyu bahwa
kita hidup di akhir zaman.
B. Ayat-Ayat
Al-Qur'an dan Hadits Nabi: Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat
Pernyataan
para astronom tersebut hanyalah konfirmasi empiris atas apa yang telah
diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya sejak empat belas abad yang lalu.
Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa hari kiamat telah dekat. Seandainya
jarak antara masa turunnya Al-Qur'an dengan hari kiamat masih puluhan ribu
tahun atau ratusan ribu tahun, niscaya Allah tidak akan menggunakan terminologi
"dekat" (qarīb) dalam firman-firman-Nya. Berikut adalah analisis
terhadap beberapa ayat kunci yang menegaskan kedekatan tersebut:
Pertama, dalam Surat asy-Syura ayat 17, Allah berfirman:
اَللّٰهُ
الَّذِيْٓ
اَنْزَلَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ وَالْمِيْزَانَ ۗوَمَا
يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيْبٌ ١٧
Artinya:
"Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dengan benar dan (menurunkan)
timbangan (keadilan). Tahukah kamu (bahwa) boleh jadi hari Kiamat itu sudah
dekat?" (QS. asy-Syura [42]: 17)
Ayat
ini menggunakan kata لَعَلَّ
السَّاعَةَ قَرِيْبٌ yang mengandung makna
harapan dan kemungkinan yang sangat kuat, menunjukkan bahwa kedekatan kiamat
adalah suatu realitas yang hampir pasti.
Kedua, dalam Surat al-Ma'arij ayat 5-7, Allah menegaskan perbedaan
perspektif antara manusia dan Allah:
فَاصْبِرْ
صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ
بَعِيْدًاۙ
٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ
٧
artinya:
"Maka, bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Sesungguhnya mereka
memandangnya (siksaan itu) jauh (mustahil terjadi), sedangkan Kami memandangnya
dekat (pasti terjadi)." (QS. al-Ma'arij [70]: 5-7)
Ayat
ini dengan jelas membedakan antara persepsi manusia yang terbatas dengan
realitas di sisi Allah. Apa yang tampak jauh oleh manusia, di sisi Allah adalah
sesuatu yang dekat.
Ketiga, dalam Surat al-Ahzab ayat 63, Allah berfirman:
يَسْـَٔلُكَ
النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ
قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا
يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣
Artinya:
"Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat.
Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah."
Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat. (QS. al-Ahzab [33]: 63)
Ayat
ini mengajarkan bahwa meskipun pengetahuan tentang waktu pasti kiamat adalah
mutlak hak prerogatif Allah, namun kedekatannya adalah sesuatu yang perlu
disadari oleh manusia.
Keempat, dalam Surat al-Qamar ayat 1, Allah menggunakan kata kerja lampau
(fi'il mādhi) yang menunjukkan sesuatu yang telah terjadi atau pasti terjadi:
اِقْتَرَبَتِ
السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ١
Artinya:
"Telah dekat (pasti terjadi) hari Kiamat dan telah terbelah bulan."
(QS. al-Qamar [54]: 1)
Penggunaan
kata اِقْتَرَبَت (telah dekat) menunjukkan bahwa kedekatan
kiamat adalah suatu kepastian yang sudah di ambang pintu.
Selain
ayat-ayat Al-Qur'an, Rasulullah ﷺ juga memberikan ilustrasi yang sangat
gamblang tentang kedekatan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari
Sahal bin Sa'd, Rasulullah bersabda:
بُعِثْتُ
أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
Artinya:
"Jarak antara hari kiamat dengan saat aku diutus sebagai Rasul hanya
seperti ini." Beliau menggabungkan dua jarinya, yakni jari telunjuk dan
jari tengah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam
riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang rentang waktu umat
Islam dibanding umat sebelumnya:
إِنَّمَا
أَجَلُكُمْ فِيْمَا خَلَا مِنَ الْأُمَمِ كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى
مَغْرِبِ الشَّمْسِ
Aetinya:
"Sesungguhnya ajal (masa hidup) kalian dibandingkan dengan umat-umat
terdahulu ialah seperti jeda waktu antara shalat Ashar hingga matahari
terbenam." (HR. At-Tirmidzi, no. 2883)
C. Apakah
Allah Menyembunyikan Waktu Kiamat Secara Mutlak? (Hikmah di Balik Rahasia
Ilahi)
Memang
benar, Allah telah memberitahukan dalam banyak ayat bahwa kiamat akan datang
secara tiba-tiba, tanpa disadari oleh manusia. Namun, pernyataan ini tidak
boleh dipahami secara tekstual semata tanpa melihat konteksnya yang lebih luas.
Allah menyembunyikan waktu persisnya, tetapi Dia tidak membiarkan hamba-Nya
tanpa peringatan. Justru, melalui lisan para nabi, terutama Nabi Muhammad ﷺ, Allah telah memberikan sekian banyak
tanda (alamāt) yang menjadi indikator semakin dekatnya hari besar tersebut. Ini
adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia selalu dalam keadaan siap sedia
(musta'iddūn).
Berikut
ayat-ayat yang menegaskan bahwa kiamat datang secara mendadak:
Allah
berfirman dalam Surat Az-Zukhruf ayat 66:
هَلْ
يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا
يَشْعُرُوْنَ ٦٦
Artinya:
"Tidaklah mereka (orang-orang kafir) menunggu, kecuali hari Kiamat yang
datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak
menyadari(-nya)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 66)
Kemudian
dalam Surat Al-A'raf ayat 187, Allah berfirman:
يَسْـَٔلُوْنَكَ
عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ
قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ
لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ
اِلَّا هُوَۘ
ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ
لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ
كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ
قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُوْنَ ١٨٧
Artinya:
"Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, "Kapan
terjadi?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada
pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain
Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan
di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka
bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad),
"Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf [7]: 187)
Dari
ayat-ayat ini, kita memahami adanya dualitas: kepastian kedatangan yang
tiba-tiba dan adanya tanda-tanda sebagai peringatan. Orang-orang
yang lalai tidak akan mengambil pelajaran dari tanda-tanda tersebut, sehingga
kiamat terasa tiba-tiba bagi mereka. Sebaliknya, orang-orang beriman yang
selalu mengamati tanda-tanda akan terus terjaga imannya.
D. Definisi
Terminologis Tanda-Tanda Hari Kiamat
Untuk
memahami pembahasan ini secara ilmiah, kita perlu menguasai terminologi yang
digunakan dalam Al-Qur'an dan hadits. Para ulama bahasa dan syariat telah
merumuskan definisi yang sangat teliti untuk setiap istilah yang berkaitan
dengan tanda-tanda kiamat.
1.
Al-Asyrāth As-Sā'ah (أَشْرَاطُ
السَّاعَةِ)
Kata "al-asyrāth" (الأَشْرَاط) adalah bentuk jamak
dari "as-syarāth" (الشَّرَاط) atau "al-mīsyārāth" (المِيشْرَاط). Secara etimologis,
kata ini memiliki arti "tanda" atau "alamat". Sebagian ahli
bahasa mengatakan bahwa asyrāth adalah tanda-tanda yang diikuti atau yang
menjadi petunjuk menuju sesuatu .
Imam Ibn Manzhur dalam Lisān al-'Arab menjelaskan bahwa asyrāth
adalah tanda-tanda yang muncul sebelum terjadinya suatu peristiwa besar. Dari
akar kata yang sama lahir kata "isyrāth" yang berarti peringatan atau
tanda yang sudah diketahui sebelumnya.
Secara terminologis, para ulama memberikan beberapa definisi:
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud
dengan asyrāth as-sā'ah adalah "tanda-tanda yang mendahului hari kiamat
dan menunjukkan akan segera terjadinya" .
Ibnu Katsir dalam An-Nihāyah fi al-Fitan wa al-Malāhim menjelaskan
bahwa asyrāth adalah "hal-hal yang menjadi pertanda dan indikator yang
menunjukkan dekatnya hari kiamat".
2. Al-Amārāt
(الأَمَارَاتُ)
Kata "al-amārāt" (الأَمَارَاتُ) secara etimologis
berasal dari kata "amarah" (أَمَرَة) yang artinya adalah
"tanda kecil" yang terbuat dari tumpukan batu di padang pasir, yang
dijadikan petunjuk jalan oleh para musafir. Istilah ini biasanya digunakan
untuk menunjuk pada tanda-tanda yang bersifat kecil atau parsial. Penggunaan
kata ini mengindikasikan bahwa ada tanda-tanda yang lebih bersifat lokal atau
temporal yang jika diamati akan mengantarkan seseorang pada kesimpulan bahwa
kiamat sudah dekat.
3. Al-Āyāt (الآيَاتُ)
Kata "al-āyāt" (الآيَاتُ) adalah bentuk jamak
dari "āyah" (آيَة). Secara etimologis, āyah berarti
"tanda yang jelas dan kuat", atau "mukjizat", atau
"pelajaran yang menakjubkan". Dalam Al-Qur'an, kata ini digunakan
untuk menunjuk pada ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebesaran dan
kekuasaan-Nya.
Secara terminologis, penggunaan kata āyāt untuk tanda-tanda kiamat
menunjukkan bahwa tanda-tanda tersebut adalah perkara-perkara besar yang
kejadiannya di luar kebiasaan dan menakjubkan. Tanda-tanda ini tidak mungkin
dipalsukan atau ditiru. Contoh penggunaan istilah ini adalah dalam Surat
Al-'Ankabut ayat 15, di mana Allah menyebut peristiwa bahtera Nuh sebagai
"āyah" (tanda besar).
4. 'Alāmāt
As-Sā'ah (عَلَامَاتُ
السَّاعَةِ)
Kata "'alāmāt" (عَلَامَاتُ) secara etimologis
berasal dari kata "'alama" (عَلَمَ) yang artinya
"tanda yang jelas dan nyata". Secara terminologis, 'alāmāt as-sā'ah
berarti "tanda-tanda petunjuk yang mengawali terjadinya hari kiamat dan
menunjukkan bahwa ia benar-benar akan segera terjadi" .
Adapun kata "as-sā'ah" (السَّاعَةُ) secara etimologis
berarti "bagian dari waktu, baik malam maupun siang". Namun secara
terminologis, kata ini digunakan secara khusus untuk merujuk pada "hari
kiamat". Mengapa hari kiamat disebut as-sā'ah? Karena kejadiannya yang
sangat cepat dalam satu waktu, seperti satu saat yang singkat, atau karena
seluruh makhluk akan mati dalam satu kali tiupan sangkakala saja.
E. Pembagian
Tanda-Tanda Kiamat
Mayoritas
ulama membagi tanda-tanda kiamat menjadi dua kategori utama :
1.
Tanda-tanda Kecil (Asyrāth as-Sā'ah as-Sughrā): Yaitu tanda-tanda
yang mendahului hari kiamat dengan rentang waktu yang relatif panjang, dan
biasanya berupa perubahan-perubahan sosial, moral, dan beberapa peristiwa alam
yang tidak bersifat dahsyat. Tanda-tanda ini banyak sekali jumlahnya dan
sebagian telah muncul, sedang muncul, dan akan terus muncul hingga datangnya
tanda-tanda besar.
2.
Tanda-tanda Besar (Asyrāth as-Sā'ah al-Kubrā): Yaitu tanda-tanda
yang muncul menjelang terjadinya kiamat secara langsung, dan kedahsyatannya
luar biasa. Tanda-tanda besar ini berjumlah sepuluh, sebagaimana disebutkan
dalam hadits Hudzaifah bin Asid.
F. Tanda
Kiamat Sughra Pertama: Diutusnya Nabi Muhammad SAW
Pembahasan
inti dalam episode pertama ini adalah tentang tanda kiamat kecil yang pertama,
yaitu diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi. Ini adalah poin yang sangat
fundamental karena menandai dimulainya fase akhir sejarah manusia.
Jika
muncul pertanyaan: "Nabi Muhammad sudah diutus 14 abad yang lalu, namun
kiamat belum juga tiba. Di mana letak kedekatannya?" Jawabannya terletak
pada perspektif waktu. Empat belas abad memang terasa panjang bagi manusia,
namun jika dibandingkan dengan usia alam semesta yang mencapai 13,8 miliar
tahun, maka 14 abad adalah waktu yang sangat singkat. Dalam ilustrasi para
astronom, jika usia alam semesta diandaikan 24 jam, maka manusia baru muncul di
10 menit terakhir, dan diutusnya Nabi Muhammad adalah di detik-detik terakhir
dari rentang tersebut.
1. Nabi
Muhammad SAW sebagai Penutup Para Nabi (Khatam an-Nabiyyīn)
Alasan utama mengapa diutusnya Nabi Muhammad menjadi pertanda awal
kiamat adalah karena beliau adalah penutup para nabi. Tidak akan ada lagi nabi
setelahnya. Jika utusan terakhir telah tiba, maka pengumuman tentang
berakhirnya masa ujian (dunia) sudah di depan mata. Hal ini ditegaskan dalam
Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 40:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَآ
اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ
وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ ٤٠
Artinya: "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara
kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ahzab [33]: 40)
Ayat ini menggunakan kata "خَاتَمَ النَّبِيّٖنَ" (khātam
an-nabiyyīn). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata khātam (dengan fathah
pada huruf kha') berarti stempel atau penutup. Sebagaimana stempel berfungsi
untuk mengakhiri dan mengesahkan suatu surat, demikian pula Nabi Muhammad
adalah penutup dan pengesah seluruh risalah kenabian. Imam Al-Qurthubi dalam
tafsirnya menjelaskan:
إِنَّ بِعَثَةَ
نَبِيِّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ
الْأَشْرَاطِ لِقُرْبِ السَّاعَةِ، لِأَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، فَمَنْ جَاءَ
بَعْدَهُ يَدَّعِي النُّبُوَّةَ فَهُوَ كَذَّابٌ، وَإِذَا انْقَطَعَتِ
النُّبُوَّةُ فَقَدْ دَنَا الْفَرَاغُ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: "Sesungguhnya diutusnya Nabi kita Muhammad ﷺ adalah salah satu tanda terbesar akan
dekatnya hari kiamat. Karena tidak ada nabi setelahnya. Maka siapa pun yang
datang setelahnya mengaku-aku sebagai nabi, dia adalah pendusta. Dan jika
kenabian telah terputus, maka sungguh telah dekat waktu berakhirnya
dunia."[1]
Hadits-hadits Nabi juga memperkuat hal ini. Dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهُ سَيَكُونُ
فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا
خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي
Artinya: "Sesungguhnya akan ada dalam umatku tiga puluh
pendusta; masing-masing mengaku bahwa dia adalah nabi. Padahal, aku adalah
penutup para nabi; tidak ada nabi setelahku." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan
At-Tirmidzi)
Hadits ini sekaligus menjadi peringatan bahwa akan muncul banyak
nabi palsu di akhir zaman, dan itu sendiri adalah bagian dari tanda-tanda kecil
lainnya. Namun, inti pesannya adalah bahwa pintu kenabian telah tertutup
rapat-rapat.
2. Nabi
Sebelum Muhammad Diutus Hanya untuk Kaum Tertentu
Karakteristik lain yang menjadikan diutusnya Nabi Muhammad sebagai
pertanda kiamat adalah universalitas risalahnya. Maksudnya risalah nabi
muhammad untuk seluruh umat manusia, sedangkan Para nabi sebelumnya diutus secara
spesifik untuk kaum atau bangsa tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an
Surat An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا
فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ
فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ
فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
٣٦
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk
setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah dan jauhilah
thaghut!" Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah
dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
(QS. An-Nahl [16]: 36)
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap umat memiliki rasulnya
masing-masing dengan misi yang sama: tauhid. Namun, setelah Nabi Muhammad
diutus, tidak ada lagi sekat umat atau bangsa. Beliau diutus untuk seluruh umat
manusia, bahkan untuk seluruh jin, hingga akhir zaman. Hal ini ditegaskan dalam
ayat lain (QS. Saba' [34]: 28) yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk
seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Universalitas ini menandakan bahwa pesan terakhir telah disampaikan, dan tidak
ada lagi alasan bagi siapapun untuk tidak mendengarkannya. Kini, tinggal
menunggu eksekusi akhir dari Allah.
3. Jumlah
Para Nabi dan Rasul: Sebuah Tinjauan Sanad dan Historis
Tidak semua nabi dan rasul diceritakan dalam Al-Qur'an. Allah hanya
menceritakan sebagian kecil dari mereka sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Ghafir ayat 78 dan Surat An-Nisa ayat 164.
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا
رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَّنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّمْ
نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ...
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa orang
rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan
kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan
kepadamu..." (QS. Ghafir [40]: 78)
وَرُسُلًا قَدْ
قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ
اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ
١٦٤
Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) beberapa rasul yang telah
Kami ceritakan kepadamu sebelumnya dan beberapa rasul (lain) yang tidak Kami
ceritakan kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung."
(QS. An-Nisa [4]: 164)
Lantas, berapa jumlah seluruh nabi dan rasul? Dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah ﷺ memberikan informasi tentang hal ini:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ كَمِ الْأَنْبِيَاءُ؟ قَالَ: (مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا).
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ: (ثَلَاثُ مِائَةٍ
وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا)
Artinya: "Aku bertanya: Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah
nabi? Beliau menjawab: '(Jumlah nabi adalah) 124.000 orang.' Aku bertanya lagi:
Wahai Rasulullah, lalu ada berapa jumlah rasul dari mereka? Beliau menjawab:
'313 orang, mereka sangat banyak jumlahnya'." (HR. Ibnu Hibban dalam
Shahih-nya)
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam kitabnya Ajwibat al-Hafizh Ibnu
Hajar memberikan komentar mengenai hadits ini. Beliau menyatakan bahwa meskipun
jalur periwayatan hadits ini perlu diteliti lebih lanjut, namun secara makna,
hadits ini diterima oleh jumhur ulama sebagai informasi tentang banyaknya nabi
dan rasul . Beliau juga mengingatkan bahwa yang wajib diimani secara terperinci
hanyalah 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sedangkan sisanya
kita imani secara global .
Jumlah yang sangat banyak ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah
membiarkan satu umat pun tanpa bimbingan. Namun, setelah Nabi Muhammad diutus,
yani nabi yang ke-124.000 itu diutus, maka mata rantai risalah telah sampai
pada penghujungnya.
4.
Hadits-Hadits yang Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat
Selain hadits tentang dua jari yang telah disebutkan, terdapat
beberapa hadits lain yang semakin memperkuat argumen ini.
Hadits Pertama:
Rasulullah ﷺ bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا
وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى
Artinya: "(Jarak) diutusnya aku dengan hari kiamat seperti dua
ini, sambil beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya." (HR.
al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)
Hadits Kedua:
Dalam riwayat lain, redaksinya lebih tegas lagi:
بُعِثْتُ أَنَا
وَالسَّاعَةُ كَهَذِهِ وَهَذِهِ، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي
Artinya: "(Jarak) antara aku diutus dengan hari kiamat seperti
ini dan ini, dan hampir saja hari kiamat itu mendahuluiku." (HR. Ahmad)
Hadits Ketiga:
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
بُعِثْتُ فِي نَسَمِ
السَّاعَةِ
Artinya: "Aku diutus pada awal hembusan (tiupan) kiamat."
(HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
بُعِثْتُ فِي نَفَسِ
السَّاعَةِ
Artinya: "Aku diutus pada awal hembusan (nafas) kiamat."
(HR. At-Tirmidzi)
Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīts
menjelaskan makna frasa "فِي
نَسَمِ السَّاعَةِ". Kata
"an-nasam" (النَّسَم) atau "an-nasīm" (النَّسِيْم) berarti "awal mula
tiupan angin yang lembut". Jadi, maksudnya adalah bahwa Rasulullah ﷺ diutus pada awal mula periode yang menjadi
permulaan dari tanda-tanda kiamat. Ini adalah metafora yang sangat indah, bahwa
kedatangan beliau bagaikan hembusan angin pertama yang menandakan akan datangnya
badai besar (kiamat) .
Semua hadits ini, yang disampaikan 14 abad yang lalu, adalah bukti
nyata kenabian Muhammad ﷺ. Beliau berbicara tentang masa depan yang jauh dengan keyakinan
dan kepastian, karena semuanya adalah wahyu dari Allah.
5.
Perspektif Waktu: Antara Perhitungan Manusia dan Allah
Ketika kita merasa bahwa 14 abad adalah waktu yang sangat panjang,
kita perlu merenungkan firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 47:
وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ
بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗۗ وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ
كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ ٤٧
Artinya: "Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu
disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya
sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu."
(QS. Al-Hajj [22]: 47)
Ayat ini mengajarkan kita tentang relativitas waktu. Waktu adalah
dimensi ciptaan Allah yang sangat berbeda perspektifnya antara makhluk dan
Khalik. Satu hari di sisi Allah bisa setara dengan seribu tahun dalam hitungan
manusia. Jika kita menggunakan perspektif ini, maka 14 abad (atau sekitar 1.400
tahun) hanyalah satu atau satu setengah "hari" di sisi Allah. Ini
sangat singkat.
Allah berfirman dalam Surat Al-Ma'arij ayat 6-7:
اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ
بَعِيْدًاۙ
٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ
٧
Artinya: "Sesungguhnya mereka memandangnya (siksaan itu) jauh
(mustahil terjadi), sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)."
(QS. al-Ma'arij [70]: 6-7)
6. Pendapat
Para Ulama tentang Tanda Pertama Ini
Para ulama dari berbagai mazhab dan generasi telah memberikan
komentar yang senada mengenai hal ini:
a. Imam Al-Qurthubi (w. 671
H) dalam tafsirnya menyatakan:
"فِي
هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ بَعْثَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، لِأَنَّهُ آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ، وَبَعْدَهُ
تَقُومُ السَّاعَةُ"
Artinya: "Dalam ayat
ini (al-Ahzab: 40) terdapat dalil bahwa diutusnya Nabi ﷺ adalah termasuk tanda-tanda kiamat, karena
beliau adalah nabi terakhir, dan setelahnya akan datang kiamat."[2]
b. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w. 852 H) dalam syarahnya
atas Shahih al-Bukhari, Fath al-Bāri, menjelaskan makna hadits dua jari:
"وَإِنَّمَا
ضَرَبَ الْمَثَلَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى لِلتَّقْرِيبِ، وَإِلَّا
فَالْأَمْرُ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ، وَالْمُرَادُ أَنَّ مَا بَقِيَ مِنَ الدُّنْيَا
بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَا مَضَى كَقِلَّةِ مَا بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى"
Artinya: "Nabi memberikan perumpamaan dengan jari telunjuk dan
jari tengah hanyalah untuk mendekatkan pemahaman. Jika tidak, maka perkara ini
lebih besar dari itu. Yang dimaksud adalah bahwa sisa waktu dunia jika
dibandingkan dengan masa yang telah lalu, adalah seperti sedikitnya jarak
antara jari telunjuk dan jari tengah."[3]
c. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin (w. 1421 H), seorang
ulama kontemporer, menjelaskan dalam Syarh al-'Aqīdah al-Wāsithiyyah:
"بَعْثَةُ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ الصُّغْرَى،
وَذَلِكَ لِأَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَلَّ ذَلِكَ
عَلَى اقْتِرَابِ السَّاعَةِ، كَمَا أَخْبَرَ هُوَ بِذَلِكَ"
Artinya: "Diutusnya Nabi ﷺ adalah tanda kiamat kecil yang pertama.
Hal itu karena ketika beliau diutus, hal itu menunjukkan dekatnya kiamat,
sebagaimana beliau sendiri yang mengabarkan hal tersebut."[4]
Penutup: Refleksi dan Persiapan
Menghadapi Akhir Zaman
Sahabat
sekalian, demikianlah pembahasan kita pada episode pertama ini. Kita telah
sampai pada kesimpulan yang sangat fundamental: Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah tanda kiamat kecil yang pertama
sekaligus yang terbesar di antara tanda-tanda kecil lainnya. Beliau adalah
khātam an-nabiyyīn (penutup para nabi). Setelah beliau, tidak akan ada lagi
nabi. Maka, kehidupan dunia ini, sejak 14 abad yang lalu, telah memasuki fase
akhirnya.
Fakta
bahwa kita masih hidup hingga saat ini adalah anugerah sekaligus ujian. Kita
hidup di masa yang telah diberitakan oleh Rasulullah, di mana tanda-tanda kecil
bermunculan silih berganti, bagaikan manik-manik yang terlepas dari untaiannya.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana sebagian besar tanda-tanda yang disebutkan
dalam hadits telah menjadi realitas sehari-hari: hilangnya amanah, merebaknya
fitnah, mengeringnya rasa malu, merajalelanya riba dan zina, dan banyak lagi.
Oleh
karena itu, pembahasan ini bukanlah sekadar wacana teologis yang kering,
melainkan sebuah panggilan untuk introspeksi dan aksi. Memahami tanda-tanda
kiamat seharusnya mendorong kita untuk:
1.
Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan: Hanya dengan iman yang kokoh
kita bisa selamat melewati fitnah-fitnah akhir zaman.
2.
Memperbanyak Amal Shalih: Jangan tunda-tunda lagi. Gunakan waktu
yang tersisa untuk beribadah dan berbuat baik.
3.
Menjauhi Maksiat: Setiap dosa adalah beban yang akan memperberat
langkah kita menuju akhirat.
4.
Menjadi Pembawa Kebenaran: Sebagai umat terbaik, kita berkewajiban
untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menjadi saksi bagi manusia
atas risalah Nabi Muhammad.
Pembahasan
tentang hari kiamat ini sangatlah luas. Insya Allah, pada episode selanjutnya
kita akan melanjutkan dengan mengkaji lebih dalam tanda-tanda kecil (sughrā)
lainnya secara lebih terperinci, seperti peristiwa-peristiwa yang telah
terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Setelah itu, kita akan memasuki
pembahasan yang lebih dahsyat, yaitu tentang tanda-tanda besar (kubrā) yang
akan mengubah jalannya sejarah dunia secara total.
Semoga
apa yang kita pelajari hari ini menjadi bekal berharga bagi kita semua dalam
mempersiapkan diri menghadapi hari yang pasti datang itu. Mari kita dukung
terus kajian ini dengan menyimak, mempelajari, dan mengamalkan ilmunya, serta
menyebarkannya kepada orang lain.
وَلَا
تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
Artinya:"Dan
janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang mengatakan: "Kami
mendengar", padahal mereka tidak mendengarkan (dengan hati)." (QS.
Al-Anfal [8]: 21)
وَاللَّهُ
أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Daftar Referensi
Ahmad bin Hanbal. (1995). Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Beirut: Dar al-Fikr.
Al-'Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar. (1379 H). Fath al-Bāri bi
Syarh Shahih al-Bukhāri (Jilid 11). Beirut: Dar al-Ma'rifah.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (1972). Inba' al-Ghamri bi Anba'
al-'Umri (Jilid 3). Kairo: Lajnah Ihya' at-Turats al-Islami.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (1987). Shahih al-Bukhari.
Beirut: Dar Ibn Katsir.
Al-Hakim an-Naisaburi. (1990). Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain. Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Maghluts, Sami bin Abdullah. (2005). Athlas Tarikh al-Anbiya'
wa ar-Rusul. Riyadh: Maktabah al-'Ubaikan.
Al-Mubarakfuri, Shafiurrahman. (2000). Mukhtashar Tafsir Ibnu
Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari. (1964). Al-Jāmi'
li Ahkām al-Qur'ān (Jilid 10 & 14). Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
Al-'Utsaimin, Muhammad bin Shalih. (1413 H). Majmū' Fatāwā wa
Rasā'il Fadhilat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (Jilid 2).
Riyadh: Dar al-Wathan.
An-Nasa'i, Ahmad bin Syu'aib. (2001). Sunan an-Nasa'i.
Riyadh: Maktabah al-Ma'arif.
As-Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman. (1999). Al-Jawahir wa
ad-Durar fī Tarjamah Syaikh al-Islam Ibni Hajar. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. (1998). Sunan at-Tirmidzi.
Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
Ibnu Hibban, Muhammad. (1993). Shahih Ibni Hibban. Beirut:
Muassasah ar-Risalah.
Ibnu Katsir, Abul Fida' Ismail. (1988). An-Nihāyah fī al-Fitan
wa al-Malāhim (Jilid 1). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Ibnul Atsir, Majduddin. (1979). An-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīts
wa al-Atsar. Beirut: Dar al-Fikr.
Muslim bin Hajjaj. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Dar
Tayyibah.
Sabiq, Sayyid. (2010). Al-'Aqā'id al-Islāmiyyah. Kairo: Dar
al-Fath.
Tim Penyusun Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an & LIPI.
(2011). Tafsir Ilmi: Kiamat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains.
Jakarta: Kementerian Agama RI.
[1] Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Jilid 10, hal. 2, Beirut:
Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 2006
[2] Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, jilid 14, hal. 123, Kairo:
Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964
[3] Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Fath al-Bāri bi Syarh Shahih al-Bukhāri,
jilid 11, hal. 353, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H
[4] Al-'Utsaimin, Majmū' Fatāwā wa Rasā'il, jilid 2, hal. 187, Riyadh: Dar
al-Wathan, 1413 H
