Pendahuluan
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Halo
Sobat Pena Islam, selamat datang kembali di channel kita yang selalu bersama
menyelami sirah, sejarah, dan hikmah Islam. Pada video kali ini kita akan
membuka lembaran pertama dari Shirah Ibnu Hisyam, tepatnya pada bagian
Muqadimah. Kali ini Kita akan membahas:
1. Siapakah Ibnu Hisyam dan bagaimana ia menyusun sirah Rasulullah ﷺ dari karya Ibnu Ishaq.
2. Metodologi ilmiah yang dipakai dalam penyuntingan sirah beliau, perkara
apa yang dibuang, apa yang dikoreksi, dan kriteria ke-valid-annya.
3. Istilah-istilah kunci seperti al‑Maghāzī dan as‑Siyar, serta konteks
historis Arab pra‑Islam yang menjadi latar kisah ini.
4. Relevansi muqaddimah ini bagi kita sekarang, kenapa kita perlu
memahami sirah dengan metode ilmiah dan kesadaran historis.
Nah,
sebelum kita mulai, bayangkan: apa jadinya jika kita bisa melihat sejarah Islam
dari sudut pandang yang tidak hanya spiritual, tapi juga kritis, objektif, dan
ilmiah? Bagaimana jika ada fakta-fakta yang selama ini kurang diperhatikan, dan
bagaimana itu bisa mengubah cara kita memahami kehidupan Rasulullah ﷺ dan masyarakat Islam awal? Tertarik? Yuk,
simak bersama sampai tuntas.
Muqadimah
مُقَدِّمَةُ (التَّحْقِيقِ)
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى سَابِغِ إِفْضَالِهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
أَمَّا بَعْدُ، فَهَذَا كِتَابُ «سِيرَةِ
رَسُولِ اللَّهِ» صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي اسْتَخْرَجَهُ
الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هِشَامٍ الْمَعَافِرِيُّ، مِنْ
كِتَابِ «السِّيَرِ» لِمُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْمُطَّلِبِيِّ، وَهُوَ أَقْدَمُ
السِّيَرِ الْجَامِعَةِ وَأَصَحُّهَا.
Segala puji bagi Allah atas karunia-Nya yang
meliputi segala sesuatu, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada
junjungan kami, Nabi Muhammad beserta keluarganya.
Adapun sesudah itu, inilah kitab «Sirah
Rasulullah» (Biografi Utusan Allah) صلى الله عليه
وسلم, yang disarikan (dikeluarkan/diriwayatkan) oleh
Al-Imam Abu Muhammad ‘Abdul Malik bin Hisyam Al-Ma’afiri dari
kitab «As-Siyar» (Biografi-biografi) karya Muhammad
bin Ishaq Al-Muththalibi. Dan kitab (Ibn Ishaq) inilah karya Sirah
yang paling tua dan paling lengkap (dari jenisnya yang mencakup berbagai
aspek) serta paling sahih (akurat/terpercaya).
Penjelasan
Kitab Sīrah Ibn Hisyām merupakan mahakarya historiografi Islam yang disusun oleh Imam
Abū Muḥammad ‘Abd al-Malik ibn Hisyām al-Ma‘āfirī (wafat 218 H/833 M)
sebagai kompilasi dan penyuntingan dari karya monumental Ibn
Isḥāq (wafat 150 H/767 M) berjudul al-Sīyar wa al-Maghāzī. Sebagai naskah
paling awal dan paling terpercaya dalam genre sīrah nabawiyah, kitab ini tidak
hanya merekam detil kehidupan Nabi Muḥammad ﷺ tetapi juga berfungsi sebagai landasan
memahami konteks turunnya wahyu dan formasi masyarakat Islam awal.
Dalam kitabnya,
penulis mengawali tulisnya dengan muqadimah sebagaimana kebiasaan ulama salaf,
yang inti dari muqadimah kitab ini sebagai berikut:
1.
Makna dan Tujuan Muqadimah
Dalam tradisi
penulisan karya ilmiah Islam klasik, muqadimah (pendahuluan) bukan sekadar kata
pengantar, melainkan doa, deklarasi niat, serta peneguhan tujuan penulis.
Kalimat pertama biasanya berisi pujian kepada Allah ﷻ, kemudian shalawat kepada Nabi ﷺ, lalu pernyataan maksud dari penulisan
kitab. Dengan demikian, muqadimah bukanlah sekadar formalitas, tetapi bagian
dari adab seorang ulama dalam mengawali sebuah karya ilmiah, agar keberkahan
ilmu dan ridha Allah senantiasa menyertai.
2.
Pujian kepada Allah (الحمد
لله على سابغ إفضاله)
Ibnu Hisyam
mengawali muqadimah dengan tahmid: "Alhamdulillah ‘ala sabighi
ifdhaliHi" (segala puji bagi Allah atas karunia-Nya yang melimpah).
·
Makna "Alhamdulillah": Ungkapan syukur dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari
Allah. Pujian ini mencakup nikmat iman, Islam, kesehatan, ilmu, dan kesempatan
untuk menulis serta menyusun karya.
·
"Sabigh IfdhaliHi": kata *sabigh* berarti menyeluruh, melimpah, tanpa batas.
Artinya, rahmat Allah meliputi segala aspek kehidupan manusia. Ibnu Hisyam
menyadari bahwa karyanya lahir semata karena pertolongan Allah.
·
Pujian ini juga menjadi penegasan bahwa sejarah Rasulullah ﷺ tidak bisa dipisahkan dari kehendak dan
anugerah Allah, sebab Allah sendiri yang berfirman: "وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ" Artinya: "Dan
sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang
agung." (QS. al-Qalam: 4)
3.
Shalawat kepada Rasulullah ﷺ
Setelah memuji
Allah, Ibnu Hisyam mengucapkan shalawat wa salam kepada Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarganya.
·
Makna shalawat: doa
agar Allah meninggikan derajat Nabi dan melipatgandakan kemuliaannya.
·
Mengapa keluarga Nabi juga disertakan? Karena Ahlul Bait memiliki kedudukan khusus dalam Islam,
sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Ahzab: 33 tentang pensucian Ahlul Bait.
·
Shalawat dalam muqadimah juga menegaskan bahwa segala penulisan
tentang Rasulullah ﷺ tidak boleh lepas dari rasa cinta, penghormatan, dan
penghargaan tertinggi kepada beliau.
4.
Penegasan tentang Kitab Sirah
Ibnu Hisyam
kemudian menjelaskan maksud penulisannya: "fahadza kitabu Sirah
Rasulillah ﷺ."
·
Ia menegaskan bahwa kitab ini adalah biografi Rasulullah,
bukan biografi biasa, melainkan perjalanan seorang Nabi dan Rasul terakhir yang
menjadi rahmat bagi seluruh alam.
·
Sirah berfungsi sebagai cermin hidup umat Islam: meneladani
akhlak, strategi dakwah, jihad, kepemimpinan, dan interaksi sosial Nabi.
·
Dengan kata lain, sirah bukan hanya sejarah, tetapi juga manhaj
(pedoman hidup).
5.
Asal-usul Kitab: Ibnu Ishaq → Ibnu Hisyam
Ibnu Hisyam
menyebut bahwa kitab ini ia ambil dan sunting dari karya Muhammad bin Ishaq al-Muththalibi
(w. 150 H), seorang ulama besar yang pertama kali menyusun biografi Rasulullah
secara lengkap.
·
Kitab as-Siyar karya Ibnu Ishaq merupakan fondasi utama ilmu sirah. Ia mengumpulkan
riwayat-riwayat dari para sahabat, tabi’in, dan berbagai sumber lisan yang
masih terjaga.
·
Namun, karena kitab Ibnu Ishaq sangat panjang, memuat beberapa
kisah Isra’iliyyat (riwayat Yahudi dan Nasrani), serta bahasa yang kadang
bertele-tele, maka Ibnu Hisyam menyaringnya.
·
Ibnu Hisyam (w. 218 H)
adalah seorang ulama filolog, ahli bahasa, dan sejarawan dari Mesir. Beliau
menyusun ulang kitab Ibnu Ishaq dengan:
Ø Menghapus
riwayat yang dianggap tidak shahih atau lemah.
Ø Membuang
kisah-kisah Isra’iliyyat yang tidak relevan.
Ø Merapikan
susunan bahasa agar lebih ringkas dan mudah dipahami.
Ø Memberikan
tambahan penjelasan berupa syair-syair Arab klasik untuk memperkuat konteks
sejarah.
6.
Signifikansi Sirah Ibnu Hisyam
Kitab Sirah
Ibnu Hisyam memiliki kedudukan yang sangat penting:
1. Kitab Sirah tertua dan paling lengkap: hampir semua ulama sirah setelahnya, seperti ath-Thabari, Ibnu
Katsir, dan az-Zurqani, mengutip darinya.
2. Kualitas riwayat lebih terjaga: karena sudah disaring dari kelemahan-kelemahan yang ada pada
riwayat Ibnu Ishaq.
3. Bukan hanya sejarah, tapi juga tafsir: Ibnu Hisyam banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan
peristiwa sejarah Nabi ﷺ.
4. Rujukan lintas disiplin ilmu: sirah ini dipakai dalam fiqh (untuk hukum jihad, muamalah,
akhlak), tafsir (asbābun nuzūl), bahkan dalam sastra Arab.
Kesimpulan
sementara
Muqadimah
Sirah Ibnu Hisyam bukan sekadar pembukaan, tetapi mencerminkan adab
ilmiah seorang ulama dalam menulis: memulai dengan pujian kepada Allah,
mengirimkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ, lalu menjelaskan tujuan penulisan kitab.
Kitab ini adalah penyaringan dari karya monumental Ibnu Ishaq, yang
menjadikannya sumber paling otentik untuk memahami kehidupan Rasulullah ﷺ. Dengan membaca dan mengkaji sirah ini,
umat Islam tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga mengambil teladan,
hikmah, dan pedoman hidup dari manusia agung yang menjadi rahmat bagi seluruh
alam.
هَذَا
كِتَابُ «سِيرَةِ رَسُولِ اللَّهِ» صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي
اسْتَخْرَجَهُ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هِشَامٍ
الْمَعَافِرِيُّ، مِنْ كِتَابِ «السِّيَرِ» لِمُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ
الْمُطَّلِبِيِّ، وَهُوَ أَقْدَمُ السِّيَرِ الْجَامِعَةِ وَأَصَحُّهَا
Terjemahan:
"Inilah kitab Sīrah Rasūlillāh ﷺ yang disarikan oleh Imam Abū Muḥammad ‘Abd al-Malik ibn Hisyām
al-Ma‘āfirī dari kitab al-Siyar karya Muḥammad ibn Isḥāq al-Muṭṭalibī. Dan kitab (Ibn Isḥāq)
inilah karya sīrah yang paling tua dan paling lengkap serta paling sahih."
Penjelasan
1. Posisi
Kitab Sīrah dalam Khazanah Islam
Kalimat
“Hādhā kitāb Sīrah Rasūlillāh ﷺ” menunjukkan bahwa karya ini bukan sembarang biografi, melainkan
sebuah karya monumental. Sīrah Nabi ﷺ menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an
dalam memahami konteks pewahyuan, hukum, serta teladan praktis dari kehidupan
Rasul.
·
Tanpa sīrah, banyak ayat al-Qur’an sulit dipahami secara utuh,
karena banyak ayat yang turun terkait peristiwa tertentu (asbāb al-nuzūl).
·
Sīrah juga menjadi model implementasi Islam, karena
Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang
Nabi, tetapi juga pemimpin, panglima, hakim, guru, dan kepala keluarga.
2. Peran
Muhammad ibn Isḥāq (w. 151 H)
Ibn
Isḥāq disebut sebagai penulis al-Siyar, karya sīrah pertama yang lengkap
dan sistematis.
·
Ia menghimpun riwayat dari para tabi‘īn dan tabi‘ al-tabi‘īn,
sehingga berfungsi sebagai mata rantai sejarah yang menghubungkan
generasi setelah sahabat dengan generasi berikutnya.
·
Metode Ibn Isḥāq adalah menghimpun berbagai riwayat, baik yang kuat
maupun yang lemah, lalu menyusunnya dalam urutan kronologis. Hal ini membuat
karyanya kaya, meskipun membutuhkan kritik sanad dan matan.
·
Karyanya mencakup: nasab Nabi, tanda-tanda kenabian, periode
Makkah, hijrah, peperangan, hingga wafatnya Nabi ﷺ.
Tidak
heran jika para ulama menyebut karyanya sebagai “aqdam al-siyar al-jāmi‘ah wa aṣaḥḥuhā”
(yang paling tua, paling komprehensif, dan paling sahih pada zamannya).
3. Peran
Ibn Hisyām (w. 218 H)
Ibnu Hisyām
adalah seorang ulama besar dari Mesir-Yaman yang dikenal luas dalam bidang
bahasa Arab, genealogis, dan sejarah. Beliau melakukan penyaringan atas karya
Ibn Isḥāq yang meliputi.
·
Penyaringan (tahdzīb):
Ibnu Hisyām menghapus riwayat-riwayat yang dianggap terlalu lemah, kisah-kisah
Isra’iliyyat, syair-syair palsu, atau hal-hal yang tidak relevan.
·
Penyusunan ulang: Ia
menertibkan naskah agar lebih mudah dipahami, menambahkan keterangan bahasa dan
penjelasan genealogis.
·
Penekanan moral-spiritual: Ibnu Hisyām tidak sekadar meriwayatkan peristiwa, tetapi juga
menekankan pelajaran akhlak, keteladanan, dan hikmah di baliknya.
Dengan
demikian, karya Ibnu Hisyām bukan sekadar salinan, tetapi sebuah hasil
kritik, seleksi, dan penyusunan ilmiah yang menjadikan kitab ini bertahan
sebagai rujukan utama hingga hari ini. Sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Muṣṭafā
al-Saqqā dalam tahqiqnya terhadap teks ini, beliau menulis:
إِنَّ ابْنَ هِشَامٍ
لَمْ يَكُنْ مُجَرَّدَ نَاقِلٍ لِسِيرَةِ ابْنِ إِسْحَاقَ، بَلْ كَانَ مُحَقِّقًا
وَنَاقِدًا يُمَيِّزُ بَيْنَ الرِّوَايَاتِ وَيَحْذِفُ مَا يَرَاهُ ضَعِيفًا أَوْ
غَيْرَ مُتَّصِلٍ بِالْإِسْلَامِ.
Artinya:
"Sesungguhnya Ibn Hisyām tidak hanya sekadar penyalin sīrah Ibn Isḥāq,
tetapi beliau adalah seorang penyunting dan kritikus yang membedakan antara
berbagai riwayat dan menghapus apa yang dianggapnya lemah atau tidak berkaitan
dengan Islam."[1]
Ibn Hisyām
menerapkan metodologi penyuntingan yang ketat dalam menangani naskah Ibn Isḥāq.
Beliau menjelaskan dalam muqadimahnya:
وَذَكَرَ
ابْنُ هِشَامٍ بَعْضَ مَنْ لَقِيَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَمَا شَاهَدَ مِنَ
الْأَحْدَاثِ، وَأَنَا مُخْبِرٌ عَنْهُ بِمَا ذَكَرَهُ لِي بِإِسْنَادِهِ
Terjemahan:
"Ibn Isḥāq menyebutkan sebagian ulama yang ia temui dan peristiwa yang ia
saksikan, dan saya menyampaikan darinya apa yang ia sebutkan dengan
sanadnya."
Pernyataan
ini mengungkapkan kesadaran historis (historical consciousness)
yang tinggi dalam tradisi keilmuan Islam awal. Ibn Hisyām tidak hanya
sekadar menyalin tetapi melakukan verifikasi melalui isnād (mata
rantai periwayatan) yang menjadi ciri khas metodologi hadis.
Pendekatan ini
diakui oleh para ahli seperti Dr. Akram Ḍiyā’ al-‘Umarī dalam kitab al-Sīrah al-Nabawiyah al-Ṣaḥīḥah, beliau yang menyatakan:
اِتَّبَعَ ابْنُ هِشَامٍ مَنْهَجًا
نَقْدِيًّا فِي التَّعَامُلِ مَعَ رِوَايَاتِ ابْنِ إِسْحَاقَ، فَحَذَفَ
الْأَشْعَارَ الَّتِي لَمْ تَثْبُتْ صِحَّتُهَا وَحَذَفَ بَعْضَ الرِّوَايَاتِ
الَّتِي لَا تَتَّصِلُ مُبَاشَرَةً بِالسِّيرَةِ
Terjemahan:
"Ibn Hisyām mengikuti pendekatan kritis dalam menangani riwayat-riwayat
Ibn Isḥāq; ia menghapus syair-syair yang tidak terbukti keotentikannya dan
menghapus beberapa riwayat yang tidak langsung berkaitan dengan sīrah."[2]
Klasifikasi
Konten
Ibn Hisyām
secara sistematis mengorganisir materi sīrah ke dalam kategori-kategori
berikut:
·
Nasab Nabi ﷺ dan sejarah
Arab pra-Islam
·
Kehidupan awal Nabi
ﷺ hingga kenabian
·
Period Mekah dari
dakwah hingga hijrah
·
Period Madinah termasuk
peperangan dan perluasan dakwah
4. Kredibilitas
dan Otoritas Karya
Pernyataan
“wa huwa aqdam al-siyar al-jāmi‘ah wa aṣaḥḥuhā” menegaskan keistimewaan kitab
Ibn Isḥāq.
·
Aqdam (paling tua):
artinya ia menjadi fondasi utama bagi sejarawan setelahnya, termasuk al-Ṭabarī,
Ibn Katsīr, dan al-Wāqidī.
·
Al-jāmi‘ah (paling komprehensif): karena mencakup seluruh aspek kehidupan Nabi ﷺ, bukan hanya peperangan (al-maghāzī),
tetapi juga nasab, kelahiran, dakwah, akhlak, sahabat, dan seterusnya.
·
Aṣaḥḥuhā (paling sahih):
meskipun masih memerlukan kritik sanad, karya ini diakui oleh ulama sebagai
sumber paling otentik pada zamannya, karena disusun dari riwayat generasi dekat
dengan masa sahabat.
Dengan kata lain,
Ibn Hisyām menjadikan karya ini sebagai standar emas sīrah yang
dijadikan rujukan oleh para mufassir, fuqahā’, ahli hadits, hingga para ulama
tasawuf.
5.
Nilai Strategis Kitab Sīrah
Kitab
ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga:
1. Landasan tafsir: menjelaskan konteks turunnya ayat-ayat
al-Qur’an.
2. Dalil hukum: banyak fatwa fikih berdiri di atas peristiwa
sīrah, misalnya hukum jihad, mu‘āhadah (perjanjian), dan siyasah.
3. Inspirasi peradaban: memberi contoh kepemimpinan,
strategi dakwah, dan manajemen sosial.
4. Pendidikan akhlak: menampilkan teladan Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
6.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
·
Keilmuan:
Sīrah adalah disiplin yang lahir dari upaya ilmiah serius, bukan cerita rakyat.
Ibn Isḥāq dan Ibn Hisyām menunjukkan bahwa sejak awal umat Islam sangat peduli
pada metodologi periwayatan.
·
Kritisisme:
Ibnu Hisyām tidak menerima semua riwayat begitu saja, tetapi menyaring,
menolak, dan mengomentari. Ini menunjukkan bahwa tradisi kritik ilmiah dalam
Islam sudah hidup sejak abad kedua hijriah.
·
Kesinambungan:
karya Ibn Isḥāq tidak hilang karena ditahdzīb oleh Ibn Hisyām, dan justru bertahan
sepanjang zaman sebagai kitab induk sīrah.
Kesimpulan
sementara:
Potongan
muqaddimah ini mengandung pesan bahwa Sīrah Nabawiyyah yang kita warisi
hari ini adalah hasil dari upaya besar para ulama: Ibn Isḥāq yang menghimpun
dan merintis, serta Ibn Hisyām yang menyaring dan mengokohkan. Karena itulah,
kitab Sīrah Ibn Hisyām menjadi karya paling otoritatif dalam sejarah
Nabi ﷺ, menggabungkan aspek
kronologi, sanad, kritik, dan hikmah. Ia bukan hanya catatan sejarah, melainkan
pilar ilmu agama dan peradaban Islam.
(الْمَغَازِي وَالسِّيَرُ)
لَفْظَتَا «الْمَغَازِي وَالسِّيَرِ»
إِذَا أُطْلِقَتَا، فَالْمُرَادُ بِهِمَا عِنْدَ مُؤَرِّخِي الْمُسْلِمِينَ تِلْكَ
الصَّفْحَةَ الْأُولَى مِنْ تَارِيخِ الْأُمَّةِ الْعَرَبِيَّةِ، صَفْحَةَ
الْجِهَادِ فِي إِقَامَةِ صَرْحِ الْإِسْلَامِ، وَجَمْعِ الْعَرَبِ تَحْتَ لِوَاءِ
الرَّسُولِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَمَا يُضَافُ إِلَى
ذَلِكَ مِنَ الْحَدِيثِ عَنْ نَشْأَةِ النَّبِيِّ، وَذِكْرِ آبَائِهِ، وَمَا
سَبَقَ حَيَاتَهُ مِنْ أَحْدَاثٍ لَهَا صِلَةٌ بِشَأْنِهِ، وَحَيَاةِ أَصْحَابِهِ
الَّذِينَ أَبْلَوْا مَعَهُ فِي إِقَامَةِ الدِّينِ، وَحَمَلُوا رِسَالَتَهُ فِي
الْخَافِقِيْنِ.
Terjemahan:
(Al-Maghāzī wa As-Siyar) :
Istilah «Al-Maghāzī» (Ekspedisi-Ekspedisi
Perang) dan «As-Siyar» (Riwayat-Riwayat Hidup) apabila
disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksudkan menurut sejarawan Muslim
adalah halaman pertama sejarah bangsa Arab: yaitu halaman perjuangan
(jihād) dalam mendirikan bangunan Islam, memersatukan bangsa
Arab di bawah panji Rasulullah Muhammad صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beserta hal-hal yang terkait dengannya;
seperti pembahasan tentang kelahiran Nabi, penyebutan nenek
moyangnya, peristiwa-peristiwa sebelum hidupnya yang berkaitan dengan
dirinya, serta kehidupan para sahabatnya yang berjuang bersamanya dalam
menegakkan agama dan menyebarkan risalahnya ke seluruh penjuru dunia.
1. Makna Istilah al-Maghāzī dan as-Siyar
·
Al-Maghāzī (المغازي): berasal dari
kata ghazwah yang berarti peperangan atau ekspedisi militer.
Dalam konteks sirah, maghāzī merujuk kepada catatan tentang
peperangan-peperangan Rasulullah ﷺ,
baik yang beliau pimpin langsung (ghazwah) maupun yang hanya beliau utus
pasukan tanpa ikut serta (sariyyah). Karena jihad merupakan salah satu aspek
paling penting dari kehidupan Nabi, maka istilah ini menjadi identik dengan
sejarah perjuangan beliau.
·
As-Siyar (السير): bentuk jamak
dari sīrah, artinya perjalanan hidup, biografi, atau jejak
langkah. Ulama menggunakan istilah ini untuk menyebut keseluruhan kisah hidup
Rasulullah ﷺ,
termasuk akhlak, strategi dakwah, interaksi sosial, dan pendidikan umat.
Ketika kedua istilah ini digabung (al-Maghāzī
wa as-Siyar), maka cakupannya bukan hanya peperangan, melainkan seluruh
rangkaian peristiwa yang menyertai perjalanan hidup Nabi ﷺ,
sejak sebelum kelahirannya hingga wafat, serta perjuangan para sahabat
setelahnya.
2. Kedudukan dalam Historiografi Islam
Dalam tradisi sejarawan Muslim, al-Maghāzī
wa as-Siyar menempati posisi sebagai halaman pertama sejarah bangsa Arab
dan umat Islam.
·
Sebelum
datangnya Islam, bangsa Arab hanya memiliki catatan sejarah berupa syair-syair,
silsilah (ansāb), dan kisah lisan tentang peperangan antar kabilah. Namun,
dengan hadirnya Islam, sejarah bangsa Arab berubah menjadi sejarah umat yang
membawa risalah universal.
·
Oleh karena
itu, sirah dianggap sebagai fondasi utama historiografi Islam. Semua
kitab sejarah sesudahnya, baik karya ath-Thabari, Ibnu Katsir, maupun
az-Zahabi, pasti menjadikan sirah sebagai titik berangkat.
3. Cakupan Pembahasan dalam Sirah
al-Maghāzī wa as-Siyar mencakup
beberapa hal penting yaitu:
1). Jihad dan
perjuangan Nabi ﷺ dalam membangun Islam dan mempersatukan bangsa Arab di bawah
satu panji. Ini bukan sekadar peperangan fisik, tetapi juga perjuangan
ideologis, sosial, dan spiritual.
2). Nasab dan
leluhur Nabi ﷺ karena silsilah beliau menjadi bukti kemuliaan garis keturunan,
yang Allah pilih sebagai wadah untuk menurunkan risalah.
3). Peristiwa
sebelum kelahiran Nabi ﷺ misalnya peristiwa Tahun Gajah, doa Nabi Ibrahim, serta
tanda-tanda kedatangan seorang Nabi terakhir.
4). Masa
kelahiran dan pertumbuhan Nabi ﷺ
termasuk pengasuhan oleh Halimah as-Sa’diyah, peran kakeknya Abdul Muththalib,
dan paman beliau Abu Thalib.
5). Kehidupan
para sahabat mereka adalah bagian dari kisah perjuangan,
karena risalah Islam tidak hanya ditegakkan oleh Nabi, tetapi juga dipikul oleh
para sahabat hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Dengan cakupan tersebut, sirah Nabi ﷺ
bukan sekadar biografi pribadi, melainkan rekaman transformasi sejarah umat
manusia.
4. Relasi antara Nabi ﷺ dan
Para Sahabat
Ketika kita belajar Sirah nabi, maka tidak bisa
dipisahkan dari kisah para sahabat. Sebab:
·
Mereka adalah pendukung
utama Nabi ﷺ dalam suka dan duka.
·
Melalui mereka,
Islam tersebar ke berbagai negeri, bahkan setelah wafatnya Nabi.
·
Sahabat seperti
Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bukan hanya tokoh politik, tetapi juga pilar
yang melanjutkan risalah kenabian.
·
Sejarawan
Muslim menekankan bahwa kejayaan Islam bukanlah hasil individual semata,
tetapi hasil kolektif antara Rasulullah ﷺ
sebagai pemimpin dan para sahabat sebagai pengemban amanah.
5. Fungsi Spiritual dan Sosial Sirah
Sirah bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga:
·
Sumber inspirasi
spiritual: membangkitkan cinta kepada Rasulullah ﷺ dan
menumbuhkan semangat meneladani beliau.
·
Pedoman akhlak
dan manhaj dakwah: cara Nabi mendidik, bermuamalah, memimpin,
dan berjihad menjadi contoh praktis bagi umat Islam sepanjang zaman.
·
Identitas
peradaban: bangsa Arab sebelum Islam hanyalah suku-suku
yang tercerai-berai. Dengan sirah, mereka memiliki satu identitas sebagai umat
Muhammad ﷺ yang
bersatu.
6. Signifikansi bagi Peradaban Islam
Mengapa sirah begitu penting?, belajar sirah
nabawiyah sangatlah penting, diantara poin pentingnya belajar sirah nabawiyah
yaitu:
·
Membangun
legitimasi sejarah: sirah adalah bukti nyata bahwa risalah Islam
benar-benar hadir dalam sejarah, bukan sekadar ajaran abstrak.
·
Sumber hukum
dan fiqh: banyak kaidah fiqh dan hukum jihad, muamalah,
serta politik diambil dari sirah.
·
Penghubung
antara wahyu dan realitas: ayat-ayat Al-Qur’an sering turun terkait
peristiwa tertentu (asbābun nuzūl), yang dijelaskan melalui sirah.
·
Landasan dakwah
modern: umat Islam yang ingin memahami strategi
penyebaran Islam ke dunia wajib merujuk kepada sirah Nabi dan sahabat.
Prof.
Ramadhan al-Būṭī menyatakan tentang pentingnya mempelajari sīrah, beliau
berkata dalam kitab Fiqh al-Sīrah:
السِّيْرَةُ
النَّبَوِيَّةُ هِيَ التَّطْبِيقُ الْعَمَلِيُّ لِلْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَسُنَّةِ
الرَّسُولِ
Terjemahan:
"Sīrah nabawiyah adalah implementasi praktis dari al-Qur'an al-Karīm dan
sunnah Rasul."[3]
Imam
al-Zuhrī (wafat 124 H) juga menyatakan tentang pentingnya mempelajari sīrah
sebagaimana dikutip oleh Ibn Sayyid al-Nās dalam kitab ‘Uyūn al-Athar:
كَانَ
عِلْمُ الْمَغَازِي وَالسَّرَايَا عِلْمَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Terjemahan:
ilmu tentang "Ilmaghāzī dan al-sarāyā (ekspedisi militer) adalah ilmu
dunia dan akhirat."[4]
Kesimpulan sementara
Istilah al-Maghāzī wa as-Siyar bukan
sekadar menyebut kisah peperangan atau biografi, melainkan rekaman awal
peradaban Islam: jihad dalam menegakkan agama, persatuan bangsa Arab di
bawah Nabi ﷺ,
riwayat kelahiran dan nasab beliau, serta perjuangan para sahabat yang
melanjutkan misi risalah. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang menyebar luas
ke seluruh penjuru dunia.
وَظُهُورُ
الرِّسَالَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ أَعْظَمُ حَادِثٍ فِي تَارِيخِ الْعَرَبِ
خَاصَّةً، وَالْبَشَرِ عَامَّةً، لِأَنَّ حَيَاةَ الْعَرَبِ سَادَةً وَدَهْمَاءَ
أَيَّامَ الرَّسُولِ كَانَتْ لَهُ وَلِدِينِهِ، فَمَا اجْتَمَعَ مَلَأٌ مِنْهُمْ
أَوْ تَفَرَّقَ إِلَّا فِيهِ، وَلَا تَحَدَّثُوا فِي نَدِيِّهِمْ إِلَّا عَنْهُ،
وَلَا تَحَرَّكَتْ كَتائِبُهُمْ وَجُيُوشُهُمْ إِلَّا لَهُ، حَتَّى كَانَ قُصَارَى
بَلَائِهِ فِيهِمُ اجْتِمَاعُهُمْ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَنَبْذُهُمْ مَا كَانُوا
فِيهِ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ الْجَهْلَاءِ، وَالضَّلَالَةِ الْعَمْيَاءِ
Penjelasan
1.
Keagungan Risalah Muhammad ﷺ dalam Sejarah
Kemunculan Nabi
Muḥammad ﷺ membawa transformasi radikal dalam masyarakat
Arab khususnya, dan umat manusia pada umumnya. Ibn Hisyām menggambarkan
fenomena ini sebagai:
أَعْظَمُ
حَادِثٍ فِي تَارِيخِ الْعَرَبِ خَاصَّةً، وَالْبَشَرِ عَامَّةً
Terjemahan:
"Peristiwa teragung dalam sejarah bangsa Arab khususnya, dan umat manusia
secara umum."
Transformasi
ini meliputi beberapa dimensi, Dimensi Spiritual,
Dimensi Sosial, Dimensi Politik dan dimensi lainya. Maka:
·
Ini berarti, risalah Nabi ﷺ bukan sekadar peristiwa
keagamaan, tetapi titik balik sejarah dunia.
·
Untuk bangsa Arab, risalah ini adalah awal kebangkitan. Sebelum Islam, bangsa Arab hanyalah
suku-suku terpecah, sering berperang, tanpa sistem politik yang menyatukan.
Setelah Islam, mereka menjadi satu umat (ummah wāḥidah) dengan visi ilahiah.
·
Untuk umat manusia, risalah Nabi ﷺ
adalah anugerah terbesar karena membawa cahaya hidayah dan rahmat universal,
sebagaimana firman Allah: "وَمَا أَرْسَلْنَاكَ
إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ" (QS. al-Anbiyā’: 107). artinya: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam.”
2.
Pengaruh Risalah terhadap Masyarakat Arab
Teks Ibnu
Hisyam menggambarkan bahwa seluruh aspek kehidupan bangsa Arab pada masa itu
berputar di sekitar Nabi ﷺ:
·
Majelis-majelis mereka:
setiap kali kaum Quraisy atau kabilah Arab duduk bersama, yang dibicarakan
adalah Nabi ﷺ apakah itu untuk menentang, mendebat, atau
mencari kebenaran.
·
Pertemuan sosial: obrolan di pasar, di rumah, bahkan di perjalanan,
semuanya bersinggungan dengan nama beliau.
·
Gerakan militer: pasukan Arab pada masa itu tidak lagi digerakkan
semata demi fanatisme kabilah, tetapi karena sikap mereka terhadap risalah
Muhammad ﷺ — baik mendukung maupun
menentang.
Dengan
kata lain, Nabi ﷺ telah menjadi poros kehidupan Arab: pusat
perhatian, titik kontroversi, sekaligus pemersatu.
3.
Transformasi Sosial-Politik Bangsa Arab
Sebelum
datangnya Islam, bangsa Arab berada dalam kondisi yang oleh Al-Qur’an
digambarkan sebagai:
‘adāwah (permusuhan antar suku),
jahiliyyah (kehidupan tanpa bimbingan wahyu),
farqah (perpecahan dan kesukuan),
ḍalālah (kesesatan).
Ibn Hisyām
memberikan gambaran sekilas tentang kondisi
bangsa Arab pra-Islam yang disebut sebagai al-Jāhiliyyah (zaman
kebodohan) Yang dicirikan oleh:
·
Perebutan kekuasaan dan
perang antar suku (ḥurūb al-‘aṣabiyyah)
·
Penyembahan berhala dan
kepercayaan animistik
·
Tidak adanya otoritas politik terpusat, kecuali
sedikit kerajaan perbatasan
·
Tingginya buta huruf dan
tradisi oral yang dominan
Dr. Ḥusayn
Mu’nis menjelaskan konteks ini, beliau berkata dalam kitab Tārīkh al-‘Arab:
لَمْ تَكُنِ
الْجَزِيرَةُ الْعَرَبِيَّةُ قَبْلَ الْإِسْلَامِ مِنطَقَةً مُنْعَزِلَةً عَنِ
الْعَالَمِ، بَلْ كَانَتْ تَتَقَاطَعُ فِيهَا طُرُقُ التِّجَارَةِ الدَّوْلِيَّةِ
وَتُؤَثِّرُ فِيهَا الصِّرَاعَاتُ بَيْنَ الْإِمْبَرَاطُورِيَّاتِ الْمُجَاوِرَةِ
Terjemahan:
"Jazirah Arab sebelum Islam bukanlah wilayah yang terisolasi dari dunia,
tetapi di dalamnya bersimpangan jalur perdagangan internasional dan dipengaruhi
oleh konflik antara kekaisaran-kekaisaran tetangga."[5]
Namun,
risalah Nabi ﷺ mengubah arah sejarah mereka secara
radikal:
1. Dari masyarakat tribal menjadi umat yang bersatu.
2. Dari fanatisme kesukuan menjadi ikatan iman.
3. Dari budaya perang tanpa tujuan
menjadi jihad fi sabīlillāh.
4. Dari kekacauan moral menjadi masyarakat
bermartabat dengan hukum syariat.
4.
Pelepasan dari Belenggu Jahiliyah
Ibnu Hisyam
menyebut: “وَنَبْذُهُمْ
مَا كَانُوا فِيهِ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ الْجَهْلَاءِ، وَالضَّلَالَةِ
الْعَمْيَاءِ” artinya: “serta pencampakan mereka terhadap kebodohan jahiliyah yang membodohkan dan kesesatan yang buta yang dahulu melekat pada mereka.’.”
·
Jahiliyah di sini bukan hanya kebodohan intelektual, tetapi sistem
hidup yang gelap, penuh penyimpangan: penyembahan berhala, perzinaan,
pembunuhan bayi perempuan, riba, dan kezaliman sosial.
·
Dengan Islam, bangsa Arab menanggalkan tradisi lama
dan menggantinya dengan akhlak Qur’ani: tauhid, keadilan, persaudaraan, dan
ilmu.
·
Transformasi ini bukanlah proses mudah; ia melalui
perjuangan panjang Nabi ﷺ dakwah penuh kesabaran, penolakan, hingga
peperangan.
5.
Dimensi Universal Risalah Nabi ﷺ
Meskipun Ibnu
Hisyam menyebutkan keistimewaan bagi bangsa Arab, risalah Nabi ﷺ bukan terbatas pada satu
etnis. Justru, beliau adalah:
·
Rasul bagi seluruh manusia: "قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ
اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا" (QS. al-A‘rāf: 158).
·
Pembawa rahmat bagi seluruh alam, melampaui batas Arab.
·
Melalui para sahabat, risalah itu menjangkau Persia,
Romawi, Afrika Utara, hingga Andalusia. Dalam kurun kurang dari satu abad,
risalah ini menjelma menjadi peradaban dunia.
6.
Dampak Peradaban Islam bagi Dunia
Kebangkitan
Islam pasca-risalah Nabi ﷺ telah melahirkan:
1). Sistem politik dan hukum yang berbasis wahyu, bukan hawa nafsu penguasa.
2). Kemajuan ilmu pengetahuan: umat Islam menjadi pelopor sains, filsafat, kedokteran,
matematika, dan sastra.
3). Model masyarakat adil: Islam membawa prinsip kesetaraan, meniadakan
diskriminasi rasial. Bilal bin Rabah bisa sejajar dengan Abu Bakar dalam
persaudaraan iman.
4). Jaringan peradaban luas: dari Madinah sebagai pusat awal, Islam membangun
sistem perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan yang berpengaruh hingga Eropa,
Asia, dan Afrika.
Kesimpulan sementara
Cuplikan
ini menunjukkan bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ adalah revolusi
spiritual, sosial, politik, dan peradaban. Bagi bangsa Arab, risalah ini memutus rantai jahiliyah yang
membodohkan dan mempersatukan mereka dalam satu ikatan iman. Bagi umat manusia, risalah ini adalah
cahaya hidayah yang melahirkan peradaban besar dan membawa rahmat bagi seluruh
alam.
Part
2
ثُمَّ
بَرَزَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ الْعَرَبِيَّةُ، الَّتِي كَانَتْ قَدْ أُنْكِرَتْهَا
الْأُمَمُ، وَتَخَطَّفَهُمُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ، إِلَى مَيَادِينَ
الْحَيَاةِ، تُؤَدِّي رِسَالَتَهَا فِي هِدَايَةِ الْبَشَرِ، وَتُقِيمُ
الْقِسْطَاسَ بَيْنَ النَّاسِ، وَتَضْرِبُ الْمَثَلَ الْأَعْلَى فِي عُلُوِّ
الْهِمَّةِ، وَالْبَطُولَةِ، وَالْإِيثَارِ، وَنُصْرَةِ الْحَقِّ، وَالتَّعَاوُنِ
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَالِاسْتِمْسَاكِ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
Terjemahan Bahasa Indonesia:
Kemudian bangsa Arab ini pun bangkit yang sebelumnya dinafikan oleh bangsa-bangsa (lain) dan diterkam oleh manusia dari segenap penjuru
sekitar mereka, menuju medan kehidupan, menunaikan
risalahnya dalam memberikan petunjuk bagi umat manusia, menegakkan
timbangan keadilan di antara manusia, serta menunjukkan
teladan tertinggi dalam hal keluhuran cita-cita, kepahlawanan, pengorbanan
diri, penegakan kebenaran, kerjasama
dalam kebajikan dan ketakwaan, dan berpegang
teguh pada kemuliaan akhlak.
هَذَا
مُجْمَلُ مَا تَضَمَّنَتْهُ سِيرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَالرَّعِيلِ الْأَوَّلِ مِنْ صَحَابَتِهِ، الَّذِينَ تَابَعُوهُ عَلَى الْهُدَى
وَدِينِ الْحَقِّ، وَسَبَقُوا إِلَى تَدْوِينِ صُحُفِ الْمَجْدِ وَالْفَخَارِ
الْعَرَبِيِّ بِمَا خَلَّدُوا مِنْ أَعْمَالِهِمْ عَلَى وَجْهِ الزَّمَانِ
Terjemahan Bahasa Indonesia:
Inilah
ringkasan kandungan Sirah (Riwayat Hidup) Nabi ﷺ beserta
generasi pendahulu dari para sahabatnya yang
mengikuti beliau dalam petunjuk ilahi dan agama kebenaran serta
yang paling awal mencatat lembaran-lembaran kemuliaan dan kebanggaan Arab melalui
amal perbuatan mereka yang diabadikan sepanjang zaman.
Penjelasan
1. Konteks
Kebangkitan Bangsa Arab
Ibnu Hisyam
menggambarkan kondisi bangsa Arab pra-Islam sebagai umat yang terpinggirkan
dan tidak diperhitungkan. Dunia saat itu mengenal dua kekuatan besar: Romawi
(Bizantium) di Barat dan Persia (Sassanid) di Timur. Di hadapan
kedua imperium besar itu, bangsa Arab hanya dianggap sebagai kaum nomaden,
terpecah-belah dalam kabilah, tanpa sistem pemerintahan yang kokoh, dan sering
dipandang hina.
mereka
seperti mangsa yang mudah direbut oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Hal ini benar
adanya: kabilah-kabilah Arab di utara berada di bawah bayang-bayang Romawi,
sementara kabilah di timur terpengaruh Persia. Mereka tidak memiliki kekuatan
politik dan militer yang berarti. Namun, setelah turunnya wahyu kepada Nabi
Muhammad ﷺ, Bangsa Arab itu bangkit
dari keterpurukan dan tampil di pentas sejarah dunia. Kata بَرَزَتْ yang
digunakan oleh ibnu hisyam artinya (muncul, tampil ke depan) menunjukkan peralihan
dramatis dari bangsa yang tidak diperhitungkan menjadi bangsa yang memimpin
umat manusia.
Kemudian Secara
ekonomi, bangs arab juga tidak
memiliki sistem perdagangan internasional yang mapan selain jalur kafilah
musiman. Dan Secara intelektual: mereka juga tidak memiliki filsafat
atau ilmu pengetahuan tertulis yang besar seperti Yunani, India, atau Persia. Namun,
justru di tengah kondisi seperti itulah Islam datang, menjadikan bangsa yang
“disantap” oleh tetangganya itu sebagai umat yang tampil ke “mayādīn al-ḥayāh”
(medan kehidupan). Inilah yang oleh banyak sejarawan Islam dipandang sebagai
sebuah “revolusi peradaban” yang dimulai dari tanah Arab.
2. Risalah
Hidayah bagi Umat Manusia
Kalimat
“ تُؤَدِّي رِسَالَتَهَا فِي هِدَايَةِ
الْبَشَرِ” yang artinya: “menunaikan
risalahnya dalam memberikan petunjuk bagi umat manusia,” menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa Arab bukan sekadar
kebangkitan etnis atau politik, tetapi kebangkitan berbasis misi universal.
·
Risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk orang Arab, tetapi rahmatan
lil-‘ālamīn.
·
Bangsa Arab menjadi wasilah, bukan tujuan akhir. Mereka diangkat
karena menjadi pengemban risalah, bukan karena keistimewaan darah atau nasab
semata.
·
Dari sebuah bangsa yang terpinggirkan, mereka diberi tanggung jawab
besar: membimbing manusia menuju kebenaran, tauhid, dan kemanusiaan yang adil.
3. Menegakkan
Keadilan di Tengah Manusia
·
Islam datang untuk “وَتُقِيمُ
الْقِسْطَاسَ بَيْنَ النَّاسِ” yang artinya: “ menegakkan timbangan keadilan di antara manusia,”
·
Keadilan yang dimaksud bukan hanya dalam hukum peradilan, tetapi
meliputi seluruh aspek kehidupan: sosial, politik, ekonomi, dan moral.
·
Kaum Muslimin awal memperlihatkan bahwa keadilan tidak boleh tunduk
pada ras, warna kulit, status sosial, bahkan kekuasaan. Inilah yang membuat
Islam menarik banyak hati dari berbagai bangsa, sebab keadilan ditegakkan secara
nyata, bukan sekadar slogan.
4. Teladan
Tertinggi dalam Nilai-Nilai Luhur
Bangsa
Arab dengan bimbingan Nabi ﷺ menunjukkan ” الْمَثَلَ الْأَعْلَى”
(contoh tertinggi) dalam berbagai sifat:
·
‘Ulū al-himmah (keluhuran cita-cita): Dari bangsa padang pasir yang berpikir sempit menjadi umat yang
bercita-cita mengubah dunia.
·
Al-buṭūlah (kepahlawanan): Tidak hanya berani di medan perang, tetapi juga berani menanggung
penderitaan demi kebenaran.
·
Al-ītsār (pengorbanan diri): Kaum Anshar yang rela berbagi harta dengan Muhajirin menjadi
contoh pengorbanan yang abadi.
·
Nuṣrat al-ḥaqq (membela kebenaran): Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Bilal, dan lainnya,
menampilkan keberanian untuk tetap memegang kebenaran meskipun harus berhadapan
dengan penindasan.
·
At-ta‘āwun ‘alā al-birr wa at-taqwā (kerjasama dalam kebajikan dan
ketakwaan): Masyarakat
Madinah dibangun atas prinsip ini, dengan Piagam Madinah sebagai landasan
persaudaraan dan kerjasama lintas suku serta agama.
·
Al-istimsāk bi makārim al-akhlāq (berpegang pada akhlak mulia): Akhlak Rasulullah ﷺ menjadi rujukan utama. Bangsa Arab yang
sebelumnya dikenal dengan fanatisme buta berubah menjadi umat yang mengedepankan
kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
5. Sīrah
Nabi ﷺ sebagai Ringkasan Kemuliaan Umat
Ibnu
Hisyam berkata bahwa Sīrah Nabi ﷺ merupakan Ringkasan Kemuliaan Umat beliau
berkata: “هَذَا
مُجْمَلُ مَا تَضَمَّنَتْهُ سِيرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَالرَّعِيلِ الْأَوَّلِ مِنْ صَحَابَتِهِ” artinya: “Inilah ringkasan kandungan Sirah (Riwayat Hidup)
Nabi ﷺ beserta generasi pendahulu dari para sahabatnya”
Dari
sini bisa diambil setidaknya 3 kesimpulan
·
Sīrah Nabi bukan hanya catatan sejarah pribadi beliau, melainkan
gambaran bagaimana sebuah bangsa berubah total melalui wahyu dan kepemimpinan
kenabian.
·
Para sahabat adalah saksi sekaligus aktor utama dalam transformasi
itu. Mereka mengikuti Nabi dengan penuh kesetiaan, menulis lembaran-lembaran
kemuliaan dengan darah, keringat, dan pengorbanan.
·
Dalam pandangan Ibnu Hisyām, sahabat generasi awal adalah yang
pertama menorehkan “صُحُفِ
الْمَجْدِ وَالْفَخَارِ الْعَرَبِيِّ” (lembaran
kemuliaan dan kebanggaan Arab), bukan karena kebanggaan jahiliyah, melainkan
karena mereka menjadi pengemban agama kebenaran.
6.
Dimensi Sejarah dan Peradaban
Kalimat
terakhir: “بِمَا
خَلَّدُوا مِنْ أَعْمَالِهِمْ عَلَى وَجْهِ الزَّمَانِ” yang artinya:
“melalui
amal perbuatan mereka yang diabadikan sepanjang zaman.
Hal
ini menunjukkan bahwa amal mereka diabadikan sepanjang zaman.
Maksudnya, sejarah Islam bukan
sekadar kisah yang lewat, tetapi memiliki daya hidup yang terus menjadi
inspirasi. Sirah Nabi ﷺ adalah fondasi utama bagi peradaban Islam. Ia mengajarkan bahwa
peradaban sejati dibangun dengan iman, ilmu, akhlak, dan pengorbanan, bukan
semata kekuatan militer atau kekayaan materi.
7. Relevansi
Bagi Umat Islam Masa Kini
Pesan
besar muqaddimah ini relevan untuk direnungkan kembali, misalnya:
·
Apakah umat Islam hari ini masih menjadi pembawa risalah hidayah?
·
Apakah umat Islam menegakkan keadilan atau justru ikut dalam
kezaliman?
·
Apakah umat Islam masih menunjukkan teladan tertinggi dalam akhlak
dan pengorbanan?
Sejarah
emas generasi awal tidak dimaksudkan untuk sekadar dikenang, tetapi untuk
diteladani.
Kesimpulan
sementara
Cuplikan
Muqaddimah ini menggarisbawahi keajaiban sejarah: sebuah bangsa yang
diremehkan, dengan bimbingan Nabi ﷺ, berubah menjadi umat yang membawa risalah
hidayah, menegakkan keadilan, menampilkan akhlak mulia, dan menorehkan
kemuliaan yang abadi dalam sejarah umat manusia. Sirah Nabi ﷺ dan generasi sahabat adalah sumber utama
inspirasi peradaban Islam yang tidak pernah padam sinarnya.
ثُمَّ
دَبَّ إِلَى بَعْضِ مَنْ خَلَفَ بَعْدَهُمْ مِنَ الزُّعَمَاءِ التَّحَاسُدُ
وَالتَّبَاغُضُ، وَقِلَّةُ التَّنَاصُرِ وَالتَّعَاوُنِ، فَتَشَعَّبَتْ
بِالْأُمَّةِ السُّبُلُ، وَتَفَرَّقَتْ بِهِمُ النَّوَاحِي، فَكَانَ لَهُمْ إِلَى
جَانِبِ ذَلِكَ التَّارِيخِ تَارِيخٌ، وَانْقَسَمَ هَذَا التَّارِيخُ بِانْقِسَامِ
الْأُمَّةِ دُوَلًا، كَانَ لِكُلِّ دَوْلَةٍ تَارِيخُهَا الْخَاصُّ فِي
مَوْقِعِهَا الْجَدِيدِ، وَاتِّصَالِهَا بِغَيْرِهَا مِنَ الدُّوَلِ.
Terjemahan:
Kemudian merayap masuklah kepada sebagian
tokoh penguasa yang menggantikan generasi awal (sahabat) itu perasaan saling dengki dan kebencian, serta melemahnya semangat saling menolong dan kerja
sama. Maka bercabang-cabanglah
jalan umat (menjadi pecah), dan mereka
pun tercerai-berai ke berbagai penjuru. Lalu di samping sejarah (pemersatu) itu, muncullah
sejarah (lain). Sejarah pun terbelah seiring terpecahnya umat
menjadi kerajaan-kerajaan, dimana setiap
kerajaan memiliki sejarah khususnya sendiri sesuai kedudukan barunya dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan lain.
penjelasan
1. Peralihan
dari Generasi Emas ke Generasi Setelahnya
Setelah
wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam dipimpin oleh para sahabat mulia yakni khulafā’
ar-rāsyidīn yang menegakkan prinsip syūrā, keadilan, dan kesatuan umat.
Masa mereka dipandang sebagai periode ideal dalam sejarah Islam. Namun, seiring
berjalannya waktu, terutama ketika kepemimpinan berpindah ke tangan generasi
berikutnya, muncul perubahan:
·
Timbulnya sifat hasad dan bughḍ (dengki dan kebencian): Persaingan antar-penguasa dan elite politik mulai mengalahkan
semangat persaudaraan.
·
Menurunnya ta‘āwun (kerjasama) dan tanāṣur (saling menolong): Nilai luhur yang dahulu mempersatukan umat di bawah panji Islam
mulai melemah, digantikan oleh kepentingan pribadi, keluarga, atau kabilah. Semangat saling menolong yang dahulu
menjadi sumber kekuatan, kini berubah menjadi perebutan pengaruh dan saling
menjatuhkan.
Inilah titik
awal disintegrasi umat: ketika orientasi spiritual dan misi risalah mulai
tergantikan oleh ambisi duniawi. Ibnu hisyam menggambarkan kondisi ini dengan
redaksi Kalimat: “ثُمَّ دَبَّ إِلَى بَعْضِ مَنْ خَلَفَ بَعْدَهُمْ مِنَ
الزُّعَمَاءِ التَّحَاسُدُ وَالتَّبَاغُضُ” artinya:
Kemudian merayap
masuklah kepada sebagian tokoh penguasa yang menggantikan generasi awal
(sahabat) itu perasaan
saling dengki dan kebencian.
Kata دَبَّ (merayap masuk) adalah pilihan kata yang
sangat indah. Ia menggambarkan penyakit yang tidak datang secara tiba-tiba dan
kasar, tetapi perlahan, halus, seperti racun yang merembes ke dalam tubuh tanpa
disadari. Penyakit itu
adalah al-tahāsud (kedengkian) dan al-tabāghudh (kebencian). Hal ini terjadi setelah wafatnya Rasulullah ﷺ dan berlalunya
masa sahabat yang mulia. Di Generasi berikutnya, sebagian pemimpin dan tokoh
umat mulai dikuasai hawa nafsu, ambisi, dan perebutan kekuasaan.
Ibn Khaldūn
(wafat 808 H/1406 M) dalam Muqaddimah-nya menganalisis fenomena ini melalui konsep al-‘aṣabiyyah (solidaritas
kelompok), beliau berkata:
إِنَّ
الدَّوْلَةَ لَهَا أَعْمَارٌ طَبِيعِيَّةٌ كَمَا لِلْأَشْخَاصِ، وَالِانْقِسَامُ
يَبْدَأُ عِنْدَمَا تَضْعُفُ الْعَصَبِيَّةُ وَتَقْوَى القُوَى الطَّارِدَةُ
الْمَرْكَزِيَّةُ
Terjemahan:
"Sesungguhnya negara memiliki usia alami seperti individu, dan perpecahan
mulai ketika solidaritas melemah dan kekuatan sentrifugal menguat."[6]
2. Pecahnya
Jalan Umat
·
Umat islam yang awalnya hidup dalam kesatuan politik dan identitas,
yang tadinya menyatu dalam visi dan misi besar, kemudian terpecah belah, dan
tercerai berai ke berbagai arah. ibnu hisyam menggambarkan hal ini dengan Frasa
“فَتَشَعَّبَتْ
بِالْأُمَّةِ السُّبُلُ، وَتَفَرَّقَتْ بِهِمُ النَّوَاحِي”
yang artinya “Maka bercabang-cabanglah
jalan umat (menjadi pecah), dan mereka
pun tercerai-berai ke berbagai penjuru.”
·
Umat tidak lagi bersatu di bawah satu pemimpin yang adil, tetapi
mulai terkotak-kotak oleh kepentingan politik dan wilayah.
·
Fanatisme kesukuan dan kepentingan dinasti menggantikan
persaudaraan iman.
·
Pecahnya umat ini tidak hanya dalam hal politik, tetapi juga
berimplikasi pada sosial, ekonomi, bahkan pemahaman agama yang kemudian
melahirkan berbagai kelompok, sekte, dan aliran.
3. Dari
Satu Sejarah Menjadi Banyak Sejarah
Ibnu Hisyam
mengisyaratkan bahwa setelah perpecahan, umat Islam memiliki “dua sejarah” yang
digambarkan dengan redaksi: “فَكَانَ لَهُمْ إِلَى
جَانِبِ ذَلِكَ التَّارِيخِ تَارِيخٌ” (di samping
sejarah besar yang menyatukan mereka, muncul pula sejarah lain).
·
Sejarah pemersatu:
adalah sejarah yang lahir dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yakni sejarah risalah
Islam yang universal, yang memandang umat sebagai satu tubuh.
·
Sejarah perpecahan:
adalah sejarah masing-masing wilayah, kerajaan, dan dinasti yang terbentuk
setelah perpecahan. Setiap kekuasaan memiliki narasinya sendiri, menulis
“sejarah khusus” yang seringkali menonjolkan kepentingan lokal atau dinasti,
bukan kepentingan umat secara keseluruhan.
·
Kedua sejarah ini berjalan berdampingan: ada lembaran
yang penuh cahaya, namun ada pula sisi gelap yang menjadi pelajaran pahit.
Dengan
demikian, dari satu arus sejarah besar yang menyatukan, umat Islam masuk ke
fase di mana ada banyak sejarah paralel yang berjalan bersamaan, sering kali
saling bertentangan.
4. Munculnya
Dinasti-Dinasti dan Fragmentasi Politik
Ibnu Hisyām
mengisyaratkan bahwa sejarah umat kemudian terbagi menjadi dawlah-dawlah
(kerajaan-kerajaan).
·
Bani Umayyah: lahir
setelah masa Khulafā’ al-Rāsyidīn yang melanjutkan ekspansi besar Islam, tetapi
juga menjadi titik awal munculnya konflik politik yang tajam.
·
Bani Abbasiyah:
menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban, namun juga tidak lepas dari
intrik politik dan perpecahan internal.
·
Dinasti-dinasti lokal:
seperti Umayyah di Andalusia, Fathimiyyah dan Ayyubiyah di Mesir, Utsmaniyyah
di Turki, hingga dinasti-dinasti kecil di Afrika, Asia Tengah, dan India.
Setiap dinasti
itu memiliki sejarah khususnya sendiri: pencapaiannya, sistem
pemerintahannya, hubungannya dengan kerajaan lain, dan kontribusinya dalam
peradaban, Inilah yang dimaksud Ibnu Hisyām dengan “setiap kerajaan memiliki
sejarah khususnya sendiri sesuai kedudukan barunya dan hubungannya dengan
kerajaan lain”. Ibnu Hisyam menyadari bahwa sejarah Islam pasca-sahabat bukan
lagi satu arus tunggal, tetapi menjadi mosaik dari banyak negara dan kekuasaan.
Cuplikan ini
menunjukkan kecerdasan Ibnu Hisyam sebagai sejarawan:
·
Ia realistis: tidak hanya menonjolkan kejayaan,
tetapi juga mengakui kelemahan umat pasca generasi sahabat.
·
Ia adil: tidak menutup-nutupi bahwa perpecahan
dan perselisihan adalah bagian dari sejarah yang nyata.
·
Ia edukatif: menekankan bahwa sejarah bukan hanya untuk
dikenang, tetapi untuk diambil ibrah (pelajaran).
5. Perpecahan
dibidang Sosial dan Intelektual
Akibat Perpecahan
politik, merembet juga kepada bidang lain seperti:
·
Sosial: masyarakat
umat Islam yang dulu merasa satu tubuh, kini sering terjebak dalam loyalitas
lokal.
·
Intelektual:
munculnya madzhab-madzhab fiqh, teologi, dan filsafat, yang pada satu sisi
memperkaya khazanah Islam, tetapi pada sisi lain kadang dimanfaatkan untuk
kepentingan politik.
·
Budaya: tiap wilayah
membangun peradaban dengan ciri khas masing-masing seperti Baghdad, Kairo,
Cordoba, Samarkand namun tidak lagi selalu bernafas dengan semangat kesatuan
umat.
6.
Pelajaran dari Kritik Ibnu Hisyām
Ibnu Hisyām,
dalam muqaddimahnya, sebenarnya tidak hanya mengisahkan fakta sejarah, tetapi
juga memberi peringatan moral:
·
Kesatuan umat adalah kekuatan terbesar. Ketika kesatuan itu rapuh,
sejarah umat pun terbelah.
·
Penyakit hati (hasad, kebencian, egoisme) adalah akar dari
keruntuhan.
·
Sejarah Islam bukan hanya tentang kejayaan militer dan politik,
tetapi juga tentang dinamika moral, sosial, dan spiritual umat.
7.
Relevansi untuk Masa Kini
Apa
yang ditulis Ibnu Hisyām seribu tahun lalu masih terasa relevan hingga hari
ini, hal ini bisa dilihat dari realita yang ada disekitar kita mislnya:
·
Umat Islam hari ini pun sering terpecah karena politik,
nasionalisme, atau bahkan perbedaan furu‘iyah.
·
Sejarah kita pun terfragmentasi: masing-masing negara menulis
narasi kebanggaan lokalnya, sementara sejarah besar sebagai ummah wāḥidah
sering terlupakan.
·
Pelajaran utama: jika umat ingin kembali bangkit, harus ada usaha
mengatasi penyakit hati, menghidupkan semangat ta‘āwun (kerja sama), dan
kembali merujuk kepada risalah pemersatu yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan
sementara:
Potongan muqaddimah
ini adalah refleksi tajam dari Ibnu Hisyām tentang transformasi sejarah umat
Islam: dari kejayaan generasi Nabi ﷺ dan sahabat, menuju perpecahan generasi
setelahnya. Dari satu sejarah agung yang menyatukan, umat bergeser menjadi
sejarah-sejarah parsial yang terkotak oleh dinasti dan wilayah. Kritik ini
bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga peringatan bagi generasi
berikutnya: bahwa kekuatan umat terletak pada kesatuan, keikhlasan, dan
kerjasama, sedangkan kehancurannya berawal dari hasad, kebencian, dan
perpecahan.
Sīrah
memberikan model keteladanan (uswah hasanah) dalam berbagai aspek kehidupan. Imam al-Shāfi'ī (wafat 204 H)
menyatakan pentingnya kitab shirah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad bin
Hanbal dalam kitab al-‘Ilal wa Ma‘rifat
al-Rijāl:
لَمْ أَعْلَمْ كِتَابًا فِي الْإِسْلَامِ بَعْدَ
الْقُرْآنِ أَصَحَّ مِنْ كِتَابِ ابْنِ إِسْحَاقَ
Terjemahan:
"Saya tidak mengetahui kitab dalam Islam setelah al-Qur'an yang lebih
sahih daripada kitab Ibn Isḥāq."[7]
Memahami
sirah berarti Memahami konteks historis wahyu dan perkembangan Islam awal. Dr.
Mahdī Rizq Allāh Aḥmad menjelaskan dalam kitab al-Sīrah al-Nabawiyah fī Ḍaw' al-Maṣādir al-Aṣliyyah:
السِّيْرَةُ
النَّبَوِيَّةُ هِيَ الْمُفَسِّرُ الْعَمَلِيُّ لِلْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، فَهِيَ
التَّطْبِيقُ الْحَيُّ لِأَحْكَامِهِ وَمَبَادِئِهِ
Terjemahan:
"Sīrah nabawiyah adalah tafsir praktis untuk al-Qur'an al-Karīm; ia
merupakan implementasi hidup dari hukum-hukum dan prinsip-prinsipnya."[8]
8.
Tantangan Modern dalam Studi Sīrah
Dalam konteks
kontemporer, studi sīrah menghadapi beberapa tantangan:
Oriententalisme dan kritik historis terhadap sumber-sumber Islam
Radikalisme yang memanipulasi narasi sejarah untuk legitimasi politik
Sekularisasi yang memisahkan aspek spiritual dari sejarah
Maka
dalam hal ini Dr. ‘Alī Muḥammad al-Ṣallābī menawarkan solusi jalan tengah,
beliau berkata dalam kitab al-Sīrah
al-Nabawiyah sebagai berikut:
يَجِبُ أَنْ نَدْرُسَ
السِّيرَةَ بِمَنْهَجِيَّةٍ مُتَوَازِنَةٍ تَجْمَعُ بَيْنَ الثِّقَةِ فِي
الْمَصَادِرِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَالِانْفِتَاحِ عَلَى الْمَنَاهِجِ
النَّقْدِيَّةِ الْحَدِيثَةِ
Terjemahan:
"Kita harus mempelajari sīrah dengan metodologi seimbang yang
menggabungkan kepercayaan pada sumber-sumber Islam dan keterbukaan terhadap
metodologi kritik modern."[9]
Tabel: Perbandingan Pendekatan Penulisan Sīrah
|
Aspek |
Ibn Isḥāq |
Ibn Hisyām |
Pendekatan Modern |
|
Cakupan |
Komprehensif
termasuk silsilah dan pra-Islam |
Seleksi ketat
yang relevan dengan Islam |
Kritik sumber dan
kontekstualisasi |
|
Metodologi |
Pengumpulan semua
riwayat available |
Penyuntingan
kritis dengan verifikasi isnād |
Analisis
historis-kritis |
|
Puisi |
Menyertakan
banyak syair sebagai bukti |
Menghapus syair
yang tidak terverifikasi |
Menggunakan syair
sebagai sumber sekunder |
|
Perspektif |
Naratif terpadu |
Fokus pada Nabi ﷺ dan sahabat |
Multidimensi dan interdisipliner |
Kesimpulan:
Pelajaran Abadi dari Muqadimah Ibn Hisyām
Muqadimah Sīrah Ibn Hisyām bukan
hanya sekantar pengantar teknis, tetapi merupakan manifestasi kesadaran
historis yang mendalam tentang signifikansi peristiwa kenabian dalam membentuk
peradaban manusia. melalui karyanya, Ibn Hisyām tidak hanya melestarikan
warisan Ibn Isḥāq tetapi juga menetapkan standar metodologis untuk penulisan
sejarah Islam yang kritis namun tetap berorientasi pada nilai-nilai spiritual.
Relevansi karya
ini dalam konteks kontemporer terletak pada kemampuannya memberikan perspektif
holistik tentang Islam yang menghubungkan dimensi spiritual dengan transformasi
sosial-politik. Sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Muḥammad ‘Abid al-Jābirī dalam
kitab al-‘Aql al-Akhlāqī
al-‘Arabī, beliau
berkata:
فَهْمُ
السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ ضَرُورِيٌّ لِفَهْمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَتَارِيخُ
الْإِسْلَامِ هُوَ الْمُخْتَبَرُ الْعَمَلِيُّ لِمَبَادِئِهِ
Terjemahan:
"Pemahaman sīrah nabawiyah essential untuk memahami al-Qur'an al-Karīm,
dan sejarah Islam adalah laboratorium praktis bagi prinsip-prinsipnya."[10]
Dalam
dunia yang menghadapi polarisasi dan fragmentasi, pelajaran dari kesatuan umat
awal di bawah kepemimpinan Nabi ﷺ dan
transformasi masyarakat Arab dari jāhiliyyah kepada
peradaban Islam tetap menjadi inspirasi abadi bagi kemanusiaan.
Alhamdulillah,
demikian pembahasan kita untuk Shirah Ibnu Hisyam Part 2 Muqadimah
halaman 1‑7. Terima kasih banyak kepada Sobat Pena Islam yang telah menyimak
sampai akhir kalian luar biasa!
Kalau
kalian merasa video ini bermanfaat, jangan lupa like, subscribe, share
ke saudara dan teman kalian, serta tinggalkan komentar di bawah: bagian
mana dari Muqadimah ini yang paling membuat kalian berpikir? Atau mungkin ada
pertanyaan yang muncul terkait metodologi atau konteks historisnya? Saya sangat
menanti tanggapan kalian.
Sekian
dulu dari saya, semoga apa yang kita pelajari hari ini menambah ilmu,
meningkatkan keimanan, dan membuat kita lebih mantap menjalani kehidupan
berdasarkan sirah dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Daftar Pustaka
1. Aḥmad
ibn Ḥanbal. al-‘Ilal wa Ma‘rifat al-Rijāl. Riyadh: Dār al-Khānī, 2001.
2. Aḥmad,
Mahdī Rizq Allāh. al-Sīrah al-Nabawiyah fī Ḍaw' al-Maṣādir al-Aṣliyyah.
Riyadh: Markaz al-Malik Fayṣal, 1992.
3.
al-Būṭī, Muḥammad Sa‘īd Ramadān. Fiqh al-Sīrah. Damaskus: Dār al-Fikr,
1991.
4.
Ibn Hisyām. al-Sīrah al-Nabawiyah. Tahqīq Muṣṭafā al-Saqqā. Kairo: Dār
al-Ma‘ārif, 1936.
5.
Ibn Khaldūn, ‘Abd al-Raḥmān. Muqaddimah Ibn Khaldūn. Beirut: Dār
al-Fikr, 2001.
6.
Ibn Sayyid al-Nās. ‘Uyūn al-Athar. Madinah: Maktabah Dār al-Turāth,
1996.
7.
al-Jābirī, Muḥammad ‘Abid. al-‘Aql al-Akhlāqī al-‘Arabī. Beirut: Markaz
Dirāsāt al-Waḥdah al-‘Arabiyyah, 2001.
8.
Mu’nis, Ḥusayn. Tārīkh al-‘Arab. Beirut: Dār al-Jīl, 1988.
9.
al-Ṣallābī, ‘Alī Muḥammad. al-Sīrah al-Nabawiyah: ‘Arḍ Waqā’i‘ wa Ḥulūl ‘Aṣriyyah.
Istanbul: Dār al-Ma‘rifah, 2015.
10.
al-‘Umarī, Akram Ḍiyā’. al-Sīrah al-Nabawiyah al-Ṣaḥīḥah. Madinah:
Maktabah al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 1994.
[1] Muṣṭafā al-Saqqā, Sīrah Ibn Hisyām, Kairo: Dār al-Ma‘ārif,
1936, jilid 1, hlm. 5.
[2] Akram Ḍiyā’ al-‘Umarī, al-Sīrah al-Nabawiyah al-Ṣaḥīḥah, Madinah:
Maktabah al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, 1994, jilid 1, hlm. 57.
[3] Muḥammad Sa‘īd Ramadān al-Būṭī, Fiqh al-Sīrah, Damaskus: Dār
al-Fikr, 1991, hlm. 27.
[4] Ibn Sayyid al-Nās, ‘Uyūn al-Athar, Madinah: Maktabah Dār al-Turāth,
1996, jilid 1, hlm. 12.
[5] Ḥusayn Mu’nis, Tārīkh al-‘Arab, Beirut: Dār al-Jīl, 1988, jilid
1, hlm. 234.
[6] ‘Abd al-Raḥmān ibn Khaldūn, Muqaddimah Ibn Khaldūn, Beirut: Dār
al-Fikr, 2001, hlm. 189.
[7] Aḥmad ibn Ḥanbal, al-‘Ilal wa Ma‘rifat al-Rijāl, Riyadh: Dār
al-Khānī, 2001, jilid 2, hlm. 214.
[8] Mahdī Rizq Allāh Aḥmad, al-Sīrah al-Nabawiyah fī Ḍaw' al-Maṣādir al-Aṣliyyah,
Riyadh: Markaz al-Malik Fayṣal, 1992, hlm. 56.
[9] ‘Alī Muḥammad al-Ṣallābī, al-Sīrah al-Nabawiyah: ‘Arḍ Waqā’i‘ wa Ḥulūl
‘Aṣriyyah, Istanbul: Dār al-Ma‘rifah, 2015, hlm. 33.
[10] Muḥammad ‘Abid al-Jābirī, al-‘Aql al-Akhlāqī al-‘Arabī, Beirut: Markaz
Dirāsāt al-Waḥdah al-‘Arabiyyah, 2001, hlm. 287.
