Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}

Kajian Kitab Sirah Ibnu Hisyam – Part 1 || Biografi Imam Ibnu Hisyam: Perakit Kitab Sirah Nabawiyah yang Abadi

By On Kamis, September 11, 2025



Daftar isi

 

Pendahuluan. 2

1. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Keluarga. 3

1.1. Nama Lengkap, Nasab, dan Kelahiran. 3

1.2. Tempat dan Tanggal Lahir. 3

1.3. Masa Wafat 4

2. Latar Belakang Pendidikan dan Perjalanan Intelektual 5

2.1. Guru-Guru dan Perjalanan Intelektual 5

2.2. Lingkungan Keilmuan dan Penguasaan Disiplin Ilmu. 6

2.3. Kepribadian dan Akhlak. 6

3. Karya-Karya Monumental Ibnu Hisyam.. 8

4. Metodologi Penulisan dalam As-Sīrah an-Nabawiyyah. 8

4.1. Sumber Asal dan Penyuntingan terhadap Karya Ibnu Isḥāq. 8

4.2. Metodologi Penulisan dan Sistematika Karya. 10

4.3. Sumber dan Kehati-hatian (Critical Approach). 10

4.4. Keistimewaan dan Ciri Khas Gaya Penulisan. 11

5. Kontribusi dan Pengakuan dari Para Ulama. 11

6. Komentar dan Penilaian Para Ulama. 12

a. Imam an-Nawawī (w. 676 H). 12

6. Analisis dan Kesimpulan: Warisan Abadi Ibnu Hisyam.. 14

6.1. Signifikansi Historis. 14

6.2. Pengaruh terhadap Perkembangan Historiografi Islam.. 14

6.3. Nilai Ilmiah dan Pengaruh Historis. 16

6.3. Relevansi Karya Ibnu Hisyam di Masa Kini 17

Kesimpulan dan Relevansi Abadi Sīrah Ibnu Hisyām.. 18

 

 

Pendahuluan

Dalam khazanah keilmuan Islam, nama Imam Ibnu Hisyām berdiri dengan gagah sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah penulisan Sīrah Nabawiyyah (biografi Nabi Muhammad ). Ia dikenal luas sebagai penyunting, penyempurna, dan periwayat utama Sīrah Ibnu Isḥāq, karya biografi Nabi yang paling awal dan mendasar, yang menjadi sumber utama bagi seluruh kitab sirah setelahnya. Melalui dedikasi dan ketelitian ilmiahnya, Ibnu Hisyām tidak hanya menyalin karya gurunya, tetapi juga menyusun, menyaring, serta menyempurnakan riwayat-riwayatnya, sehingga kisah perjalanan hidup Rasulullah tersusun secara sistematis, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Karyanya yang monumental, As-Sīrah an-Nabawiyyah, atau yang lebih dikenal dengan Sirah Ibnu Hisyām, telah menjadi rujukan utama selama berabad-abad bagi para ulama, sejarawan, dan penuntut ilmu yang ingin memahami secara mendalam perjalanan hidup Rasulullah . Kitab ini bukan sekadar catatan historis, tetapi juga merupakan mahakarya sastra dan ilmiah yang menguraikan detil-detil kehidupan Nabi, lengkap dengan konteks sosial, budaya, dan politik Jazirah Arab pada masa itu.

Melalui penguasaannya terhadap ilmu bahasa, sejarah, dan riwayat, Ibnu Hisyām berhasil menyajikan sebuah narasi yang utuh, mendalam, dan penuh makna, yang tidak hanya mencerminkan kecermatan akademik, tetapi juga kecintaan yang mendalam terhadap Rasulullah . Dengan demikian, karyanya memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi pemahaman umat Islam terhadap akar sejarah dan perkembangan peradaban Islam.

Biografi ini akan mengupas secara komprehensif perjalanan hidup Imam Ibnu Hisyām, latar belakang intelektualnya, metodologi penulisannya, serta warisan keilmuan besar yang ia tinggalkan bagi dunia Islam.

1. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Keluarga

1.1. Nama Lengkap, Nasab, dan Kelahiran

Nama lengkap beliau adalah “أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هِشَامِ بْنِ أَيُّوْبَ الْحِمْيَرِيُّ الْمَعَافِرِيُّ الْبَصْرِيّ” (Abū Muḥammad ʿAbd al-Malik ibn Hishām ibn Ayyūb al-Ḥimyarī al-Maʿāfirī al-Baṣrī). Ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Hisyām (ابن هشام). Nisbah al-Ḥimyarī menunjukkan bahwa beliau berasal dari kabilah Himyar, salah satu suku besar di wilayah Yaman bagian selatan. Adapun nisbah al-Maʿāfirī mengaitkannya dengan kabilah al-Maʿāfir bin Ya‘fur, yang juga termasuk cabang penting dari rumpun bangsa Arab Yaman. Beberapa sumber sejarah berbeda pendapat mengenai kabilah spesifiknya; sebagian menyebut ia terkait dengan kabilah Muʿāfir bin Yaʿfur, sementara yang lain menyebut Dzuhal atau Sadus sebagai kabilah asalnya.

Selain itu, gelar al-Baṣrī menunjukkan bahwa beliau lahir dan tumbuh di kota Basrah, Irak, yang pada masa itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam terkemuka. Di kota inilah Ibnu Hisyām menimba ilmu dari para ulama besar sebelum kemudian berpindah ke Mesir, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya dan menyebarkan ilmunya. Para ulama berbeda pendapat mengenai tahun kelahiran beliau. Namun secara umum disepakati bahwa Ibnu Hisyām hidup pada paruh kedua abad ke-2 Hijriah, dan wafat sekitar tahun 218 H / 833 M di kota Fusthāṭ (Mesir Lama).

1.2. Tempat dan Tanggal Lahir

Informasi mengenai tempat dan tahun kelahiran Ibnu Hisyam tidak tercatat dengan pasti dalam sumber-sumber sejarah yang tersedia. Namun, para sejarawan umumnya sepakat bahwa beliau menghabiskan masa pertumbuhan dan awal menuntut ilmunya di Basrah, Irak. Basrah pada masa itu merupakan salah satu pusat keilmuan dan peradaban Islam yang sangat maju, yang terkenal dengan tradisi kebahasaan (nahwu) dan keilmuannya yang kuat. Setelah mencapai tingkat keilmuan yang mumpuni di Basrah, beliau kemudian bermigrasi dan menetap di Fustat (Mesir kuno) hingga akhir hayatnya. Aktivitas keilmuannya yang tercatat kebanyakan berlangsung di Mesir, di mana ia kemudian dikenal sebagai seorang ahli tata bahasa dan sejarawan.

1.3. Masa Wafat

Ibnu Hisyam wafat di Fustat, Mesir, pada 7 Mei 833 M atau bertepatan dengan tahun 218 Hijriyah. Terdapat juga beberapa riwayat lain yang menyebutkan tahun 213 H sebagai tahun wafatnya, namun pendapat yang paling kuat dan diterima luas adalah 218 H. Beliau wafat setelah menetap di Mesir selama beberapa waktu dan mengajar sirah serta sejarah Islam kepada banyak murid. Murid-muridnya kemudian meneruskan riwayat As-Sīrah an-Nabawiyyah, di antaranya ʿUmar ibn ʿAbd al-ʿAzīz al-Baghdādī, yang kemudian menyalin naskah itu dan menyebarkannya ke Andalusia, Maghrib, dan Syam.

Ketidakpastian mengenai detail kelahiran dan adanya variasi dalam catatan kewafatannya merupakan hal yang wajar, mengingat gaya hidupnya yang berpindah-pindah (merantau untuk menuntut ilmu) dan karena ia tidak berasal dari keluarga yang sangat terpandang, sehingga periwayatan tentang dirinya tidak diburu banyak orang. Warisan intelektual Ibnu Hisyam tetap hidup sepanjang masa melalui karya monumentalnya dalam bidang sirah nabawiyyah. Karyanya tidak hanya menjadi rujukan utama bagi para ulama dan sejarawan Islam klasik, tetapi juga menjadi sumber penting bagi penelitian sejarah Nabi Muhammad hingga masa modern. Dengan ketelitian dalam penyusunan, penyaringan riwayat, dan penjelasan linguistiknya, Ibnu Hisyam berhasil menempatkan dirinya sebagai tokoh sentral dalam khazanah sejarah Islam, dan As-Sīrah an-Nabawiyyah menjadi tonggak penting dalam tradisi keilmuan yang menggabungkan antara riwayat, adab, dan analisis sejarah secara mendalam.

Imam as-Suyūṭī memuji kontribusi besar Ibnu Hisyam dalam menyeleksi dan menyusun ulang karya Ibnu Ishaq dengan berkata:

قَدْ جَمَعَ ابْنُ هِشَامٍ السِّيَرَةَ النَّبَوِيَّةَ فَأَحْسَنَ تَنْقِيحَهَا وَهَذَّبَهَا وَأَخْرَجَهَا فِي أَجْمَلِ صُورَةٍ

Terjemahnya: “Ibnu Hisyam telah menghimpun sirah nabawiyyah, memperbaikinya dengan sangat baik, menyusunnya dengan indah, dan menampilkannya dalam bentuk yang paling sempurna.”[1]

2. Latar Belakang Pendidikan dan Perjalanan Intelektual

2.1. Guru-Guru dan Perjalanan Intelektual

Ibnu Hisyām hidup pada masa Daulah Abbasiyah, sebuah era yang dikenal sebagai zaman keemasan Islam, di mana kegiatan ilmiah dan pencarian ilmu pengetahuan sangat dihargai serta berkembang pesat di berbagai bidang, seperti tafsir, hadis, bahasa, sejarah, dan filsafat.

Perjalanan intelektualnya dimulai di Basrah, sebuah kota besar yang menjadi pusat keilmuan Islam dan terkenal dengan mazhab nahwunya yang masyhur. Di kota ini, Ibnu Hisyām tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang subur, dan sejak muda telah menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap bahasa Arab dan sejarah Nabi Muhammad .

Menurut Adz-Dzahabī dalam kitab Siyar A‘lām an-Nubalā’, Ibnu Hisyām termasuk murid yang tekun mempelajari riwayat dan karya Ibnu Isḥāq (w. 150 H) yang dikenal sebagai penulis pertama Sīrah Nabawiyyah. Adz-Dzahabī menulis:

«وَرَوَى ابْنُ هِشَامٍ سِيرَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ وَهَذَّبَهَا وَنَقَّحَهَا»

Terjemah: "Ibnu Hisyām meriwayatkan Sirah Nabi dari Ibnu Isḥāq, kemudian beliau menyusunnya kembali dengan penjernihan dan penyempurnaan."[2]

Namun hubungan tersebut tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui perantara gurunya yang paling berpengaruh, yaitu Ziyād bin ʿAbdullāh al-Bukaʿī al-Kūfī (w. 184 H / 803 M). Dari al-Bukaʿī inilah Ibnu Hisyām mempelajari dan meriwayatkan kitab As-Siyar wa al-Maghāzī karya Ibnu Isḥāq, yang kemudian beliau tahdzīb (saring, susun ulang, dan sempurnakan) menjadi karya besar yang kita kenal sebagai As-Sīrah an-Nabawiyyah li Ibn Hishām. Proses ini menunjukkan bahwa Ibnu Hisyām merupakan bagian dari sanad ilmiah yang terpercaya, di mana transmisi ilmu sirah berpindah dari Ibnu Isḥāq → al-Bukaʿī → Ibnu Hisyām, dengan ketiganya memiliki reputasi tinggi dalam kejujuran dan kecermatan ilmiah.

Setelah menuntut ilmu di Basrah, Ibnu Hisyām kemudian berpindah ke Mesir, yang pada masa itu juga menjadi salah satu pusat keilmuan Islam. Di sana, beliau berinteraksi dengan banyak ulama besar, di antaranya Imam asy-Syāfiʿī (w. 204 H / 820 M) pendiri mazhab fikih Syafi‘iyyah sekaligus ahli bahasa Arab. Interaksi ilmiah antara keduanya menunjukkan tingginya kedudukan dan pengakuan terhadap keilmuan Ibnu Hisyām, yang telah sejajar dengan para ulama besar di masanya.

Dengan demikian, perjalanan ilmiah Ibnu Hisyām mencerminkan semangat intelektual Islam klasik: perpaduan antara penguasaan bahasa, keilmuan sanad, dan ketelitian dalam penyusunan sejarah Nabi , yang menjadikannya salah satu pionir historiografi Islam paling berpengaruh sepanjang masa.

2.2. Lingkungan Keilmuan dan Penguasaan Disiplin Ilmu

Ibnu Hisyam dikenal sebagai seorang yang ahli dalam tata bahasa (nahwu) dan sastra Arab. Penguasaan yang mendalam inilah yang menjadi keunggulan dan ciri khas karyanya. Ia tidak hanya sekadar meriwayatkan sejarah, tetapi juga menganalisis, menyunting, dan menyusunnya dengan kerangka bahasa yang sangat baik. Selain itu, ia juga pakar dalam ilmu nasab (silsilah keturunan), khususnya nasab bangsa Arab Selatan (Himyar), yang tercermin dari karyanya yang lain berjudul At-Tijan li Ma'rifati Muluk az-Zaman (Mahkota-mahkota untuk Mengenal Raja-raja Masa Lalu).

2.3. Kepribadian dan Akhlak

Ibnu Hisyām dikenal sebagai sosok yang memiliki kepribadian mulia, berakhlak tinggi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan Islam. Dalam kesehariannya, beliau hidup dengan penuh kesederhanaan dan menjauh dari gemerlap dunia. Zuhudnya bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Ia lebih memilih kesibukan dengan ilmu dan ibadah daripada keterikatan pada hal-hal materi. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa beliau sering menolak pemberian dari penguasa atau pejabat setempat karena khawatir akan memengaruhi objektivitas dan keikhlasannya dalam menulis sejarah Nabi . Sikap ini menunjukkan keteguhan hati dan kemurnian niatnya dalam mengabdi kepada ilmu.

Kesederhanaannya juga tercermin dalam gaya hidup dan cara berpakaian yang bersahaja. Ia tidak menampilkan dirinya sebagai seorang tokoh besar atau ulama ternama, meskipun reputasinya sudah dikenal luas di kalangan penuntut ilmu. Dalam karya monumentalnya, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyām tidak menonjolkan dirinya dengan pujian atau pengakuan pribadi, tetapi justru menempatkan dirinya sebagai penghubung antara generasi ulama sebelumnya dan pembaca sesudahnya. Ia selalu menisbatkan ilmunya kepada para guru dan perawi sebelumnya, seperti Ibnu Ishāq dan lainnya, dengan rasa hormat dan adab yang tinggi. Hal ini menunjukkan kedalaman akhlaknya dan penghormatannya terhadap sanad keilmuan Islam yang menjadi tradisi utama dalam penulisan ilmiah para ulama terdahulu.

Adz-Dzahabī memberikan kesaksian yang sangat indah tentang kepribadian Ibnu Hisyām. Beliau berkata:

«كَانَ رَجُلًا صَالِحًا، ثِقَةً، مُتَوَرِّعًا، لَا يَكْتُبُ إِلَّا مَا يَصِحُّ وَيَثْبُتُ»

Artinya: “Beliau adalah seorang yang saleh, terpercaya, berhati-hati, dan tidak menulis kecuali sesuatu yang sahih dan terbukti.”[3]

Kutipan tersebut menggambarkan betapa tinggi integritas keilmuan Ibnu Hisyām. Ia tidak menuliskan satu riwayat pun kecuali setelah meneliti keabsahan sanad dan isi beritanya. Prinsip kehati-hatian (at-tatsabbut) ini menjadi karakter utama yang membedakannya dari banyak penulis sejarah lain di masanya. Dengan ketelitian tersebut, beliau menjadi panutan dalam metodologi penulisan sirah yang ilmiah dan bertanggung jawab. Bahkan sebagian ulama setelahnya menilai bahwa sifat amanah dan waraʿ yang dimiliki Ibnu Hisyām telah menjadi sebab diterimanya karyanya secara luas di dunia Islam, sehingga tetap relevan dan dipercaya hingga berabad-abad lamanya.

Lebih dari sekadar penulis sejarah, Ibnu Hisyām juga menampilkan etika ilmiah dan spiritualitas yang tinggi dalam setiap lembar karyanya. Ia menulis dengan hati yang dipenuhi rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah , sehingga As-Sīrah an-Nabawiyyah tidak hanya memuat data sejarah, tetapi juga menggambarkan keagungan akhlak Nabi dan semangat dakwah Islam dengan nuansa rohani yang dalam. Dalam beberapa penjelasan linguistik dan syair yang ia sertakan, tampak keikhlasannya untuk menjaga kesucian makna sirah dari penyimpangan serta menjelaskan keindahan bahasa Arab yang digunakan dalam konteks kenabian. Dengan demikian, karya Ibnu Hisyām bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga bentuk ibadah ilmiah yang merefleksikan keseimbangan antara ilmu, iman, dan adab—suatu ciri khas ulama besar yang tulus dalam perjuangan ilmunya.

3. Karya-Karya Monumental Ibnu Hisyam

Ibnu Hisyam merupakan seorang penulis yang produktif. Meski Sirah Nabawiyah-nya yang paling terkenal, ia juga menulis kitab-kitab lain, di antaranya:

·         Al-Tijan li Ma'rifati Muluk az-Zaman: Sebuah kitab yang membahas tentang raja-raja Himyar (Yaman kuno) dan sejarah mereka, yang diriwayatkannya dari Wahb bin Munabbih.

·         Syarh Mawaqa'a fi Asy'ar as-Sair Minal Gharib: Sebuah syarah (penjelasan) tentang syair-syair yang mengandung kosakata langka.

·         Ghubar an-Nasab: Sebuah kitab tentang ilmu nasab.

Namun, tentu saja, mahakaryanya yang abadi adalah:

·         As-Sirah an-Nabawiyah (Sirah Ibnu Hisyam): Kitab ini pada dasarnya adalah hasil penyuntingan, peringkasan, dan komentar (syarh) terhadap kitab As-Siyar wa al-Maghazi karya Ibnu Ishaq. Dalam mukadimahnya, Ibnu Hisyam menjelaskan metodologinya dengan jelas.

4. Metodologi Penulisan dalam As-Sīrah an-Nabawiyyah

4.1. Sumber Asal dan Penyuntingan terhadap Karya Ibnu Isḥāq

Karya terbesar Ibnu Hisyām merupakan hasil tahrīr (penyuntingan) dan tahdzīb (penyempurnaan) terhadap kitab As-Sīrah karya Muḥammad ibn Isḥāq ibn Yasār (w. 150 H). Kitab asli Ibnu Isḥāq tidak sampai kepada kita secara utuh, dan naskah yang beredar hingga kini merupakan hasil penyusunan ulang dan penyaringan oleh Ibnu Hisyām. Ibnu Hisyām sendiri menulis dalam mukadimahnya:

«وَهَذَا كِتَابُ سِيرَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِمَّا رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ... وَقَدْ تَرَكْتُ أَشْيَاءَ لَا يَحْتَمِلُهَا الْقِرَاءُ، وَأَشْيَاءَ ذَكَرَهَا ابْنُ إِسْحَاقَ لَا تَصِحُّ عِنْدَنَا»

Terjemahnya: “Inilah kitab Sirah Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Isḥāq... Aku telah meninggalkan beberapa hal yang tidak layak dibaca, dan hal-hal yang disebut Ibnu Isḥāq tetapi tidak sahih menurut kami.”[4]

Dengan demikian, Ibnu Hisyām bukan sekadar penyalin ulang karya Ibnu Isḥāq, melainkan melakukan proses kurasi yang ketat dan cerdas. Ia menyeleksi dan menata ulang isi kitab sirah Ibnu Isḥāq agar lebih sesuai dengan kaidah sanad, akidah Ahlus Sunnah, serta prinsip ilmiah dan bahasa yang baku.

Beberapa langkah metodologis penting yang diterapkannya adalah sebagai berikut:

a. Pemotongan Materi:

Ibnu Hisyām dengan sengaja menghilangkan beberapa bagian dari karya asli Ibnu Isḥāq yang dianggap tidak relevan, tidak kuat, atau tidak pantas. Ia menegaskan bahwa dirinya menghapus hal-hal yang “tidak disebutkan oleh para ahli Al-Qur’an, tidak dikenal oleh para ulama, dan tidak menjadi dasar dalam ilmu nahwu yang menjadi pegangan para ahli bahasa.” Dengan demikian, ia menerapkan filter ilmiah berdasarkan otoritas Al-Qur’an, hadis, dan kaidah bahasa Arab yang benar.

b. Penambahan Penjelasan:

Ia menambahkan berbagai penjelasan (syarḥ) terhadap bagian-bagian yang sulit, terutama mengenai kosakata bahasa Arab yang langka (gharīb), silsilah kabilah, serta lokasi geografis. Hal ini menjadikan karyanya bukan hanya sumber sejarah, tetapi juga rujukan linguistik dan geografis yang berharga.

c. Sistematisasi yang Lebih Baik:

Ibnu Hisyām menyusun narasi sejarah dengan urutan yang logis dan terstruktur, dimulai dari kisah Nabi Ismāʿīl عليه السلام, kemudian silsilah Nabi Muhammad , peristiwa Tahun Gajah, kelahiran Nabi, hingga perjalanan hidup dan wafat beliau.

4.2. Metodologi Penulisan dan Sistematika Karya

Ibnu Hisyām menulis As-Sīrah an-Nabawiyyah dengan pendekatan ilmiah yang sistematis, membagi kisah Nabi ke dalam tahapan-tahapan kronologis sebagai berikut:

1. Nasab Nabi sampai Nabi Ibrāhīm عليه السلام

2. Kelahiran Nabi

3. Masa kanak-kanak dan remaja

4. Kenabian dan dakwah di Makkah

5. Hijrah ke Madinah

6. Perang-perang besar (Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya)

7. Fathu Makkah

8. Wafat Nabi

Selain menyusun secara kronologis, beliau juga menambahkan penjelasan kebahasaan, asal-usul kabilah, syair-syair Arab klasik, serta sejarah pra-Islam seperti kisah bangsa Arab terdahulu. Metode ini menjadikan As-Sīrah an-Nabawiyyah bukan sekadar biografi Nabi, tetapi kompendium sejarah, genealogi, dan sastra Arab klasik. Ibnu Hisyām memperkenalkan struktur kronologis yang rapi dalam historiografi Islam, metode yang kemudian menjadi model dalam penulisan sejarah Islam hingga sekarang.

 

4.3. Sumber dan Kehati-hatian (Critical Approach)

Ibnu Hisyām dikenal sangat hati-hati dalam memilih sumber. Ia tidak menerima begitu saja seluruh riwayat yang terdapat dalam karya Ibnu Isḥāq. Pendekatan kritis ini menjadikan sirah-nya lebih akurat dan dapat dipercaya, serta diterima luas di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Dalam mukadimahnya, beliau menegaskan prinsip selektif tersebut:

«وَتَرَكْتُ مِنْ سِيرَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْيَاءَ ذَكَرَهَا ابْنُ إِسْحَاقَ لَا تَصِحُّ، وَأَشْيَاءَ يَشْمَئِزُّ مِنْهَا الْقِرَاءُ»

Terjemah: “Aku meninggalkan bagian-bagian dari sirah Rasulullah yang disebutkan oleh Ibnu Isḥāq yang tidak sahih dan hal-hal yang membuat pembaca jijik.”[5]

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ibnu Hisyām memiliki standar ilmiah dan adab keagamaan yang tinggi, di mana ia hanya mencantumkan riwayat yang sahih, bermartabat, dan sesuai dengan kehormatan Rasulullah .

4.4. Keistimewaan dan Ciri Khas Gaya Penulisan

Sebagai seorang ahli bahasa Arab, Ibnu Hisyām menunjukkan keunggulan sastra yang luar biasa dalam karya sirahnya. Ia mengoreksi syair-syair Arab dalam karya Ibnu Isḥāq, memperbaiki struktur bahasanya, dan menambahkan penjelasan linguistik (iʿrāb, makna, dan konteks budaya) agar lebih mudah dipahami pembaca dari berbagai latar.

Selain itu, beliau juga memperluas pembahasan tentang nasab Quraisy dan silsilah keturunan Nabi , menunjukkan ketelitian dan kecermatan historiografisnya. Oleh karena itu, As-Sīrah an-Nabawiyyah bukan hanya menjadi dokumen sejarah keagamaan, tetapi juga karya ilmiah yang bernilai sastra tinggi serta menjadi rujukan utama bagi peneliti sejarah dan bahasa Arab hingga masa kini.

5. Kontribusi dan Pengakuan dari Para Ulama

Kontribusi Ibnu Hisyām dalam melestarikan dan menyebarkan Sirah Nabawiyyah diakui secara luas oleh para ulama, baik pada masa klasik maupun modern. Karya beliau tidak hanya menjadi pelengkap atas karya pendahulunya, tetapi juga menjadi pilar utama dalam penulisan sejarah kehidupan Rasulullah . Fakta bahwa Sirah Ibnu Hisyām tetap menjadi kitab sirah paling populer dan banyak dipelajari hingga kini membuktikan besarnya pengaruh beliau terhadap khazanah keilmuan Islam.

Salah satu ulama besar yang menaruh perhatian khusus terhadap karya beliau adalah Imam as-Suhaili (w. 581 H), seorang pakar bahasa Arab dan sirah. Beliau menulis kitab syarah (penjelasan) terhadap karya Ibnu Hisyām yang berjudul Ar-Raudh al-Unuf fī Syarh as-Sīrah an-Nabawiyyah li Ibni Hisyām. Dalam mukadimah kitabnya, Imam as-Suhaili memberikan pujian tinggi terhadap karya tersebut:

نَظَمَ ابْنُ هِشَامٍ فِي سِيْرَتِهِ عَقْدًا دُرَرَ السِّيَرِ، وَأَبَانَ فِيهَا عَنْ لُغَاتِ الْعَرَبِ وَمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْغَرَائِبِ وَالنَّوَادِرِ

Terjemahnya: "Ibnu Hisyam telah merangkai dalam sirahnya untaian mutiara-mutiara sejarah, dan di dalamnya ia menjelaskan tentang bahasa-bahasa Arab dan berbagai kosakata langka serta cerita-cerita yang unik yang terkandung di dalamnya."[6]

Selain itu, Dr. Emil Badi‘ Ya‘qub, seorang peneliti kontemporer, juga menilai bahwa metode yang digunakan oleh Ibnu Hisyam dalam penyusunan sirah sangat praktis dan sistematis. Ia menekankan kehidupan Nabi secara kronologis dan logis, serta mengesampingkan riwayat-riwayat dari Ibnu Ishaq yang tidak didukung oleh petunjuk Al-Qur’an atau penjelasan yang jelas. Pendekatan ilmiah semacam ini menjadikan karya Ibnu Hisyam lebih otentik dan terverifikasi dibandingkan versi sebelumnya.

6. Komentar dan Penilaian Para Ulama

a. Imam an-Nawawī (w. 676 H)

Imam an-Nawawī memberikan pengakuan tinggi terhadap Sirah Ibnu Hisyam, beliau berkata:

«كِتَابُ ابْنِ هِشَامٍ فِي السِّيرَةِ مِنْ أَجَلِّ مَا أُلِّفَ فِي هَذَا الْبَابِ، وَهُوَ الْمُعَوَّلُ عَلَيْهِ فِي نَقْلِ أَحْوَالِ النَّبِيِّ »

Terjemahnya: “Kitab Ibnu Hisyām dalam bidang sirah adalah di antara karya paling agung dalam bab ini, dan ia menjadi sandaran utama dalam meriwayatkan keadaan Nabi .”[7]

b. Ibn Khaldūn (w. 808 H)

Sejarawan besar Islam, Ibn Khaldūn, dalam Al-Muqaddimah-nya, menilai bahwa Ibnu Hisyam adalah penyempurna tradisi penulisan sejarah Islam dan telah mengokohkan standar otentisitas dalam penulisan sirah:

«وَإِنَّمَا جَمَعَ ابْنُ هِشَامٍ سِيرَةَ ابْنِ إِسْحَاقَ وَهَذَّبَهَا، فَصَارَ كِتَابُهُ أَصْحَّ مَا فِي السِّيَرِ»

Terjemah: “Sesungguhnya Ibnu Hisyām telah mengumpulkan dan menyempurnakan Sīrah Ibnu Isḥāq, maka kitabnya menjadi karya paling sahih dalam bidang sirah.”[8]

c. As-Suyūṭī (w. 911 H)

Imam Jalāluddīn As-Suyūṭī dalam Tadrīb ar-Rāwī juga menegaskan keunggulan karya Ibnu Hisyam dibandingkan kitab sirah lainnya. Beliau menyebut bahwa Ibnu Hisyam telah menyaring riwayat-riwayat yang lemah dan mungkar, sehingga karyanya menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an dan hadits:

«أَمَّا كُتُبُ السِّيرِ فَأَصَحُّهَا كِتَابُ ابْنِ هِشَامٍ، إِذْ نَقَّحَهُ مِنَ الضَّعِيفِ وَالْمُنْكَرِ»

Terjemahnya: “Adapun kitab-kitab sirah, maka yang paling sahih adalah kitab Ibnu Hisyām, karena ia telah menyaringnya dari riwayat-riwayat lemah dan mungkar.”[9]

d. Dr. Ḥusayn Muʾnis (sejarawan modern Mesir)

Dalam kajiannya tentang historiografi Islam, Dr. Ḥusayn Muʾnis menegaskan bahwa tanpa kontribusi Ibnu Hisyam, karya Ibnu Ishaq tidak akan sampai kepada umat Islam dalam bentuk yang sistematik dan utuh. Ia menulis:

“Tanpa upaya Ibnu Hisyām, sejarah kenabian yang ditulis oleh Ibnu Isḥāq tidak akan sampai kepada kita dalam bentuk yang sistematik. Ia bukan sekadar editor, tetapi penjaga warisan Nabi .”[10]

Dari berbagai pandangan ulama di atas — mulai dari tokoh klasik seperti Imam as-Suhaili, an-Nawawi, Ibn Khaldun, dan as-Suyuthi, hingga sejarawan modern seperti Dr. Emil Badi‘ Ya‘qub dan Dr. Husayn Mu’nis dapat disimpulkan bahwa Ibnu Hisyam bukan hanya seorang perawi dan penyunting, tetapi juga pelestari ilmu sejarah kenabian. Ia telah menyeleksi, menata, dan memperkaya narasi sirah dengan ketelitian ilmiah yang membuat karyanya bertahan lintas abad sebagai sumber utama dalam memahami kehidupan Rasulullah .

6. Analisis dan Kesimpulan: Warisan Abadi Ibnu Hisyam

6.1. Signifikansi Historis

Ibnu Hisyam berperan sebagai "penjaga gawang" (gatekeeper) untuk sejarah Nabi Muhammad . Tanpa upayanya dalam menyunting dan melestarikan karya Ibnu Ishaq, sangat mungkin banyak informasi berharga yang akan hilang atau tercampur dengan riwayat-riwayat yang lemah. Karyanya menjadi jembatan yang menghubungkan generasi setelahnya dengan narasi awal kehidupan Nabi.

6.2. Pengaruh terhadap Perkembangan Historiografi Islam

Sirah Ibnu Hisyām telah menetapkan standar tinggi bagi penulisan biografi dan historiografi dalam tradisi keilmuan Islam. Melalui karya monumentalnya, Ibnu Hisyām menunjukkan bahwa penulisan sejarah, terutama sejarah kehidupan Nabi Muhammad , bukan sekadar penyusunan kronologis peristiwa, melainkan sebuah disiplin ilmiah yang menuntut keakuratan, ketelitian, dan tanggung jawab moral.

Ia menekankan bahwa penulisan sejarah memerlukan beberapa prinsip dasar, antara lain:

 

1. Akurasi Linguistik: Seorang penulis sejarah harus memiliki pemahaman mendalam terhadap bahasa teks sumber. Ibnu Hisyām sendiri dikenal sangat hati-hati dalam menyeleksi kata, memperbaiki kesalahan bahasa, serta menjelaskan istilah-istilah yang tidak lagi dikenal di zamannya, sehingga pembaca dapat memahami konteks bahasa Arab klasik dengan lebih mudah.

2. Seleksi yang Ketat: Tidak semua riwayat dicatat begitu saja. Ibnu Hisyām menyeleksi dengan teliti apa yang dianggap sahih, relevan, dan bermanfaat untuk tujuan ilmiah dan dakwah. Ia menghapus riwayat-riwayat yang dianggap lemah, tidak berdasar, atau mengandung unsur yang tidak pantas disandarkan kepada Rasulullah .

3. Struktur yang Jelas: Karya Ibnu Hisyām tersusun secara sistematis, dengan urutan peristiwa yang runtut dan mudah diikuti. Hal ini menjadikannya model bagi para sejarawan Islam setelahnya dalam hal metodologi penulisan.

4. Kontekstualisasi: Ibnu Hisyām juga menambahkan penjelasan terhadap istilah, tempat, adat, atau peristiwa yang mungkin asing bagi pembaca non-Arab atau generasi sesudahnya. Dengan cara ini, ia tidak hanya meriwayatkan sejarah, tetapi juga menjembatani pemahaman antara masa Nabi dan generasi setelahnya.

Dalam konteks ini, banyak ulama yang memuji keilmuan dan kehati-hatian Ibnu Hisyām dalam menulis. Imam adz-Dzahabī berkata tentangnya:

«كَانَ عَالِمًا بِلُغَةِ الْعَرَبِ، بَارِعًا فِي الشِّعْرِ وَأَيَّامِ النَّاسِ، ثِقَةً فِي نَقْلِهِ، حَسَنَ التَّرْتِيبِ فِي تَأْلِيفِهِ»

Terjemah: “Ia adalah seorang yang alim dalam bahasa Arab, unggul dalam bidang syair dan sejarah bangsa Arab, terpercaya dalam periwayatannya, serta baik dalam penyusunan karya tulisnya.”[11]

Pujian ini menunjukkan bahwa Sīrah Ibnu Hisyām bukan sekadar karya sejarah, melainkan karya ilmiah yang disusun dengan disiplin dan ketelitian luar biasa.

6.3. Nilai Ilmiah dan Pengaruh Historis

a. Pengaruh terhadap Tradisi Penulisan Sirah

Pengaruh Sīrah Ibnu Hisyām terhadap tradisi penulisan sirah sangat luas dan mendalam. Seluruh kitab sirah setelah abad ke-3 H, termasuk Zād al-Maʿād karya Ibn al-Qayyim dan Al-Khasā’iṣ al-Kubrā karya As-Suyūṭī, mengambil bahan pokok dari Sīrah Ibnu Hisyām. Hal ini menunjukkan bahwa karya tersebut telah menjadi sumber primer dan acuan utama bagi generasi ulama setelahnya.

Ibnu Hisyām bukan hanya menyalin karya Ibnu Isḥāq, tetapi juga memperkaya dan menyusunnya ulang dengan standar metodologis yang lebih tinggi. Dengan demikian, ia menjadi jembatan penting antara tradisi riwayat (hadits dan atsar) dengan disiplin sejarah dan biografi (tarikh dan sirah).

Imam as-Suyūṭī bahkan mengakui pentingnya karya Ibnu Hisyām dalam kajian sejarah Nabi dengan mengatakan:

«سِيرَةُ ابْنِ هِشَامٍ أَصَحُّ مَا جُمِعَ فِي أَخْبَارِ النَّبِيِّ ، وَهِيَ أَصْلٌ لِكُلِّ مَنْ جَاءَ بَعْدَهُ»

Terjemah: “Sirah Ibnu Hisyām adalah karya paling sahih yang dikumpulkan tentang berita-berita Nabi , dan menjadi sumber utama bagi semua penulis setelahnya.”[12]

Pernyataan ini memperkuat posisi Sīrah Ibnu Hisyām sebagai tonggak metodologis dalam historiografi Islam.

b. Rujukan dalam Tafsir dan Hadits

Pengaruh Sīrah Ibnu Hisyām tidak terbatas pada penulisan sirah semata. Banyak mufassir besar seperti Imam ath-Ṭabarī dan Ibn Kathīr mengutip kisah-kisah sirah berdasarkan redaksi Ibnu Hisyām. Hal ini karena karya tersebut dianggap memiliki otoritas yang kuat dalam menggambarkan konteks historis turunnya wahyu (asbāb an-nuzūl) maupun latar belakang peristiwa yang disebut dalam al-Qur’an.

Keterkaitan antara sirah, tafsir, dan hadits ini menunjukkan bahwa karya Ibnu Hisyām telah menembus batas satu disiplin ilmu. Ia menjadi referensi lintas bidang—mulai dari sejarah, tafsir, hingga teologi—karena akurasi dan metodologinya yang cermat.

6.3. Relevansi Karya Ibnu Hisyam di Masa Kini

Hingga hari ini, Sīrah Ibnu Hisyām terus menjadi rujukan primer dan wajib bagi siapa pun yang serius mempelajari Islam, baik di pesantren-pesantren tradisional maupun di universitas-universitas modern di seluruh dunia. Kitab ini tidak hanya dijadikan dasar pembelajaran sejarah kenabian, tetapi juga menjadi fondasi metodologis dalam studi historiografi Islam.

Keistimewaan karya ini membuatnya tetap relevan melintasi zaman. Ia tidak hanya dihargai di kalangan ulama Muslim, tetapi juga diakui oleh para sarjana dan orientalis Barat. Sejarawan modern seperti W. Montgomery Watt, A. Guillaume, dan Philip Hitti menggunakan Sīrah Ibnu Hisyām sebagai sumber utama dalam penelitian sejarah Nabi Muhammad . Bahkan karya monumental The Life of Muhammad oleh A. Guillaume (London: Oxford University Press, 1955) merupakan terjemahan langsung dari naskah Ibnu Hisyām dan Ibnu Isḥāq, yang menjadi jembatan penting antara tradisi Islam klasik dan studi akademik modern.

Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Urdu, dan Turki, sehingga memastikan bahwa warisan keilmuannya terus hidup dan dapat diakses oleh umat Islam di seluruh dunia. Penerimaan lintas budaya dan lintas disiplin ini memperlihatkan betapa Sīrah Ibnu Hisyām memiliki nilai universal dalam dunia keilmuan Islam.

Dengan demikian, Imam Ibnu Hisyām bukan hanya seorang perawi sejarah, tetapi juga seorang intelektual Muslim pelopor yang dengan kesadaran penuh membentuk cara umat Islam memahami dan menafsirkan sejarah suci Nabi mereka. Dedikasinya terhadap keilmuan, ketelitiannya dalam metode, dan kedalaman pemahamannya dalam bahasa Arab telah menjadikan namanya abadi, terukir dalam tinta emas sejarah peradaban Islam.

Kedalaman ilmu dan kontribusi besar Ibnu Hisyām terhadap historiografi Islam telah diakui oleh banyak ulama besar sepanjang sejarah. Imam adz-Dzahabī memberikan pujian tinggi terhadapnya dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’:

«كَانَ عَالِمًا بِلُغَةِ الْعَرَبِ، بَارِعًا فِي الشِّعْرِ وَأَيَّامِ النَّاسِ، ثِقَةً فِي نَقْلِهِ، حَسَنَ التَّرْتِيبِ فِي تَأْلِيفِهِ»

 “Ia adalah seorang yang alim dalam bahasa Arab, unggul dalam bidang syair dan sejarah bangsa Arab, terpercaya dalam periwayatannya, serta baik dalam penyusunan karya tulisnya.”[13]

Begitu pula, Imam as-Suyūṭī dalam Ḥusn al-Muḥāḍarah menegaskan bahwa karya Ibnu Hisyām memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam kajian sirah:

«سِيرَةُ ابْنِ هِشَامٍ أَصَحُّ مَا جُمِعَ فِي أَخْبَارِ النَّبِيِّ ، وَهِيَ أَصْلٌ لِكُلِّ مَنْ جَاءَ بَعْدَهُ»

Terjemah: “Sirah Ibnu Hisyām adalah karya paling sahih yang dikumpulkan tentang berita-berita Nabi , dan menjadi sumber utama bagi semua penulis setelahnya.”[14]

Kedua pernyataan ini menunjukkan bahwa reputasi Sīrah Ibnu Hisyām diakui baik oleh ulama klasik maupun oleh para sejarawan modern. Ia menjadi karya lintas zaman yang menyatukan ketelitian sanad dan kekayaan narasi, menjadikannya pilar utama dalam studi sejarah Nabi Muhammad .

Kesimpulan dan Relevansi Abadi Sīrah Ibnu Hisyām

Imam **Ibnu Hisyām** (w. 218 H) merupakan **figur sentral dalam sejarah Islam klasik**, karena berkat jasanya umat Islam hingga kini masih dapat membaca sejarah hidup Rasulullah dengan runtut, ilmiah, dan sahih. Ia bukan sekadar seorang perawi, melainkan dapat disebut sebagai **editor ilmiah pertama dalam sejarah peradaban Islam**. Melalui ketelitian metodologinya, Ibnu Hisyām menyaring riwayat-riwayat dari pendahulunya, khususnya karya Ibnu Isḥāq, dengan pendekatan ilmiah yang sangat hati-hati dan penuh tanggung jawab.

Komentar para ulama dari masa klasik hingga modern menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap keluasan ilmunya serta ketelitian metodologinya dalam menulis. Tanpa jasa besar beliau, sejarah kehidupan Rasulullah mungkin akan tercerai-berai dalam potongan riwayat tanpa sistematika yang jelas. Oleh sebab itu, *As-Sīrah an-Nabawiyyah* karya Ibnu Hisyām tetap menjadi **tonggak emas dalam sejarah penulisan sirah Nabi **, dan hingga kini menjadi rujukan utama bagi para sejarawan, ahli tafsir, dan ahli hadits di seluruh dunia Islam.

Dengan perpaduan antara **ketelitian ilmiah** dan **kedalaman spiritual**, *Sīrah Ibnu Hisyām* berhasil menghubungkan masa lalu Islam klasik dengan dunia modern. Di satu sisi, karya ini menjadi sumber autentik bagi para ulama dan ahli tafsir dalam memahami konteks turunnya wahyu. Di sisi lain, ia juga menjadi landasan akademik yang kuat bagi para orientalis dan sejarawan modern dalam meneliti sejarah Nabi Muhammad secara objektif dan sistematis.

Karya monumental ini membuktikan bahwa warisan intelektual Islam memiliki **daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan zaman**. Melalui *Sīrah Ibnu Hisyām*, dunia Islam dan dunia akademik internasional seakan dipersatukan oleh satu karya agung yang menampilkan sosok Nabi Muhammad bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi juga sebagai **sumber inspirasi moral, spiritual, dan kemanusiaan universal**.

Ulama besar seperti **Imam adz-Dzahabī** memberikan kesaksian tentang keilmuan Ibnu Hisyām dalam *Siyar A‘lām an-Nubalā’*:

«كَانَ عَالِمًا بِلُغَةِ الْعَرَبِ، بَارِعًا فِي الشِّعْرِ وَأَيَّامِ النَّاسِ، ثِقَةً فِي نَقْلِهِ، حَسَنَ التَّرْتِيبِ فِي تَأْلِيفِهِ»

Terjemah: “Ia adalah seorang yang alim dalam bahasa Arab, unggul dalam bidang syair dan sejarah bangsa Arab, terpercaya dalam periwayatannya, serta baik dalam penyusunan karya tulisnya.”[15]

Selain itu, **Imam as-Suyūṭī** menegaskan kedudukan tinggi karya tersebut dalam literatur Islam klasik:

«سِيرَةُ ابْنِ هِشَامٍ أَصَحُّ مَا جُمِعَ فِي أَخْبَارِ النَّبِيِّ ، وَهِيَ أَصْلٌ لِكُلِّ مَنْ جَاءَ بَعْدَهُ»

Terjemah: “Sirah Ibnu Hisyām adalah karya paling sahih yang dikumpulkan tentang berita-berita Nabi , dan menjadi sumber utama bagi semua penulis setelahnya.”[16]

Kedua pernyataan ulama besar tersebut memperkuat posisi *Sīrah Ibnu Hisyām* sebagai karya monumental yang tak tergantikan—sebuah sintesis antara **ilmiah dan ruhani**, antara **riwayat dan rasionalitas**, yang menjadikan Ibnu Hisyām sebagai salah satu **pilar terpenting dalam historiografi Islam**.

Daftar Pustaka

As-Suhaili, Abu al-Qasim. Ar-Raudh al-Unuf fi Syarh as-Sirah an-Nabawiyah li Ibni Hisyam. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Cetakan 1. 2001.

Adz-Dzahabī, *Siyar A‘lām an-Nubalā’*, Beirut: Muassasah ar-Risālah, 1985, jilid 10, hlm. 241.

Adz-Dzahabī, *Tārīkh al-Islām*, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿArabī, 1987, jilid 15, hlm. 321.

An-Nawawī, *Tahdzīb al-Asmā’ wa al-Lughāt*, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1996, jilid 1, hlm. 139.

As-Suyūṭī, *Tadrīb ar-Rāwī*, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2002, jilid 2, hlm. 312.

 



[1] Jalāluddīn as-Suyūṭī, Ḥusn al-Muḥāḍarah fī Tārīkh Miṣr wa al-Qāhirah*, Kairo: Dār al-Fikr, 1997, jilid I, hlm. 215.

[2] Adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, Beirut: Muassasah ar-Risālah, 1985, jilid 10, hlm. 241.

[3] Adz-Dzahabī, Tārīkh al-Islām, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿArabī, 1987, jilid 15, hlm. 321).

[4] Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah li Ibni Hisyām, ed. Muṣṭafā as-Saqqā, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2001, jilid 1, hlm. 5.

[5] Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1998, jilid 1, hlm. 7.

[6] As-Suhaili, Abu al-Qasim. Ar-Raudh al-Unuf fi Syarh as-Sirah an-Nabawiyah li Ibni Hisyam. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Cet. 1, 2001. Jilid 1, hlm. 5.

[7] An-Nawawī, Tahdzīb al-Asmā’ wa al-Lughāt, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1996, jilid 1, hlm. 139

[8] Ibn Khaldūn, Al-Muqaddimah, Kairo: Dār al-Bashīr, 1996, hlm. 424

[9] As-Suyūṭī, Tadrīb ar-Rāwī, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2002, jilid 2, hlm. 312

[10] Ḥusayn Muʾnis, Dirāsāt fī Tārīkh al-Islām, Kairo: Dār al-Maʿārif, 1968, hlm. 45

[11] Adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, Kairo: Dār al-Hadīth, 2006, jil. 10, hlm. 180

[12] As-Suyūṭī, *Husn al-Muḥāḍarah fī Tārīkh Miṣr wa al-Qāhirah*, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998, jil. 1, hlm. 247

[13] Adz-Dzahabī, *Siyar A‘lām an-Nubalā’*, Kairo: Dār al-Hadīth, 2006, jil. 10, hlm. 180

[14] As-Suyūṭī, Ḥusn al-Muḥāḍarah fī Tārīkh Miṣr wa al-Qāhirah, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998, jil. 1, hlm. 247

[15] Adz-Dzahabī, *Siyar A‘lām an-Nubalā’*, Kairo: Dār al-Hadīth, 2006, jil. 10, hlm. 180

[16] As-Suyūṭī, *Ḥusn al-Muḥāḍarah fī Tārīkh Miṣr wa al-Qāhirah*, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998, jil. 1, hlm. 247

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »