Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}

Sejarah Nabi Muhammad SAW Part 4 || Kisah Raja Yaman dengan Dua orang Dukun

By On Senin, November 11, 2024



Daftar isi

Pendahuluan. 1

Mimpi Rabi'ah bin Nashr Raja Yaman. 2

Nasab Sathiih dan Syaq. 3

Nasab Bajilah. 3

Kisah Rabi'ah bin Nashr dan peramal Sathi' 3

Kisah Rabi‘ah bin Naṣr dan peramal Syiqq. 6

Penutup. 7

 

 

 

Pendahuluan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Salam sejahtera untuk para penonton setia Pena Sejarah ! Terima kasih telah setia menemani kami dalam menjelajahi kisah-kisah penuh hikmah dari perjalanan Rasulullah SAW dan sejarah Islam. Di episode kali ini, kita akan masuk ke bagian keempat dari serial Sejarah Nabi Muhammad SAW, dengan judul “Kisah Raja Yaman dengan Dua Orang Dukun”

Dalam episode ini, kita akan mengupas: 

1. Mimpi buruk Raja Rabi’ah bin Nashr dari Yaman yang mengguncang kerajaan.

2. Nasab dan keunikan dua peramal legendaris, Sathiḥ dan Syiqq, beserta peran mereka dalam menafsirkan mimpi sang raja.

3. Ramalan mengejutkan tentang invasi bangsa Abyssinia (Habasyah) ke Yaman, kehancuran mereka, serta kemunculan sosok Nabi terakhir yang dijanjikan.

4. Kaitan nubuat kedua dukun dengan risalah Nabi Muhammad SAW dan akhir zaman.

Simak sampai akhir agar tidak ketinggalan detail sejarah yang jarang terungkap ini. Mari kita mulai! 

Mimpi Rabi'ah bin Nashr Raja Yaman

Kisah kali akan bercerita tentang mimpi buruk yang dialami oleh Raja yaman yang bernama Rabi’ah bin Nashr. Dia adalah salah seorang raja diantara para raja Tubba’ di Yaman. Kaum Tubba' (التُّبَّع) dalam tradisi bangsa Arab adalah sebutan bagi para penguasa atau raja dari kerajaan Himyar di Yaman, yang memerintah wilayah Arab Selatan sekitar abad ke-1 sampai abad ke-6 Masehi. Kata "Tubba'" sendiri merupakan gelar yang digunakan oleh para raja mereka. Gelar ini mirip seperti gelar "Kaisar" di Romawi/china dan "Fir'aun" di Mesir. Para raja Tubba' ini sangat dihormati dalam tradisi bngsa Arab, terutama karena kekuatan militer dan politik yang mereka miliki serta pengaruh budaya yang besar di wilayah Jazirah Arab, Khususnya Arab bagin selatan yakni wilayah yaman.

Kerajaan Himyar di bawah kaum Tubba' ketika itu dikenal kuat, dengan ibu kotanya di kota Zafar dan beberapa kali pernah memindahkan pusat kekuasaanya ke tempat lain di Yaman. Mereka juga menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi yang luas hingga ke Abyssinia (sekarang Ethiopia), Persia, dan Byzantium. Raja-raja Tubba' ini terkenal dalam sejarah, khususnya sejarah bangsa Arab karena berbagai ekspansi militer yang mereka lakukan, terutama karena sering melakukan ekspedisi militer ke wilayah utara Jazirah Arab, bahkan hingga Syam dan Hijaz.

Pada suatu hari Rabi'ah bin Nashr bermimpi yang membuatnya sangat terkejut dan ketakutan sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq  berkata: Rabi'ah bin Nashr adalah raja Yaman di antara para raja Tubba'. Ia mengalami mimpi yang mengejutkan dan membuatnya merasa ketakutan. Karena itu, ia mengumpulkan seluruh dukun, penyihir, ahli ramal, dan ahli nujum di kerajaannya. Ia berkata kepada mereka, "Aku telah mengalami mimpi yang mengejutkan dan membuatku ketakutan. Jelaskanlah kepadaku tentang mimpi tersebut dan maknanya." Mereka menjawab, "Ceritakanlah mimpimu, maka kami akan menafsirkannya." Ia berkata, "Jika aku memberitahukan mimpiku kepada kalian, aku tidak akan mempercayai tafsiran kalian. Yang dapat menafsirkan mimpiku adalah hanya orang yang sudah mengetahuinya sebelum aku menceritakan mimpiku tersebut." Kemudian Salah satu dari mereka berkata, "Jika Raja menghendaki demikian, maka kirimkanlah utusan kepada Sathiih dan Syaq, karena tidak ada yang lebih mahir tentang tefsir mimpi selain daripada mereka berdua. Mereka berdua akan memberitahumu tentang apa yang engkau tanyakan."[1]

Nasab Sathiih dan Syaq

Nama asli Sathiih adalah Rabi' bin Rabi'ah bin Mas'ud bin Maazin bin Dhi'b bin Adi bin Maazin Ghassan. Dikatakan bahwa ia dinamakan Sathiḥ (permukaan datar) karena tubuhnya seperti sepotong daging yang diletakkan di atas tanah, seakan-akan ia terbentang di atasnya. Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwa ia berkata: Seseorang bertanya kepada Sathiḥ, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini?” Sathiḥ menjawab, “Aku memiliki sahabat dari bangsa jin yang mendengarkan berita langit dari Gunung Sinai ketika Allah berbicara dengan Musa ‘alaihis salam, dan ia menyampaikan kepadaku dari sana apa yang ia dapatkan.” Dikatakan pula bahwa Sathiḥ dan Syaqq dilahirkan pada hari yang sama dengan wafatnya Tariifah sang dukun wanita, istri dari ‘Amr bin ‘Amir. Sedangkan Syiqq adalah putra Sha'b bin Yasykur bin Ruhm bin Afrak bin Qasar bin 'Abqar bin Anmar bin Nizar. dan Anmar sendiri adalah ayah dari kabilah Bajilah dan Khats'am.[2]

Nasab Bajilah

Ibnu Hisyam berkata: Yaman dan Bajilah berkata: Bani Anmar adalah keturunan Anmar bin Iras bin Lihyan bin Amru bin Al-Ghawth bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan: Irasy bin Amru bin Lihyan bin Al-Ghawth. Daerah Bajilah dan Khat'am termasuk wilayah Yaman.

Kisah Rabi'ah bin Nashr dan peramal Sathi'

Setelah Raja Rabi'ah bin Nashr disarnkan oleh para peramalnya untuk menanyak arti mimpinya yang menakutkan tersebut kepada Sathiih dan Syaq, Raja kemudian mengirimkan utusanya untuk menemui dua peramal tersebut. Ibnu Ishaq menceritakan Sathi' tiba lebih dahulu sebelum Syiqq. Kemudian Raja Rabi'ah berkata kepadanya, 'Aku melihat sebuah mimpi yang membuatku terkejut dan takut. Ceritakanlah mimpi itu kepadaku, karena jika engkau mengetahui mimpiku tersebut tanpa aku ceritakan, berarti engkau juga tahu maknanya.' Lalu Sathi' menjawab, 'Aku akan melakukannya. Engkau melihat sebuah bara api[3] yang keluar dari kegelapan,[4] lalu jatuh di tanah Tihamah[5] dan memakan segala sesuatu yang memiliki tengkorak di sana.'[6] Raja kaget sekaligus kagum kepada peramal yang ada didepanya ini karena dia bisa mengetahui mimpinya dengan begitu tepat dan presisi, padahal Raja sama sekali belum menceritakan mimpinya tersebut kepada siapapun. Raja kemudian berkata kepadanya, 'Engkau benar-benar mengetahui segalanya, wahai Sathi'. Jadi, apa yang engkau pahami dari makna mimpiku itu?' Sathi' kemudian menjawab, 'Aku bersumpah demi segala yang ada di antara dua gunung berbatu, bahwa Abyssinia (Habasyah/ethiopia)[7] akan mendatangi tanah kalian. Mereka akan menguasai wilayah kalian dari Abyan[8] hingga Jurasy.'[9]

Kemudin Raja berkata kepada Sathih "Demi ayahmu, wahai Sathiḥ, sungguh ini adalah sesuatu yang menyakitkan dan mengusik hati kami. Kapan peristiwa ini akan terjadi? Apakah di masa hidupku ini atau setelahnya?" Sathiḥ menjawab, "Tidak, tetapi setelah masamu dengan jeda waktu yang lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun." Dia bertanya lagi, "Apakah kekuasaan mereka akan bertahan atau akan berakhir?" Sathiḥ menjawab, "Tidak, justru kekuasaan mereka akan berakhir dalam waktu sekitar tujuh puluh tahun, kemudian mereka akan terbunuh dan akan keluar dari negeri tersebut (yaman) dalam keadaan melarikan diri."

Kemudian Raja bertanya lagi, "Siapa yang akan memimpin Yaman setelah mereka terbunuh dan diusir?" Sathiḥ menjawab, "Yang akan memimpin Yaman adalah 'Irom bin Dzi Yazan,[10] yang akan bangkit melawan mereka dari daerah 'Aden. Ia tidak akan membiarkan satu pun dari mereka tinggal di Yaman." Raja bertanya lagi, "Apakah kekuasaannya akan bertahan atau akan berakhir?" Sathiḥ menjawab, "Tidak, kekuasaannya akan berakhir." Raja bertanya lagi, "Siapa yang akan menghancurkan kekuasaannya?" Sathiḥ menjawab, "Seorang Nabi yang suci,[11] yang akan menerima wahyu dari Yang Mahatinggi." Raja bertanya, "Dari mana asal Nabi ini?" Sathiḥ menjawab, "Ia adalah seorang lelaki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr. Kekuasaannya akan tetap ada di antara kaumnya sampai akhir zaman."

Raja bertanya, "Apakah akhir zaman itu ada?" Sathiḥ menjawab, "Ya, yaitu hari di mana seluruh makhluk dari yang terdahulu hingga yang terakhir akan dikumpulkan. Di hari itu, orang-orang yang berbuat baik akan bahagia, sedangkan orang-orang yang berbuat buruk akan celaka." Dia bertanya, "Apakah yang engkau beritahukan kepadaku ini benar?" Sathiḥ menjawab, "Ya, demi senja, demi gelap, dan demi fajar ketika memancar, sungguh apa yang aku sampaikan kepadamu adalah kebenaran."

Kisah Rabi‘ah bin Naṣr dan peramal Syiqq

Tidak lama Kemudian Syiqq datang kepada Raja, lalu Raja bertanya arti mimpinya kepadanya sebagaimana yang pernah ditanyakanya kepada Sathiḥ, namun sang Raja merahasiakan jawaban Sathiḥ untuk menguji apakah keduanya akan memiliki jawaban yang sama atau berselisih. Syiqq lalu menjawab dan berkata, "Ya, aku melihat bara api keluar dari kegelapan dan jatuh di antara padang rumput dan bukit kecil, memusnahkan segala yang bernyawa di sana."

"Dikatakan: Ketika Syiqq mengatakan hal itu kepada Raja dan mengetahui bahwa keduanya sependapat dan bahwa perkataan mereka berdua sama, hanya saja Sathih mengatakan: 'Itu terjadi di Tanah Tihamah, dan memusnahkan semua yang memiliki tengkorak.' Sedangkan Syiqq mengatakan: 'Itu terjadi diantara padang rumput dan bukit kecil, dan memusnahkan semua yang memiliki nyawa.' Lalu sang raja berkata kepadanya: 'Kamu benar, wahai Syiqq, dalam hal ini. Apa penafsiranmu?' Ia menjawab: 'Demi manusia yang tinggal di antara dua pegunungan lava, bangsa Sudan akan turun di tanah kalian. Mereka akan menguasai segala yang halus dan lembut, dan akan memerintah dari Abin hingga Najran.'

Sang raja bertanya: 'Demi ayahmu, wahai Syiqq, ini adalah sesuatu yang menyakitkan dan menyedihkan bagi kami. Kapan ini akan terjadi? Apakah pada masaku atau setelahku?' Ia menjawab: 'Tidak, tetapi setelah beberapa waktu. Kemudian seseorang yang agung dan memiliki kedudukan besar akan menyelamatkan kalian dari mereka dan akan membuat mereka merasakan kehinaan yang besar.' Raja bertanya: 'Siapakah orang yang memiliki kedudukan besar ini?' Ia menjawab: 'Seorang pemuda yang bukan dari yang rendah atau tercela, yang akan muncul dari keturunan Dzi Yazan. (Ia tidak akan meninggalkan seorang pun dari mereka di Yaman).'

Raja bertanya lagi: 'Apakah kekuasaannya akan berlanjut atau berakhir?' Ia menjawab: 'Tidak, kekuasaannya akan berakhir dengan datangnya seorang rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan di tengah kaum yang beriman dan berbudi luhur. Kekuasaan akan berada di kalangan kaumnya hingga Hari Pemisahan.' Raja bertanya: 'Apa itu Hari Pemisahan?' Ia menjawab: 'Hari di mana para pemimpin akan diberi balasan, seruan akan terdengar dari langit, didengar oleh yang hidup dan mati. Pada hari itu, manusia akan dikumpulkan untuk perhitungan. Kemenangan dan kebaikan akan menjadi milik mereka yang bertakwa.' Sang raja berkata: 'Apakah benar apa yang kamu katakan?' Ia menjawab: 'Ya, demi Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, apa yang aku beritahukan kepadamu adalah benar, tak ada kebimbangan di dalamnya.'[12]

Penutup

Demikianlah, para penonton tercinta, kisah Rabi’ah bin Nashr dan dua peramal yang meramalkan nasib Yaman serta kemunculan Nabi penutup zaman. Dari mimpi sang raja, kita belajar bagaimana nubuat tentang Rasulullah SAW telah ada jauh sebelum kelahirannya, bahkan diyakini oleh kalangan non-Muslim sekalipun. Invasi Habasyah, kehancuran mereka oleh Dzū Yazan, hingga akhirnya Islam menyinari Jazirah Arab, semua tertulis dalam garis sejarah yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.

Jika kalian terkesan dengan kisah ini, jangan lupa untuk: LIKE video ini, 

SUBSCRIBE channel Pena Sejarah agar tidak ketinggalan episode selanjutnya, 

KOMENTARI pendapat atau pertanyaan kalian di bawah, 

SHARE ke teman-teman yang menyukai sejarah dan hikmah. 

Terima kasih atas dukungannya. Sampai jumpa di episode Sejarah Nabi Muhammad SAW Part 5 ! 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 



[1] Ibnu Hisham, Shirah Nabawiyyah Lil Ibni Hisyam, (Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladihi, 1995), Jilid 1, hlm: 15

[2] Ada pendapat yang mengatakan bahwa dalam garis keturunan Bajilah dan Khats'am, keduanya bukan berasal dari keturunan Anmar, melainkan sekutu bagi anak-anak keturunannya. (Lihat al-Ma'arif karya Ibn Qutaybah).

[3] Bara api dalam teks aslinya yakni dalam kitab Shirah Ibnu Hisyam menggunakan istilah “Al-Humamah” yang berarti arang yang menyala, maksudnya adalah arang yang masih mengandung api.

[4] Maksud dari perkataan “dari kegelapan” yakni dari arah laut, yang bermaksud kedatangan pasukan Habasyah dari wilayah Sudan di Afrika dengan menyebrangi laut merah.

[5] Arti dari kata “Al-Tuhmah” adalah tanah yang menurun menuju arah laut, yakni laut merah atau samudra hindia.

[6] Dikatakan “semua yang memiliki tengkorak” maksudnya adalah merujuk kepada jiwa dan kehidupan, sehingga mencakup semua makhluk yang memiliki nyawa. (Dikutip dari kitab “ar-Raud al-Unf”.

[7] Dikatakan bahwa bangsa Habasyah adalah keturunan Habasy bin Kush bin Ham bin Nuh, dan dari nama Habasy inilah Ethiopia (Al-Habasyah) dinamai.

[8] kata”Abyan” bisa dibaca Abyan/Ibyan adajuga yang menyebutnya Yabyan adalah sebuah distrik di Yaman yang termasuk dalam wilayah Aden. Dikatakan bahwa tempat itu dinamai demikian karena merujuk pada seorang tokoh yang bernama Abyan bin Zuhair bin Ayman. Pada zaman dahulu ketika ada tokoh besar menetap disuatu tempat, biasanya masyarakat sekitar akan menamai tempat tersebut dengan nama tokoh yang dimaksud. Lebih lanjut Al-Thabari menyebutkan bahwa Aden dan Abyan adalah putra Adnan bin Udad. Sedangkan penyair Amarah bin al-Hasan al-Yamani berkata: Abyan adalah sebuah tempat di Gunung Aden. (Dikutip dari Mu'jam al-Buldan).

[9] Jurash adalah salah satu distrik di Yaman dari arah Makkah. Dikatakan juga bahwa ia adalah sebuah kota besar di Yaman dan merupakan sebuah wilayah yang luas. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa salah seorang kaum Tubba' yakni As'ad bin Kuli Kurb pernah keluar dari Yaman untuk menyerang daerah ini. "Ketika sampai di Jurasy yang saat itu merupakan tempat yang rusak dan menjadi lokasi bagi beberapa suku Ma‘ad yang ada di sekitarnya, dia meninggalkan sekelompok orang yang bersamanya karena melihat kelemahan pada mereka, dan berkata, 'Bergeraklah di sini (اجرشوا).' Kata itu berarti 'bergerak' atau 'aktiflah,' sehingga tempat itu dinamai Jurasy. Saya tidak menemukan di antara ahli bahasa siapa pun yang mengatakan bahwa 'al-Jurash' berarti 'tempat berdiam.' Abu al-Munzir Hisham menyebutkan bahwa Jurasy adalah tanah yang didiami oleh Banu Munabbih bin Aslam, yang namanya mendominasi tempat tersebut, yang sebenarnya bernama Munabbih bin Aslam bin Zaid. Ke kabilah ini pula al-Ghāz bin Rabi‘ah berasal. Jurasy ditaklukkan pada masa hidup Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-10 Hijriah."

[10] Nama aslinya adalah Saif bin Dzi Yazan, tetapi ia lebih terkenal dengan julukan Iram. Mungkin karena 'Iram' berarti tanda atau simbol, sehingga ia memujinya dengan sebutan itu. Atau mungkin penulis bermaksud untuk menyamakannya dengan kaum 'Ad Iram' dalam hal postur tubuh dan kekuatan. (Lihat Ar-Raudh Al-Unuf).

[11] Sathih hidup dalam waktu yang sangat lama setelah peristiwa ini, hingga ia sempat menyaksikan kelahiran Nabi Muhammad dan bahkan melihat kejadian pada masa kaisar persia Kisra Anushirwan, saat bangunan istana Kisra bergetar dan api yang disembah oleh bangsa Persia padam. Kemudian, Kisra mengutus Abdu Al-Masih bin Amr, Suthaih adalah kerabat dari pihak ibu Abdu Al-Masih dan Abdu Al-Masih pergi menemui Sathih yang saat itu sudah mendekati ajalnya. Mereka memiliki percakapan yang panjang yang dapat ditemukan secara rinci dalam kitab-kitab sejarah."

[12] Ibnu Hisham, Shirah Nabawiyyah Lil Ibni Hisyam, (Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladihi, 1995), Jilid 1, hlm: 18

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »