Daftar isi
Mimpi Rabi'ah bin Nashr Raja Yaman
Kisah Rabi'ah bin Nashr dan peramal Sathi'
Kisah Rabi‘ah bin Naṣr dan peramal Syiqq
Pendahuluan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera untuk para penonton setia
Pena Sejarah ! Terima kasih telah setia menemani kami dalam menjelajahi kisah-kisah
penuh hikmah dari perjalanan Rasulullah SAW dan sejarah Islam. Di episode kali
ini, kita akan masuk ke bagian keempat dari serial Sejarah Nabi Muhammad SAW,
dengan judul “Kisah Raja Yaman dengan Dua Orang Dukun”
Dalam episode ini, kita akan mengupas:
1. Mimpi buruk Raja Rabi’ah bin Nashr dari Yaman yang
mengguncang kerajaan.
2. Nasab dan keunikan dua peramal legendaris, Sathiḥ
dan Syiqq, beserta peran mereka dalam menafsirkan mimpi sang raja.
3. Ramalan mengejutkan tentang invasi bangsa Abyssinia
(Habasyah) ke Yaman, kehancuran mereka, serta kemunculan sosok Nabi terakhir
yang dijanjikan.
4. Kaitan nubuat kedua dukun dengan risalah Nabi
Muhammad SAW dan akhir zaman.
Simak sampai akhir agar tidak ketinggalan detail
sejarah yang jarang terungkap ini. Mari kita mulai!
Mimpi Rabi'ah bin Nashr Raja
Yaman
Kisah kali akan
bercerita tentang mimpi buruk yang dialami oleh Raja yaman yang bernama Rabi’ah
bin Nashr. Dia adalah salah seorang raja diantara para raja Tubba’ di Yaman.
Kaum Tubba' (التُّبَّع) dalam tradisi
bangsa Arab adalah sebutan bagi para penguasa atau raja dari kerajaan Himyar di
Yaman, yang memerintah wilayah Arab Selatan sekitar abad ke-1 sampai abad ke-6
Masehi. Kata "Tubba'" sendiri merupakan gelar yang digunakan oleh
para raja mereka. Gelar ini mirip seperti gelar "Kaisar" di Romawi/china
dan "Fir'aun" di Mesir. Para raja Tubba' ini sangat dihormati dalam
tradisi bngsa Arab, terutama karena kekuatan militer dan politik yang mereka
miliki serta pengaruh budaya yang besar di wilayah Jazirah Arab, Khususnya Arab
bagin selatan yakni wilayah yaman.
Kerajaan Himyar
di bawah kaum Tubba' ketika itu dikenal kuat, dengan ibu kotanya di kota Zafar
dan beberapa kali pernah memindahkan pusat kekuasaanya ke tempat lain di Yaman.
Mereka juga menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi yang luas hingga ke
Abyssinia (sekarang Ethiopia), Persia, dan Byzantium. Raja-raja Tubba' ini
terkenal dalam sejarah, khususnya sejarah bangsa Arab karena berbagai ekspansi
militer yang mereka lakukan, terutama karena sering melakukan ekspedisi militer
ke wilayah utara Jazirah Arab, bahkan hingga Syam dan Hijaz.
Pada suatu hari
Rabi'ah bin Nashr bermimpi yang membuatnya sangat terkejut dan ketakutan
sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq berkata: Rabi'ah bin Nashr adalah raja
Yaman di antara para raja Tubba'. Ia mengalami mimpi yang mengejutkan dan
membuatnya merasa ketakutan. Karena itu, ia mengumpulkan seluruh dukun,
penyihir, ahli ramal, dan ahli nujum di kerajaannya. Ia berkata kepada mereka,
"Aku telah mengalami mimpi yang mengejutkan dan membuatku ketakutan.
Jelaskanlah kepadaku tentang mimpi tersebut dan maknanya." Mereka
menjawab, "Ceritakanlah mimpimu, maka kami akan menafsirkannya." Ia
berkata, "Jika aku memberitahukan mimpiku kepada kalian, aku tidak akan
mempercayai tafsiran kalian. Yang dapat menafsirkan mimpiku adalah hanya orang yang
sudah mengetahuinya sebelum aku menceritakan mimpiku tersebut." Kemudian Salah
satu dari mereka berkata, "Jika Raja menghendaki demikian, maka kirimkanlah
utusan kepada Sathiih dan Syaq, karena tidak ada yang lebih mahir tentang
tefsir mimpi selain daripada mereka berdua. Mereka berdua akan memberitahumu
tentang apa yang engkau tanyakan."[1]
Nasab Sathiih dan Syaq
Nama asli
Sathiih adalah Rabi' bin Rabi'ah bin Mas'ud bin Maazin bin Dhi'b bin Adi bin
Maazin Ghassan. Dikatakan bahwa ia dinamakan Sathiḥ (permukaan datar) karena
tubuhnya seperti sepotong daging yang diletakkan di atas tanah, seakan-akan ia
terbentang di atasnya. Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwa ia berkata:
Seseorang bertanya kepada Sathiḥ, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini?”
Sathiḥ menjawab, “Aku memiliki sahabat dari bangsa jin yang mendengarkan berita
langit dari Gunung Sinai ketika Allah berbicara dengan Musa ‘alaihis salam, dan
ia menyampaikan kepadaku dari sana apa yang ia dapatkan.” Dikatakan pula bahwa
Sathiḥ dan Syaqq dilahirkan pada hari yang sama dengan wafatnya Tariifah sang
dukun wanita, istri dari ‘Amr bin ‘Amir. Sedangkan Syiqq adalah putra Sha'b bin
Yasykur bin Ruhm bin Afrak bin Qasar bin 'Abqar bin Anmar bin Nizar. dan Anmar sendiri
adalah ayah dari kabilah Bajilah dan Khats'am.[2]
Nasab Bajilah
Ibnu Hisyam
berkata: Yaman dan Bajilah berkata: Bani Anmar adalah keturunan Anmar bin Iras
bin Lihyan bin Amru bin Al-Ghawth bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'.
Ada yang mengatakan: Irasy bin Amru bin Lihyan bin Al-Ghawth. Daerah Bajilah
dan Khat'am termasuk wilayah Yaman.
Kisah Rabi'ah bin Nashr dan peramal
Sathi'
Setelah Raja
Rabi'ah bin Nashr disarnkan oleh para peramalnya untuk menanyak arti mimpinya
yang menakutkan tersebut kepada Sathiih dan Syaq, Raja kemudian mengirimkan
utusanya untuk menemui dua peramal tersebut. Ibnu Ishaq menceritakan Sathi'
tiba lebih dahulu sebelum Syiqq. Kemudian Raja Rabi'ah berkata kepadanya, 'Aku
melihat sebuah mimpi yang membuatku terkejut dan takut. Ceritakanlah mimpi itu
kepadaku, karena jika engkau mengetahui mimpiku tersebut tanpa aku ceritakan,
berarti engkau juga tahu maknanya.' Lalu Sathi' menjawab, 'Aku akan
melakukannya. Engkau melihat sebuah bara api[3]
yang keluar dari kegelapan,[4]
lalu jatuh di tanah Tihamah[5]
dan memakan segala sesuatu yang memiliki tengkorak di sana.'[6] Raja
kaget sekaligus kagum kepada peramal yang ada didepanya ini karena dia bisa
mengetahui mimpinya dengan begitu tepat dan presisi, padahal Raja sama sekali
belum menceritakan mimpinya tersebut kepada siapapun. Raja kemudian berkata
kepadanya, 'Engkau benar-benar mengetahui segalanya, wahai Sathi'. Jadi, apa
yang engkau pahami dari makna mimpiku itu?' Sathi' kemudian menjawab, 'Aku
bersumpah demi segala yang ada di antara dua gunung berbatu, bahwa Abyssinia
(Habasyah/ethiopia)[7]
akan mendatangi tanah kalian. Mereka akan menguasai wilayah kalian dari Abyan[8]
hingga Jurasy.'[9]
Kemudin Raja
berkata kepada Sathih "Demi ayahmu, wahai Sathiḥ, sungguh ini adalah
sesuatu yang menyakitkan dan mengusik hati kami. Kapan peristiwa ini akan
terjadi? Apakah di masa hidupku ini atau setelahnya?" Sathiḥ menjawab,
"Tidak, tetapi setelah masamu dengan jeda waktu yang lebih dari enam puluh
atau tujuh puluh tahun." Dia bertanya lagi, "Apakah kekuasaan mereka akan
bertahan atau akan berakhir?" Sathiḥ menjawab, "Tidak, justru kekuasaan
mereka akan berakhir dalam waktu sekitar tujuh puluh tahun, kemudian mereka
akan terbunuh dan akan keluar dari negeri tersebut (yaman) dalam keadaan
melarikan diri."
Kemudian Raja
bertanya lagi, "Siapa yang akan memimpin Yaman setelah mereka terbunuh dan
diusir?" Sathiḥ menjawab, "Yang akan memimpin Yaman adalah 'Irom bin
Dzi Yazan,[10]
yang akan bangkit melawan mereka dari daerah 'Aden. Ia tidak akan membiarkan
satu pun dari mereka tinggal di Yaman." Raja bertanya lagi, "Apakah
kekuasaannya akan bertahan atau akan berakhir?" Sathiḥ menjawab,
"Tidak, kekuasaannya akan berakhir." Raja bertanya lagi, "Siapa
yang akan menghancurkan kekuasaannya?" Sathiḥ menjawab, "Seorang Nabi
yang suci,[11]
yang akan menerima wahyu dari Yang Mahatinggi." Raja bertanya, "Dari
mana asal Nabi ini?" Sathiḥ menjawab, "Ia adalah seorang lelaki dari
keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr. Kekuasaannya akan tetap ada
di antara kaumnya sampai akhir zaman."
Raja bertanya,
"Apakah akhir zaman itu ada?" Sathiḥ menjawab, "Ya, yaitu hari
di mana seluruh makhluk dari yang terdahulu hingga yang terakhir akan
dikumpulkan. Di hari itu, orang-orang yang berbuat baik akan bahagia, sedangkan
orang-orang yang berbuat buruk akan celaka." Dia bertanya, "Apakah
yang engkau beritahukan kepadaku ini benar?" Sathiḥ menjawab, "Ya,
demi senja, demi gelap, dan demi fajar ketika memancar, sungguh apa yang aku
sampaikan kepadamu adalah kebenaran."
Kisah Rabi‘ah bin Naṣr dan peramal Syiqq
Tidak lama
Kemudian Syiqq datang kepada Raja, lalu Raja bertanya arti mimpinya kepadanya
sebagaimana yang pernah ditanyakanya kepada Sathiḥ, namun sang Raja
merahasiakan jawaban Sathiḥ untuk menguji apakah keduanya akan memiliki jawaban
yang sama atau berselisih. Syiqq lalu menjawab dan berkata, "Ya, aku
melihat bara api keluar dari kegelapan dan jatuh di antara padang rumput dan
bukit kecil, memusnahkan segala yang bernyawa di sana."
"Dikatakan:
Ketika Syiqq mengatakan hal itu kepada Raja dan mengetahui bahwa keduanya
sependapat dan bahwa perkataan mereka berdua sama, hanya saja Sathih
mengatakan: 'Itu terjadi di Tanah Tihamah, dan memusnahkan semua yang memiliki
tengkorak.' Sedangkan Syiqq mengatakan: 'Itu terjadi diantara padang rumput dan
bukit kecil, dan memusnahkan semua yang memiliki nyawa.' Lalu sang raja berkata
kepadanya: 'Kamu benar, wahai Syiqq, dalam hal ini. Apa penafsiranmu?' Ia
menjawab: 'Demi manusia yang tinggal di antara dua pegunungan lava, bangsa
Sudan akan turun di tanah kalian. Mereka akan menguasai segala yang halus dan
lembut, dan akan memerintah dari Abin hingga Najran.'
Sang raja
bertanya: 'Demi ayahmu, wahai Syiqq, ini adalah sesuatu yang menyakitkan dan
menyedihkan bagi kami. Kapan ini akan terjadi? Apakah pada masaku atau
setelahku?' Ia menjawab: 'Tidak, tetapi setelah beberapa waktu. Kemudian
seseorang yang agung dan memiliki kedudukan besar akan menyelamatkan kalian
dari mereka dan akan membuat mereka merasakan kehinaan yang besar.' Raja
bertanya: 'Siapakah orang yang memiliki kedudukan besar ini?' Ia menjawab:
'Seorang pemuda yang bukan dari yang rendah atau tercela, yang akan muncul dari
keturunan Dzi Yazan. (Ia tidak akan meninggalkan seorang pun dari mereka di
Yaman).'
Raja bertanya
lagi: 'Apakah kekuasaannya akan berlanjut atau berakhir?' Ia menjawab: 'Tidak,
kekuasaannya akan berakhir dengan datangnya seorang rasul yang diutus dengan
membawa kebenaran dan keadilan di tengah kaum yang beriman dan berbudi luhur.
Kekuasaan akan berada di kalangan kaumnya hingga Hari Pemisahan.' Raja
bertanya: 'Apa itu Hari Pemisahan?' Ia menjawab: 'Hari di mana para pemimpin
akan diberi balasan, seruan akan terdengar dari langit, didengar oleh yang
hidup dan mati. Pada hari itu, manusia akan dikumpulkan untuk perhitungan.
Kemenangan dan kebaikan akan menjadi milik mereka yang bertakwa.' Sang raja
berkata: 'Apakah benar apa yang kamu katakan?' Ia menjawab: 'Ya, demi Tuhan
langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, apa yang aku beritahukan
kepadamu adalah benar, tak ada kebimbangan di dalamnya.'[12]
Penutup
Demikianlah, para penonton tercinta, kisah Rabi’ah bin
Nashr dan dua peramal yang meramalkan nasib Yaman serta kemunculan Nabi penutup
zaman. Dari mimpi sang raja, kita belajar bagaimana nubuat tentang Rasulullah
SAW telah ada jauh sebelum kelahirannya, bahkan diyakini oleh kalangan
non-Muslim sekalipun. Invasi Habasyah, kehancuran mereka oleh Dzū Yazan, hingga
akhirnya Islam menyinari Jazirah Arab, semua tertulis dalam garis sejarah yang
membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.
Jika kalian terkesan dengan kisah ini, jangan lupa
untuk: LIKE video ini,
SUBSCRIBE channel Pena Sejarah agar tidak ketinggalan
episode selanjutnya,
KOMENTARI pendapat atau pertanyaan kalian di
bawah,
SHARE ke teman-teman yang menyukai sejarah dan
hikmah.
Terima kasih atas dukungannya. Sampai jumpa di episode
Sejarah Nabi Muhammad SAW Part 5 !
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[1] Ibnu Hisham, Shirah Nabawiyyah Lil Ibni Hisyam, (Kairo: Mustafa
al-Babi al-Halabi wa Auladihi, 1995), Jilid 1, hlm: 15
[2] Ada pendapat yang mengatakan bahwa dalam garis keturunan Bajilah dan
Khats'am, keduanya bukan berasal dari keturunan Anmar, melainkan sekutu bagi anak-anak
keturunannya. (Lihat al-Ma'arif karya Ibn Qutaybah).
[3] Bara api dalam teks aslinya yakni dalam kitab Shirah Ibnu Hisyam
menggunakan istilah “Al-Humamah” yang berarti arang yang menyala, maksudnya
adalah arang yang masih mengandung api.
[4] Maksud dari perkataan “dari kegelapan” yakni dari arah laut, yang
bermaksud kedatangan pasukan Habasyah dari wilayah Sudan di Afrika dengan
menyebrangi laut merah.
[5] Arti dari kata “Al-Tuhmah” adalah tanah yang menurun menuju arah laut,
yakni laut merah atau samudra hindia.
[6] Dikatakan “semua yang memiliki tengkorak” maksudnya adalah merujuk
kepada jiwa dan kehidupan, sehingga mencakup semua makhluk yang memiliki nyawa.
(Dikutip dari kitab “ar-Raud al-Unf”.
[7] Dikatakan bahwa bangsa Habasyah adalah keturunan Habasy bin Kush bin
Ham bin Nuh, dan dari nama Habasy inilah Ethiopia (Al-Habasyah) dinamai.
[8] kata”Abyan” bisa dibaca Abyan/Ibyan adajuga yang menyebutnya Yabyan
adalah sebuah distrik di Yaman yang termasuk dalam wilayah Aden. Dikatakan
bahwa tempat itu dinamai demikian karena merujuk pada seorang tokoh yang
bernama Abyan bin Zuhair bin Ayman. Pada zaman dahulu ketika ada tokoh besar
menetap disuatu tempat, biasanya masyarakat sekitar akan menamai tempat
tersebut dengan nama tokoh yang dimaksud. Lebih lanjut Al-Thabari menyebutkan
bahwa Aden dan Abyan adalah putra Adnan bin Udad. Sedangkan penyair Amarah bin
al-Hasan al-Yamani berkata: Abyan adalah sebuah tempat di Gunung Aden. (Dikutip
dari Mu'jam al-Buldan).
[9] Jurash adalah salah satu distrik di Yaman dari arah Makkah. Dikatakan
juga bahwa ia adalah sebuah kota besar di Yaman dan merupakan sebuah wilayah
yang luas. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa salah seorang kaum Tubba'
yakni As'ad bin Kuli Kurb pernah keluar dari Yaman untuk menyerang daerah ini. "Ketika
sampai di Jurasy yang saat itu merupakan tempat yang rusak dan menjadi lokasi
bagi beberapa suku Ma‘ad yang ada di sekitarnya, dia meninggalkan sekelompok
orang yang bersamanya karena melihat kelemahan pada mereka, dan berkata,
'Bergeraklah di sini (اجرشوا).' Kata itu berarti 'bergerak' atau 'aktiflah,'
sehingga tempat itu dinamai Jurasy. Saya tidak menemukan di antara ahli bahasa
siapa pun yang mengatakan bahwa 'al-Jurash' berarti 'tempat berdiam.' Abu
al-Munzir Hisham menyebutkan bahwa Jurasy adalah tanah yang didiami oleh Banu
Munabbih bin Aslam, yang namanya mendominasi tempat tersebut, yang sebenarnya
bernama Munabbih bin Aslam bin Zaid. Ke kabilah ini pula al-Ghāz bin Rabi‘ah
berasal. Jurasy ditaklukkan pada masa hidup Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-10
Hijriah."
[10] Nama aslinya adalah Saif bin Dzi Yazan, tetapi ia lebih terkenal
dengan julukan Iram. Mungkin karena 'Iram' berarti tanda atau simbol, sehingga
ia memujinya dengan sebutan itu. Atau mungkin penulis bermaksud untuk
menyamakannya dengan kaum 'Ad Iram' dalam hal postur tubuh dan kekuatan. (Lihat
Ar-Raudh Al-Unuf).
[11] Sathih hidup dalam waktu yang sangat lama setelah peristiwa ini,
hingga ia sempat menyaksikan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan bahkan melihat kejadian pada masa kaisar
persia Kisra Anushirwan, saat bangunan istana Kisra bergetar dan api yang
disembah oleh bangsa Persia padam. Kemudian, Kisra mengutus Abdu Al-Masih bin
Amr, Suthaih adalah kerabat dari pihak ibu Abdu Al-Masih dan Abdu Al-Masih
pergi menemui Sathih yang saat itu sudah mendekati ajalnya. Mereka memiliki
percakapan yang panjang yang dapat ditemukan secara rinci dalam kitab-kitab
sejarah."
[12] Ibnu Hisham, Shirah Nabawiyyah Lil Ibni Hisyam, (Kairo: Mustafa
al-Babi al-Halabi wa Auladihi, 1995), Jilid 1, hlm: 18
