Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Serial Akhir Zaman part 1_Benarkah Kiamat Masih Lama? Padahal Tanda Pertama-nya sudah muncul 1.400 tahun yang lalu

By On Senin, Maret 02, 2026


Daftar isi

Pendahuluan: Urgensi Memahami Eskatologi Islam.. 2

A. Manusia: Makhluk Terakhir di Panggung Sejarah Kosmik. 3

B. Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi: Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat 5

C. Apakah Allah Menyembunyikan Waktu Kiamat Secara Mutlak? (Hikmah di Balik Rahasia Ilahi)  7

D. Definisi Terminologis Tanda-Tanda Hari Kiamat 8

1. Al-Asyrāth As-Sā'ah (أَشْرَاطُ السَّاعَةِ). 8

2. Al-Amārāt (الأَمَارَاتُ). 9

3. Al-Āyāt (الآيَاتُ). 9

4. 'Alāmāt As-Sā'ah (عَلَامَاتُ السَّاعَةِ). 9

E. Pembagian Tanda-Tanda Kiamat 10

F. Tanda Kiamat Sughra Pertama: Diutusnya Nabi Muhammad SAW... 10

1. Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Para Nabi (Khatam an-Nabiyyīn). 11

2. Nabi Sebelum Muhammad Diutus Hanya untuk Kaum Tertentu. 12

3. Jumlah Para Nabi dan Rasul: Sebuah Tinjauan Sanad dan Historis. 13

4. Hadits-Hadits yang Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat 14

5. Perspektif Waktu: Antara Perhitungan Manusia dan Allah. 15

6. Pendapat Para Ulama tentang Tanda Pertama Ini 16

Penutup: Refleksi dan Persiapan Menghadapi Akhir Zaman. 18

 

 

Pendahuluan: Urgensi Memahami Eskatologi Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Keyakinan akan adanya hari akhir merupakan salah satu fondasi utama dalam bangunan akidah Islam. Kepercayaan terhadap hari kiamat menempati posisi yang sangat strategis, bahkan menjadi rukun iman yang kelima, yang berarti tidak sempurna keimanan seseorang tanpa meyakininya. Dalam perspektif agama-agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), terdapat titik temu yang fundamental mengenai adanya hari penghakiman atau eschaton masa di mana seluruh sejarah manusia dan alam semesta akan mencapai titik kulminasinya. Meskipun detail teologisnya memiliki perbedaan, ketiga agama besar ini sepakat bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat.

Serial Akhir Zaman ini hadir untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam topik eskatologi dalam perspektif Islam. Pembahasan ini akan mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari analisis mendalam tentang tanda-tanda hari kiamat (`asyrāth as-sā'ah`), deskripsi peristiwa dahsyat kiamat itu sendiri (yaum al-qiyāmah) yang meliputi kehancuran alam raya (thammat al-kubrā), kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang fase-fase setelah kematian, seperti alam barzakh (alam kubur), hari kebangkitan (yaum al-ba'ts), pengumpulan di padang Mahsyar (yaum al-hasyr), perhitungan amal (yaum al-hisāb), penimbangan amal (yaum al-mīzān), hingga akhirnya berujung pada surga (jannah) atau neraka (nār).

Mengingat luasnya cakupan materi, serial ini akan dibagi ke dalam beberapa episode. Pendekatan ini dipilih agar pembaca dapat mencerna setiap tahapan dengan lebih tenang, mendalam, dan tidak terburu-buru. Sumber-sumber rujukan yang digunakan dalam serial ini berpegang teguh pada Al-Qur'an al-Karim, kitab-kitab hadits mu'tabarah (standar), serta karya-karya monumental para ulama klasik dan kontemporer yang kompeten dalam bidang akidah dan eskatologi Islam.

Pada episode pertama yang fundamental ini, kita akan mengawali perjalanan dengan membahas tiga pokok bahasan utama. Pertama, kedudukan manusia sebagai makhluk terakhir yang diciptakan Allah di muka bumi, sebuah fakta yang selaras dengan temuan ilmiah modern. Kedua, analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi yang dengan tegas menyatakan kedekatan hari kiamat. Ketiga, pembahasan terminologis yang sangat krusial, yaitu definisi dan ruang lingkup dari istilah-istilah yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, di mana mayoritas ulama membaginya menjadi dua kategori utama: tanda-tanda kecil (sughrā) dan tanda-tanda besar (kubrā). Sebagian ulama juga menambahkan kategori tanda menengah (wusthā), namun dalam serial ini kita akan fokus pada pembagian yang paling masyhur dan komprehensif.

Mari kita mulai pembahasan ini dengan memohon keberkahan dan ilmu yang bermanfaat dari Allah subhanahu wa ta'ala, serta berharap agar kita semua termasuk golongan yang mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

A. Manusia: Makhluk Terakhir di Panggung Sejarah Kosmik

Salah satu bukti ilmiah yang menguatkan pesan-pesan Al-Qur'an tentang kedekatan kiamat adalah temuan para astronom mengenai usia alam semesta dan kemunculan manusia. Pada tahun 1990 Masehi, ratusan ilmuwan astronomi dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Brussel, Belgia, dalam sebuah konferensi ilmiah bergengsi. Mereka memaparkan hasil kajian mendalam mengenai awal mula terjadinya alam semesta (big bang), proses penciptaan bintang-bintang, planet-planet, serta perhitungan usia setiap entitas kosmik tersebut.

Hasil kajian tersebut menghasilkan fakta-fakta ilmiah yang mencengangkan, namun dipenuhi dengan angka-angka raksasa yang sulit dicerna oleh kebanyakan orang awam. Untuk mengatasi kompleksitas ini, para ilmuwan menggunakan metode penyederhanaan dengan menyimbolkan angka-angka tersebut. Misalnya, angka satu miliar (1.000.000.000) disimbolkan dengan simbol tertentu, dan angka seratus miliar (100.000.000.000) juga disimbolkan dengan simbol lainnya. Metode ini memudahkan perhitungan, meskipun secara teknis tetap rumit.

Dalam upaya untuk membuat pemahaman lebih intuitif, mereka kemudian membuat kesepakatan epistemologis untuk menyamakan usia alam semesta yang mencapai miliaran tahun itu dengan durasi satu hari penuh (24 jam). Ilustrasi ini bertujuan untuk memetakan kronologi penciptaan secara sederhana. Mereka menyusun narasi kosmik sebagai berikut:

·         Pada "jam pertama", terciptalah galaksi dan bintang-bintang yang jumlahnya melebihi ribuan miliar.

·         Pada "jam kedua", galaksi-galaksi ini mulai mengalami pemisahan dan ekspansi.

·         Pada "jam ketiga", muncullah planet-planet, satelit-satelit, dan meteor-meteor.

·         Pada "jam keempat", galaksi dan bintang-bintang mulai menempati posisi orbitnya masing-masing.

·         Pada "jam kelima", terjadi proses penciptaan lebih banyak planet dan satelit setelah terpisah dari bintang-bintang induknya.

·         Pada "jam keenam", semua benda langit ini mulai bertingkat-tingkat, berlapis-lapis, dan bergerombol membentuk gugusan bintang, gugusan galaksi, dan seterusnya.

Puncaknya, mereka menyatakan bahwa bumi yang kita tempati ini tercipta pada "jam terakhir" dari usia alam semesta, yakni di awal "jam ke-24". Proses penciptaan bumi dimulai dengan terbentuknya tanah, lalu gunung-gunung yang kokoh, kemudian lautan dan sungai-sungai. Setelah itu, kehidupan mulai muncul di bumi, dimulai dari tumbuh-tumbuhan, lalu organisme sederhana di lautan, kemudian makhluk hidup di darat seperti serangga, reptil, dan mamalia dengan jumlah dan variasi yang sangat banyak.

Dan yang paling signifikan dari ilustrasi ini adalah kesimpulan bahwa manusia mulai eksis di bumi pada "10 menit terakhir" dari "jam terakhir" tersebut. Lebih jauh lagi, mereka menyatakan bahwa kehidupan manusia di bumi telah berlangsung selama "7 menit" dari total "10 menit" yang merupakan durasi eksistensi manusia. Ini berarti, menurut analogi mereka, kita saat ini tengah hidup pada "3 menit terakhir" dari rentang kehidupan manusia di muka bumi.

Para ahli astronomi ini, dengan segala perangkat ilmiahnya, menyimpulkan bahwa alam semesta ini bersifat fana dan pasti akan mengalami kehancuran. Meskipun mereka berbeda pendapat tentang kapan persisnya masa penghabisan itu tiba, kesimpulan dasar bahwa alam semesta memiliki akhir adalah suatu keniscayaan. Yang menarik, analogi dan kesimpulan para ilmuwan ini sama sekali tidak bertentangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan hadits. Justru, temuan ini memperkuat pesan-pesan wahyu bahwa kita hidup di akhir zaman.

B. Ayat-Ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi: Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat

Pernyataan para astronom tersebut hanyalah konfirmasi empiris atas apa yang telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya sejak empat belas abad yang lalu. Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa hari kiamat telah dekat. Seandainya jarak antara masa turunnya Al-Qur'an dengan hari kiamat masih puluhan ribu tahun atau ratusan ribu tahun, niscaya Allah tidak akan menggunakan terminologi "dekat" (qarīb) dalam firman-firman-Nya. Berikut adalah analisis terhadap beberapa ayat kunci yang menegaskan kedekatan tersebut:

Pertama, dalam Surat asy-Syura ayat 17, Allah berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ وَالْمِيْزَانَ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيْبٌ ١٧

Artinya: "Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dengan benar dan (menurunkan) timbangan (keadilan). Tahukah kamu (bahwa) boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?" (QS. asy-Syura [42]: 17)

Ayat ini menggunakan kata لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيْبٌ yang mengandung makna harapan dan kemungkinan yang sangat kuat, menunjukkan bahwa kedekatan kiamat adalah suatu realitas yang hampir pasti.

Kedua, dalam Surat al-Ma'arij ayat 5-7, Allah menegaskan perbedaan perspektif antara manusia dan Allah:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا ٥ اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧

artinya: "Maka, bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Sesungguhnya mereka memandangnya (siksaan itu) jauh (mustahil terjadi), sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)." (QS. al-Ma'arij [70]: 5-7)

Ayat ini dengan jelas membedakan antara persepsi manusia yang terbatas dengan realitas di sisi Allah. Apa yang tampak jauh oleh manusia, di sisi Allah adalah sesuatu yang dekat.

Ketiga, dalam Surat al-Ahzab ayat 63, Allah berfirman:

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣

Artinya: "Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah." Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat. (QS. al-Ahzab [33]: 63)

Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun pengetahuan tentang waktu pasti kiamat adalah mutlak hak prerogatif Allah, namun kedekatannya adalah sesuatu yang perlu disadari oleh manusia.

Keempat, dalam Surat al-Qamar ayat 1, Allah menggunakan kata kerja lampau (fi'il mādhi) yang menunjukkan sesuatu yang telah terjadi atau pasti terjadi:

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ١

Artinya: "Telah dekat (pasti terjadi) hari Kiamat dan telah terbelah bulan." (QS. al-Qamar [54]: 1)

Penggunaan kata اِقْتَرَبَت (telah dekat) menunjukkan bahwa kedekatan kiamat adalah suatu kepastian yang sudah di ambang pintu.

Selain ayat-ayat Al-Qur'an, Rasulullah juga memberikan ilustrasi yang sangat gamblang tentang kedekatan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa'd, Rasulullah bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

Artinya: "Jarak antara hari kiamat dengan saat aku diutus sebagai Rasul hanya seperti ini." Beliau menggabungkan dua jarinya, yakni jari telunjuk dan jari tengah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah juga bersabda tentang rentang waktu umat Islam dibanding umat sebelumnya:

إِنَّمَا أَجَلُكُمْ فِيْمَا خَلَا مِنَ الْأُمَمِ كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ

Aetinya: "Sesungguhnya ajal (masa hidup) kalian dibandingkan dengan umat-umat terdahulu ialah seperti jeda waktu antara shalat Ashar hingga matahari terbenam." (HR. At-Tirmidzi, no. 2883)

C. Apakah Allah Menyembunyikan Waktu Kiamat Secara Mutlak? (Hikmah di Balik Rahasia Ilahi)

Memang benar, Allah telah memberitahukan dalam banyak ayat bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba, tanpa disadari oleh manusia. Namun, pernyataan ini tidak boleh dipahami secara tekstual semata tanpa melihat konteksnya yang lebih luas. Allah menyembunyikan waktu persisnya, tetapi Dia tidak membiarkan hamba-Nya tanpa peringatan. Justru, melalui lisan para nabi, terutama Nabi Muhammad , Allah telah memberikan sekian banyak tanda (alamāt) yang menjadi indikator semakin dekatnya hari besar tersebut. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia selalu dalam keadaan siap sedia (musta'iddūn).

Berikut ayat-ayat yang menegaskan bahwa kiamat datang secara mendadak:

Allah berfirman dalam Surat Az-Zukhruf ayat 66:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ٦٦

Artinya: "Tidaklah mereka (orang-orang kafir) menunggu, kecuali hari Kiamat yang datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadari(-nya)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 66)

Kemudian dalam Surat Al-A'raf ayat 187, Allah berfirman:

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ١٨٧

 

Artinya: "Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, "Kapan terjadi?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf [7]: 187)

Dari ayat-ayat ini, kita memahami adanya dualitas: kepastian kedatangan yang tiba-tiba dan adanya tanda-tanda sebagai peringatan. Orang-orang yang lalai tidak akan mengambil pelajaran dari tanda-tanda tersebut, sehingga kiamat terasa tiba-tiba bagi mereka. Sebaliknya, orang-orang beriman yang selalu mengamati tanda-tanda akan terus terjaga imannya.

D. Definisi Terminologis Tanda-Tanda Hari Kiamat

Untuk memahami pembahasan ini secara ilmiah, kita perlu menguasai terminologi yang digunakan dalam Al-Qur'an dan hadits. Para ulama bahasa dan syariat telah merumuskan definisi yang sangat teliti untuk setiap istilah yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat.

1. Al-Asyrāth As-Sā'ah (أَشْرَاطُ السَّاعَةِ)

Kata "al-asyrāth" (الأَشْرَاط) adalah bentuk jamak dari "as-syarāth" (الشَّرَاط) atau "al-mīsyārāth" (المِيشْرَاط). Secara etimologis, kata ini memiliki arti "tanda" atau "alamat". Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa asyrāth adalah tanda-tanda yang diikuti atau yang menjadi petunjuk menuju sesuatu .

Imam Ibn Manzhur dalam Lisān al-'Arab menjelaskan bahwa asyrāth adalah tanda-tanda yang muncul sebelum terjadinya suatu peristiwa besar. Dari akar kata yang sama lahir kata "isyrāth" yang berarti peringatan atau tanda yang sudah diketahui sebelumnya.

Secara terminologis, para ulama memberikan beberapa definisi:

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan asyrāth as-sā'ah adalah "tanda-tanda yang mendahului hari kiamat dan menunjukkan akan segera terjadinya" .

Ibnu Katsir dalam An-Nihāyah fi al-Fitan wa al-Malāhim menjelaskan bahwa asyrāth adalah "hal-hal yang menjadi pertanda dan indikator yang menunjukkan dekatnya hari kiamat".

2. Al-Amārāt (الأَمَارَاتُ)

Kata "al-amārāt" (الأَمَارَاتُ) secara etimologis berasal dari kata "amarah" (أَمَرَة) yang artinya adalah "tanda kecil" yang terbuat dari tumpukan batu di padang pasir, yang dijadikan petunjuk jalan oleh para musafir. Istilah ini biasanya digunakan untuk menunjuk pada tanda-tanda yang bersifat kecil atau parsial. Penggunaan kata ini mengindikasikan bahwa ada tanda-tanda yang lebih bersifat lokal atau temporal yang jika diamati akan mengantarkan seseorang pada kesimpulan bahwa kiamat sudah dekat.

3. Al-Āyāt (الآيَاتُ)

Kata "al-āyāt" (الآيَاتُ) adalah bentuk jamak dari "āyah" (آيَة). Secara etimologis, āyah berarti "tanda yang jelas dan kuat", atau "mukjizat", atau "pelajaran yang menakjubkan". Dalam Al-Qur'an, kata ini digunakan untuk menunjuk pada ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Secara terminologis, penggunaan kata āyāt untuk tanda-tanda kiamat menunjukkan bahwa tanda-tanda tersebut adalah perkara-perkara besar yang kejadiannya di luar kebiasaan dan menakjubkan. Tanda-tanda ini tidak mungkin dipalsukan atau ditiru. Contoh penggunaan istilah ini adalah dalam Surat Al-'Ankabut ayat 15, di mana Allah menyebut peristiwa bahtera Nuh sebagai "āyah" (tanda besar).

 

4. 'Alāmāt As-Sā'ah (عَلَامَاتُ السَّاعَةِ)

Kata "'alāmāt" (عَلَامَاتُ) secara etimologis berasal dari kata "'alama" (عَلَمَ) yang artinya "tanda yang jelas dan nyata". Secara terminologis, 'alāmāt as-sā'ah berarti "tanda-tanda petunjuk yang mengawali terjadinya hari kiamat dan menunjukkan bahwa ia benar-benar akan segera terjadi" .

Adapun kata "as-sā'ah" (السَّاعَةُ) secara etimologis berarti "bagian dari waktu, baik malam maupun siang". Namun secara terminologis, kata ini digunakan secara khusus untuk merujuk pada "hari kiamat". Mengapa hari kiamat disebut as-sā'ah? Karena kejadiannya yang sangat cepat dalam satu waktu, seperti satu saat yang singkat, atau karena seluruh makhluk akan mati dalam satu kali tiupan sangkakala saja.

E. Pembagian Tanda-Tanda Kiamat

Mayoritas ulama membagi tanda-tanda kiamat menjadi dua kategori utama :

1.      Tanda-tanda Kecil (Asyrāth as-Sā'ah as-Sughrā): Yaitu tanda-tanda yang mendahului hari kiamat dengan rentang waktu yang relatif panjang, dan biasanya berupa perubahan-perubahan sosial, moral, dan beberapa peristiwa alam yang tidak bersifat dahsyat. Tanda-tanda ini banyak sekali jumlahnya dan sebagian telah muncul, sedang muncul, dan akan terus muncul hingga datangnya tanda-tanda besar.

2.      Tanda-tanda Besar (Asyrāth as-Sā'ah al-Kubrā): Yaitu tanda-tanda yang muncul menjelang terjadinya kiamat secara langsung, dan kedahsyatannya luar biasa. Tanda-tanda besar ini berjumlah sepuluh, sebagaimana disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Asid.

F. Tanda Kiamat Sughra Pertama: Diutusnya Nabi Muhammad SAW

Pembahasan inti dalam episode pertama ini adalah tentang tanda kiamat kecil yang pertama, yaitu diutusnya Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi. Ini adalah poin yang sangat fundamental karena menandai dimulainya fase akhir sejarah manusia.

Jika muncul pertanyaan: "Nabi Muhammad sudah diutus 14 abad yang lalu, namun kiamat belum juga tiba. Di mana letak kedekatannya?" Jawabannya terletak pada perspektif waktu. Empat belas abad memang terasa panjang bagi manusia, namun jika dibandingkan dengan usia alam semesta yang mencapai 13,8 miliar tahun, maka 14 abad adalah waktu yang sangat singkat. Dalam ilustrasi para astronom, jika usia alam semesta diandaikan 24 jam, maka manusia baru muncul di 10 menit terakhir, dan diutusnya Nabi Muhammad adalah di detik-detik terakhir dari rentang tersebut.

1. Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Para Nabi (Khatam an-Nabiyyīn)

Alasan utama mengapa diutusnya Nabi Muhammad menjadi pertanda awal kiamat adalah karena beliau adalah penutup para nabi. Tidak akan ada lagi nabi setelahnya. Jika utusan terakhir telah tiba, maka pengumuman tentang berakhirnya masa ujian (dunia) sudah di depan mata. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ ٤٠

 

Artinya: "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ahzab [33]: 40)

Ayat ini menggunakan kata "خَاتَمَ النَّبِيّٖنَ" (khātam an-nabiyyīn). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata khātam (dengan fathah pada huruf kha') berarti stempel atau penutup. Sebagaimana stempel berfungsi untuk mengakhiri dan mengesahkan suatu surat, demikian pula Nabi Muhammad adalah penutup dan pengesah seluruh risalah kenabian. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:

إِنَّ بِعَثَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ الْأَشْرَاطِ لِقُرْبِ السَّاعَةِ، لِأَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، فَمَنْ جَاءَ بَعْدَهُ يَدَّعِي النُّبُوَّةَ فَهُوَ كَذَّابٌ، وَإِذَا انْقَطَعَتِ النُّبُوَّةُ فَقَدْ دَنَا الْفَرَاغُ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: "Sesungguhnya diutusnya Nabi kita Muhammad adalah salah satu tanda terbesar akan dekatnya hari kiamat. Karena tidak ada nabi setelahnya. Maka siapa pun yang datang setelahnya mengaku-aku sebagai nabi, dia adalah pendusta. Dan jika kenabian telah terputus, maka sungguh telah dekat waktu berakhirnya dunia."[1]

Hadits-hadits Nabi juga memperkuat hal ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, Rasulullah bersabda:

إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Artinya: "Sesungguhnya akan ada dalam umatku tiga puluh pendusta; masing-masing mengaku bahwa dia adalah nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi; tidak ada nabi setelahku." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Hadits ini sekaligus menjadi peringatan bahwa akan muncul banyak nabi palsu di akhir zaman, dan itu sendiri adalah bagian dari tanda-tanda kecil lainnya. Namun, inti pesannya adalah bahwa pintu kenabian telah tertutup rapat-rapat.

2. Nabi Sebelum Muhammad Diutus Hanya untuk Kaum Tertentu

Karakteristik lain yang menjadikan diutusnya Nabi Muhammad sebagai pertanda kiamat adalah universalitas risalahnya. Maksudnya risalah nabi muhammad untuk seluruh umat manusia, sedangkan Para nabi sebelumnya diutus secara spesifik untuk kaum atau bangsa tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 36:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ٣٦

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut!" Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. An-Nahl [16]: 36)

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap umat memiliki rasulnya masing-masing dengan misi yang sama: tauhid. Namun, setelah Nabi Muhammad diutus, tidak ada lagi sekat umat atau bangsa. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, bahkan untuk seluruh jin, hingga akhir zaman. Hal ini ditegaskan dalam ayat lain (QS. Saba' [34]: 28) yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Universalitas ini menandakan bahwa pesan terakhir telah disampaikan, dan tidak ada lagi alasan bagi siapapun untuk tidak mendengarkannya. Kini, tinggal menunggu eksekusi akhir dari Allah.

3. Jumlah Para Nabi dan Rasul: Sebuah Tinjauan Sanad dan Historis

Tidak semua nabi dan rasul diceritakan dalam Al-Qur'an. Allah hanya menceritakan sebagian kecil dari mereka sebagai pelajaran bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam Surat Ghafir ayat 78 dan Surat An-Nisa ayat 164.

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَّنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ...

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa orang rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu..." (QS. Ghafir [40]: 78)

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ ١٦٤

Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) beberapa rasul yang telah Kami ceritakan kepadamu sebelumnya dan beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS. An-Nisa [4]: 164)

Lantas, berapa jumlah seluruh nabi dan rasul? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah memberikan informasi tentang hal ini:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الْأَنْبِيَاءُ؟ قَالَ: (مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا). قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ: (ثَلَاثُ مِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا)

Artinya: "Aku bertanya: Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah nabi? Beliau menjawab: '(Jumlah nabi adalah) 124.000 orang.' Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah, lalu ada berapa jumlah rasul dari mereka? Beliau menjawab: '313 orang, mereka sangat banyak jumlahnya'." (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)

Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam kitabnya Ajwibat al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan komentar mengenai hadits ini. Beliau menyatakan bahwa meskipun jalur periwayatan hadits ini perlu diteliti lebih lanjut, namun secara makna, hadits ini diterima oleh jumhur ulama sebagai informasi tentang banyaknya nabi dan rasul . Beliau juga mengingatkan bahwa yang wajib diimani secara terperinci hanyalah 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sedangkan sisanya kita imani secara global .

Jumlah yang sangat banyak ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan satu umat pun tanpa bimbingan. Namun, setelah Nabi Muhammad diutus, yani nabi yang ke-124.000 itu diutus, maka mata rantai risalah telah sampai pada penghujungnya.

4. Hadits-Hadits yang Menegaskan Kedekatan Hari Kiamat

Selain hadits tentang dua jari yang telah disebutkan, terdapat beberapa hadits lain yang semakin memperkuat argumen ini.

Hadits Pertama:

Rasulullah bersabda:

 

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

Artinya: "(Jarak) diutusnya aku dengan hari kiamat seperti dua ini, sambil beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya." (HR. al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)

Hadits Kedua:

Dalam riwayat lain, redaksinya lebih tegas lagi:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَذِهِ وَهَذِهِ، إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي

Artinya: "(Jarak) antara aku diutus dengan hari kiamat seperti ini dan ini, dan hampir saja hari kiamat itu mendahuluiku." (HR. Ahmad)

Hadits Ketiga:

Rasulullah juga bersabda:

بُعِثْتُ فِي نَسَمِ السَّاعَةِ

Artinya: "Aku diutus pada awal hembusan (tiupan) kiamat." (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

بُعِثْتُ فِي نَفَسِ السَّاعَةِ

Artinya: "Aku diutus pada awal hembusan (nafas) kiamat." (HR. At-Tirmidzi)

Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīts menjelaskan makna frasa "فِي نَسَمِ السَّاعَةِ". Kata "an-nasam" (النَّسَم) atau "an-nasīm" (النَّسِيْم) berarti "awal mula tiupan angin yang lembut". Jadi, maksudnya adalah bahwa Rasulullah diutus pada awal mula periode yang menjadi permulaan dari tanda-tanda kiamat. Ini adalah metafora yang sangat indah, bahwa kedatangan beliau bagaikan hembusan angin pertama yang menandakan akan datangnya badai besar (kiamat) .

Semua hadits ini, yang disampaikan 14 abad yang lalu, adalah bukti nyata kenabian Muhammad . Beliau berbicara tentang masa depan yang jauh dengan keyakinan dan kepastian, karena semuanya adalah wahyu dari Allah.

5. Perspektif Waktu: Antara Perhitungan Manusia dan Allah

Ketika kita merasa bahwa 14 abad adalah waktu yang sangat panjang, kita perlu merenungkan firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 47:

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗۗ وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ ٤٧

Artinya: "Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. Al-Hajj [22]: 47)

Ayat ini mengajarkan kita tentang relativitas waktu. Waktu adalah dimensi ciptaan Allah yang sangat berbeda perspektifnya antara makhluk dan Khalik. Satu hari di sisi Allah bisa setara dengan seribu tahun dalam hitungan manusia. Jika kita menggunakan perspektif ini, maka 14 abad (atau sekitar 1.400 tahun) hanyalah satu atau satu setengah "hari" di sisi Allah. Ini sangat singkat.

Allah berfirman dalam Surat Al-Ma'arij ayat 6-7:

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ ٦ وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ ٧

Artinya: "Sesungguhnya mereka memandangnya (siksaan itu) jauh (mustahil terjadi), sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)." (QS. al-Ma'arij [70]: 6-7)

6. Pendapat Para Ulama tentang Tanda Pertama Ini

Para ulama dari berbagai mazhab dan generasi telah memberikan komentar yang senada mengenai hal ini:

a.  Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam tafsirnya menyatakan:

"فِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ بَعْثَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، لِأَنَّهُ آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ، وَبَعْدَهُ تَقُومُ السَّاعَةُ"

 Artinya: "Dalam ayat ini (al-Ahzab: 40) terdapat dalil bahwa diutusnya Nabi adalah termasuk tanda-tanda kiamat, karena beliau adalah nabi terakhir, dan setelahnya akan datang kiamat."[2]

b. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w. 852 H) dalam syarahnya atas Shahih al-Bukhari, Fath al-Bāri, menjelaskan makna hadits dua jari:

"وَإِنَّمَا ضَرَبَ الْمَثَلَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى لِلتَّقْرِيبِ، وَإِلَّا فَالْأَمْرُ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ، وَالْمُرَادُ أَنَّ مَا بَقِيَ مِنَ الدُّنْيَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَا مَضَى كَقِلَّةِ مَا بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى"

 

Artinya: "Nabi memberikan perumpamaan dengan jari telunjuk dan jari tengah hanyalah untuk mendekatkan pemahaman. Jika tidak, maka perkara ini lebih besar dari itu. Yang dimaksud adalah bahwa sisa waktu dunia jika dibandingkan dengan masa yang telah lalu, adalah seperti sedikitnya jarak antara jari telunjuk dan jari tengah."[3]

c. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin (w. 1421 H), seorang ulama kontemporer, menjelaskan dalam Syarh al-'Aqīdah al-Wāsithiyyah:

    "بَعْثَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ الصُّغْرَى، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَلَّ ذَلِكَ عَلَى اقْتِرَابِ السَّاعَةِ، كَمَا أَخْبَرَ هُوَ بِذَلِكَ"

Artinya: "Diutusnya Nabi adalah tanda kiamat kecil yang pertama. Hal itu karena ketika beliau diutus, hal itu menunjukkan dekatnya kiamat, sebagaimana beliau sendiri yang mengabarkan hal tersebut."[4]

Penutup: Refleksi dan Persiapan Menghadapi Akhir Zaman

Sahabat sekalian, demikianlah pembahasan kita pada episode pertama ini. Kita telah sampai pada kesimpulan yang sangat fundamental: Diutusnya Nabi Muhammad adalah tanda kiamat kecil yang pertama sekaligus yang terbesar di antara tanda-tanda kecil lainnya. Beliau adalah khātam an-nabiyyīn (penutup para nabi). Setelah beliau, tidak akan ada lagi nabi. Maka, kehidupan dunia ini, sejak 14 abad yang lalu, telah memasuki fase akhirnya.

Fakta bahwa kita masih hidup hingga saat ini adalah anugerah sekaligus ujian. Kita hidup di masa yang telah diberitakan oleh Rasulullah, di mana tanda-tanda kecil bermunculan silih berganti, bagaikan manik-manik yang terlepas dari untaiannya. Kita menyaksikan sendiri bagaimana sebagian besar tanda-tanda yang disebutkan dalam hadits telah menjadi realitas sehari-hari: hilangnya amanah, merebaknya fitnah, mengeringnya rasa malu, merajalelanya riba dan zina, dan banyak lagi.

Oleh karena itu, pembahasan ini bukanlah sekadar wacana teologis yang kering, melainkan sebuah panggilan untuk introspeksi dan aksi. Memahami tanda-tanda kiamat seharusnya mendorong kita untuk:

1.      Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan: Hanya dengan iman yang kokoh kita bisa selamat melewati fitnah-fitnah akhir zaman.

2.      Memperbanyak Amal Shalih: Jangan tunda-tunda lagi. Gunakan waktu yang tersisa untuk beribadah dan berbuat baik.

3.      Menjauhi Maksiat: Setiap dosa adalah beban yang akan memperberat langkah kita menuju akhirat.

4.      Menjadi Pembawa Kebenaran: Sebagai umat terbaik, kita berkewajiban untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menjadi saksi bagi manusia atas risalah Nabi Muhammad.

Pembahasan tentang hari kiamat ini sangatlah luas. Insya Allah, pada episode selanjutnya kita akan melanjutkan dengan mengkaji lebih dalam tanda-tanda kecil (sughrā) lainnya secara lebih terperinci, seperti peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Setelah itu, kita akan memasuki pembahasan yang lebih dahsyat, yaitu tentang tanda-tanda besar (kubrā) yang akan mengubah jalannya sejarah dunia secara total.

Semoga apa yang kita pelajari hari ini menjadi bekal berharga bagi kita semua dalam mempersiapkan diri menghadapi hari yang pasti datang itu. Mari kita dukung terus kajian ini dengan menyimak, mempelajari, dan mengamalkan ilmunya, serta menyebarkannya kepada orang lain.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

Artinya:"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang mengatakan: "Kami mendengar", padahal mereka tidak mendengarkan (dengan hati)." (QS. Al-Anfal [8]: 21)

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Daftar Referensi

Ahmad bin Hanbal. (1995). Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-'Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar. (1379 H). Fath al-Bāri bi Syarh Shahih al-Bukhāri (Jilid 11). Beirut: Dar al-Ma'rifah.

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (1972). Inba' al-Ghamri bi Anba' al-'Umri (Jilid 3). Kairo: Lajnah Ihya' at-Turats al-Islami.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (1987). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.

Al-Hakim an-Naisaburi. (1990). Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Al-Maghluts, Sami bin Abdullah. (2005). Athlas Tarikh al-Anbiya' wa ar-Rusul. Riyadh: Maktabah al-'Ubaikan.

Al-Mubarakfuri, Shafiurrahman. (2000). Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi'i.

Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari. (1964). Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān (Jilid 10 & 14). Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.

Al-'Utsaimin, Muhammad bin Shalih. (1413 H). Majmū' Fatāwā wa Rasā'il Fadhilat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (Jilid 2). Riyadh: Dar al-Wathan.

An-Nasa'i, Ahmad bin Syu'aib. (2001). Sunan an-Nasa'i. Riyadh: Maktabah al-Ma'arif.

As-Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman. (1999). Al-Jawahir wa ad-Durar fī Tarjamah Syaikh al-Islam Ibni Hajar. Beirut: Dar Ibnu Hazm.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. (1998). Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

Ibnu Hibban, Muhammad. (1993). Shahih Ibni Hibban. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Ibnu Katsir, Abul Fida' Ismail. (1988). An-Nihāyah fī al-Fitan wa al-Malāhim (Jilid 1). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Ibnul Atsir, Majduddin. (1979). An-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīts wa al-Atsar. Beirut: Dar al-Fikr.

Muslim bin Hajjaj. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Sabiq, Sayyid. (2010). Al-'Aqā'id al-Islāmiyyah. Kairo: Dar al-Fath.

Tim Penyusun Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an & LIPI. (2011). Tafsir Ilmi: Kiamat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Jakarta: Kementerian Agama RI.



[1] Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Jilid 10, hal. 2, Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 2006

[2] Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, jilid 14, hal. 123, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964

[3] Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Fath al-Bāri bi Syarh Shahih al-Bukhāri, jilid 11, hal. 353, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H

[4] Al-'Utsaimin, Majmū' Fatāwā wa Rasā'il, jilid 2, hal. 187, Riyadh: Dar al-Wathan, 1413 H