Kajian Kitab Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an - Part 1 | Mukaddimah | Samudra Ilmu Al-Qur'an yang Tak Bertepi
On Selasa, Oktober 07, 2025
مُقَدِّمَة
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ
سَيِّدُنَا وَشَيْخُنَا الإِمَامُ الْعَالِمُ الْعَلَّامَةُ الْبَحْرُ
الْفَهَّامَةُ، الرِّحْلَةُ جَلَالُ الدِّينِ، نَجْلُ سَيِّدِنَا الإِمَامِ
الْعَالِمِ الْعَلَّامَةِ كَمَالِ الدِّينِ السُّيُوطِيِّ الشَّافِعِيِّ، فَسَحَ
اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ
Terjemahan
ke Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga
Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya, serta menurunkan salam kesejahteraan atas mereka.
Berkatalah
junjungan kami, guru kami, imam yang alim, lautan ilmu yang sangat luas,
pengembara ilmu, Jalaluddin putra dari junjungan kami, imam yang alim, lautan
ilmu, Kamaluddin as-Suyuthi asy-Syafi‘i semoga Allah memanjangkan usianya.
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُولِي
الْأَلْبَابِ، وَأَوْدَعَهُ مِنْ فُنُونِ الْعُلُومِ وَالْحِكَمِ الْعَجَبَ
الْعُجَابَ، وَجَعَلَهُ أَجَلَّ الْكُتُبِ قَدْرًا، وَأَغْزَرَهَا عِلْمًا،
وَأَعْذَبَهَا نَظْمًا، وَأَبْلَغَهَا فِي الْخِطَابِ، قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ
ذِي عِوَجٍ وَلَا مَخْلُوقٍ، لَا شُبْهَةَ فِيهِ وَلَا ارْتِيَابَ
Terjemahan
ke Bahasa Indonesia
Segala puji
bagi Allah, yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya sebagai penerang bagi
orang-orang yang berakal. Dia telah menitipkan di dalamnya berbagai cabang ilmu
dan hikmah yang menakjubkan lagi mengagumkan. Dia menjadikannya sebagai kitab
yang paling agung kedudukannya, paling luas kandungan ilmunya, paling indah
susunan bahasanya, dan paling fasih dalam gaya penyampaiannya. (Yakni)
al-Qur’an yang berbahasa Arab, tanpa ada kebengkokan di dalamnya dan bukan
makhluk; tidak ada keraguan padanya, tidak pula kesamaran.
Penjelasan
Berdasarkan
nash diatas, ada beberapa hikmah yang bisa kita renungkan bersama, yaitu:
1. Kedudukan
Kitab Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an dan Pengarangnya
Sejarah
singkat Kodifikasi Al-Qur'an:
Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama 23
tahun. Setelah wafatnya Nabi, atas inisiatif Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq,
Al-Qur'an dikumpulkan dalam satu mushhaf yang kemudian distandardisasi oleh
Khalifah Utsman bin Affan menjadi Mushaf Utsmani yang digunakan hingga kini.
Allah SWT sendiri yang menjamin keasliannya, sebagaimana firman-Nya dalam QS.
Al-Hijr: 9.
Kelahiran
‘Ulum al-Qur’an: Upaya untuk memahami Al-Qur'an melahirkan berbagai disiplin
ilmu, seperti Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya wahyu), ilmu Nasikh wa
Mansukh, dan ilmu Tafsir. Al-Itqan merupakan puncak dari upaya pengkodifikasian
ilmu-ilmu ini.
Kitab Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an merupakan
salah satu kitab induk dan rujukan fundamental dalam studi Ilmu Al-Qur'an
('Ulum al-Qur'an). Karya ini mengumpulkan dan menyusun secara sistematis
berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur'an, seperti sebab-sebab
turunnya wahyu (Asbab an-Nuzul), cara-cara bacaannya (Qira'at), ayat-ayat
Makkiyah dan Madaniyah, dan banyak lagi. kitab ini
adalah bagian dari khazanah islam klasik yang sangat dihargai oleh para ulama.
Kitab Al-Itqan
bukanlah yang pertama membahas ilmu-ilmu Al-Qur'an, tetapi ia merupakan
puncak dari upaya kodifikasi disiplin ilmu ini. Sebelumnya, karya-karya seperti
al-Burhan karya al-Zarkasyi telah ada. Keunggulan al-Itqan
terletak pada kelengkapan dan sistematisasinya yang mengumpulkan 80 jenis ilmu
Al-Qur'an dalam satu karya.
Dr. Fahd
al-Rumi, seorang pakar kontemporer dalam ilmu Al-Qur'an, memuji kitab ini,
beliau berkata dalam kitabnya, Dirasat fi 'Ulum al-Qur'an:
وَكِتَابُ
(الإِتْقَانِ) لِلسُّيُوطِيِّ هُوَ الْيَوْمَ أَشْهَرُ كِتَابٍ فِي عُلُومِ الْقُرْآنِ،
بَلْ هُوَ أَكْثَرُهَا تَنَاوُلًا لِأَبْوَابِ هَذَا الْعِلْمِ وَفُنُونِهِ
Terjemahan:
"Kitab al-Itqan karya al-Suyuthi hingga hari ini adalah kitab yang
paling terkenal dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an, bahkan ia adalah kitab yang paling
lengkap cakupannya terhadap bab-bab dan berbagai jenis ilmu ini."[1]
Pengarangnya, Al-Imam Jalaluddin
Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuti (w. 911 H/1505 M), adalah seorang
polymath (ilmuwan ensiklopedis) yang sangat produktif. Gelar-gelar yang
disebutkan dalam mukadimah, seperti: "al-'Allamah" (orang
yang sangat berilmu), "al-Bahr al-Fahhamah" (lautan
ilmu yang sangat dalam), dan
“Al-Rihlah” (pengembara ilmu), adalah gelar kehormatan bagi seorang
ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu dan telah menimba ilmu dari banyak guru
di berbagai negeri dan mencerminkan reputasinya yang agung dalam
tradisi keilmuan Islam. Beliau bermazhab Syafi'i dan memiliki kontribusi besar
dalam berbagai bidang, termasuk tafsir, hadits, fikih, bahasa, dan sejarah.
Imam
al-Zarkasyi (w. 794 H) memuji gaya penulisan Imam as-Suyuti dalam kitabnya al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an Jilid 1,
Halaman 29, beliau menyatakan pentingnya mukadimah yang baik, beliau berkata:
وَمِنْ
آدَابِ المُؤَلِّفِ أَنْ يَبْدَأَ كِتَابَهُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ
عَلَيْهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَذِكْرِ مَنْزِلَةِ الْعِلْمِ وَفَضْلِهِ
Terjemahan:
"Termasuk adab seorang penulis adalah memulai kitabnya dengan memuji Allah
dan menyanjung-Nya, bershalawat kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam,
serta menyebutkan kedudukan dan keutamaan ilmu."[2]
2. Penegasan
Sifat Kesempurnaan dan Keunikan Al-Qur'an
As-Suyuti memuji Al-Qur'an sebagai “أَجَلَّ
الْكُتُبِ قَدْرًا، وَأَغْزَرَهَا عِلْمًا” "ajall
al-kutub qadran, wa aghzaraha 'ilman" (kitab yang paling agung
kedudukannya dan paling luas kandungan ilmunya). Pernyataan ini merujuk pada
keyakinan Islam bahwa Al-Qur'an adalah wahyu final yang mencakup seluruh
prinsip hidayah bagi manusia.
Seorang ulama
tafsir terkemuka, Al-Imam Abu Ja'far ath-Thabari (w. 310 H/923
M), dalam muqaddimah tafsirnya "Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay
al-Qur'an", menyatakan: “النَّذِيرِ وَالتَّبْصِرَةِ لِأُولِي
الْأَلْبَابِ” "An-Nadziri
wat-Tabsirati li-Ulil Albab" ("Sebagai pemberi peringatan dan
penerang bagi orang-orang yang berakal"). Ini memperkuat pernyataan
as-Suyuti bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai "tabsiratan li-uli
al-albab" (penerang bagi orang-orang yang berakal). Ath-Thabari
menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang membedakan antara kebenaran
dan kebatilan, serta hanya orang yang berakal sehat yang dapat mengambil
pelajaran darinya.
3. Keindahan Gaya
Bahasa dan Kefasihan Al-Qur'an
Pernyataan
as-Suyuti bahwa Al-Qur'an memiliki “وَأَعْذَبَهَا
نَظْمًا” "a'dzabaha
nazman" (susunan bahasa yang paling indah) dan “وَأَبْلَغَهَا
فِي الْخِطَابِ” "ablaghaha
fi al-khithab" (gaya bahasa yang paling fasih) mengacu pada
tantangan (i'jaz) Al-Qur'an yang tidak dapat ditandingi oleh sastra Arab
sekalipun.
Al-Imam
Badruddin az-Zarkasyi (w. 794 H/1392 M) dalam kitab
monumentalnya "Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an" membahas
panjang lebar tentang I'jaz al-Qur'an. Beliau berkata:
“إعجاز القرآن يكون من جهة نظمه الذي
هو أعلى من نظم كلام العرب”
Az-Zarkasyi
menjelaskan bahwa meskipun Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab, susunan bahasanya
berada di luar tingkat kemampuan linguistik manusia, baik dari segi kefasihan,
ketepatan makna, maupun keluasannya
4.
Penjelasan Istilah-Istilah Kunci (Mufradat)
- الْكِتَابَ (Al-Kitab): Istilah ini tidak hanya berarti "buku" tetapi menunjuk
pada wahyu Allah (Al-Qur'an) yang tertulis dan terkodifikasi, yang mencakup
sifatnya yang terpelihara, otentik, dan menjadi sumber hukum. Imam al-Suyuthi menyebutnya
sebagai “أَجَلَّ الْكُتُبِ قَدْرًا” (kitab yang paling agung kedudukannya).
- تَبْصِرَةً
لِأُولِي الْأَلْبَابِ (Penerang bagi Pemilik
Akal): Kata "تَبْصِرَةً" berasal dari akar kata ba-shara
yang berarti "melihat". Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an berfungsi
sebagai cahaya yang memberikan penglihatan batin, membimbing akal sehat untuk
membedakan antara hakikat dan kebatilan. "أُولِي
الْأَلْبَابِ" adalah orang-orang
yang menggunakan akal pikirannya secara mendalam dan benar.
- غَيْرَ ذِي
عِوَجٍ (Tanpa Kebengkokan): "عِوَجٍ" berarti kemiringan, penyimpangan, atau
ketidakkonsistenan. Pernyataan ini menegaskan kesempurnaan struktur bahasa,
hukum, dan cerita dalam Al-Qur'an, yang bebas dari segala bentuk kontradiksi.
- وَلَا
مَخْلُوقٍ (Dan Bukan Makhluk): Ini adalah istilah teologis krusial yang merujuk pada keyakinan
Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam perdebatan dengan aliran Mu'tazilah. Keyakinan
bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah (Firman Allah) yang qadim (tidak bermula),
bukan makhluk yang diciptakan (baru).
Imam
Abu al-Hasan al-Ash'ari (w. 324 H), seorang tokoh utama Ahlus Sunnah,
menjelaskan dalam kitabnya Maqalat al-Islamiyyin Jilid 1, Halaman 225, beliau
berkata:
وَالقُرْآنُ
كَلَامُ اللهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَمَنْ قَالَ بِخَلْقِهِ فَهُوَ كَافِرٌ
Terjemahan:
"Dan Al-Qur'an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Barangsiapa yang
berpendapat bahwa ia diciptakan (makhluk), maka ia kafir."[3]
- “لَا شُبْهَةَ فِيهِ
وَلَا ارْتِيَابَ” (Tidak ada keraguan
padanya): Ini merujuk langsung pada Surah Al-Baqarah ayat 2, menegaskan bahwa
Al-Qur'an adalah petunjuk yang mutlak dan pasti kebenarannya
5.
Hikmah dan Kandungan Makna
- Petunjuk
bagi Akal yang Hidup (تَبْصِرَةً لِأُولِي الْأَلْبَابِ): Hikmah terbesar Al-Qur'an adalah fungsinya sebagai petunjuk. Namun,
petunjuk ini hanya dapat diakses oleh "ulul albab", yaitu mereka yang
akalnya aktif, berpikir, dan merenung. Ini menunjukkan bahwa Islam mendorong
pemanfaatan akal, tetapi dengan bimbingan wahyu. Dengan mempelajari dan
memahami isinya, manusia dapat menemukan tujuan penciptaannya, yaitu untuk
beribadah kepada Allah, dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pemahaman
ini melahirkan akhlak yang mulia dan membentuk pribadi yang bertakwa.
- Sumber
Ilmu dan Hikmah: Al-Qur'an
disebut sebagai lautan ilmu yang tak pernah kering. Di dalamnya terkandung
prinsip-prinsip akidah (keimanan), ibadah, muamalah (hubungan sosial), akhlak,
sejarah, dan syariat. Kandungannya yang komprehensif menjadikannya pedoman
hidup yang lengkap sepanjang zaman. Artinya Setiap zaman akan menemukan dimensi
ilmu baru yang sesuai dengan perkembangannya, mulai dari kosmologi, embriologi,
hingga prinsip-prinsip sosiologi dan psikologi.
-
Ketinggian Sastra sebagai Bukti Kenabian (أَعْذَبَهَا
نَظْمًا):
Keindahan
bahasa Al-Qur'an yang tak tertandingi (i'jaz bayani) adalah bukti utama
bahwa ia berasal dari Allah SWT. Hal ini menjadi tantangan abadi bagi para
sastrawan Arab, yang justru semakin membuktikan kemukjizatannya.
Imam
al-Baqillani (w. 403 H) dalam kitabnya yang monumental I'jaz al-Qur'an Halaman
45., beliau menegaskan:
إِعْجَازُ
الْقُرْآنِ يَظْهَرُ فِي نَظْمِهِ وَبَلَاغَتِهِ، وَأَخْبَارِهِ عَنِ الْغُيُوبِ،
وَمُوَافَقَتِهِ لِمَا جَاءَتْ بِهِ الْعُقُولُ الصَّحِيحَةُ
Terjemahan:
"Kemukjizatan Al-Qur'an tampak pada susunan bahasanya, kefasihannya,
berita-beritanya tentang hal gaib, dan kesesuaiannya dengan apa yang dibawa
oleh akal-akal yang sehat."[4]
Kesimpulan
sementara:
Mukadimah
singkat ini oleh Imam al-Suyuthi telah merangkum inti keyakinan Ahlus Sunnah
tentang Al-Qur'an, sekaligus menjadi pembuka bagi pembahasan yang sangat luas
dan mendalam. Setiap kata yang dipilih mengandung makna yang dalam, baik dari
sisi bahasa, teologi, maupun hikmah yang dapat dipetik, yang kesemuanya
menegaskan keagungan Kalamullah.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ،
الَّذِي عَنَتْ لِقَيُّومِيَّتِهِ الْوُجُوهُ، وَخَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ,
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ مِنْ
أَكْرَمِ الشُّعُوبِ وَأَشْرَفِ الشِّعَابِ، إِلَى خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ
كِتَابٍ الْأَنْجَابِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ
Terjemahan
ke Bahasa Indonesia
Dan
aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu
bagi-Nya, Tuhan para penguasa. Wajah-wajah tunduk kepada kekuasaan-Nya yang
Maha berdiri sendiri (al-Qayyūmiyyah), dan segala tengkuk menunduk patuh kepada
keagungan-Nya.
Dan
aku bersaksi bahwa junjungan kami, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya,
yang diutus dari bangsa yang paling mulia dan kabilah yang paling terhormat,
kepada umat terbaik, dengan kitab termulia nan paling utama. Semoga shalawat
dan salam yang tiada henti selalu tercurah atasnya hingga hari kembali (hari
kiamat).
Penjelasan
1.
Makna Syahadat Tauhid
Kalimat:
”وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ،
الَّذِي عَنَتْ لِقَيُّومِيَّتِهِ الْوُجُوهُ،
وَخَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ”
Maksudnya
adalah pengakuan hamba atas keesaan Allah yang mutlak, bahwa tidak ada sekutu
bagi-Nya yang berhak untuk disembah, dan tidak ada sekutu baginya dalam urusan
pengaturan makhluk.
Kata
"الْأَرْبَابِ" adalah bentuk jamak dari "رَبّ" yang berarti tuhan, penguasa, atau pemelihara. Menyebut Allah
dengan sebutan ini menegaskan bahwa semua kekuasaan, pengaturan, dan ketuhanan
yang ada pada makhluk adalah palsu, lemah, dan bergantung sepenuhnya kepada
kekuasaan-Nya yang hakiki.
Imam
Ibnu Katsir dalam tafsirnya “Tafsir al-Qur'an al-'Azhim/Tafsir ibnu katsir”
Jilid 8, Halaman 789, beliau menjelaskan tentang keesaan Allah sebagai Tuhan
yang haq, beliau berkata:
“اَلْقَوْلُ
فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} أَيْ: هُوَ
الْإِلَهُ الَّذِي لَا يُعْبَدُ إِلَّا هُوَ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
الْمَالِكُ لِجَمِيعِ الْأَرْبَابِ وَالْآلِهَةِ”
Terjemahan:
"Penjelasan mengenai firman-Nya Ta'ala: 'Katakanlah: Dialah Allah, Yang
Maha Esa.' (QS. Al-Ikhlas: 1). Maksudnya, Dialah Ilah (Tuhan) yang tidak boleh
disembah kecuali Dia, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Yang menguasai
semua tuhan-tuhan (palsu) dan sesembahan (selain-Nya)."[5]
Imam
al-Ghazālī menjelaskan didalam kitabnya, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, jilid 4, hlm. 428
beliau berkata:
"التوحيد
أن تعلم أن لا فاعل إلا الله تعالى، ولا موجود بحق إلا هو"
“Tauhid
adalah engkau mengetahui bahwa tidak ada yang berbuat (sebenarnya) kecuali
Allah Ta‘ala, dan tidak ada yang benar-benar wujud kecuali Dia.”[6]
Kalimat
"عَنَتْ
لِقَيُّومِيَّتِهِ الْوُجُوهُ، وَخَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ"
menggambarkan betapa semua makhluk tunduk dan patuh karena sifat Qayyumiyyah
Allah. Sifat ”Al-Qayyum” adalah salah satu nama Allah yang agung
(Al-Asma' al-Husna), yang berarti Dia Maha Berdiri Sendiri, tidak membutuhkan
sesuatu pun, sementara segala sesuatu mutlak membutuhkan-Nya untuk berdiri dan
berlangsungnya alam semesta.
Dengan
demikian, kalimat tauhid dalam teks di atas menegaskan hakikat bahwa segala
wajah tunduk, dan segala leher menunduk hanya kepada-Nya. Ini selaras dengan ayat:
”وَلَهُ
أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ
يُرْجَعُونَ”
Artinya:“Dan
kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka akan dikembalikan.” (QS. Āli
‘Imrān [3]: 83).
Imam
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan keagungan sifat Al-Qayyum dalam kitabnya,
Madarij as-Salikin, Jilid 1, Halaman 53, beliau:
:
“فَالْقَيُّومُ
هُوَ الْقَائِمُ بِذَاتِهِ الْغَنِيُّ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ، وَالْقَائِمُ عَلَى
كُلِّ مَا سِوَاهُ بِمُقِيمِهِ وَمُقَوِّمِهِ. فَقِيَامُ الْعَالَمِ وَقِيَامَهُ
مُرْتَبِطٌ بِقِيَامِهِ تَعَالَى”
Terjemahan:
"Maka Al-Qayyum adalah Dzat Yang Maha Berdiri dengan diri-Nya sendiri,
Maha Kaya dari segala sesuatu selain-Nya, dan Yang Maha Menegakkan serta
mengurusi segala sesuatu selain-Nya. Berdirinya alam semesta dan
keberlangsungannya terkait erat dengan berdirinya (kekuasaan) Allah
Ta'ala."[7]
Asy-Syaikh
'Abdurrahman as-Sa'di juga menafsirkan sifat ini dalam kitabnya “Taisir
al-Karim ar-Rahman”, beliau:
“الْقَيُّومُ:
وَهُوَ الْقَائِمُ بِمَصَالِحِ الْعِبَادِ، الْقَائِمُ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا
كَسَبَتْ، الْقَائِمُ بِإِصْلَاحِ أُمُورِ الْخَلْقِ وَتَدْبِيرِهِمْ”
Terjemahan:
"Al-Qayyum adalah Dzat Yang Maha Menegakkan (mengurus) segala kemaslahatan
hamba-hamba-Nya, Yang Maha Menegakkan (menghitung) atas setiap jiwa apa yang
telah diusahakannya, Yang Maha Menegakkan (memperbaiki) urusan-urusan makhluk
dan mengaturnya."[8]
2.
Makna Kesaksian atas Kerasulan Muhammad ﷺ
Kalimat:
“وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ مِنْ أَكْرَمِ
الشُّعُوبِ وَأَشْرَفِ الشِّعَابِ إِلَى خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ
الْأَنْجَابِ”
Ungkapan
ini menegaskan dua hal:
1).
Nabi Muhammad ﷺ adalah ‘abd (hamba) Allah, penafian dari pengkultusan.
2).
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasūl (utusan) Allah, penetapan misi kerasulan.
Imam
al-Qurṭubī dalam kitabnya ”al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān”, jilid 20, hlm. 94 ketika
menafsirkan ayat “وَرَفَعْنَا
لَكَ ذِكْرَكَ” (QS. al-Insyirāḥ: 4):
"أي:
لا يذكر الله إلا وذُكرتَ معه"
“Yakni,
Allah tidak disebut melainkan engkau pun disebut bersamanya.”[9]
Hal Ini
menunjukkan betapa agungnya kedudukan Rasulullah ﷺ. Setidaknya bisa dilihat dalam tiga kategori:
1).
Kedudukan beliau sebagai "عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ" (Hamba dan
Utusan-Nya)
Menyebut
Nabi Muhammad SAW sebagai hamba ('abd) sebelum utusan (rasul)
adalah panggilan yang paling Allah sukai, sebagaimana dalam peristiwa Isra'
Mi'raj. Ini menunjukkan keagungan sifat ubudiyyah (penghambaan) Beliau.
2).
Kemuliaan Nasab dan Bangsa Nabi Muhammad SAW
Kalimat
"مِنْ
أَكْرَمِ الشُّعُوبِ وَأَشْرَفِ الشِّعَابِ" merujuk pada fakta bahwa Nabi Muhammad SAW berasal dari suku
Quraisy, yang merupakan suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan dari
keturunan Nabi Ismail AS.
Imam
Al-Qurthubi dalam tafsirnya tentang ayat "لَقَدْ
جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ" (Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri) ,
beliau menjelaskan:
“أَيْ:
مِنْ جِنْسِكُمْ وَنَسْلِكُمْ وَقَبِيلَتِكُمْ، لِتَعْرِفُوهُ وَيَكُونَ أَبْوَاهُ
مَعْلُومَيْنِ، وَذَلِكَ أَبْلَغُ فِي حُجَّتِهِ عَلَيْكُمْ. وَاخْتَارَهُ مِنْ
أَشْرَفِ الْأَنْسَابِ وَأَكْرَمِهَا”
Terjemahan:
"Yakni dari jenis kalian, keturunan kalian, dan kabilah kalian, agar
kalian mengenalnya dan kedua orang tuanya diketahui. Hal itu lebih kuat dalam
hujjah (argumentasi)-nya atas kalian. Dan Dia (Allah) telah memilihnya dari
nasab yang paling mulia dan paling terhormat."[10]
3).
Keutamaan Umat dan Kitabnya
Kalimat
"إِلَى
خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ" merujuk pada ayat Al-Qur'an Surat Ali 'Imran ayat 110 tentang umat
terbaik, dan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang paling sempurna dan utama.
Imam
Ibnu Katsīr dalam kitabnya “Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm”, jilid 2, hlm. 95,
ketika menafsirkan ayat “كُنتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 110), beliau berkata:
"أنتم
خير الناس للناس، تأمرونهم بالمعروف وتنهونهم عن المنكر وتؤمنون بالله"
“Kalian
adalah manusia terbaik bagi manusia, kalian menyuruh mereka berbuat baik,
melarang mereka dari kemungkaran, dan beriman kepada Allah.”[11]
Ismā‘īl
ibn ‘Umar ibn Katsīr, “Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm”, (Riyadh: Dār Ṭayyibah,
1999, jilid 2, hlm. 95).
Sementara
mengenai al-Qur’an, Imam as-Suyūṭī menulis:
"القرآن
هو أفضل الكتب المنزلة، أنزله الله على خير أمة بخير رسول"
“Al-Qur’an
adalah kitab terbaik yang diturunkan, Allah menurunkannya kepada umat terbaik
melalui Rasul terbaik.”
Al-Imam
As-Suyuthi mengutip pendapat tentang keutamaan Al-Qur'an dalam kitabnya“Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an”. Jilid
1, Halaman 437, beliau berkata:
“وَأَمَّا
فَضِيلَةُ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكُتُبِ فَمِنْ وَجْهٍ: أَحَدُهَا: أَنَّهُ
نَزَلَ بِأَفْصَحِ اللُّغَاتِ... وَثَانِيهَا: أَنَّهُ حُفِظَ بِوَعْدِ اللَّهِ
تَعَالَى مِنَ التَّبْدِيلِ وَالتَّحْرِيفِ”
Terjemahan:
"Adapun keutamaan Al-Qur'an atas semua kitab (samawi lainnya) adalah dari
beberapa sisi. Pertama: Ia diturunkan dengan bahasa yang paling fasih... Kedua:
Ia dijaga dengan janji Allah Ta'ala dari pengubahan dan pemalsuan."[12]
Kesimpulan sementara
Naskah
tersebut merupakan ikrar tauhid dan kesaksian atas kerasulan yang disusun
dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Ia mengingatkan kita akan:
1). Keesaan dan Keagungan Mutlak Allah melalui
sifat Rububiyyah dan Qayyumiyyah-Nya.
2). Kemuliaan
Nabi Muhammad SAW dari sisi keturunan, kerasulan, dan kitab yang dibawanya.
3).
Keistimewaan Umat Islam sebagai umat yang dipilih untuk membawa risalah
terakhir.
Dengan
memahami kedalaman maknanya, pengucapan kalimat-kalimat ini tidak hanya menjadi
rutinitas lisan, tetapi juga dapat menghunjam ke dalam hati, meningkatkan
keimanan, ketundukan, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
4.
Shalawat dan Salam
Kalimat:
“صَلَاةً
وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ”
Hal
ini merupakan doa agar shalawat dan salam senantiasa tercurah atas Nabi ﷺ hingga hari kiamat.
Imam
Ibn al-Qayyim menjelaskan hal ini dengan perkataanya:
"الصلاة
على النبي ﷺ
هي من أعظم القربات وأفضل الطاعات، وهي سبب لرفع الدرجات ومحو السيئات"
“Bershalawat
atas Nabi ﷺ adalah ibadah yang
paling agung dan ketaatan yang paling utama. Ia menjadi sebab diangkatnya
derajat dan dihapusnya dosa-dosa.”[13]
وَبَعْدُ،
فَإِنَّ الْعِلْمَ بَحْرٌ زَخَّارٌ لَا يُدْرَكُ لَهُ مِنْ قَرَارٍ، وَطَوْدٌ
شَامِخٌ لَا يُسْلَكُ إِلَى قُنَّتِهِ، وَلَا يُصَارُ. مَنْ أَرَادَ السَّبِيلَ
إِلَى اسْتِقْصَائِهِ لَمْ يَبْلُغْ إِلَى ذَلِكَ وُصُولًا، وَمَنْ رَامَ
الْوُصُولَ إِلَى إِحْصَائِهِ لَمْ يَجِدْ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. كَيْفَ وَقَدْ
قَالَ تَعَالَى مُخَاطِبًا لِخَلْقِهِ: (وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا
قَلِيلًا)
Terjemahan
ke Bahasa Indonesia
Adapun
sesudah itu: sesungguhnya ilmu adalah samudra luas yang bergelombang, tak
mungkin dijangkau dasarnya. Ia bagaikan gunung yang menjulang tinggi, yang
tidak mungkin didaki hingga puncaknya. Maka barang siapa berkehendak menempuh
jalan untuk menguasainya secara sempurna, niscaya ia tidak akan sampai
kepadanya. Dan barang siapa berupaya menghitung seluruhnya, niscaya ia tidak
akan menemukan jalan untuk itu. Bagaimana tidak, padahal Allah Ta‘ala telah
berfirman kepada makhluk-Nya: “Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
(QS. al-Isrā’: 85)
وَإِنَّ
كِتَابَنَا الْقُرْآنَ لَهُوَ مُفَجِّرُ الْعُلُومِ وَمَنْبَعُهَا، وَدَائِرَةُ
شَمْسِهَا وَمَطْلَعُهَا، أَوْدَعَ فِيهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِلْمَ كُلِّ
شَيْءٍ، وَأَبَانَ فِيهِ كُلَّ هُدًى وَغَيٍّ. فَتَرَى كُلَّ ذِي فَنٍّ مِنْهُ
يَسْتَمِدُّ وَعَلَيْهِ يَعْتَمِدُ، فَالْفَقِيهُ يَسْتَنْبِطُ مِنْهُ
الْأَحْكَامَ، وَيَسْتَخْرِجُ حُكْمَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ
Terjemahan
ke Bahasa Indonesia
Sesungguhnya
kitab kami, al-Qur’an, adalah sumber yang memancarkan segala ilmu dan mata
airnya; ia laksana orbit matahari dan tempat terbitnya. Di dalamnya Allah Subḥānahu
wa Ta‘ālā telah menitipkan pengetahuan tentang segala sesuatu, dan Dia telah
menjelaskan di dalamnya seluruh petunjuk dan kesesatan. Maka engkau akan
melihat setiap orang yang ahli dalam suatu bidang, bersumber darinya dan
bergantung kepadanya. Seorang faqih (ahli fikih) misalnya, ia menggali
hukum-hukum darinya, dan darinya ia mengambil ketetapan halal dan haram.
Penjelasan
Naskah dari
kitab Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi
tersebut dimulai dengan sebuah metafora yang dahsyat dan menggambarkan dengan
sempurna kedalaman dan keluasan ilmu, khususnya ilmu yang bersumber dari
Al-Qur'an. Pernyataan bahwa ilmu adalah "samudra luas yang
bergelombang, tak mungkin dijangkau dasarnya" dan "gunung yang
menjulang tinggi, yang tidak mungkin didaki hingga puncaknya" bukanlah
pernyataan yang berlebihan. Metafora ini mencerminkan keyakinan mendasar dalam
epistemologi Islam bahwa ilmu Allah adalah mutlak dan tak terbatas, sementara
kapasitas ilmu manusia sangatlah terbatas.
beliau
mengungkapkan hal tersebut dengan redaksi yang epik:
"فَإِنَّ
الْعِلْمَ بَحْرٌ زَخَّارٌ لَا يُدْرَكُ لَهُ مِنْ قَرَارٍ، وَطَوْدٌ شَامِخٌ لَا
يُسْلَكُ إِلَى قُنَّتِهِ، وَلَا يُصَارُ…"
Terjemah:
“Sesungguhnya
ilmu adalah samudra luas yang bergelombang, tak mungkin dijangkau dasarnya. Ia
bagaikan gunung yang menjulang tinggi, yang tidak mungkin didaki hingga
puncaknya. Barang siapa berkehendak menempuh jalan untuk menguasainya secara
sempurna, niscaya ia tidak akan sampai kepadanya…”[14]
Ungkapan ini
mencerminkan pandangan mendalam ulama Islam bahwa ilmu bersifat tidak terbatas,
sementara kapasitas manusia terbatas. Pandangan ini sejalan dengan firman
Allah:
وَمَا
أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [الإسراء: 85]
Artinya: “Dan
tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
Pada bagian ini
kita akan memperdalam makna ungkapan as-Suyūṭī dengan merujuk pada pandangan
para ulama klasik, tafsir, serta refleksi filosofis-spiritual, sehingga tampak
bagaimana al-Qur’an benar-benar menjadi sumber segala ilmu.
1. Luasnya
Samudra Ilmu dalam Perspektif Islam
Luasnya ilmu
pengetahuan digambarkan oleh Imam as-Suyūṭī digambarkan dengan
dua metavora yaitu dengan kata samudra tak bertepi dan dengan kata gunung yang
menjulang tinggi
a. Ilmu sebagai Samudra Tak Bertepi
Dalam tradisi Islam, ilmu sering diibaratkan dengan samudra luas. Imam
Al-Ghazālī (w. 505 H) dalam kitabnya Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn Jilid I, hlm. 18,
beliau menulis sebagai berikut:
"العِلْمُ
بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَكُلَّمَا غَرِقَ الْعَبْدُ فِيهِ رَأَى أَعْجُوبَةً
وَغَرَائِبَ"
Terjemah:
“Ilmu adalah lautan yang tidak memiliki pantai/tepi. Setiap kali
seorang hamba menyelam di dalamnya, ia akan melihat keajaiban dan hal-hal yang
menakjubkan.”[15]
Ungkapan ini memperlihatkan bahwa ilmu bersifat progresif: semakin
dalam digali, semakin banyak hal baru yang ditemukan. Hal ini selaras dengan
perkembangan ilmu pengetahuan modern: semakin maju penelitian, semakin disadari
bahwa masih banyak misteri yang belum terungkap. Maka oleh karena itula pantas Allah
swt berfirman:
وَمَا
أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [الإسراء: 85]
Artinya: “Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (Tafsir
Ibn Katsir), ketika menafsirkan ayat ini, beliau menyatakan:
“وَهَذِهِ
الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ دَلِيلَةٌ عَلَى قِلَّةِ عِلْمِ الْبَشَرِ بِشَيْءٍ مِنَ
الْعُلُومِ إِلَّا مَا عَلَّمَهُمُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ لَا عِلْمَ لَهُمْ إِلَّا
مَا عَلَّمَهُمْ”
Artinya:
"Ayat yang mulia ini adalah dalil yang menunjukkan sedikitnya
ilmu manusia tentang segala macam ilmu, kecuali apa yang Allah ajarkan kepada
mereka. Sesungguhnya, mereka tidak memiliki ilmu sedikit pun selain yang Dia
ajarkan."[16]
Penafsiran ini menegaskan bahwa segala ilmu yang dimiliki manusia
pada hakikatnya adalah anugerah dan pengajaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ilmu manusia bersifat parsial dan terbatas, sementara ilmu Allah bersifat
komprehensif dan mutlak.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an
(Tafsir al-Qurthubi) jilid 10, hlm. 305, memberikan penjelasan yang lebih rinci
tentang cakupan "ilmu yang sedikit" ini. Beliau berkata:
“وَالْمَعْنَى:
وَمَا أُعْطِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ فِي جُمْلَتِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِنْ كَثِيرٍ،
لِأَنَّ الْعِلْمَ الَّذِي أَوْدَعَهُ اللَّهُ الْكُتُبَ وَأَنْزَلَهُ عَلَى
رُسُلِهِ لَا يُحْصَى كَثْرَةً، وَمَا عَلِمَهُ النَّاسُ مِنْ ذَلِكَ قَلِيلٌ فِي
جَنْبِ مَا لَمْ يَعْلَمُوهُ”
Artinya: "Maknanya adalah: 'Tidaklah kalian diberikan ilmu
secara keseluruhan melainkan hanya sedikit dari yang banyak.' Sebab, ilmu yang
dititipkan Allah dalam kitab-kitab dan diturunkan-Nya kepada para Rasul-Nya
tidak terhitung banyaknya. Sedangkan ilmu yang diketahui manusia dari semua itu
hanyalah sedikit dibandingkan dengan yang tidak mereka ketahui."[17]
Lebih jauh, keterbatasan manusia ini ditegaskan dalam ayat lain
yang menyebutkan "Lima Perkara Gaib" (Mafatih al-Ghaib). Dalam Surah
Luqman ayat 34, Allah berfirman:
“إِنَّ
اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي
الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ”
Artinya: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah
pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat
mengetahui di bumi negeri mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal."
lima hal ini disebut sebagai “مَفَاتِحُ الْغَيْبِ” (kunci-kunci alam gaib) yang hanya Allah
yang mengetahuinya, yakni:
1. Ilmu tentang Kapan Terjadinya Hari Kiamat
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ
عِلْمُ السَّاعَةِ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat.”
* Hanya Allah yang mengetahui secara pasti kapan kiamat akan
terjadi.
* Tidak ada malaikat, nabi, atau wali sekalipun yang diberi tahu
tentang waktu pastinya.
* Pengetahuan manusia hanya sebatas tanda-tanda kiamat, bukan
kepastian waktunya.
2. Ilmu tentang Turunnya Hujan
وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
“Dan Dia yang menurunkan hujan.”
* Allah yang menentukan kapan, di mana, dan berapa banyak hujan
akan turun.
* Manusia dapat memperkirakan cuaca dengan teknologi, tetapi itu
hanya sebatas perkiraan, bukan kepastian mutlak.
* Turunnya hujan terkait dengan rahmat, rezeki, dan ketetapan
Allah.
3. Ilmu tentang Apa yang Ada di dalam Rahim
وَيَعْلَمُ مَا
فِي الْأَرْحَامِ
“Dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim.”
* Allah mengetahui secara sempurna siapa yang dikandung: jenis
kelamin, sifat, rezeki, umur, nasib, dan takdirnya.
* Teknologi modern hanya bisa mengetahui sebagian, misalnya jenis
kelamin janin, tetapi tidak dapat mengetahui takdir hidupnya.
* Ilmu Allah bersifat menyeluruh dan pasti.
4. Ilmu tentang Apa yang Akan Dikerjakan Esok Hari
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan
diusahakannya besok.”
* Manusia tidak tahu secara pasti apa yang akan ia peroleh atau
lakukan esok hari: rezeki, amal, ataupun musibah.
* Perencanaan manusia bisa berubah karena takdir Allah.
* Hanya Allah yang mengetahui dengan pasti perjalanan hidup
hamba-Nya.
5. Ilmu tentang di Mana Seseorang Akan Meninggal Dunia
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi negeri mana ia
akan mati.”
* Tidak ada manusia yang tahu di mana ajalnya akan tiba, apakah di
tanah kelahiran, di negeri asing, atau dalam perjalanan.
* Banyak orang mati di tempat yang tak pernah ia sangka.
* Hal ini menunjukkan betapa rahasia ajal sepenuhnya berada di
bawah ketetapan Allah.
Kelima perkara gaib ini disebut sebagai مَفَاتِحُ الْغَيْبِ (Mafatih al-Ghaib) kunci-kunci alam gaib.
Hanya Allah yang memiliki ilmu tersebut secara menyeluruh (kulliyyat)
atasnya. Nabi atau wali mungkin diberi sedikit pengetahuan sebagian
(juz’iyyat) terhadap hal hal tersebut melalui wahyu atau ilham, tetapi
tidak secara penuh dan independen sebagaimana dikutip dari Mulla 'Ali
al-Qari dan Mawlana Shabbir Ahmad 'Uthmani, Ini semakin mempertegas
batasan fundamental antara ilmu Khalik dan ilmu makhluk.
b. Gunung Menjulang sebagai Simbol Ilmu
As-Suyūṭī juga mengibaratkan ilmu sebagai gunung yang puncaknya
sulit didaki, yang mana ungkapan ini dijelaskan Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751
H) Miftāḥ Dār al-Saʿādah, Jilid I, hlm. 55:
"العِلْمُ
جَبَلٌ شَامِخٌ لَا يَرْقَاهُ إِلَّا مَنْ صَبَرَ عَلَى الْمَشَقَّةِ"
Terjemah:
“Ilmu adalah gunung menjulang yang tidak bisa didaki kecuali oleh
orang yang sabar atas kesulitan.”[18]
Makna ini mengandung dimensi etika menuntut ilmu: jalan menuju ilmu
penuh kesulitan, hanya yang tekun dan sabar yang akan sampai pada tingkatan
tinggi.
2. Keterbatasan
Manusia dalam Menggapai Hakikat Ilmu
Ayat
QS. al-Isrā’ [17]: 85 menjadi dasar utama klaim ini: “Dan
tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
Imam Ibn
Kathīr (w. 774 H) dalam tafsirnya, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, Jilid 5,
hlm. 106. beliau berkata:
"إِنَّ
الْعِبَادَ لَا يَطَّلِعُونَ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا عَلَى النَّزْرِ الْيَسِيرِ
بِحَسَبِ مَا شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى"
Terjemah:
“Sesungguhnya
hamba-hamba Allah tidak memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit, sesuai dengan
apa yang Allah kehendaki.”[19]
Demikian
pula Imam Fakhr al-Dīn al-Rāzī (w. 606 H) dalam kitab Mafātīḥ al-Ghayb Jilid
21, hlm. 17 menambahkan:
"الْمَرَادُ
أَنَّ هَذَا الْقَلِيلَ الَّذِي عِنْدَكُمْ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ"
Terjemah:
“Yang
dimaksud adalah bahwa sedikit ilmu yang kalian miliki itu, jika dibandingkan
dengan ilmu Allah ʿAzza wa Jalla, tidaklah berarti apa-apa.”[20]
Ayat
ini sekaligus meneguhkan prinsip epistemologis dalam Islam: manusia memiliki
keterbatasan dalam menggapai hakikat ilmu, sehingga harus senantiasa rendah
hati.
3. Al-Qur’an
sebagai Sumber dan Mata Air Ilmu Pengetahuan
Setelah
menjelaskan keterbatasan manusia, Al-Suyuthi kemudian beralih kepada keagungan
Al-Qur'an. Jika ilmu manusia begitu terbatas, maka Al-Qur'an hadir sebagai "sumber
yang memancarkan segala ilmu dan mata airnya". Pernyataan bahwa Allah
telah "menitipkan pengetahuan tentang segala sesuatu" dalam
Al-Qur'an merupakan dasar bagi banyak ulama untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an
adalah sumber dari segala ilmu, baik ilmu syar'i (agama) maupun ilmu kauni
(alam semesta).
Imam
Jalāluddīn al-Suyūṭī (w. 911 H) dalam al-Itqān fī ʿUlūm al-Qur’ān
menegaskan:
"وَإِنَّ
كِتَابَنَا الْقُرْآنَ لَهُوَ مُفَجِّرُ الْعُلُومِ وَمَنْبَعُهَا…"
Terjemah:
“Sesungguhnya
kitab kami, al-Qur’an, adalah sumber yang memancarkan segala ilmu dan mata
airnya.”[21]
“مُفَجِّرُ
الْعُلُومِ (pemancar ilmu)” → menggambarkan bahwa
al-Qur’an seperti mata air yang terus mengalir, melahirkan cabang-cabang
pengetahuan baru. Ia tidak habis digali, selalu memberi inspirasi untuk
berbagai bidang ilmu.
“مَنْبَعُهَا (sumbernya)” → menegaskan bahwa segala bentuk
ilmu hakiki, baik agama maupun duniawi, bermuara dari petunjuk Allah dalam
al-Qur’an.
Penjelasan
al-Suyūṭī, bahwa al-Qur’an adalah “umm al-ʿulūm” (induk segala ilmu),
artinya ia menjadi titik tolak lahirnya berbagai disiplin ilmu: tafsir, hadis,
fikih, bahasa, sejarah, bahkan sains.
Imam
Abū Isḥāq Al-Syāṭibī (w. 790 H) dalam kitab al-Muwāfaqāt Jilid II, hlm.
62 menyatakan:
"إِنَّ
الْقُرْآنَ جَاءَ بِكُلِّ أُصُولِ الْعُلُومِ وَمَعَاقِدِهَا وَأَدِلَّتِهَا"
Terjemah:
“Sesungguhnya
al-Qur’an datang dengan memuat seluruh pokok-pokok ilmu, fondasinya, dan
dalil-dalilnya.”[22]
Tiga
poin penting dari ungkapan al-Syāṭibī tersebut:
1. Uṣūl
al-ʿulūm (pokok-pokok ilmu): al-Qur’an meletakkan dasar filosofis dan
kerangka berpikir bagi setiap disiplin. Misalnya, prinsip observasi alam,
keteraturan kosmos, dan hukum sebab-akibat.
2. Maʿāqid
al-ʿulūm (fondasi ilmu): al-Qur’an menyediakan nilai dasar yang menjadi
pondasi pengembangan ilmu, seperti etika, kejujuran, keadilan, dan
objektivitas.
3. Adillatuha
(dalil-dalil ilmu): al-Qur’an menyinggung tanda-tanda empiris di alam
semesta (ayat kauniyyah) yang mengundang manusia meneliti, mengkaji, dan
menyimpulkan hukum-hukum ilmiah.
Dengan
demikian, al-Qur’an bukan hanya kitab hukum dan ibadah, melainkan juga sumber
inspirasi ilmu bahasa, sejarah, sains, dan filsafat.
Imam
Al-Zarkashi dalam kitab monumentalnya, Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an, jilid 1,
hlm. 447 beliau berkata:
“وَمِنْ
عَجَائِبِ هَذَا الْكِتَابِ أَنَّهُ اشْتَمَلَ عَلَى جَمِيعِ الْعُلُومِ: مِنْهَا
مَا هُوَ مِنَ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ، وَمِنْهَا مَا هُوَ مِنْ عُلُومِ
اللُّغَةِ، وَمِنْهَا مَا هُوَ مِنْ عُلُومِ الْحِسَابِ وَالْفَلَكِ، وَغَيْرِ
ذَلِكَ”
Artinya:
"Dan di antara keajaiban kitab (Al-Qur'an) ini adalah bahwa ia mencakup
semua ilmu: di antaranya ilmu-ilmu syar'iyah, ilmu-ilmu bahasa, ilmu hisab
(matematika) dan astronomi, serta ilmu-ilmu lainnya."[23]
Pernyataan
ini menunjukkan bahwa para ulama klasik telah memandang Al-Qur'an sebagai
ensiklopedia ilmu yang komprehensif. Setiap disiplin ilmu, pada tingkatannya,
dapat bersumber atau ditemukan benang merahnya dalam Al-Qur'an.
Ibnu
Qayyim Al-Jauziyyah juga menyatakan hal yang sama tentang hakikat Al-Qur'an
sebagai sumber ilmu. Dalam kitab Miftah Dar al-Sa'adah, jilid 1, hlm. 187. beliau menulis:
“الْقُرْآنُ
يُعْطِيكَ جُمَلَ الْعُلُومِ وَأُصُولَهَا وَكُلُّ عِلْمٍ نَافِعٍ فَإِنَّهُ
مُشْتَمِلٌ عَلَى أَصْلِهِ وَجُمْلَتِهِ”
Artinya:
"Al-Qur'an memberimu keseluruhan ilmu dan prinsip-prinsip dasarnya. Setiap
ilmu yang bermanfaat, maka Al-Qur'an pasti mencakup pokok dan
keseluruhannya."[24]
Al-Qur’an
juga Sebagai Induk Segala Ilmu, Konsep ini bukan berarti al-Qur’an adalah buku
teks sains atau ensiklopedia teknis, melainkan kitab hidayah yang mengandung
prinsip-prinsip universal yang dapat melahirkan seluruh cabang ilmu.
Maksudnya adalah Al-Qur'an tidak selalu memberikan rincian teknis setiap ilmu,
tetapi ia memberikan prinsip-prinsip dasar, panduan etika, dan perspektif
kosmologis yang menjadi landasan bagi pengembangan ilmu-ilmu tersebut.
Misalnya, Al-Qur'an tidak mengajarkan rumus fisika secara detail, tetapi ia
memerintahkan manusia untuk merenungkan ciptaan langit dan bumi, yang menjadi
motivasi utama bagi lahirnya sains dalam peradaban Islam.
Berikut
ini beberapa contoh disiplin ilmu yang "bersumber dari Al-Qur'an dan bergantung kepadanya."
Ilmu
agama: tafsir, hadis,
ushul fikih, fikih, akidah, tasawuf → seluruhnya bersumber dari al-Qur’an.
Ilmu
bahasa: gramatika,
balaghah, fonetik Arab berkembang karena kebutuhan memahami al-Qur’an.
Ilmu
sejarah: al-Qur’an
menyinggung kisah umat terdahulu sebagai bahan kajian historis.
Ilmu
sains dan filsafat: banyak ayat
mendorong manusia meneliti alam, seperti astronomi (QS. Yunus: 101), biologi
(QS. al-Anbiyā’: 30), geologi (QS. an-Naba’: 6–7).
Imam
Fakhruddīn al-Rāzī (w. 606 H) dalam Mafātīḥ al-Ghayb bahkan menulis:
"مَا
مِنْ شَيْءٍ إِلَّا وَيُمْكِنُ اسْتِنْبَاطُهُ مِنَ الْقُرْآنِ"
“Tidak
ada sesuatu pun melainkan mungkin diambil (inspirasi dan prinsipnya) dari
al-Qur’an.”
4. Peranan
Para Ulama dalam Menggali Ilmu dari al-Qur’an
a.
Ahli Fikih
Para
fuqahāʾ menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam menetapkan hukum halal
dan haram. Imam al-Syāfiʿī (w. 204 H) dalam kitab al-Risālah menegaskan:
"فَلَيْسَ
أَحَدٌ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَقُولَ فِي الدِّينِ بِرَأْيٍ وَلَا تَشْبِيهٍ مَا لَمْ
يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَّةِ"
Terjemah:
“Tidak
halal bagi seseorang berbicara tentang agama dengan pendapat atau analogi, jika
tidak memiliki dasar dari al-Kitab (al-Qur’an) atau al-Sunnah.”[25]
Proses
yang dilakukan ahli fikih dalam menggali hukum dari Al-Qur'an dikenal dengan
istilah Istinbath. Imam Al-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat fi
Ushul al-Syari'ah jilid 4, hlm. 213 menjelaskan sekilas tentang istinbath.
Beliau mengatakan:
“وَإِنَّمَا
يَكُونُ الِاسْتِنْبَاطُ بِفَهْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَهُوَ مُرْتَبِطٌ
بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ ارْتِبَاطًا لَا يَنْفَكُّ عَنْهُ”
Artinya:
"Sesungguhnya istinbath itu dilakukan dengan pemahaman (yang mendalam)
terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah, dan ia terkait erat dengan bahasa Arab, sebuah
keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan."[26]
Ini
menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang faqih yang sejati, seseorang tidak
hanya perlu menghafal teks, tetapi juga harus menguasai bahasa Al-Qur'an,
konteks turunnya ayat (Asbab al-Nuzul), dan ilmu-ilmu pendukung lainnya seperti
Nasikh-Mansukh dan Muhkam-Mutasyabih, yang semuanya dibahas secara detail dalam
kitab Al-Itqan itu sendiri.
Namun,
cakupannya tidak berhenti pada ahli fikih saja. Al-Suyuthi menggunakan kata "setiap
orang yang ahli dalam suatu bidang". Ini mencakup: Ahli Tafsir, Ahli
Bahasa dan Sastra Arab, Ahli Tasawuf dan Etika (Akhlaq), dab Para Ilmuwan dan
Cendekiawan Modern.
b.
Ahli Tafsir
Ahli
Tafsir (Mufassir): Mereka yang secara khusus meneliti makna ayat-ayat Al-Qur'an
dengan berbagai pendekatan, dari tafsir bi al-Ma'tsur (berdasarkan riwayat)
hingga tafsir bi al-Ra'yi (berdasarkan analisis). Mufassir mengkaji makna
lafaz, ayat, dan konteks al-Qur’an. Al-Ṭabarī (w. 310 H) dalam kitab Jāmiʿ
al-Bayān Jilid I, hlm. 67 menyatakan:
"إِنِّي
أَعْجَبُ كَيْفَ يَجْتَرِئُ أَحَدٌ عَلَى التَّكَلُّمِ فِي تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ
مَا لَمْ يَعْلَمْ بِلُغَاتِ الْعَرَبِ"
Terjemah:
“Aku
heran bagaimana seseorang berani berbicara tentang tafsir al-Qur’an tanpa
mengetahui bahasa Arab.”[27]
c.
Ahli Hadis
Para
muhaddits meneliti kesesuaian Sunnah dengan al-Qur’an. Imam al-Khaṭīb
al-Baghdādī (w. 463 H) menulis dalam kitab al-Kifāyah fī ʿIlm al-Riwāyah:
"كُلُّ
حَدِيثٍ لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ فَهُوَ بَاطِلٌ"
Terjemah:
“Setiap
hadis yang tidak sesuai dengan Kitab Allah maka ia batil.”[28]
d.
Ahli Bahasa dan Sastra Arab
Mereka
yang mempelajari Al-Qur'an sebagai puncak pencapaian sastra Arab, menganalisis
gaya bahasa (balaghah), kefasihan (fasahah), dan mukjizat bahasanya. Seorang
sastrawan Arab ternama, Mustafa Shadiq al-Rafi'i, dalam kitabnya I'jaz
al-Qur'an wa al-Balaghah al-Nabawiyyah, berkata: "Al-Qur'an bukanlah puisi
dan bukan prosa, tetapi ia adalah sebuah gaya bahasa yang unik yang hanya
dimiliki oleh dirinya sendiri, yang menciptakan revolusi dalam susastra dan
hukum."
Para
ahli bahasa memandang al-Qur’an sebagai puncak balāghah. Ibn ʿĀsyūr (w. 1973 M)
dalam kitab al-Taḥrīr wa al-Tanwīr Jilid I, hlm. 30, menegaskan:
"الْقُرْآنُ
أَفْصَحُ كَلَامٍ وَأَبْلَغُهُ، وَفِيهِ مَعَارِفُ الْعَرَبِ كُلُّهَا"
Terjemah:
“Al-Qur’an
adalah ucapan paling fasih dan paling baligh, serta memuat seluruh pengetahuan
bahasa Arab.”[29]
e.
Ahli Tasawuf dan Filsafat Islam
Mereka
yang menggali dimensi batin dan spiritual Al-Qur'an, mencari jalan untuk
membersihkan jiwa (tazkiyat al-nafs) dan mendekatkan diri kepada Allah. Para
sufi melihat al-Qur’an sebagai sumber maʿrifah. Imam Al-Qusyairī (w. 465 H)
dalam kitab “al-Risālah al-Qusyairiyyah” menulis:
"الطَّرِيقُ
إِلَى اللَّهِ كُلُّهُ مُسْتَمَدٌّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ"
Terjemah:
“Jalan
menuju Allah seluruhnya bersumber dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”[30]
f. Para
Ilmuwan dan Cendekiawan Modern
Dalam
perspektif kontemporer, seruan Al-Qur'an untuk merenungkan alam semesta
(seperti dalam Surah Al-Baqarah: 164, Ali 'Imran: 190, dll) telah menginspirasi
para ilmuwan Muslim dan non-Muslim untuk mempelajari kosmologi, biologi, dan
fisika. Ayat-ayat tentang embriologi, misalnya, telah menarik perhatian para
ahli anatomi modern seperti Dr. Keith Moore.
Refleksi
Filosofis dan Spiritualitas Ilmu dalam al-Qur’an
Dari
uraian para ulama, dapat ditarik refleksi bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar
akumulasi informasi, tetapi jalan menuju Allah. Kesadaran bahwa ilmu manusia
terbatas menumbuhkan kerendahan hati. Ibn ʿAṭāʾillāh al-Sakandarī (w. 709 H)
dalam kitab al-Ḥikam berkata:
"مِنْ
عَلامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ
الزَّلَلِ"
Terjemah:
“Di
antara tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi
kesalahan.”[31]
Kata-kata
hikmah ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa spiritualitas bisa menjerumuskan pada
kesombongan, sementara ilmu yang disertai iman akan melahirkan kerendahan hati.
Kesimpulan
sementara
Kutipan
Imam as-Suyūṭī dalam kitab “al-Itqān” diatas menggambarkan hakikat ilmu
sebagai samudra tak bertepi dan gunung yang menjulang tinggi. Manusia tidak
mungkin menguasai seluruh ilmu karena keterbatasannya, sebagaimana ditegaskan
al-Qur’an (QS. al-Isrā’: 85). Namun, al-Qur’an adalah mata air segala ilmu,
yang menjadi rujukan bagi seluruh disiplin ilmu, baik ilmu fikih, tafsir,
hadis, bahasa, dan tasawuf.
Uraian
Al-Suyuthi yang kita bahas ini pada akhirnya mengajarkan dua hal yang paradoks
tetapi saling melengkapi: keterbatasan absolut manusia dan keluasan
absolut ilmu yang ditawarkan oleh Al-Qur'an. Seorang penuntut ilmu dituntut
untuk bersikap rendah hati, menyadari bahwa betapapun banyak yang telah dia
pelajari, itu hanyalah setetes air dari samudra yang maha luas. Di sisi lain,
dia tidak boleh putus asa, karena Al-Qur'an sebagai mata air yang tak pernah
kering selalu menyediakan ilmu yang dapat dia gali sesuai dengan kapasitas dan
keahliannya.
Sebagai
penutup, kita dapat merenungkan perkataan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum
al-Din:
“اَلْعِلْمُ
كَالْبَحْرِ الْمُزْبِدِ، وَالْعُلَمَاءُ كَالسُّفُنِ الْجَارِيَةِ عَلَيْهِ،
كُلَّمَا عَلِمُوا أَنَّهُمْ قَارَبُوا شَطَّانًا أَذْعَنُوا بِالْعَجْزِ
وَقَالُوا: سُبْحَانَ مَنْ لَا يُحِيطُ بِهِ عِلْمُ الْعَالِمِينَ”
Artinya:
"Ilmu itu bagaikan samudra yang berombak, dan para ulama bagaikan
kapal-kapal yang berlayar di atasnya. Setiap kali mereka merasa telah mendekati
tepian, mereka pun mengakui ketidakberdayaan dan berkata: 'Mahasuci (Allah)
yang ilmu para ahli tidak dapat meliputi-Nya'."[32]
Demikianlah,
semangat untuk terus menggali ilmu harus diiringi dengan kesadaran akan
keterbatasan, dan semua itu bermuara pada pengakuan akan kebesaran Allah,
sumber dari segala ilmu.
Daftar Pustaka
Al-Bāqillānī, Abū Bakr. I‘jāz al-Qur’ān. Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, 1997.
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn. Beirut: Dār
al-Maʿrifah, 1985.
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn. Jeddah: Dār
al-Minhāj, 2011.
Al-Jurjānī, ‘Abd al-Qāhir. Dalā’il al-I‘jāz. Kairo: Maktabah
al-Khānjī, 1984.
Al-Khaṭīb al-Baghdādī, Aḥmad ibn ʿAlī. al-Kifāyah fī ʿIlm
al-Riwāyah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987.
Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qur’ān.
Ed. ʿAbdullāh ibn ʿAbd al-Muḥsin al-Turkī. Riyadh: Dār ʿĀlam al-Kutub, 2003.
Al-Qusyairī, ʿAbd al-Karīm. al-Risālah al-Qusyairiyyah.
Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2002.
Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn. Mafātīḥ al-Ghayb. Beirut: Dār Iḥyāʾ
al-Turāth al-ʿArabī, 2000.
Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn. Mafātīḥ al-Ghayb. Beirut: Dār
al-Fikr, 1981.
Al-Suyūṭī, Jalāluddīn. al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Kairo:
Dār al-Ḥadīth, 2003.
Al-Suyūṭī, Jalāluddīn. al-Itqān fī ʿUlūm al-Qur’ān. Kairo:
Maktabah Dār al-Turāth, 1987.
Al-Suyūṭī, Jalāluddīn. al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Ed.
Markaz al-Dirāsāt al-Qur’āniyyah. Madinah: Mujammaʿ al-Malik Fahd, 2005.
Al-Syāfiʿī, Muḥammad ibn Idrīs. al-Risālah. Beirut: Dār
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1990.
Al-Syāṭibī, Ibrāhīm ibn Mūsā (Abū Isḥāq). al-Muwāfaqāt fī Uṣūl
al-Sharīʿah. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1997.
Al-Syāṭibī, Abū Isḥāq. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarīʿah. Ed.
ʿAbdullāh Darraz. Mesir: Dār Ibn ʿAffān, 1997.
Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmiʿ al-Bayān ʿan Taʾwīl Āy
al-Qur’ān. Kairo: Dār Hijr, 2001.
Al-Zarkashī, Badr al-Dīn. al-Burhān fī ʿUlūm al-Qur’ān. Beirut:
Dār al-Maʿrifah, 1391 H.
Ibn ʿĀsyūr, Muḥammad al-Ṭāhir. al-Taḥrīr wa al-Tanwīr.
Tunis: Dār al-Tūnisiyyah, 1984.
Ibn ʿAṭāʾillāh al-Sakandarī. al-Ḥikam. Kairo: Dār
al-Maʿārif, 2004.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. I‘lām al-Muwaqqiʿīn. Beirut: Dār
al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1991.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Miftāḥ Dār al-Saʿādah. Beirut:
Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1998.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Miftāḥ Dār al-Saʿādah. Beirut:
Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, tanpa tahun.
Ibn Jinnī, Abū al-Fatḥ. al-Khaṣā’iṣ. Kairo: Dār al-Kutub
al-ʿIlmiyyah, 1999.
Ibn Kathīr, Ismāʿīl ibn ʿUmar. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.
Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
Ibn Kathīr, ʿImād al-Dīn Ismāʿīl. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.
Ed. Sāmī ibn Muḥammad Salāmah. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
[1] Dr. Fahd bin Abdurrahman al-Rumi, Dirasat fi 'Ulum al-Qur'an, Riyadh:
Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 1425 H, Cetakan ke-10, Halaman 56.
[2] Badruddin al-Zarkasyi, al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an, Beirut: Dar
al-Ma'rifah, 1391 H, Jilid 1, Halaman 29.
[3] Abu al-Hasan al-Ash'ari, Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf
al-Mushallin, Beirut: al-Maktabah al-'Asriyyah, 1426 H, Jilid 1, Halaman 225.
[4] Abu Bakr al-Baqillani, I'jaz al-Qur'an, Beirut: Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah, 1408 H, Halaman 45.
[5] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. “Tafsir al-Qur'an al-'Azhim”, Beirut:
Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Cet. 1, 1419 H. Jilid 8, Halaman 789.
[6] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, ”Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn”, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah,
tt., jilid 4), hlm. 428.
[7] Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Madarij as-Salikin.
Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, Cet. 2, 1393 H. Jilid 1, Halaman 53.
[8] As-Sa'di, 'Abdurrahman bin Nashir. “Taisir al-Karim ar-Rahman”.
Riyadh: Muassasah ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H. Halaman 933.
[9] Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, ”al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān”, (Beirut:
Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1967, jilid 20), hlm. 94.
[10] Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. “Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an”. Kairo:
Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Cet. 2, 1384 H. Jilid 9, Halaman 190.
[11] Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Katsīr, “Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm”, (Riyadh:
Dār Ṭayyibah, 1999, jilid 2, hlm. 95).
[12] As-Suyuthi, Jalaluddin. “Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an”. Beirut: Dar
al-Kutub al-'Ilmiyyah, Cet. 2, 1425 H. Jilid 1, Halaman 437.
[13] Muḥammad ibn Abī Bakr Ibn al-Qayyim, ”Jalā’ al-Afhām fī Faḍl aṣ-Ṣalāh
‘alā Khayr al-Anām”,( Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987), hlm. 63.
[14] Imam Jalāluddīn as-Suyūṭī, al-Itqān fī ʿUlūm al-Qur’ān, Kairo:
Maktabah Dār al-Turāth, 1987, Jilid I, hlm. 12.
[15] al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, (Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1985, Jilid
I), hlm. 18.
[16] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Dar Tayyibah, 1999,
jilid 5, hlm. 483.
[17] Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Dar 'Alam al-Kutub,
Riyadh, 2003, jilid 10, hlm. 305.
[18] Ibn Qayyim, Miftāḥ Dār al-Saʿādah, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah,
1998, Jilid I, hlm. 55.
[19] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999,
Jilid V, hlm. 106.
[20] al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, (Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī,
2000, Jilid 21), hlm. 17.
[21] As-Suyūṭī , al-Itqān fī ʿUlūm al-Qur’ān, Kairo: Dār al-Turāth, 1987,
Jilid I, hlm. 13.
[22] al-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Sharīʿah, (Beirut: Dār al-Kutub
al-ʿIlmiyyah, 1997, Jilid II), hlm. 62.
[23] Imam Badruddin Al-Zarkashi, Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an, Dar
al-Ma'rifah, Beirut, 1391 H, jilid 1, hlm. 447.
[24] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Miftah Dar al-Sa'adah, Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah, Beirut, jilid 1, hlm. 187.
[25] al-Syāfiʿī, al-Risālah, (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1990),
hlm. 20.
[26] Imam Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah, Dar Ibn
'Affan, 1997, jilid 4, hlm. 213.
[27] al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān, Kairo: Dār Hijr, 2001, Jilid I, hlm. 67.
[28] al-Khaṭīb al-Baghdādī, al-Kifāyah fī ʿIlm al-Riwāyah, Beirut: (Dār
al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1987), hlm. 25.
[29] Ibn ʿĀsyūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, Tunis: Dār al-Tūnisiyyah, 1984,
Jilid I, hlm. 30.
[30] al-Qusyairī, al-Risālah al-Qusyairiyyah, Beirut: Dār al-Kutub
al-ʿIlmiyyah, 2002, hlm. 42.
[31] Ibn ʿAṭāʾillāh, al-Ḥikam, Kairo: Dār al-Maʿārif, 2004, hlm. 15.
[32] Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Dar al-Minhaj, 2011, jilid 1,
hlm. 52.
