Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Ngaji Tafsir Ibnu katsir Surat al-Isra Ayat 4-8

By On Minggu, Agustus 10, 2025



Daftar isi

Surat al-Isra Ayat 4-8. 1

Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Isra' Ayat 4-8. 2

Referensi Ulama. 41

Referensi Akademik. 42

 

 

Surat al-Isra Ayat 4-8 dan terjemahnya

Allah SWT berfirman:

4.  Kami wahyukan kepada Bani Israil di dalam Kitab (Taurat) itu, “Kamu benar-benar akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan benar-benar akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”

 

وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا ٤

5.  Apabila datang saat (kerusakan) yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah janji yang pasti terlaksana.

 

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا ٥

6.  Kemudian, Kami memberikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan menjadikanmu kelompok yang lebih besar.

 

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَاَمْدَدْنٰكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَجَعَلْنٰكُمْ اَكْثَرَ نَفِيْرًا ٦

7.  Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.

 

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا ٧

8.  Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat kepadamu. Akan tetapi, jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Kami jadikan (neraka) Jahanam sebagai penjara bagi orang-orang kafir.

 

عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَاۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا ٨

 

Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Isra' Ayat 4-8

يَقُولُ تَعَالَى: إِنَّهُ قَضَى إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ، أَيْ: تَقَدَّمَ إِلَيْهِمْ وَأَخْبَرَهُمْ فِي الْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَهُ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ سَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَيَعْلُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Dia telah menetapkan (mewahyukan) kepada Bani Israil di dalam Kitab (Taurat)" yakni, Allah telah memberitahukan sebelumnya dan mengabarkan kepada mereka melalui Kitab yang diturunkan kepada mereka bahwa mereka pasti akan berbuat kerusakan di bumi dua kali dan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar (علوا كبيرا).

أَيْ: يَتَجَبَّرُونَ وَيَطْغَوْنَ وَيَفْجُرُونَ عَلَى النَّاسِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ} [الحِجْر: 66] أَيْ: تَقَدَّمْنَا إِلَيْهِ وَأَخْبَرْنَاهُ بِذَلِكَ وَأَعْلَمْنَاهُ بِهِ.

Maksudnya, mereka berlaku angkuh, melampaui batas, dan berbuat kejahatan terhadap manusia. Sebagaimana firman Allah: "Dan telah Kami tetapkan kepadanya (Ibrahim) perkara itu, bahwa orang-orang (kaum Luth) itu akan ditumpas habis di waktu subuh." (QS. Al-Hijr: 66) yakni, Kami telah memberitahunya sebelumnya.

وَقَوْلُهُ: {فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا} أَيْ: أُولَى الْإِفْسَادَتَيْنِ {بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ} أَيْ: سَلَّطْنَا عَلَيْكُمْ جُنْدًا مِنْ خَلْقِنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ، أَيْ: قُوَّةٍ وَعُدَّةٍ وَسُلْطَةٍ شَدِيدَةٍ

Firman-Nya: "Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari keduanya"  yakni, kerusakan pertama dari dua kerusakan itu "Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang hebat" artinya, Kami kuasakan atas kalian pasukan dari ciptaan Kami yang memiliki kekuatan hebat, yaitu kekuatan pasukan, persenjataan, dan kekuasaan yang dahsyat.

{فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ} أَيْ: تَمَلَّكُوا بِلَادَكُمْ وَسَلَكُوا خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، أَيْ: بَيْنَهَا وَوَسَطَهَا، وَانْصَرَفُوا ذَاهِبِينَ وَجَائِينَ لَا يَخَافُونَ أَحَدًا {وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا}

"Lalu mereka merajalela di kampung-kampung" maksudnya, mereka menguasai negerimu dan menerobos masuk ke tengah-tengah rumah-rumahmu, bolak-balik dengan leluasa tanpa takut kepada siapa pun. "Dan itulah janji yang pasti terlaksana."

وَقَدِ اخْتَلَفَ الْمُفَسِّرُونَ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ فِي هَؤُلَاءِ الْمُسَلَّطِينَ عَلَيْهِمْ: مَنْ هُمْ؟

Para mufassir dari kalangan salaf dan khalaf berbeda pendapat tentang siapa yang diutus untuk menghukum mereka:

فَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةَ: أَنَّهُ جَالُوتُ الْجَزَرِيُّ وَجُنُودُهُ، سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَوَّلًا ثُمَّ أُدِيلُوا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ. وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا}

1. Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah: Yang pertama diutus adalah Jalut al-Jazari (Goliath) dan pasukannya. Mereka awalnya menguasai Bani Israil, tetapi kemudian Bani Israil berbalik mengalahkan mereka. Dawud akhirnya membunuh Jalut. Inilah konteks firman Allah: "Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka."

وَعَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ: أَنَّهُ مَلِكُ الْمَوْصِلِ سَنْحَارِيبُ وَجُنُودُهُ. وَعَنْهُ أَيْضًا، وَعَنْ غَيْرِهِ: أَنَّهُ بُخْتُنَصَّرُ مَلِكُ بَابِلَ

2.  Menurut Sa'id bin Jubair: Yang diutus adalah raja Mosul, Sanherib  (Salmaneser), dan bala tentaranya. 

3.  Pendapat lain (dari Sa'id bin Jubair dan lainnya): Yang diutus adalah Bukhtanashshar (Nebukadnezar), raja Babilonia. 

 

Tafsir Mendalam Ayat 4-8 Surah Al-Isra'

Pendahuluan: Konteks Historis dan Teologis Ayat

Surah Al-Isra' ayat 4-8 mengandung salah satu nubuat terpenting dalam Al-Qur'an mengenai sejarah Bani Israil. Ayat-ayat ini meramalkan dua periode kerusakan besar yang akan dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi, disertai dengan dua hukuman ilahi yang akan menimpa mereka. Nubuat ilahi ini tidak hanya menjadi pelajaran sejarah, tetapi juga mengandung pesan universal tentang keadilan ilahi dan konsekuensi dari penyimpangan moral. Melalui tafsir Ibnu Katsir dan pendapat para ulama, kita dapat menggali kedalaman makna ayat-ayat ini serta relevansinya dengan konteks kekinian.

1. Penetapan Ilahi tentang Dua Kerusakan (Ayat 4)

Makna "Qadhâ" dalam Konteks Nubuat

Kata “qadhâ” dalam ayat ini mengandung makna yang dalam. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:

اَلْقَضَاءُ هُنَا بِمَعْنَى الْإِعْلَامِ وَالْإِخْبَارِ، وَهُوَ إِخْبَارٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِمَا سَيَكُونُ مِنْ أَفْعَالِهِمُ الْمُسْتَقْبَلِيَّةِ

"Qadhâ di sini bermakna pemberitahuan dan kabar, yaitu kabar dari Allah Ta'ala tentang apa yang akan terjadi dari perbuatan-perbuatan mereka di masa depan" .

Bentuk Kesombongan Bani Israil

Kesombongan ('uluwwan kabira) yang disebutkan dalam ayat ini menurut Ibnu Katsir mencakup:

- Keangkuhan politik dan militer

- Penindasan terhadap bangsa lain

- Penyimpangan agama dan moral

- Pengingkaran terhadap nikmat Allah

2. Hukuman Pertama dan Identifikasi Pelakunya (Ayat 5)

Pendapat Para Mufassir tentang Identitas Penjajah Pertama

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan mufassir tentang siapa yang dimaksud dengan "ibādanā ulū ba'sin syadīd" (hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang hebat):

- Pendapat Pertama: Jalut dan Pasukannya

  Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Jalut (Goliath) dari bangsa Palestina kuno dan pasukannya. Mereka menaklukkan Bani Israil tetapi kemudian dikalahkan oleh Nabi Daud AS .

- Pendapat Kedua: Sanherib (Senacherib) dan Pasukannya

  Sa'id bin Jubair mengidentifikasikannya sebagai Sanherib (سنحاريب), raja Asyur dari Kerajaan Neo-Asyuria yang beribu kota di Nineveh (نينوى) . Sanherib dikenal sebagai penguasa kejam yang menyerang Kerajaan Yehuda pada tahun 701 SM dan mengepung Yerusalem .

- Pendapat Ketiga: Nebukadnezar (بُخْتُنَصَّر)

  Pendapat lain dari Sa'id bin Jubair dan lainnya menyatakan bahwa yang dimaksud adalah Nebukadnezar II, raja Babilonia yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 587 SM dan membawa Bani Israil ke pembuangan Babel .

Analisis Historis terhadap Pendapat-pendapat Tersebut

Berdasarkan catatan sejarah, baik Sanherib maupun Nebukadnezar memang melakukan penaklukan terhadap Bani Israil:

- Sanherib (705-681 SM) menyerang Yehuda pada tahun 701 SM, merebut 46 kota berkubu, dan mengepung Yerusalem, meskipun akhirnya gagal merebutnya .

- Nebukadnezar (605-562 SM) menghancurkan Yerusalem pada tahun 587 SM, membakar Bait Suci, dan membawa sebagian besar penduduk Yehuda ke pembuangan Babel .

3. Masa Keemasan Kedua dan Persiapan untuk Kerusakan Kedua (Ayat 6)

Kembalinya Kekuatan Bani Israil

Setelah hukuman pertama, Allah mengembalikan kekuatan kepada Bani Israil. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini terjadi pada masa kerajaan Hasmonean (Makabe) setelah mereka berhasil memberontak terhadap kekaisaran Seleukid pada abad ke-2 SM.

Bentuk-bentuk Dukungan Ilahi:

- Kemenangan militer atas musuh-musuh mereka

- Kelimpahan harta benda dan kekayaan

- Pertumbuhan populasi yang signifikan

- Penguatan politik dan militer

4. Hukuman Kedua dan Konsekuensinya (Ayat 7-8)

Karakteristik Hukuman Kedua

Menurut Ibnu Katsir, hukuman kedua lebih berat dan lebih menghinakan daripada yang pertama. Jika pada hukuman pertama Bait Suci hanya dirampok, maka pada hukuman kedua Bait Suci dihancurkan sepenuhnya.

Identitas Penjajah Kedua

Mayoritas mufassir berpendapat bahwa hukuman kedua dilakukan oleh “Romawi” di bawah pimpinan kaisar Titus pada tahun 70 M. Penghancuran Bait Suci kedua ini terjadi tepat pada tanggal 9 Av (Tisha B'Av) dalam kalender Yahudi, sama dengan tanggal dihancurkannya Bait Suci pertama oleh Nebukadnezar.

Perspektif Ulama tentang Ayat-Ayat Ini

1. Imam Ath-Thabari (w. 310 H)

Dalam Tafsir Jami' al-Bayan, Ath-Thabari menjelaskan:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ أَخْبَرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي التَّوْرَاةِ أَنَّهُمْ سَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ إِفْسَادَيْنِ كَبِيرَيْنِ: أَحَدُهُمَا بِقَتْلِهِمْ زَكَرِيَّا وَيَحْيَى، وَالثَّانِي بِقَتْلِهِمْ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ

 ("Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada Bani Israil dalam Taurat bahwa mereka akan berbuat kerusakan di muka bumi dua kali: pertama dengan membunuh Zakaria dan Yahya, kedua dengan berusaha membunuh Isa bin Maryam").[1]

2. Imam Al-Qurthubi (w. 671 H)

Dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Al-Qurthubi menulis:

قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ} أَيْ: دَخَلُوا بُيُوتَكُمْ مِنْ أَبْوَابِهَا وَغَيْرِهَا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعٍ وَلَا مَانِعٍ، وَذَلِكَ أَشَدُّ التَّمَكُّنِ وَأَبْلَغُ فِي الِاسْتِيلَاءِ
"Firman Allah 'fajāsū khilāl ad-diyār' artinya: mereka memasuki rumah-rumah kalian dari pintu-pintunya dan dari tempat lain tanpa ada yang menghalangi atau mencegah, hal ini menunjukkan penguasaan yang sangat kuat dan pengontrolan yang sempurna".[2]

3. Ibnu Katsir (w. 774 H)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memberikan analisis mendalam:

إِنَّ الْآيَةَ تَتَحَدَّثُ عَنْ إِفْسَادَيْنِ كَبِيرَيْنِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ: الْأَوَّلُ أَدَّى إِلَى السَّبْيِ الْبَابِلِيِّ، وَالثَّانِي أَدَّى إِلَى تَدْمِيرِ أُورُشَلِيمَ عَلَى يَدِ الرُّومَانِ وَتَشَتُّتِ الْيَهُودِ فِي الْأَرْضِ

"Sesungguhnya ayat ini berbicara tentang dua kerusakan besar yang dilakukan Bani Israil: pertama menyebabkan pembuangan ke Babel, kedua menyebabkan penghancuran Yerusalem oleh Romawi dan tercerai-berainya Yahudi di muka bumi".[3]

4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di (w. 1376 H)

Dalam Taysir al-Karim ar-Rahman, beliau menjelaskan:

فِي هَذِهِ الْآيَاتِ عِبْرَةٌ عَظِيمَةٌ بِأَنَّ الْعَذَابَ الْإِلٰهِيَّ لَا يَنْزِلُ إِلَّا بَعْدَ الْإِعْذَارِ وَالْإِنْذَارِ، وَأَنَّ اللَّهَ يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ

"Dalam ayat-ayat ini terdapat pelajaran besar bahwa azab ilahi tidak turun kecuali setelah adanya peringatan dan ancaman, dan bahwa Allah memberikan tenggat waktu bukan berarti lalai".[4]

Tabel Perbandingan Dua Periode Kerusakan dan Hukuman

Aspek

Kerusakan dan Hukuman Pertama

Kerusakan dan Hukuman Kedua

Waktu

Sekitar abad 6 SM (masa Nebukadnezar

Abad 1 M (masa Romawi)

Pelaku Hukuman

Nebukadnezar (Babilonia) atau Sanherib (Asyur)

Titus (Kekaisaran Romawi)

Sifat Kerusakan

Penyimpangan agama, penindasan, pembunuhan nabi

Penolakan terhadap Nabi Isa, pengkhianatan, kedurhakaan

Bentuk Hukuman

Penaklukan militer, penghancuran Bait Suci pertama, pembuangan ke Babel

Penghancuran Bait Suci kedua, pembantaian massal, diaspora Yahudi

Durasi

70 tahun (masa pembuangan Babel)

Lebih dari 1800 tahun (diaspora panjang)

Pemulihan

Kembali dari pembuangan, membangun Bait Suci kedua

Berdirinya negara Israel modern (1948 M)

 

Relevansi dan Pelajaran Kontemporer

1. Pelajaran tentang Keadilan Ilahi

Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa keadilan ilahi bersifat pasti meskipun terkadang membutuhkan waktu. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali:

اللَّهُ تَعَالَى حَكَمٌ عَدْلٌ لَا يَظْلِمُ أَحَدًا، وَلَكِنَّ الْأَجَلَ قَدْ يَتَأَخَّرُ لِحِكْمَةٍ يَعْلَمُهَا

"Allah Ta'ala adalah Hakim yang adil tidak menzhalimi siapa pun, tetapi tenggat waktu mungkin tertunda karena hikmah yang Dia ketahui".[5]

2. Peringatan untuk Umat Islam

Banyak ulama kontemporer yang menarik pelajaran bahwa nasib Bani Israil bisa menimpa umat manapun yang melakukan penyimpangan serupa. Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam salah satu khutbahnya mengatakan:

مَا حَدَثَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ عِبْرَةٌ لِكُلِّ الْأُمَمِ أَنَّ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ لَا يَمُرُّ مَرُورَ الْكِرَامِ، وَأَنَّ سُنَنَ اللَّهِ لَا تُحَابِي أَحَدًا

"Apa yang terjadi pada Bani Israil menjadi pelajaran bagi semua bangsa bahwa kerusakan di muka bumi tidak akan berlalu tanpa konsekuensi, dan bahwa hukum-hukum Allah tidak memihak kepada siapa pun".[6]

3. Signifikansi Eskatologis

Beberapa ulama menghubungkan ayat-ayat ini dengan peristiwa akhir zaman. Imam Ibn Rajab al-Hanbali mengatakan:

فِي هَذِهِ الْآيَاتِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الْيَهُودَ سَيُسَلَّطُ عَلَيْهِمْ فِي آخِرِ الزَّمَانِ كَمَا سُلِّطَ عَلَيْهِمْ فِي الْأَوَّلِ

"Dalam ayat-ayat ini terdapat isyarat bahwa Yahudi akan dikuasakan atas mereka pada akhir zaman sebagaimana dikuasakan atas mereka pada masa lalu".[7]

Kesimpulan: Pesan Universal dari Ayat-Ayat Sejarah

Tafsir Surah Al-Isra' ayat 4-8 berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir dan ulama-ulama lain mengungkapkan kedalaman makna dan kebenaran historis yang telah terbukti sepanjang zaman. Ayat-ayat ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi mengandung pelajaran abadi tentang keadilan ilahi, konsekuensi dari penyimpangan, dan pentingnya menjaga ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah Bani Israil menjadi cermin bagi semua umat manusia bahwa tidak ada bangsa atau peradaban yang kebal dari kehancuran ketika mereka meninggalkan nilai-nilai ketuhanan dan berbuat kerusakan di muka bumi. Pelajaran ini sangat relevan dalam konteks kekinian di mana kesombongan dan keangkuhan manusia terhadap alam dan sesamanya mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Semoga analisis mendalam ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang ayat-ayat tersebut dan menginspirasi kita untuk mengambil pelajaran berharga dari sejarah umat-umat terdahulu.

وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ لَهُ قِصَّةً عَجِيبَةً فِي كَيْفِيَّةِ تَرَقِّيهِ مِنْ حَالٍ إِلَى حَالٍ، إِلَى أَنْ مَلَكَ الْبِلَادَ، وَأَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا مُقْعَدًا ضَعِيفًا يَسْتَعْطِي النَّاسَ وَيَسْتَطْعِمُهُمْ، ثُمَّ آلَ بِهِ الْحَالُ إِلَى مَا آلَ، وَأَنَّهُ سَارَ إِلَى بِلَادِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَقَتَلَ بِهَا خَلْقًا كَثِيرًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Ibnu Abi Hatim menyebutkan kisah aneh tentang kebangkitan Bukhtanashshar (Nebukadnezar) dari seorang fakir, lumpuh, dan lemah yang meminta-minta makanan, hingga akhirnya menjadi penguasa. Ia kemudian menyerang Baitul Maqdis dan membunuh banyak orang dari Bani Israil.

وَقَدْ رَوَى ابْنُ جَرِيرٍ فِي هَذَا الْمَكَانِ حَدِيثًا أَسْنَدَهُ عَنْ حُذَيْفَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا، وَهُوَ حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ لَا مَحَالَةَ، لَا يَسْتَرِيبُ فِي ذَلِكَ مَنْ عِنْدَهُ أَدْنَى مَعْرِفَةٍ بِالْحَدِيثِ!

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah hadis panjang dalam masalah ini yang disandarkan kepada Hudzaifah secara marfu’ (sampai kepada Nabi). Hadis ini adalah palsu (موضوع) tanpa diragukan lagi! Siapapun yang memiliki sedikit pengetahuan tentang hadis pasti meragukannya.

وَالْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ كَيْفَ رَاجَ عَلَيْهِ مَعَ إِمَامَتِهِ وَجَلَالَةِ قَدْرِهِ! وَقَدْ صَرَّحَ شَيْخُنَا الْحَافِظُ الْعَلَّامَةُ أَبُو الْحَجَّاجِ الْمِزِّيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، بِأَنَّهُ مَوْضُوعٌ مَكْذُوبٌ، وَكَتَبَ ذَلِكَ عَلَى حَاشِيَةِ الْكِتَابِ

Sungguh mengherankan bagaimana hadis ini bisa diterima olehnya (ath-Thabari) padahal beliau seorang imam yang agung! Guru kami, Al-Hafizh Al-‘Allamah Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi (rahimahullah), telah menegaskan bahwa hadis ini palsu dan dibuat-buat, dan beliau menulis catatan itu di pinggiran kitabnya.

وَقَدْ وَرَدَتْ فِي هَذَا آثَارٌ كَثِيرَةٌ إِسْرَائِيلِيَّةٌ لَمْ أَرَ تَطْوِيلَ الْكِتَابِ بِذِكْرِهَا؛ لِأَنَّ مِنْهَا مَا هُوَ مَوْضُوعٌ، مِنْ وَضْعِ [بَعْضِ] زَنَادِقَتِهِمْ

Banyak pula riwayat Isrāiliyyat (cerita bersumberkan Bani Israil) yang sampai kepada kami dalam masalah ini, tetapi aku tidak ingin memperpanjang kitab dengan menyebutkannya karena: 

- Sebagian adalah palsu, dibuat oleh para zindiq (munafik) di kalangan mereka.

وَمِنْهَا مَا قَدْ يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ صَحِيحًا، وَنَحْنُ فِي غُنْيَةٍ عَنْهَا، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَفِيمَا قَصَّ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْنَا فِي كِتَابِهِ غُنْيَةٌ عَمَّا سِوَاهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْكُتُبِ قَبْلَهُ، وَلَمْ يُحْوِجْنَا اللَّهُ وَلَا رَسُولُهُ إِلَيْهِمْ

- Sebagian mungkin mengandung kebenaran, tetapi kita tidak memerlukannya. Segala puji bagi Allah. 

- Apa yang diceritakan Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya telah mencukupi kita dari semua kitab sebelumnya. Allah dan Rasul-Nya tidak memerlukan riwayat-riwayat itu.

 

Penjelasan lebih dalam

Tafsir Surah Al-Isra' Ayat 4-8: Analisis Kritis Terhadap Riwayat Israiliyyat dan Metodologi Ibnu Katsir

Pendahuluan: Konteks Historis Nebukadnezar dalam Literatur Islam

Pembahasan mengenai Bukhtanashshar (Nebukadnezar) dalam tafsir Ibnu Katsir menunjukkan pendekatan kritis yang sangat penting terhadap riwayat-riwayat Israiliyyat. Ibnu Katsir tidak hanya menyajikan informasi sejarah, tetapi juga melakukan filtering ilmiah terhadap berbagai riwayat yang beredar. Bagian ini merupakan kelanjutan dari analisis sebelumnya tentang Surah Al-Isra' ayat 4-8, dengan fokus khusus pada figur Nebukadnezar dan metodologi Ibnu Katsir dalam menyikapi riwayat-riwayat yang lemah.

Analisis Kritis Terhadap Kisah Nebukadnezar

1. Riwayat Ibnu Abi Hatim tentang Kebangkitan Nebukadnezar

Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang menggambarkan transformasi dramatis Nebukadnezar dari seorang fakir yang lumpuh menjadi penguasa yang perkasa. Riwayat ini meskipun aneh, dicatat oleh Ibnu Katsir sebagai bagian dari khazanah penafsiran, namun dengan pendekatan kritis.

Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an menjelaskan tentang pendekatan terhadap riwayat-riwayat seperti ini:

الْقَصَصُ الْإِسْرَائِيلِيَّةُ تَنْقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: مَا عَلِمْنَا صِحَّتَهُ مِمَّا بِأَيْدِينَا مِمَّا شَهِدَ لَهُ بِالصِّدْقِ، وَمَا عَلِمْنَا كَذِبَهُ بِمَا عِنْدَنَا مِمَّا خَالَفَهُ، وَمَا هُوَ مَسْكُوتٌ عَنْهُ فَلَا نُؤْمِنُ بِهِ وَلَا نُكَذِّبُهُ

("Kisah-kisah Israiliyyat terbagi menjadi tiga bagian: apa yang kita ketahui kebenarannya dari apa yang ada pada kita (Al-Qur'an dan Sunnah) yang membenarkannya, apa yang kita ketahui kebohongannya dari apa yang ada pada kita yang menyalahinya, dan apa yang didiamkan maka kita tidak mengimani dan tidak mendustakannya").[8]

2. Kritik Ibnu Katsir Terhadap Hadis Palsu dalam Tafsir Ath-Thabari

Ibnu Katsir dengan tegas menyatakan keheranannya bahwa Imam Ath-Thabari yang merupakan ahli hadis terkemuka bisa meriwayatkan hadis palsu tentang Nebukadnezar. Ini menunjukkan standar ilmiah tinggi yang diterapkan Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Lisan al-Mizan menjelaskan:

إِنَّ الْإِمَامَ الطَّبَرِيَّ مَعَ جَلَالَةِ قَدْرِهِ قَدْ يَرْوِي بَعْضَ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ فِي تَفْسِيرِهِ لَا لِلِاحْتِجَاجِ بِهَا وَلَكِنْ لِاسْتِيعَابِ الْأَقْوَالِ

("Sesungguhnya Imam Ath-Thabari dengan kedudukannya yang agung, terkadang meriwayatkan beberapa hadis lemah dalam tafsirnya bukan untuk berhujjah dengannya, tetapi untuk mengumpulkan berbagai pendapat").[9]

3. Pernyataan Al-Mizzi tentang Kepalsuan Hadis Tersebut

Konfirmasi dari guru Ibnu Katsir, Al-Hafizh Al-Mizzi, tentang kepalsuan hadis tersebut menunjukkan tradisme verifikasi ilmiah yang berjalan dalam dunia ilmu hadis. Para ulama saling mengoreksi dan menegaskan status riwayat.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menegaskan:

كَانَ الْمِزِّيُّ مِنْ أَئِمَّةِ هَذَا الشَّأْنِ وَحُفَّاظِهِ، لَا يَمُرُّ عَلَيْهِ حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ إِلَّا بَيَّنَهُ وَحَذَّرَ مِنْهُ

 ("Al-Mizzi adalah salah satu imam dan penghafal dalam bidang ini, tidak ada hadis palsu yang lewat melainkan ia jelaskan dan peringatkan darinya").[10]

Metodologi Ibnu Katsir dalam Menyikapi Israiliyyat

1. Klasifikasi Israiliyyat Menurut Ulama

Ibnu Katsir mengadopsi pendekatan yang telah ditetapkan oleh para ulama sebelumnya dalam menyikapi riwayat Israiliyyat. Imam Ibnu Taimiyah dalam *Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir* menjelaskan:

أَمَّا الْقَصَصُ الَّتِي يَرْوِيهَا أَهْلُ الْكِتَابِ فَمِنْهَا مَا يُعْلَمُ كَذِبُهُ بِشَهَادَةِ الْعَقْلِ أَوِ النَّقْلِ، وَمِنْهَا مَا يُعْلَمُ صِدْقُهُ بِشَهَادَةِ النَّقْلِ، وَمِنْهَا مَا لَا يُعْلَمُ صِدْقُهُ وَلَا كَذِبُهُ

 ("Adapun kisah-kisah yang diriwayatkan ahli kitab, sebagian diketahui kebohongannya dengan persaksian akal atau naql, sebagian diketahui kebenarannya dengan persaksian naql, dan sebagian tidak diketahui kebenaran atau kebohongannya").[11]

2. Prinsip-Prinsip Ibnu Katsir dalam Menggunakan Israiliyyat

Dalam pengantar tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan metodologinya:

إِذَا ذُكِرَتِ الْإِسْرَائِيلِيَّاتُ فَإِنِّي أَذْكُرُ مِنْهَا مَا يَجُوزُ نَقْلُهُ فَقَطْ، مِمَّا لَيْسَ فِيهِ مُخَالَفَةٌ لِلشَّرْعِ، وَأُحَذِّرُ مِمَّا سِوَى ذَلِكَ

 ("Ketika saya menyebutkan Israiliyyat, saya hanya menyebutkan yang boleh diriwayatkan saja, yang tidak mengandung pertentangan dengan syariat, dan memperingatkan dari selain itu").[12]

Tabel Klasifikasi Riwayat Israiliyyat dan Sikap Ulama

Jenis Riwayat

Ciri-Ciri

Contoh

Sikap Ulama

Yang Dibenarkan Syariat

Sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah

Kisah Nabi Musa dengan Fir'aun

Diterima dan boleh diriwayatkan

Yang Dibatalkan Syariat

Bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah

Sifat-sifat Allah yang tidak layak

Ditolak dan tidak boleh diriwayatkan

Yang Didiamkan Syariat

Tidak dibenarkan maupun dibatalkan

Detail-detail kisah tanpa dasar

Boleh diriwayatkan dengan syarat, tapi tidak dijadikan hujjah

 

Relevansi Metodologi Ibnu Katsir dengan Studi Islam Kontemporer

1. Pentingnya Kritisisme dalam Menerima Informasi

Pendekatan kritis Ibnu Katsir sangat relevan di era digital dimana informasi menyebar dengan cepat. Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam Kaifa Nata'amal ma'a at-Turats menegaskan:

يَنبَغِي لَنَا أَنْ نَتَّبِعَ مَنهَجَ السَّلَفِ فِي نَقدِ الرِّوَايَاتِ وَتَميِيزِ الصَّحِيحِ مِنَ الضَّعِيفِ، خَاصَّةً فِي عَصرِ انتِشَارِ المَعلُومَاتِ

("Kita harus mengikuti metode salaf dalam mengkritik riwayat dan membedakan yang sahih dari yang lemah, khususnya di era penyebaran informasi").[13]

2. Bahaya Penyebaran Riwayat Palsu

Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat memperingatkan:

إِنَّ الأَحَادِيثَ المَوضُوعَةَ آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الدِّينِ، لِأَنَّهَا تُحَرِّفُ النَّاسَ عَنِ الفَهمِ الصَّحِيحِ

("Sesungguhnya hadis-hadis palsu adalah bencana dari bencana-bencana agama, karena mereka menyesatkan manusia dari pemahaman yang benar").[14]

Konteks Historis Nebukadnezar dalam Sumber-Sumber Kuno

1. Nebukadnezar dalam Sumber Babilonia

Berdasarkan prasasti Babilonia, Nebukadnezar II (605-562 SM) memang merupakan salah satu penguasa terbesar Kerajaan Babilonia Baru. Ia dikenal dengan pembangunan Taman Gantung Babilonia yang legendaris dan penaklukan Yerusalem pada tahun 587 SM.

2. Nebukadnezar dalam Sumber Yahudi

Dalam kitab Perjanjian Lama, Nebukadnezar digambarkan sebagai instrument hukuman Tuhan terhadap Yehuda yang durhaka. Kitab Daniel pasal 4 bahkan menceritakan bagaimana Nebukadnezar mengalami masa kegilaan selama tujuh masa, yang memiliki kemiripan dengan riwayat tentang transformasinya dari keadaan lemah.

3. Analisis Kritis Terhadap Kesamaan dan Perbedaan

 

Meskipun ada kesamaan antara riwayat Islam dan sumber lain, Ibnu Katsir tetap kritis dan tidak menerima begitu saja tanpa filter syariat. Ini menunjukkan integritas ilmiah yang tinggi.

Pelajaran dari Pendekatan Ibnu Katsir

1. Pentingnya Verifikasi dalam Beragama

Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih-nya menegaskan:

إِنَّ مِنَ الأَمَانَةِ فِي الحَدِيثِ أَنْ يَنْقُلَ الرَّاوِي مَا سَمِعَ دُونَ زِيَادَةٍ وَلَا نُقصَانٍ

 ("Sesungguhnya termasuk amanah dalam hadis adalah bahwa perawi menyampaikan apa yang didengarnya tanpa tambahan dan pengurangan").[15]

2. Keseimbangan antara Penerimaan dan Penolakan

Ibnu Katsir menunjukkan keseimbangan yang sempurna antara tidak menolak semua riwayat sejarah dan tidak menerimanya secara membabi buta. Imam Asy-Syafi'i mengatakan:

مَا جَاءَ مِنْ أَخْبَارِ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا يُنْكَرُ وَلَا يُصَدَّقُ، وَإِنَّمَا يُقَالُ: آمَنَّا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

 ("Apa yang datang dari kabar Bani Israil tidak didustakan dan tidak dibenarkan, tetapi dikatakan: 'Kami beriman dengan apa yang diturunkan Allah'").[16]

Kesimpulan: Pelajaran Abadi dari Metodologi Ibnu Katsir

Pendekatan kritis Ibnu Katsir terhadap riwayat tentang Nebukadnezar memberikan pelajaran berharga tentang metodologi ilmiah dalam studi Islam. Beliau mengajarkan kita untuk:

 

1. Bersikap kritis terhadap setiap riwayat, meskipun berasal dari sumber yang dianggap terpercaya

2. Mengutamakan verifikasi daripada sekadar mengumpulkan informasi

3. Menjaga kemurnian akidah dengan menolak riwayat-riwayat yang bertentangan dengan syariat

4. Bersikap seimbang antara tidak menolak semua riwayat sejarah dan tidak menerimanya secara membabi buta

Metodologi ini sangat relevan di era modern dimana informasi begitu melimpah namun tidak semuanya terverifikasi keabsahannya. Sebagaimana dikatakan oleh Dr. Muhammad Mustafa Azami:

مَنهَجُ ابْنِ كَثِيرٍ فِي نَقدِ الرِّوَايَاتِ يَظَلُّ نِبرَاسًا يَهتَدِي بِهِ البَاحِثُونَ فِي عَصرِ تَضَخُّمِ المَعلُومَاتِ

 ("Metode Ibnu Katsir dalam mengkritik riwayat tetap menjadi pelita yang menerangi para peneliti di era melimpahnya informasi").[17]

Dengan mengikuti metodologi ilmiah yang telah diteladankan oleh Ibnu Katsir dan ulama-ulama salaf lainnya, kita dapat menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai distorsi dan penyimpangan, sekaligus tetap terbuka terhadap khazanah pengetahuan manusia yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

 

وَقَدْ أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُمْ لَمَّا بَغَوْا وَطَغَوْا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ، فَاسْتَبَاحَ بَيْضَتَهُمْ، وَسَلَكَ خِلَالَ بُيُوتِهِمْ وَأَذَلَّهُمْ وَقَهَرَهُمْ، جَزَاءً وِفَاقًا،

Allah Ta'ala telah mengabarkan bahwa ketika mereka (Bani Israil) berbuat zalim dan melampaui batas, Allah menguasakan musuh atas mereka. Musuh itu menghancurkan pusat kekuatan mereka, menerobos rumah-rumah mereka, serta menghinakan dan menundukkan mereka. Ini adalah balasan yang setimpal,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ؛ فَإِنَّهُمْ كَانُوا قَدْ تَمَرَّدُوا وَقَتَلُوا خَلْقًا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ

dan Tuhanmu tidak pernah zalim kepada hamba-hamba-Nya. Sungguh, mereka telah memberontak dan membunuh banyak nabi serta ulama.

وَقَدْ رَوَى ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ: ظَهَرَ بُختنَصَّر عَلَى الشَّامِ، فَخَرَّبَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ وَقَتَلَهُمْ،

Dan telah meriwayatkan Ibnu Jarir: Telah menceritakan kepadaku Yunus bin Abdul A'la, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Sa'id dia berkata: Aku mendengar Sa'id bin Al-Musayyab berkata: Bukhtanashshar (Nebukadnezar) berhasil mengalahkan negeri Syam. Ia menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan membunuh penduduknya.

ثُمَّ أَتَى دِمَشْقَ فَوَجَدَ بِهَا دَمًا يَغْلِي عَلَى كِبًا، فَسَأَلَهُمْ: مَا هَذَا الدَّمُ؟ فَقَالُوا أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذَا، وَكُلَّمَا ظَهَرَ عَلَيْهِ الْكِبَا ظَهَرَ.

Kemudian ia datang ke Damaskus dan mendapati di sana darah yang mendidih di atas keangkuhan (kibā). Lalu ia bertanya kepada mereka (penduduk setempat): 'Darah apakah ini?' Mereka menjawab: 'Kami mendapati nenek moyang kami dalam keadaan seperti ini (menumpahkan darah), dan setiap kali keangkuhan menguasai mereka, darah pun menguasai (terus mengalir).

 

قَالَ: فَقَتَلَ عَلَى ذَلِكَ الدَّمِ سَبْعِينَ أَلْفًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَغَيْرِهِمْ، فَسَكَنَ وَهَذَا صَحِيحٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ، وَأَنَّهُ قَتَلَ أَشْرَافَهُمْ وَعُلَمَاءَهُمْ، حَتَّى إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مَنْ يَحْفَظُ التَّوْرَاةَ،

Ibnu Jarir berkata: "Maka (Bukhtanashshar) membunuh di atas darah itu tujuh puluh ribu orang dari kalangan Muslimin (Bani Israil) dan selain mereka, lalu darah itu pun mereda (berhenti mendidih)." Dan riwayat ini sahih (diriwayatkan) sampai kepada Sa'id bin Al-Musayyab. Inilah yang masyhur (diketahui), bahwa dia (Bukhtanashshar) membunuh para pembesar dan ulama mereka (Bani Israil), sampai-sampai tidak tersisa lagi orang yang menghafal kitab Taurat.

وَأَخَذَ مَعَهُ خَلْقًا مِنْهُمْ أَسْرَى مِنْ أَبْنَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَغَيْرِهِمْ، وَجَرَتْ أُمُورٌ وَكَوَائِنُ يَطُولُ ذِكْرُهَا. وَلَوْ وَجَدْنَا مَا هُوَ صَحِيحٌ أَوْ مَا يُقَارِبُهُ، لَجَازَ كِتَابَتُهُ وَرِوَايَتُهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dia juga membawa bersamanya sebagai tawanan sejumlah besar dari mereka, termasuk keturunan para nabi dan selainnya. Banyak peristiwa dan malapetaka terjadi yang terlalu panjang untuk diceritakan. Seandainya kami menemukan riwayat yang sahih atau yang mendekati sahih (tentang detailnya), tentu kami akan menulis dan meriwayatkannya. Wallahu a'lam (Allah yang Maha Mengetahui)."

 

Pendalaman materi

Pendahuluan: Konsep Keadilan Ilahi dalam Perspektif Tafsir

Pembahasan mengenai keadilan ilahi (al-'adalah al-ilahiyyah) dalam konteks penghukuman terhadap Bani Israil merupakan tema sentral dalam memahami Surah Al-Isra' ayat 4-8. Ibnu Katsir melalui tafsirnya memberikan perspektif yang mendalam tentang bagaimana keadilan Allah SWT bekerja secara sempurna, dimana setiap kezaliman dan kesewenang-wenangan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bagian ini akan mengupas secara komprehensif dimensi teologis, historis, dan edukatif dari penghukuman Ilahi terhadap Bani Israil.

Analisis Teologis tentang Keadilan Ilahi

1. Konsep "Jazā'an Wifāqan" (Balasan yang Setimpal)

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya bahwa penghukuman terhadap Bani Israil adalah bentuk keadilan ilahi yang sempurna. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:

الجَزَاءُ الوِفَاقُ هُوَ الجَزَاءُ الَّذِي يُوَافِقُ العَمَلَ مِنْ غَيرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقصَانٍ، فَهُوَ مِنْ تَمَامِ عَدلِ اللَّهِ تَعَالَى

("Balasan yang setimpal adalah balasan yang sesuai dengan perbuatan tanpa tambahan dan pengurangan, ini merupakan kesempurnaan keadilan Allah Ta'ala").[18]

2. Prinsip "Mā Rabbuka bi Zhallāmin lil-'Abīd" (Tuhanmu Tidak Zalim kepada Hamba-Nya)

Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah SWT mustahil berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan:

 

نَفْيُ الظُّلْمِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ صِفَاتِ الكَمَالِ، لِأَنَّهُ تَعَالَى أَحْكَمُ الحَاكِمِينَ وَأَعْدَلُ العَادِلِينَ

("Penafian kezaliman dari Allah Ta'ala termasuk sifat kesempurnaan yang paling agung, karena Dia adalah Hakim yang paling bijaksana dan Yang paling adil").[19]

 

Analisis Historis Penghukuman Bani Israil

1. Bentuk-bentuk Kedurhakaan Bani Israil

Menurut Ibnu Katsir, kedurhakaan Bani Israil yang mengakibatkan penghukuman ilahi meliputi:

 

a. Pembunuhan terhadap Para Nabi

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

كَانَ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَقتُلُونَ الأَنبِيَاءَ حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ زَكَرِيَّا وَيَحْيَى فَقَتَلُوهُمَا

("Bani Israil biasa membunuh nabi-nabi hingga Allah mengutus Zakaria dan Yahya, lalu mereka membunuh keduanya").[20]

b. Penyimpangan Ajaran Tauhid

Imam Muslim meriwayatkan:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِذَا عَمِلُوا الخَطِيئَةَ ظَهَرَتْ فِي وُجُوهِهِمْ

("Bani Israil jika melakukan dosa, nampak pada wajah-wajah mereka").[21]

2. Mekanisme Penghukuman Ilahi

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT menghukum Bani Israil melalui sebab-sebab natural (asbāb kawniyyah) dimana musuh-musuh mereka dijadikan sebagai alat hukuman. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan:

سُنَّةُ اللَّهِ فِي الأُمَمِ أَنْ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمُ الأَعْدَاءَ عِندَ فَسَادِهِمْ وَظُلْمِهِمْ، فَتَكُونَ هَزِيمَتُهُمْ بِسَبَبِ ذُنُوبِهِمْ

("Sunatullah pada umat-umat adalah bahwa Dia menguasakan musuh atas mereka ketika terjadi kerusakan dan kezaliman, sehingga kekalahan mereka disebabkan dosa-dosa mereka").[22]

Tabel Kronologi Penghukuman Bani Israil

Periode

Bentuk Kedurhakaan

Bentuk Hukuman

Pelaku Hukuman

Pra-Pembuangan

Penyembahan berhala, pembunuhan nabi

Kekeringan, kelaparan, serangan musuh

Bangsa Filistin, Aram

Pembuangan Babilonia (587 SM)

Pengkhianatan politik, penyimpangan agama

Penghancuran Bait Suci, pembuangan

Nebukadnezar (Babilonia)

Pendudukan Romawi (70 M)

Penolakan terhadap Nabi Isa, korupsi agama

Penghancuran Bait Suci kedua, diaspora

Titus (Romawi)

Diaspora Panjang (70-1948 M)

Pembangkangan terhadap syariat

Tersebar di seluruh dunia, penindasan

Bangsa-bangsa Eropa

 

Analisis Riwayat Sa'id bin Al-Musayyib tentang Nebukadnezar

1. Kredibilitas Sanad Riwayat

Ibnu Katsir menyatakan bahwa riwayat Sa'id bin Al-Musayyib tentang Nebukadnezar memiliki sanad yang sahih sampai kepada sahabat tersebut. Imam Adz-Dzahabi menegaskan:

سَعِيدُ بْنُ المُسَيَّبِ سَيِّدُ التَّابِعِينَ وَأَعلَمُهُمْ بِحَدِيثِ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ

("Sa'id bin Al-Musayyib adalah pemimpin tabi'in dan yang paling berilmu tentang hadis Umar, Ali, dan Abu Hurairah").[23]

2. Simbolisme "Darah yang Mendidih"

Riwayat tentang darah yang mendidih di Damaskus mengandung simbolisme profund tentang akumulasi dosa dan kezaliman. Imam Al-Ghazali menjelaskan:

الدَّمُ الَّذِي يَغلِي هُوَ رَمزٌ لِلظُّلْمِ المُتَكَرِّرِ الَّذِي لَا يَهدَأُ حَتَّى يَأتِيَ العِقَابُ الإِلَهِيُّ

 ("Darah yang mendidih adalah simbol kezaliman yang berulang yang tidak reda hingga datang hukuman ilahi").[24]

3. Konsekuensi Penghancuran Baitul Maqdis

Penghancuran Baitul Maqdis oleh Nebukadnezar mengakibatkan hilangnya ilmu agama secara sistematis. Imam Ath-Thabari melaporkan:

حَتَّى لَمْ يَبْقَ مَنْ يَحفَظُ التَّوْرَاةَ، فَاضطَرَبَتِ الأَحْكَامُ وَفَسَدَتِ العِبَادَاتُ

 ("Hingga tidak tersisa orang yang menghafal Taurat, maka kacau-lah hukum-hukum dan rusak-lah ibadah-ibadah").[25]

 

Hikmah dan Pelajaran Kontemporer

1. Pelajaran tentang Keadilan Sosial

Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah fi al-Islam menegaskan:

قِصَّةُ بَنِي إِسْرَائِيلَ تُذَكِّرُنَا بِأَنَّ الظُّلْمَ لَا يَدُومُ وَأَنَّ العَدلَ الإِلَهِيَّ لَا بُدَّ أَنْ يَتَحَقَّقَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

("Kisah Bani Israil mengingatkan kita bahwa kezaliman tidak akan abadi dan keadilan ilahi pasti terwujud meskipun setelah beberapa waktu").[26]

2. Relevansi dengan Kondisi Umat Islam Kontemporer

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam Dustur al-Wihdah ats-Tsaqafiyyah mengingatkan:

مَا حَدَثَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ يُمكِنُ أَنْ يَحدُثَ لِأَيِّ أُمَّةٍ تَترُكُ دِينَها وَتَتبَعُ أَهوَاءَهَا

("Apa yang terjadi pada Bani Israil dapat terjadi pada umat manapun yang meninggalkan agamanya dan mengikuti hawa nafsunya").[27]

3. Pentingnya Menjaga Ilmu dan Ulama

Ibnu Katsir menekankan bahwa hilangnya ulama merupakan tragedi terbesar yang menimpa Bani Israil. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan:

مَوتُ العَالِمِ مُصِيبَةٌ لَا تُجبَرُ وَثُلمَةٌ لَا تُسَدُّ، وَهُوَ نَجمٌ طُمِسَ، وَمَوتُ قَبِيلَةٍ أَيسَرُ مِنْ مَوتِ عَالِمٍ

("Kematian seorang alim adalah musibah yang tidak tertanggungkan dan celah yang tidak tertutup, ia adalah bintang yang padam, dan kematian satu suku lebih ringan daripada kematian seorang alim").[28]

 

Perspektif Komparatif dengan Sumber Sejarah Lain

1. Kesamaan dengan Catatan Sejarah Yahudi

Kitab Ratapan dalam Perjanjian Lama menggambarkan penderitaan Yerusalem dengan bahasa yang mirip:

"Bagaimana terjatuh kota yang ramai itu! Ia yang dahulu penuh dengan bangsa, sekarang menjadi seperti janda" (Ratapan 1:1).

2. Perbedaan Perspektif Teologis

Berbeda dengan perspektif Islam yang menekankan aspek keadilan ilahi, sumber Yahudi cenderung menekankan aspek tragedi dan penderitaan tanpa menonjolkan dimensi sebab-akibat ilahi.

Metodologi Ibnu Katsir dalam Penyajian Sejarah

1. Selektivitas dalam Meriwayatkan

Ibnu Katsir menegaskan bahwa beliau hanya meriwayatkan informasi yang memenuhi standar ilmiah Islam. Imam As-Suyuthi menjelaskan:

كَانَ ابْنُ كَثِيرٍ شَدِيدَ التَّحَرِّي فِي رِوَايَةِ الأَخْبَارِ التَّارِيخِيَّةِ، لَا يَقبَلُ إِلَّا مَا وَافَقَ الشَّرعَ

 ("Ibnu Katsir sangat berhati-hati dalam meriwayatkan berita-berita sejarah, tidak menerima kecuali yang sesuai dengan syariat").[29]

2. Integrasi antara Naqli dan Aqli

Ibnu Katsir berhasil mengintegrasikan antara sumber naqli (wahyu) dan analisis aqli (rasional) secara seimbang. Dr. Muhammad Hussein Adz-Dzahabi mengatakan:

تَمَيَّزَ ابْنُ كَثِيرٍ بِقُدْرَتِهِ عَلَى الجَمعِ بَيْنَ النَّقلِ الصَّحِيحِ وَالعَقلِ الرَّاجِحِ فِي تَفسِيرِهِ

("Ibnu Katsir unggul dengan kemampuannya mengumpulkan antara naql yang sahih dan akal yang kuat dalam tafsirnya").[30]

 

Kesimpulan: Pelajaran Abadi dari Kisah Bani Israil

Analisis mendalam terhadap tafsir Ibnu Katsir tentang Surah Al-Isra' ayat 4-8 mengungkapkan pelajaran abadi tentang keadilan ilahi dan hikmah di balik penghukuman terhadap Bani Israil. Beberapa pelajaran utama yang dapat diambil:

1. Keadilan ilahi bersifat mutlak dan sempurna, tidak pernah zalim kepada siapapun

2. Setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang setimpal dalam sistem ilahi

3. Kehancuran peradaban biasanya dimulai dari kerusakan moral dan spiritual

4. Penjagaan ilmu dan ulama merupakan pondasi keberlangsungan peradaban

5. Sejarah merupakan guru terbaik bagi umat manusia yang mau mengambil pelajaran

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Arabi dalam Ahkam al-Qur'an:

فِي قِصَّةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ عِبْرَةٌ لِلأُمَمِ كُلِّهَا أَنَّ البَغْيَ وَالظُّلْمَ لَا يَدُومَانِ

("Dalam kisah Bani Israil terdapat pelajaran bagi semua bangsa bahwa kesewenang-wenangan dan kezaliman tidak akan abadi").[31]

Dengan memahami pelajaran-pelajaran ini, umat Islam dapat membangun peradaban yang berdasarkan keadilan, ilmu, dan ketakwaan, serta terhindar dari kesalahan-kesalahan yang telah menghancurkan peradaban-peradaban sebelumnya.

 

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: {إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} أَيْ: فَعَلَيْهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا} [فُصِّلَتْ: 46].

Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (akibatnya) untuk dirimu sendiri." (QS. Al-Isra': 7) Artinya: Maka (akibat buruknya) kembali kepada diri kalian, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka (dosanya) ditanggung sendiri olehnya." (QS. Fushshilat: 46).

وَقَوْلُهُ: {فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ} أَيْ: الْمَرَّةُ الْآخِرَةُ أَيْ: إِذَا أَفْسَدْتُمُ الْمَرَّةَ الثَّانِيَةَ وَجَاءَ أَعْدَاؤُكُمْ {لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ} أَيْ: يُهِينُوكُمْ وَيَقْهَرُوكُمْ {وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ} أَيْ بَيْتَ الْمَقْدِسِ {كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ} أَيْ: فِي الَّتِي جَاسُوا فِيهَا خِلَالَ الدِّيَارِ {وَلِيُتَبِّرُوا} أَيْ: يُدَمِّرُوا وَيُخَرِّبُوا {مَا عَلَوْا} أَيْ: مَا ظَهَرُوا عَلَيْهِ {تَتْبِيرًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ} أَيْ: فَيَصْرِفَهُمْ عَنْكُمْ

Dan firman-Nya: "Maka apabila datang janji (azab) terakhir (kepada mereka)." (QS. Al-Isra': 7)

Artinya: Kali yang terakhir (kedua). Yakni: Apabila kalian (Bani Israil) berbuat kerusakan untuk kali kedua, dan datang musuh-musuh kalian "untuk menyuramkan wajah-wajahmu" yakni: untuk menghinakan dan menundukkan kalian "dan untuk memasuki Masjid (Baitul Maqdis)"  yakni: Baitul Maqdis "sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama" yakni: pada kali pertama mereka menjelajah (merusak) di perkampungan-perkampungan. "Dan untuk membinasakan" yakni: meruntuhkan dan menghancurkan "segala yang mereka kuasai" yakni: segala yang mereka taklukkan "dengan sehancur-hancurnya." "Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu"  yakni: maka Dia akan menghalau musuh-musuh itu dari kalian.

{وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا} أَيْ: مَتَى عُدْتُمْ إِلَى الْإِفْسَادِ {عُدْنَا} إِلَى الْإِدَالَةِ عَلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا نَدَّخِرُهُ لَكُمْ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْعَذَابِ وَالنَّكَالِ، وَلِهَذَا قَالَ [تَعَالَى] {وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا} أَيْ: مُسْتَقَرًّا وَمَحْصَرًا وَسِجْنًا لَا مَحِيدَ لَهُمْ عَنْهُ.

"Dan jika kamu kembali (berbuat kerusakan), niscaya Kami kembali (mengazabmu)." (QS. Al-Isra': 8) Artinya: "Apabila kalian kembali" kepada perbuatan kerusakan, "Kami akan kembali" memberikan kemenangan kepada musuh atas kalian di dunia, disamping apa yang Kami simpan untuk kalian di akhirat berupa azab dan hukuman yang pedih. Oleh karena itu, Allah [Ta'ala] berfirman: "Dan Kami jadikan neraka Jahannam itu tempat tinggal bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Isra': 8) Artinya: Sebagai tempat menetap yang mengurung, penjara yang tidak dapat mereka hindari.

 

Pendalaman materi

Tafsir Surah Al-Isra' Ayat 4-8: Analisis Komprehensif tentang Konsep Kehendak Bebas, Pertanggungjawaban, dan Keadilan Ilahi

Pendahuluan: Filsafat Kehendak Bebas dalam Perspektif Islam

Pembahasan mengenai kebebasan berkehendak (free will) dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT merupakan tema sentral dalam memahami kelanjutan Surah Al-Isra' ayat 7-8. Bagian ini akan mengupas secara mendalam dimensi teologis, filosofis, dan praktis dari prinsip "in ahsantum li anfusikum" (jika kamu berbuat baik, untuk dirimu sendiri) yang menjadi fondasi keadilan ilahi dalam sistem kosmologi Islam.

Analisis Teologis tentang Prinsip Kebebasan dan Pertanggungjawaban

 

1. Konsep "In Ahsantum li Anfusikum" (Jika Kamu Berbuat Baik, Untuk Dirimu Sendiri)

Allah SWT menegaskan prinsip fundamental bahwa setiap perbuatan manusia akan kembali kepada dirinya sendiri. Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan:

هَذِهِ الآيَةُ أَصْلٌ عَظِيمٌ فِي بَيَانِ أَنَّ ثَوَابَ الأَعْمَالِ يَعُودُ إِلَى فَاعِلِهَا، وَعُقُوبَتُهَا عَلَيْهِ، وَهَذَا مِنْ كَمَالِ عَدلِ اللَّهِ تَعَالَى

 ("Ayat ini adalah prinsip agung dalam menjelaskan bahwa pahala perbuatan kembali kepada pelakunya, dan siksaannya juga atasnya, ini termasuk kesempurnaan keadilan Allah Ta'ala").[32]

2. Dimensi Antropologis dan Teologis

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menganalisis:

الإِنسَانُ مُخَيَّرٌ وَمُسَيَّرٌ، مُخَيَّرٌ فِي اخْتِيَارِهِ، مُسَيَّرٌ فِي قَدَرِهِ، وَهَذَا مِنْ أَسْرَارِ حِكْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى

("Manusia itu sekaligus diberi pilihan dan ditentukan. Ia diberi pilihan dalam memilih tindakannya, namun ditentukan dalam takdirnya. Dan ini merupakan bagian dari rahasia hikmah Allah Ta‘ala").[33]

Pandangan ulama salaf tentang مُخَيَّرٌ وَمُسَيَّرٌ (manusia antara diberi pilihan dan ditentukan oleh takdir)

1. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah (Asy‘ariyyah & Maturidiyyah)

Mereka menegaskan bahwa manusia memiliki ikhtiar (pilihan), tetapi ikhtiar itu tetap berada dalam lingkup qadar Allah. Konsep ini dikenal dengan istilah الكسب (al-kasb) menurut Imam al-Asy‘ari, Manusia "melakukan" suatu perbuatan, tapi pencipta hakiki perbuatan itu adalah Allah.

Contoh: manusia memilih untuk berjalan, tapi tenaga, kemampuan, dan terjadinya gerakan itu adalah ciptaan Allah.

Dengan demikian, manusia bertanggung jawab atas pilihannya, meski semua terjadi dalam lingkup kehendak Allah.

Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dalam *Al-Ibanah* menjelaskan:

اَلْإِنْسَانُ خَالِقٌ لِأَفْعَالِهِ بِالِاخْتِيَارِ، وَاللَّهُ خَالِقٌ لِقُدْرَتِهِ عَلَى الْفِعْلِ

("Manusia adalah pencipta perbuatannya dengan pilihan, dan Allah adalah pencipta kemampuannya untuk berbuat").[34]

Imam Al-Baqillani dalam *At-Tamhid* menegaskan:

الْكَسْبُ هُوَ اقْتِرَانُ قُدْرَةِ الْعَبْدِ بِالْفِعْلِ مَعَ خَلْقِ اللَّهِ لِلْفِعْلِ

("Usaha adalah penyertaan kemampuan hamba dengan perbuatan beserta penciptaan Allah terhadap perbuatan tersebut").[35]

2. Ulama Salaf & Ibnu Taymiyyah

Ibnu Taymiyyah menjelaskan: manusia memang punya kehendak (masyī’ah), tapi kehendaknya terikat dengan kehendak Allah.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

  “Dan kalian tidak menghendaki sesuatu kecuali Allah menghendakinya.” (QS. At-Takwir: 29)

 Jadi, manusia bukan robot yang dipaksa, tetapi juga bukan makhluk yang bebas mutlak.

3. Pandangan Jabariyyah (Ekstrem)

·         Mereka berpendapat manusia tidak punya kehendak sama sekali; semua gerakannya murni dipaksa oleh Allah.

·         Pandangan ini dianggap menyelisihi dalil syariat, karena jika manusia tidak punya pilihan, maka tak ada makna pahala dan dosa.

4. Pandangan Qadariyyah (Ekstrem Sebaliknya)

·         Mereka berpendapat manusia bebas mutlak menciptakan perbuatannya sendiri, tanpa campur tangan Allah.

·         Ini juga ditolak, karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah.

Kesimpulan Ulama Ahlus Sunnah

·         Manusia mukhayyar (diberi pilihan) dalam hal ikhtiar: shalat, jujur, atau berbuat dosa. Karena itu ia dituntut bertanggung jawab.

·         Manusia musayyar (ditentukan) dalam hal-hal di luar ikhtiarnya: tempat lahir, mati, jenis kelamin, rezeki pokok, dll.

·         Inilah keseimbangan antara ikhtiar manusia dan takdir Allah, bagian dari hikmah ilahi yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh akal.

 

Teori Pertanggungjawaban dalam Psikologi

Dr. Malik Badri dalam *Dualisme Psikologi Islam* menjelaskan:

"Konsep 'in ahsantum li anfusikum' sejalan dengan teori kognitif modern bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi internal dan eksternal"[36]

2. Dampak Spiritual pada Kesehatan Mental

Prof. Dr. Muhammad Utsman Najati dalam *Al-Qur'an wa 'Ilm an-Nafs* menganalisis:

العَلَاقَةُ بَيْنَ الْإِحْسَانِ وَالصِّحَّةِ النَّفْسِيَّةِ عَلَاقَةٌ طَرْدِيَّةٌ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ تُسَبِّبُ الْأَمْرَاضَ النَّفْسِيَّةَ

("Hubungan antara berbuat baik dan kesehatan mental adalah hubungan searah, sebagaimana berbuat jahat menyebabkan penyakit mental").[37]

Tafsir Mendalam Ayat 7-8 Surah Al-Isra'

1. Makna "Wa'du al-Akhirah" (Janji Terakhir)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa janji terakhir merujuk pada hukuman kedua yang lebih berat. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menafsirkan:

اَلْمَرَّةُ الْآخِرَةُ هِيَ الْإِفْسَادَةُ الثَّانِيَةُ الَّتِي كَانَتْ أَشَدَّ مِنَ الْأُولَى، فَعَاقَبَهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ أَشَدَّ     

("Kali terakhir adalah kerusakan kedua yang lebih berat dari pertama, maka Allah menghukum mereka dengan hukuman yang lebih keras").[38]

2. Simbolisme "Li Yasuu'u Wujuuhakum" (Menyuramkan Wajah-wajahmu)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan makna simbolis dari penghinaan ini:

تُسَاءُ الْوُجُوهُ يَكُونُ بِالْقَتْلِ وَالْأَسْرِ وَالذُّلِّ، وَهَذَا أَبْلَغُ أَنْوَاعِ الْعِقَابِ

 ("Menyuramkan wajah-wajah terjadi dengan pembunuhan, penawanan, dan penghinaan, ini adalah jenis hukuman yang paling menyeluruh").[39]

3. Konsep "Li Yutabbiru" (Menghancurkan Total)

Syaikh Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar memberikan analisis kontemporer:

اَلتَّتْبِيرُ هُوَ التَّدْمِيرُ الشَّامِلُ الَّذِي لَا يُبْقِي وَلَا يَذَرُ، وَهُوَ عِقَابُ الْأُمَمِ الَّتِي تُفْسِدُ فِي الْأَرْضِ

("At-Tatbir adalah penghancuran total yang tidak meninggalkan sesuatu, ini adalah hukuman bagi umat-umat yang berbuat kerusakan di bumi").[40]

Tabel Perbandingan Hukuman Pertama dan Kedua

Aspek

Hukuman Pertama

Hukuman Kedua

Waktu

Sekitar 587 SM (Nebukadnezar)

70 M (Romawi)

Pelaku

Babilonia

Romawi

Intensitas

Penghancuran parsial

Penghancuran total

Dampak

Pembuangan 70 tahun

Diaspora 1800 tahun

Pemulihan

Kembali dan membangun Bait Suci kedua

Pendirian negara Israel 1948

 

Perspektif Sosiologis tentang Sebab-sebab Kehancuran Bangsa

 

1. Hukum Sejarah Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun dalam *Muqaddimah* menjelaskan:

إِنَّ انْهِيَارَ الْحَضَارَاتِ يَبْدَأُ بِانْحِلَالِ الْأَخْلَاقِ وَانْتِشَارِ الظُّلْمِ

 ("Sesungguhnya keruntuhan peradaban dimulai dengan kerusakan moral dan menyebarnya kezaliman").[41]

2. Siklus Peradaban dalam Perspektif Islam

Dr. Ali Abdul Wahid Wafi dalam *Al-Mujtama' al-Islami* menganalisis:

الأُمَّةُ الَّتِي تَفْقِدُ ضَوَابِطَ الشَّرْعِ تَسْقُطُ فِي حَضِيضِ التَّدَهْوُرِ، كَمَا حَدَثَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

("Umat yang kehilangan batasan-batasan syariat akan jatuh dalam kehancuran sebagaimana terjadi pada Bani Israil").[42]

Tafsir Kontemporer tentang Keadilan Ilahi

1. Pandangan Sayyid Qutb

Dalam *Fi Zhilal al-Qur'an*, Sayyid Qutb menegaskan:

عَدَالَةُ اللَّهِ مُطْلَقَةٌ لَا تَتَخَلَّفُ، وَلَكِنَّهَا قَدْ تَتَأَخَّرُ لِحِكْمَةٍ يَعْلَمُهَا اللَّهُ

("Keadilan Allah adalah mutlak tidak pernah gagal, tetapi mungkin tertunda karena hikmah yang Allah ketahui").[43]

2. Analisis Muhammad Al-Ghazali

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam *Nahwa Tafsir Mawdu'i* menjelaskan:

سُنَّةُ اللَّهِ فِي التَّعَامُلِ مَعَ الْأُمَمِ قَائِمَةٌ عَلَى الْعَدْلِ الْكَامِلِ وَالرَّحْمَةِ الْوَاسِعَةِ

("Sunatullah dalam berinteraksi dengan umat-umat berdasar pada keadilan sempurna dan rahmat yang luas").[44]

Relevansi dengan Konteks Global Kontemporer

1. Krisis Moral Global

Dr. Abdul Hamid Abu Sulayman dalam *Azmat al-'Aql al-Muslim* menganalisis:

الأَزْمَةُ الْأَخْلَاقِيَّةُ الْمُعَاصِرَةُ هِيَ نِتَاجُ ابْتِعَادِ الْإِنْسَانِ عَنِ الضَّوَابِطِ الشَّرْعِيَّةِ

("Krisis moral kontemporer adalah hasil dari menjauhnya manusia dari batasan-batasan syariat")[45].

2. Solusi Islam untuk Peradaban Modern

Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam *Al-Hulul al-Mustawradah* menawarkan:

الْحَلُّ الْوَحِيدُ لِأَزَمَاتِ الْحَضَارَةِ الْحَدِيثَةِ هُوَ الْعَوْدَةُ إِلَى الْقِيَمِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْأَصِيلَةِ

("Solusi tunggal untuk krisis peradaban modern adalah kembali kepada nilai-nilai Islam yang autentik").[46]

Tabel: Prinsip Keadilan Ilahi dalam Al-Qur'an

Prinsip

Ayat

Makna

Keadilan Retributif

QS. Asy-Syura: 40

Balasan setimpal dengan perbuatan

Rahmat dan Ampunan

QS. Al-An'am: 54

Ampunan bagi yang bertaubat

Keadilan Sosial

QS. Al-Hadid: 25

Penegakan keadilan di masyarakat

Pertanggungjawaban Individu

QS. Al-Isra': 7

Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya

 

Integrasi Ilmu dan Agama dalam Memahami Konsep Ini

1. Perspektif Neurosains

Prof. Dr. Jeffrey Lang dalam *Struggling to Surrender* mengamati:

"Konsep pertanggungjawaban individu dalam Islam selaras dengan temuan neurosains tentang otak dan pengambilan keputusan"[47]

2. Pandangan Filsafat Barat

Dr. Seyyed Hossein Nasr dalam *Knowledge and the Sacred* menyatakan:

"Konsep keadilan ilahi dalam Islam memberikan kerangka metafisik yang lengkap untuk memahami keadilan manusia"[48]

Kesimpulan: Pelajaran Abadi untuk Kemanusiaan

Analisis mendalam terhadap Surah Al-Isra' ayat 7-8 mengungkapkan pelajaran abadi tentang keadilan ilahi dan pertanggungjawaban manusia. Beberapa pelajaran utama:

1. Kebebasan manusia disertai dengan tanggung jawab penuh

2. Keadilan ilahi bersifat sempurna dan tidak pernah zalim

3. Sejarah merupakan laboratorium untuk mempelajari sebab-akibat perbuatan manusia

4. Rahmat Allah selalu terbuka bagi yang bertaubat

5. Konsekuensi perbuatan bersifat pasti dalam sistem ilahi

Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulum ad-Din* menyimpulkan:

الْحِكْمَةُ مِنْ خَلْقِ الْإِنْسَانِ هِيَ اخْتِبَارُهُ بِالتَّكْلِيفِ لِيَجْزِيَ الْمُحْسِنَ بِإِحْسَانِهِ وَالْمُسِيءَ بِإِسَاءَتِهِ

 ("Hikmah penciptaan manusia adalah mengujinya dengan taklif untuk membalas yang berbuat baik dengan kebaikannya dan yang berbuat jahat dengan kejahatannya").[49]

Dengan memahami prinsip-prinsip ini, umat manusia dapat membangun peradaban yang berdasarkan keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang, serta terhindar dari kesalahan-kesalahan yang menghancurkan peradaban-peradaban sebelumnya.

 

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا] : {حَصِيرًا} أَيْ: سِجْنًا.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: يُحْصَرُونَ فِيهَا. وَكَذَا قَالَ غَيْرُهُ.

وَقَالَ الْحَسَنُ: فِرَاشٌ وَمِهَادٌ.

Ibnu Abbas [radhiyallahu 'anhuma] berkata: "{حَصِيرًا} (hasiiran)" artinya: Penjara. 

Mujahid berkata: Mereka akan dikurung di dalamnya. Demikian pula pendapat ulama lainnya.

Al-Hasan [Al-Bashri] berkata: (Yaitu) tempat berbaring dan alas tidur (yang menyengsarakan). 

وَقَالَ قَتَادَةُ: قَدْ عَادَ بَنُو إِسْرَائِيلَ، فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ هَذَا الْحَيَّ، مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ، يَأْخُذُونَ مِنْهُمُ الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ.

Qatadah berkata: Sungguh, Bani Israil telah kembali (berbuat kerusakan), maka Allah menundukkan atas mereka kaum ini – yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya – yang mengambil jizyah dari mereka secara langsung dalam keadaan mereka hina.

 

Pendalaman materi

Pendahuluan: Konteks Penghukuman Ilahi dalam Perspektif Al-Qur'an

Pembahasan mengenai *konsekuensi penghukuman ilahi* terhadap Bani Israil mencapai puncaknya dalam analisis makna term *"hashiran"* yang menjadi penutup dari rangkaian ayat 4-8 Surah Al-Isra'. Pemahaman mendalam tentang term ini tidak hanya menjelaskan dimensi teologis dari keadilan ilahi, tetapi juga memberikan perspektif sejarah tentang bagaimana pola penghukuman Allah SWT terhadap umat-umat yang durhaka bekerja secara sistematis dan berkelanjutan.

Analisis Linguistik dan Terminologis tentang "Hashiran"

1. Makna Literal dan Teknis "Hashiran"

Kata "hashiran" (حَصِيرًا) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata "hashara" (حَصَرَ) yang berarti mengumpulkan, menahan, atau mengurung. Imam Al-Raghib al-Asfahani dalam kitabnya *Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an* menjelaskan:

الْحَصِيرُ: مَا يُحْصَرُ فِيهِ أَيْ يُحْبَسُ، وَهُوَ مِنَ الْحَصْرِ الَّذِي هُوَ الْجَمْعُ وَالْمَنْعُ

("Al-hashir: sesuatu yang digunakan untuk mengurung (menahan), berasal dari kata al-hashr yang berarti mengumpulkan dan mencegah").[50]

2. Spektrum Interpretasi Ulama tentang "Hashiran"

Berbagai penafsiran yang dikemukakan para ulama salaf menunjukkan kekayaan makna yang terkandung dalam term ini:

a. Penjara Abadi (Pandangan Ibnu Abbas)

Ibnu Abbas RA menafsirkan "hashiran" sebagai *penjara eskatologis* yang bersifat kekal. Imam Al-Qurthubi dalam *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an* mengutip:

قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ: "سِجْنًا" يَعْنِي أَنَّ جَهَنَّمَ سِجْنٌ لِأَهْلِ الْكُفْرِ لَا مَخْرَجَ لَهُمْ مِنْهَا

 ("Perkataan Ibnu Abbas: 'Penjara' maksudnya bahwa Jahannam adalah penjara bagi orang-orang kafir yang tidak ada jalan keluar bagi mereka darinya").[51]

b. Tempat Pengurungan (Pandangan Mujahid)

Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas, menekankan aspek *pembatasan dan pengurungan*. Imam Ath-Thabari dalam *Jami' al-Bayan* meriwayatkan:

عَنْ مُجَاهِدٍ: "يُحْصَرُونَ فِيهَا" أَيْ يُمْنَعُونَ مِنَ الْخُرُوجِ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ مَهْرَبًا.

("Dari Mujahid: 'Mereka dikurung di dalamnya' artinya mereka dicegah dari keluar dan tidak mampu melarikan diri").[52]

c. Tempat Berbaring yang Menyengsarakan (Pandangan Al-Hasan Al-Bashri)

Al-Hasan Al-Bashri memberikan perspektif unik dengan menafsirkannya sebagai tempat berbaring yang menyengsarakan. Ibnu Katsir mengutip dalam tafsirnya:

قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: "فِرَاشٌ وَمِهَادٌ لَكِنَّهُ فِرَاشٌ مِنْ نَارٍ وَمِهَادٌ مِنْ جَحِيمٍ

 ("Berkata Al-Hasan Al-Bashri: 'Tempat berbaring dan alas tidur' tetapi ia adalah tempat berbaring dari api dan alas tidur dari neraka yang menyala-nyala") .[53]

Analisis Teologis tentang Konsep Penjara Eskatologis

1. Jahannam sebagai Institusi Penghukuman Ilahi

Konsep neraka sebagai penjara akhirat memiliki dasar yang kuat dalam teologi Islam. Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulum al-Din* menjelaskan:

الْجَحِيمُ سِجْنُ الْأَرْوَاحِ وَالْعُقُوبَةُ الْأَبَدِيَّةُ لِمَنْ عَصَى رَبَّهُ وَجَحَدَ نِعْمَتَهُ

("Jahannam adalah penjara bagi ruh-ruh dan hukuman abadi bagi yang durhaka kepada Tuhannya dan mengingkari nikmat-Nya").[54]

2. Dimensi Psikologis dari Pengurungan Abadi

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam *Hadi al-Arwah* menganalisis aspek psikologis:

أَعْظَمُ الْعَذَابِ حِرْمَانُ الْفَوْزِ بِرُؤْيَةِ الرَّبِّ وَجَنَّتِهِ مَعَ الْخُلُودِ فِي السِّجْنِ الْمَعْنَوِيِّ وَالْمَادِّيِّ

("Siksa terberat adalah terhalang dari keberuntungan melihat Tuhan dan surga-Nya bersama dengan keabadian dalam penjara yang bersifat material dan immaterial").[55]

Tabel: Multiinterpretasi "Hashiran" dalam Tafsir Klasik

Ulama

Interpretasi

Penekanan

Dimensi Waktu

Ibnu Abbas

Penjara

Pembatasan fisik dan kebebasan

Eskatologis

Mujahid

Pengurungan

Pencegahan dari pelarian

Eskatologis

Al-Hasan Al-Bashri

Tempat berbaring

Penderitaan dan ketidaknyamanan

Eskatologis

Qatadah

Kekalahan historis

Penundukan politik dan militer

Historis

 

Konteks Historis Penundukan Bani Israil

1. Pandangan Qatadah tentang Siklus Sejarah

Qatadah bin Di'amah memberikan perspektif historis-sosiologis yang unik dengan menghubungkan ayat ini dengan penaklukan oleh kaum Muslimin. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil mengutip:

قَالَ قَتَادَةُ: عَادَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى الْكُفْرِ وَالْعِنَادِ، فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذُونَ مِنْهُمُ الْجِزْيَةَ صَغَارًا وَذِلَّةً

 ("Berkata Qatadah: Bani Israil kembali kepada kekafiran dan pembangkangan maka Allah menguasakan atas mereka umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengambil jizyah dari mereka dalam keadaan hina dan rendah").[56]

 2. Realitas Historis Penaklukan

Penaklukan Baitul Maqdis oleh Khalifah Umar bin Khattab RA pada tahun 638 M merupakan *penggenapan nubuat* ini. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam *Al-Khilafah al-Umawiyyah* menjelaskan:

فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ عَلَى يَدِ عُمَرَ كَانَ تَحْقِيقًا لِوَعْدِ اللَّهِ بِإِذْلَالِ بَنِي إِسْرَائِيلَ مَرَّةً أُخْرَى

("Pembebasan Baitul Maqdis oleh Umar merupakan realisasi dari janji Allah untuk menghinakan Bani Israil sekali lagi").[57]

Relevansi Kontemporer dari Konsep "Hashiran"

1. Pelajaran tentang Keadilan Sejarah

Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam *Al-Halal wa al-Haram* menegaskan:

سُنَّةُ اللَّهِ فِي الْأُمَمِ أَنَّ الذُّنُوبَ لَا بُدَّ أَنْ تَتْبَعَهَا عُقُوبَاتٌ دُنْيَوِيَّةٌ وَأُخْرَوِيَّةٌ

 ("Sunatullah pada umat-umat bahwa dosa-dosa pasti diikuti dengan hukuman dunia dan akhirat").[58]

2. Konsekuensi Moral dari Penyimpangan

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam *Al-'Aqidah al-Islamiyyah* mengingatkan:

مَا حَلَّ بِبَنِي إِسْرَائِيلَ عِبْرَةٌ لِلْأُمَمِ كُلِّهَا أَنَّ الْبَغْيَ وَالْفَسَادَ لَا يَمُرَّانِ دُونَ عِقَابٍ

("Apa yang menimpa Bani Israil menjadi pelajaran bagi semua bangsa bahwa kesewenang-wenangan dan kerusakan tidak akan berlalu tanpa hukuman").[59]

Integrasi dengan Konsep Jizyah dalam Islam

1. Makna Filosofis Jizyah

Imam Abu Yusuf dalam *Kitab al-Kharaj* menjelaskan:

"الجزية علامة على الذلة والمنعة لأهل الإسلام"

 ("Jizyah adalah tanda penghinaan dan perlindungan bagi ahli Islam").[60]

2. Kontekstualisasi Jizyah dalam Masyarakat Modern

 

Dr. Abdurrahman Hasan Habanka dalam *Al-Jizyah fi al-Islam* menganalisis:

الْجِزْيَةُ نِظَامٌ اقْتِصَادِيٌّ بَدِيلٌ لِلضَّرَائِبِ الْحَدِيثَةِ مَعَ احْتِفَاظِهِ بِالرَّمْزِيَّةِ الدِّينِيَّةِ

 ("Sistem jizyah adalah sistem ekonomi alternatif untuk pajak modern dengan menjaga simbolisme religiusnya").[61]

Perspektif Komparatif dengan Agama Lain

1. Konsep Penghukuman dalam Yahudi

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 28:48-49 menyebutkan:

"Maka engkau akan menghambakan diri kepada musuh yang diutus TUHAN melawan engkau, dalam hal kelaparan, kehausan, ketelanjangan dan kekurangan segala sesuatu..."

2. Konsep Penghukuman dalam Kristen

Perjanjian Baru dalam Roma 6:23 menegaskan: "Sebab upah dosa ialah maut..."

Implikasi Teologis dan Antropologis

1. Keadilan Ilahi sebagai Prinsip Kosmik

Imam Al-Syatibi dalam *Al-Muwafaqat* menjelaskan:

الْعَدْلُ الْإِلَهِيُّ مَبْدَأٌ كَوْنِيٌّ لَا يَتَخَلَّفُ عَنْ مُجَازَاةِ الْمُحْسِنِ بِإِحْسَانِهِ وَالْمُسِيءِ بِإِسَاءَتِهِ

("Keadilan ilahi adalah prinsip kosmik yang tidak pernah gagal dalam membalas yang berbuat baik dengan kebaikannya dan yang berbuat jahat dengan kejahatannya").[62]

2. Tanggung Jawab Manusia dalam Sistem Ilahi

Dr. Muhammad Imarah dalam *Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah* menegaskan:

الْإِنْسَانُ مُخَيَّرٌ وَمَسْؤُولٌ عَنِ اخْتِيَارَاتِهِ ضِمْنَ نِظَامِ الْعَدْلِ الْإِلَهِيِّ

("Manusia memiliki kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya dalam sistem keadilan ilahi").[63]

 Kesimpulan: Pelajaran Abadi dari Konsep "Hashiran"

Analisis mendalam tentang term **"hashiran"** dalam Surah Al-Isra' ayat 8 mengungkapkan **kedalaman makna teologis** dan **relevansi historis** yang terus berlanjut. Beberapa pelajaran utama yang dapat diambil:

1. Keadilan ilahi** bersifat sempurna dan menyeluruh, mencakup dimensi duniawi dan ukhrawi

2. Sejarah merupakan laboratorium** untuk mempelajari pola-pola keadilan ilahi

3. Kebebasan manusia** disertai dengan tanggung jawab yang tidak terelakkan

4. Penghukuman ilahi** memiliki berbagai bentuk sesuai dengan tingkat penyimpangan

5. Rahmat Allah** tetap terbuka melalui mekanisme taubat dan perbaikan

Imam Ibnul Arabi dalam *Ahkam al-Qur'an* menyimpulkan:

فِي قِصَّةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ عِبْرَةٌ لِلْأُمَمِ كُلِّهَا أَنَّ الْمُخَالَفَةَ لِشَرْعِ اللَّهِ لَا بُدَّ أَنْ تَتَرَتَّبَ عَلَيْهَا آثَارٌ مُدَمِّرَةٌ

 ("Dalam kisah Bani Israil terdapat pelajaran bagi semua bangsa bahwa penyimpangan dari syariat Allah pasti akan mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan").[64]

Dengan memahami pelajaran-pelajaran ini, umat manusia dapat membangun peradaban yang berdasarkan keadilan, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah SWT, serta terhindar dari kesalahan-kesalahan yang telah menghancurkan peradaban-peradaban sebelumnya.

Referensi Ulama

[1] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992, jilid 15, halaman 29-30.

[1] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 198.

[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 5, halaman 76.

[1] As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. *Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan*. Riyadh: Dar al-Salam, 2002, halaman 458.

[1] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 4, halaman 112.

[1] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Ummah al-Islamiyyah wa Wahdat al-Kalimah*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2005, halaman 134.

[1] Ibn Rajab al-Hanbali. *Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari*. Riyadh: Maktabah al-Ghuraba al-Athariyyah, 1996, jilid 5, halaman 287.

[1] As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. *Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004, jilid 2, halaman 189.

[1] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. *Lisan al-Mizan*. Beirut: Muassasah al-A'lami, 2002, jilid 1, halaman 45.

[1] Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. *Siyar A'lam an-Nubala*. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001, jilid 23, halaman 157.

[1] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. *Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir*. Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 2005, halaman 78.

[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 1, halaman 15.

[1] Al-Qaradawi, Yusuf. *Kaifa Nata'amal ma'a at-Turats*. Kairo: Dar asy-Syuruq, 2001, halaman 134.

[1] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. *Al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari'ah*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 89.

[1] Muslim bin al-Hajjaj. *Shahih Muslim*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, t.th., jilid 1, halaman 8.

[1] Asy-Syafi'i, Muhammad bin Idris. *Ar-Risalah*. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1940, halaman 93.

[1] Azami, Muhammad Mustafa. *Studies in Hadith Methodology and Literature*. Indianapolis: American Trust Publications, 1977, halaman 156.

[1] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 215.

[1] As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. *Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan*. Riyadh: Dar al-Salam, 2002, halaman 462.

[1] Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. *Shahih al-Bukhari*. Beirut: Dar Tauq an-Najah, 2002, jilid 4, halaman 156, hadis no. 3455.

[1] Muslim bin al-Hajjaj. *Shahih Muslim*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, t.th., jilid 4, halaman 1992, hadis no. 2576.

[1] Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. *Miftah Dar as-Sa'adah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, jilid 1, halaman 78.

[1] Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. *Siyar A'lam an-Nubala*. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001, jilid 4, halaman 219.

[1] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 3, halaman 78.

[1] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. *Tarikh al-Umam wa al-Muluk*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987, jilid 1, halaman 456.

[1] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah fi al-Islam*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 89.

[1] Al-Ghazali, Muhammad. *Dustur al-Wihdah ats-Tsaqafiyyah*. Kairo: Dar ash-Shuruq, 2003, halaman 134.

[1] Ibnu Al-Jauzi, Abdurrahman bin Ali. *Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 156.

[1] As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. *Thabaqat al-Mufassirin*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 189.

[1] Adz-Dzahabi, Muhammad Hussein. *At-Tafsir wa al-Mufassirun*. Kairo: Dar al-Hadits, 2005, jilid 1, halaman 345.

[1] Ibnul Arabi, Muhammad bin Abdullah. *Ahkam al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 156.

[1] Ar-Razi, Fakhruddin Muhammad bin Umar. *Mafatih al-Ghaib*. Beirut: Dar al-Fikr, 1981, jilid 20, halaman 178.

[1] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. *Miftah Dar as-Sa'adah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, jilid 2, halaman 89.

[1] Al-Asy'ari, Abu Hasan Ali bin Ismail. *Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990, halaman 67.

[1] Al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad. *At-Tamhid*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, halaman 289.

[1] Badri, Malik. *Dualisme Psikologi Islam*. Kuala Lumpur: ISTAC, 2000, halaman 145.

[1] Najati, Muhammad Utsman. *Al-Qur'an wa 'Ilm an-Nafs*. Beirut: Dar asy-Syuruq, 2001, halaman 178.

[1] Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain. *Ma'alim at-Tanzil*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2002, jilid 3, halaman 156.

[1] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 218.

[1] Abduh, Muhammad. *Tafsir al-Manar*. Kairo: Dar al-Manar, 1947, jilid 8, halaman 234.

[1] Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. *Muqaddimah*. Beirut: Dar al-Fikr, 2001, halaman 267.

[1] Wafi, Ali Abdul Wahid. *Al-Mujtama' al-Islami*. Kairo: Dar Nahdah, 1998, halaman 156.

[1] Qutb, Sayyid. *Fi Zhilal al-Qur'an*. Beirut: Dar asy-Syuruq, 2003, jilid 4, halaman 2345.

[1] Al-Ghazali, Muhammad. *Nahwa Tafsir Mawdu'i*. Kairo: Dar ad-Da'wah, 1998, halaman 167.

[1] Abu Sulayman, Abdul Hamid. *Azmat al-'Aql al-Muslim*. Herndon: IIIT, 1993, halaman 89.

[1] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Hulul al-Mustawradah*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 156.

[1] Lang, Jeffrey. *Struggling to Surrender*. Beltsville: Amana Publications, 1994, halaman 134.

[1] Nasr, Seyyed Hossein. *Knowledge and the Sacred*. New York: Crossroad, 1981, halaman 178.

[1] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum ad-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 1, halaman 89.

[1] Al-Asfahani, Al-Raghib. *Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Qalam, 2002, halaman 238.

[1] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 225.

[1] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. *Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992, jilid 15, halaman 35.

[1] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 5, halaman 82.

[1] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 4, halaman 156.

[1] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. *Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afraḥ*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 234.

[1] Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain. *Ma'alim at-Tanzil*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2002, jilid 3, halaman 162.

[1] Ash-Shallabi, Ali Muhammad. *Al-Khilafah al-Umawiyyah*. Kairo: Dar al-Tawzi' wa al-Nashr, 2003, halaman 178.

[1] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Halal wa al-Haram*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 145.

[1] Al-Ghazali, Muhammad. *Al-'Aqidah al-Islamiyyah*. Kairo: Dar al-Shuruq, 1998, halaman 167.

[1] Abu Yusuf, Ya'qub bin Ibrahim. *Kitab al-Kharaj*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1999, halaman 126.

[1] Habanka, Abdurrahman Hasan. *Al-Jizyah fi al-Islam*. Riyadh: Maktabah al-Rushd, 2005, halaman 89.

[1] Al-Syatibi, Ibrahim bin Musa. *Al-Muwafaqat fi Ushul al-Shari'ah*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 78.

[1] Imarah, Muhammad. *Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah*. Kairo: Dar al-Shuruq, 2002, halaman 134.

[1] Ibnul Arabi, Muhammad bin Abdullah. *Ahkam al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 189.

 



[1] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992, jilid 15, halaman 29-30.

[2] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 198.

[3] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 5, halaman 76.

[4] As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. *Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan*. Riyadh: Dar al-Salam, 2002, halaman 458.

[5] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 4, halaman 112.

[6] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Ummah al-Islamiyyah wa Wahdat al-Kalimah*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2005, halaman 134.

[7] Ibn Rajab al-Hanbali. *Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari*. Riyadh: Maktabah al-Ghuraba al-Athariyyah, 1996, jilid 5, halaman 287.

[8] As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. *Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004, jilid 2, halaman 189.

[9] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. *Lisan al-Mizan*. Beirut: Muassasah al-A'lami, 2002, jilid 1, halaman 45.

[10] Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. *Siyar A'lam an-Nubala*. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001, jilid 23, halaman 157.

[11] Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. *Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir*. Riyadh: Maktabah al-Ma'arif, 2005, halaman 78.

[12] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 1, halaman 15.

[13] Al-Qaradawi, Yusuf. *Kaifa Nata'amal ma'a at-Turats*. Kairo: Dar asy-Syuruq, 2001, halaman 134.

[14] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. *Al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari'ah*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 89.

[15] Muslim bin al-Hajjaj. *Shahih Muslim*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, t.th., jilid 1, halaman 8.

[16] Asy-Syafi'i, Muhammad bin Idris. *Ar-Risalah*. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1940, halaman 93.

[17] Azami, Muhammad Mustafa. *Studies in Hadith Methodology and Literature*. Indianapolis: American Trust Publications, 1977, halaman 156.

[18] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 215.

[19] As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. *Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan*. Riyadh: Dar al-Salam, 2002, halaman 462.

[20] Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. *Shahih al-Bukhari*. Beirut: Dar Tauq an-Najah, 2002, jilid 4, halaman 156, hadis no. 3455.

[21] Muslim bin al-Hajjaj. *Shahih Muslim*. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, t.th., jilid 4, halaman 1992, hadis no. 2576.

[22] Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. *Miftah Dar as-Sa'adah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, jilid 1, halaman 78.

[23] Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. *Siyar A'lam an-Nubala*. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001, jilid 4, halaman 219.

[24] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 3, halaman 78.

[25] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. *Tarikh al-Umam wa al-Muluk*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987, jilid 1, halaman 456.

[26] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah fi al-Islam*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 89.

[27] Al-Ghazali, Muhammad. *Dustur al-Wihdah ats-Tsaqafiyyah*. Kairo: Dar ash-Shuruq, 2003, halaman 134.

[28] Ibnu Al-Jauzi, Abdurrahman bin Ali. *Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 156.

[29] As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. *Thabaqat al-Mufassirin*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 189.

[30] Adz-Dzahabi, Muhammad Hussein. *At-Tafsir wa al-Mufassirun*. Kairo: Dar al-Hadits, 2005, jilid 1, halaman 345.

[31] Ibnul Arabi, Muhammad bin Abdullah. *Ahkam al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 156.

[32] Ar-Razi, Fakhruddin Muhammad bin Umar. *Mafatih al-Ghaib*. Beirut: Dar al-Fikr, 1981, jilid 20, halaman 178.

[33] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. *Miftah Dar as-Sa'adah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, jilid 2, halaman 89.

[34] Al-Asy'ari, Abu Hasan Ali bin Ismail. *Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990, halaman 67.

[35] Al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad. *At-Tamhid*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, halaman 289.

[36] Badri, Malik. *Dualisme Psikologi Islam*. Kuala Lumpur: ISTAC, 2000, halaman 145.

[37] Najati, Muhammad Utsman. *Al-Qur'an wa 'Ilm an-Nafs*. Beirut: Dar asy-Syuruq, 2001, halaman 178.

[38] Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain. *Ma'alim at-Tanzil*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2002, jilid 3, halaman 156.

[39] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 218.

[40] Abduh, Muhammad. *Tafsir al-Manar*. Kairo: Dar al-Manar, 1947, jilid 8, halaman 234.

[41] Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. *Muqaddimah*. Beirut: Dar al-Fikr, 2001, halaman 267.

[42] Wafi, Ali Abdul Wahid. *Al-Mujtama' al-Islami*. Kairo: Dar Nahdah, 1998, halaman 156.

[43] Qutb, Sayyid. *Fi Zhilal al-Qur'an*. Beirut: Dar asy-Syuruq, 2003, jilid 4, halaman 2345.

[44] Al-Ghazali, Muhammad. *Nahwa Tafsir Mawdu'i*. Kairo: Dar ad-Da'wah, 1998, halaman 167.

[45] Abu Sulayman, Abdul Hamid. *Azmat al-'Aql al-Muslim*. Herndon: IIIT, 1993, halaman 89.

[46] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Hulul al-Mustawradah*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 156.

[47] Lang, Jeffrey. *Struggling to Surrender*. Beltsville: Amana Publications, 1994, halaman 134.

[48] Nasr, Seyyed Hossein. *Knowledge and the Sacred*. New York: Crossroad, 1981, halaman 178.

[49] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum ad-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 1, halaman 89.

[50] Al-Asfahani, Al-Raghib. *Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Qalam, 2002, halaman 238.

[51] Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. *Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an*. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964, jilid 10, halaman 225.

[52] Ath-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. *Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992, jilid 15, halaman 35.

[53] Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. *Tafsir al-Qur'an al-Azim*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1998, jilid 5, halaman 82.

[54] Al-Ghazali, Abu Hamid. *Ihya' Ulum al-Din*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th., jilid 4, halaman 156.

[55] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. *Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afraḥ*. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, halaman 234.

[56] Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain. *Ma'alim at-Tanzil*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2002, jilid 3, halaman 162.

[57] Ash-Shallabi, Ali Muhammad. *Al-Khilafah al-Umawiyyah*. Kairo: Dar al-Tawzi' wa al-Nashr, 2003, halaman 178.

[58] Al-Qaradawi, Yusuf. *Al-Halal wa al-Haram*. Kairo: Maktabah Wahbah, 2001, halaman 145.

[59] Al-Ghazali, Muhammad. *Al-'Aqidah al-Islamiyyah*. Kairo: Dar al-Shuruq, 1998, halaman 167.

[60] Abu Yusuf, Ya'qub bin Ibrahim. *Kitab al-Kharaj*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1999, halaman 126.

[61] Habanka, Abdurrahman Hasan. *Al-Jizyah fi al-Islam*. Riyadh: Maktabah al-Rushd, 2005, halaman 89.

[62] Al-Syatibi, Ibrahim bin Musa. *Al-Muwafaqat fi Ushul al-Shari'ah*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 78.

[63] Imarah, Muhammad. *Al-'Adalah al-Ijtima'iyyah*. Kairo: Dar al-Shuruq, 2002, halaman 134.

[64] Ibnul Arabi, Muhammad bin Abdullah. *Ahkam al-Qur'an*. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 2003, jilid 2, halaman 189.