Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Jaka Tingkir │Pendekar sakti yang dihianati anak sendiri

By On Selasa, Desember 27, 2022


Daftar isi

 

Daftar isi 1

Pendahuluan. 1

A. Lahirnya Jaka Tingkir. 3

B. Mendapat julukan jaka tingkir. 6

C. Mengabdi pada Kesultanan Demak. 7

D. Berguru pada Ki Buyut Banyubiru. 8

E. Kembali ke Kesultanan Demak. 10

F. Jaka Tingkir menjadi sultan pajang. 12

G. Dihianati anak angkatnya sendiri 13

  

Pendahuluan

Pada tulisan yang lalu saya sudah pernah bercerita tentang ratu kalinyamat dalam 3 judul tulisan yakni yang pertama berjudul Ratu kalinyamat, Ratu Jawa yang sangat ditakuti portugis, yang kedua berjudul Dendam Ratu Kalinyamat dan naiknya Jaka Tingkir menjadi Raja, dan yang ketiga berjudul Faktor kegagalan ratu kalinyamat melawan portugis. salah satu tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut ada yang bernama jaka tingkir, maka tulisan kali ini akan menceritakan secara singkat asal usul jaka tingkir sampai dirinya menjadi raja pajang berdasarkan cerita rakyat. Oke langsung saja kita simak ceritanya.

Jaka Tingkir adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang berkuasa antara tahun 1568 – 1582 M. ketika Menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijaya, beliau berhasil menjadikan daerah kadipaten Pajang mencapai kejayaannya, dengan merubah setatusnya yang asalnya daerah bawahan kesultanan demak menjadi kerajaan pajang menggantikan kerajaan sebelumnya yakni kesultanan demak bintoro. Namun, sepeninggal Jaka Tingkir, Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan dan digantikan oleh kerajaan matarama islam, Berikut ini ringkasan cerita Jaka Tingkir.

A. Lahirnya Jaka Tingkir

Berdasarkan sumber cerita rakyat, asal usul mengenai kisah Jaka Tingkir yang melegenda bermula dari kisah seorang pria bernama Ki Ageng Tingkir, pada suatu malam beliau mendapat sebuah mimpi,dalam mimpi tersebut, beliau mendengar suara yang menyuruhnya untuk memetik sebuah kelapa muda disamping rumahnya dan meminum airnya sampai habis. Pagi harinya Ki Ageng Tingkir segera mendatangi pohon kelapa disamping rumahnya tersebut untuk melihat apakah ada kelapa muda seperti dalam mimpinya semalam. Betapa terkejutnya beliau karena mendapati pohon kelapa tersebut berbuah satu biji kelapa muda seperti dalam mimpinya, padahal seharusnya pohon kelapa tersebut belum waktunya berbuah. Segera beliau memetik kelapa muda tersebut dan mengupasnya lalu ditaruh diatas meja, rencananya beliau akan meminum air kelapa muda tersebut setelah mengembala kerbau.

Tidak berapa lama setelah Ki Ageng Tingkir pergi, datanglah salah seorang kerabat beliau yang bernama ki ageng pengging. Karena Ki Ageng Tingkir sudah pergi mengembala kerbau, maka yang ada dirumah Cuma istrinya saja yang bernama nyi ageng tingkir, nah ketika kerabatnya itu yakni Ki Ageng pengging datang kerumah secara  mendadak, kebetulan dirumah ki ageng tingkir ketika itu tidak ada apa-apa untuk disuguhkan, baik makanan ataupun minuman. Lalu nyi ageng tingkir yang kebingungan karena belum menyiapakan apa-apa untuk tamunya tersebut, spontan melihat kelapa muda yang tadi diletakan oleh suaminya diatas meja, tanpa berfikir panjang, nyi ageng tingkir langsung menyuguhkan kelapa muda tersebut kepada tamunya itu yang sekaligus masih kerabatnya juga yakni ki ageng pengging. ki ageng pengging pun yang tidak tau asal usul kelapa muda tersebut langsung meminumnya

Tidak berapa lama ki ageng tingkir pulang dari mengembala kerbau dan ketika mau meminum kelapa muda tadi, beliau heran kok kelapa muda miliknya tidak ada, lalu beliau bertanya kepada istrinya prihal kelapa muda tersebut, dan disitu juga masih ada ki ageng pengging yang sedang menunggunya dari tadi. Ki ageng pengging menimpali bahwa kelapa muda tersebut sudah diminum oleh dirinya, karena tadi kelapa muda tersebut disuguhkan oleh istrinya. Mendengar jawaban tersebut ki ageng tingkir terduduk lemas dan berpesan kapada ki ageng pengging bahwa ki ageng pengging harus berjanji suatu saat nanti kalau anaknya menjadi penguasa tanah jawa, maka anak ki ageng tingkir juga harus ikut mendampinginya. Lalu ki ageng tingkir bercerita bahwa dia bermimpi disuruh meminum air kelapa muda dari pohon disamping rumahnya, dan jikat ia meminumnya maka keturunanya akan menjadi raja jawa, akan tetapi takdir berkata lain, ternyata yang meminum air kelapa muda tersebut adalah ki ageng pengging. maka ia yakin bahwa keturunan ki ageng pengginglah yang suatu saat nanti akan menjadi penguasa  atau raja tanah jawa.

Beberapa bulan setelahnya, benar saja ternyata nyi ageng pengging istri ki ageng pengging hamil besar, pada suatu hari beliau ngidam ingin melihat wayang beber, lalu suaminya yakni ki ageng pengging membawa istrinya untuk menonton pertunjukan wayang beber, yang kebetulan dalangnya adalah kerabatnya sendiri yakni ki ageng tingkir. di tengah pertunjukan tiba-tiba Nyi Ageng Pengging mengalami kontraksi dan merasa akan segera melahirkan. Nyi Ageng Pengging pun melahirkan dengan dibantu oleh Nyi Ageng Tingkir. Bayi tersebut kemudian dinamai Mas Karebet. Karena lahirnya pas pertunjukan wayang beber yang berbunyi brebet-brebet ketika terkena angin pas dimainkan.

B. Mendapat julukan jaka tingkir

Sepuluh tahun kemudian, ayah jaka tingkir yakni Ki Ageng Pengging terbunuh oleh senopati kesultanan demak yakni Sunan Kudus. Alasan eksekusi tersebut karena beliau dan gurunya yakni syaikh siti jenar mendapat tuduhan memberontak terhadap Kerajaan Demak. Setelah kematian ayahnya, Mas karebet kemudian diasuh oleh ibunya yang kini menjadi janda. Tak berlangsung lama ibunya yakni Nyi Ageng Pengging juga ikut meninggal karena sakit-sakitan setelah kematian suaminya. lalu Mas Karebet diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir yang saat itu statusnya juga sudah menjadi janda. Mas karebet kemudian tumbuh sebagai pemuda cerdas dan tangguh. Nyi ageng tingkir yang melihat potensi anak angkatnya itu, kemudian menyuruhnya berguru kepada Ki Ageng Sela. Ditangan gurunya ini, Mas Karebet belajar banyak hal mulai dari pemerintahan hingga masalah bela diri dan kanuragan. Ki Ageng Sela kemudian menjulukinya dengan nama Jaka Tingkir, yang diambil dari nama daerah asalnya. Guru Jaka Tingkir yang lain adalah Sunan Kalijaga

C. Mengabdi pada Kesultanan Demak

Setelah jaka tingkir berguru kepada ki ageng sela cukup lama dan sudah menyerap hampir sebagian besar ilmu gurunya tersebut, lalu gurunya memerintahkan jaka tingkir untuk mengabdi kepada kesultanan demak, jaka tingkir kemudian meminta restu kepada ibu angkatnya yang sudah mengasuhnya dari kecil. Sesudah mendapat restu guru dan ibunya, lalu jaka tingkir berangkat ke demak, pertama-tama dia menemui kerabatnya di demak yang bernama ki ganjur, atas lobi-lobi ki ganjur pula jaka tngkir akhirnya bisa diterima menjadi perajurit di kesultanan demak bintoro dimasa sultan trenggono. Berkat banyak keahlian yang dikuasainya, karir jaka tingkir terus melesat dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat dirinya diangkat menjadi panglima prajurit tamtama. Salah satu tugasnya ketika itu adalah menyeleksi calon perajurit baru.

Suatu hari, datanglah seorang calon prajurit baru yang bernama Dadung Awuk. Akan tetapi, si dadung awuk ini orangnya congkak dan sombong, dia tidak mau diseleksi karena merasa dirinya hebat dan sakti. Dia justru menantang Jaka Tingkir secara terng-terangan untuk memamerkan kehebatanya. Awalnya jaka tinggkir tidak menggubrisnya, akan tetapi si dadung awuk ini terus menerus memprofokasinya, karena terus menerus di profokasi akhirnya kesabaran jaka tingkirpun habis dan terjadilah pertarungan diantara mereka berdua yang mana dalam pertarungan tersebut, jaka tingkir tidak sengaja membunuh dadung awuk. Dan tak butuh waktu lama berita ini pun sampai ditelinga sultan trenggono dan membuat sang sultan marah atas kecerobohan jaka tingkir ini, akhirnya sultan trenggono memecat jaka tingkir.

D. Berguru pada Ki Buyut Banyubiru

Setelah jaka tingkir dipecat oleh Sultan Trenggana, dia sangat frustasi dan galau, kemudian dia memutuskan untuk mengembara kehutan di Pegunungan Kendeng dan disana dia bertemu dengan seorang kakek yang bernama Ki Ageng Ngerang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan ayahnya. setelah Jaka Tingkir menceritakan kisahnya, dirinya lalu langsung dibawa oleh Ki Ageng Ngerang untuk berguru kepada salah seorang kerabatnya yang bernama Ki Buyut Banyubiru. Tak terasa hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan jaka tingkir berguru pada Ki Buyut Banyubiru. Kini jaka tingkirpun semakin berkembang, baik kesaktian maupun sepiritualnya. Dan jiwanyapun jauh lebih matang dari sebelumnya. Setelah dirasa cukup, Ki Buyut Banyubiru menyuruh jaka tingkir kembali ke kerajaan demak untuk kembali mengabdi kepada kesultanan tersebut. Awalnya jaka tingkir agak keberatan karena dirinya sudah dipecat dan diusir oleh sang sultan trenggono sendiri, akan tetapi gurunya lebih tau yang terbaik bagi muridnya ini dan sudah mempersiapkan segalanya.

. Sebelum jaka tingir berangkat kedemak, gurunya yakni ki Buyut Banyubiru memberikan Jaka Tingkir sebuah bekal berupa segenggam tanah Siti Sangar, kemudian gurunya juga berpesan agar setelah dirinya sampai diistana prawoto di demak, jaka tingkir disuruh untuk memasukan tanah tadi ke dalam mulut Kerbau Danu yang ada di Istana Prawoto demak. Khasiatnya adalah, ketika mulut kerbau danu tersebut kemasukan tanah tadi, maka akan langsung mengamuk, dan hanya Jaka Tingkirlah yang bisa menghentikannya.

E. Kembali ke Kesultanan Demak

Sesampainya di istana prawoto Demak, Jaka Tingkirpun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh gurunya itu. Kerbau Danu pun langsung mengamuk dan menghancurkan Istana Prawoto demak setelah mulutnya dimasukin tanah milik jaka tingkir yang sengaja dibawanya itu. Semua prajurit, bahkan Sultan Trenggana sekalipun, tidak bisa menghentikan amukan kerbau tersebut yang bagaikan badai tornado. Segala macam senjata tak mempan terhadap kerbau ini. Kerbau Danu pun terus mengamuk hingga beberapa hari lamanya. Di tengah amukan kerbau tersebut Sultan Trenggana tiba-tiba melihat Jaka Tingkir, orang yang dipecatnya beberapa bulan yang lalu berjalan dengan sangat tenang di dekat kerbau tersebut seolah sama sekali tidak takut kepada kerbau itu. Sultan Trenggana sepontan memanggilnya dan langsung memintanya agar menghentikan amukan Kerbau Danu tersebut. Sultan trenggono juga berjanji Apabila jaka tingkir berhasil menghentikan amukan kerbau tersebut, dirinya dijanjikan bahwa jabatanya sebagai panglima prajurit tamtama di Kesultanan Demak akan dikembalikan lagi kepadanya.

Jaka tingkirpun langsung menyetujuinya. Dengan dibantu oleh ketiga temannya, yaitu Mas Wanca, Ki Wuragil, dan Ki Wila, Jaka Tingkir langsung mengepung kerbau Danu yang sedang mengamuk tersebut dan melawannya. Tak butuh waktu lama, Jaka Tingkir berhasil memukul leher kerbau tersebut dan tanah Siti Sangar keluar dari mulutnya. Kerbau Danupun seketika kembali tenang dan Jaka Tingkirpun kembali mendapatkan jabatannya di Kesultanan Demak.  Setelah jaka tingkir mendapatkan kembali jabatanya, dia bekerja dengan sangat professional dan berhasil menjadi orang terdekat sang sultan bahkan dia dinikahkan dengan salah satu putri sultan yang bernama ratu cempaka emas dan diberi tugas untuk mengurus wilayah pajang, kemudian jaka tingkir diangkat menjadi adipati dipajang.

F. Jaka Tingkir menjadi sultan pajang

Ketika terjadi perebutan tahta di Kerajaan Demak sepeninggal sultan trenggono, Jaka Tingkir dengan bantuan rekannya yaitu ke agrng pamanahan, ki penjawi dan ki juru martini berhasil memenangkan peperangan. Seperti yang sudah pernah saya bahas pada tulisan saya yang lalu yang berjudul Dendam Ratu Kalinyamat dan naiknya Jaka Tingkir menjadi Raja. singkat cerita Setelah dirinya berhasil menumpas lawan politiknya yang bernama arya penangsang, dia diangkat sebagai pemimpin kerajaan demak sesuai perjanjianya dengan ratu kalinyamat, akan tetapi dia memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Pajang, yang menandai berdirinya Kerajaan Pajang (1568-1582 M). Sebagai pengganti kerajaan demak. Jaka Tingkir menjadi raja pajang pertama dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Pajang berhasil mencapai kejayaannya dengan wilayah kekuasaan mencapai Madiun, Blora, dan Kediri.

G. Dihianati anak angkatnya sendiri

Pada 1582 M, terjadi perang antara Kerajaan Pajang yang dipimpin olehnya melawan kadipaten Mataram yang dipimpin oleh anak angkatnya sendiri yang bernama suta wijaya yang pernah saya singgung pada tulisan saya yang lalu. suta wijaya yaitu anak angkatnya yang sangat disayanginya. Dahulu suta wijaya berhasil membunuh arya penangsang dengan pusaka tombak kyai plered milik jaka tingkir, setelah berhasil membunuh arya penangsang lalu jaka tingkir menghadiahinya tanah mataram, nah setelah mendapat hadiah tanah mataram dari bapak angkatnya ini, sutawijaya kemudian membangun kekuatan dan sekarang malah melawan bapak angkatnya sendiri yaitu jaka tingkir. Kapan kapan kita bahas sedikit masalah ini. Dalam pertempuran itu, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Kemudian kerajaan pajang ditaklukan oleh kerajaan mataram dan daerah pajang kembali menjadi daerah bawahan. Kalo dulu menjadi daerah bawahan demak, kali ini menjadi daerah bawahan mataram. Menjadi daerah bawahan anak angkatnya sendiri.


Faktor kegagalan Ratu Kalinyamat mengusir portugis

By On Sabtu, Desember 24, 2022



Daftar isi

Daftar isi 1

Pendahuluan. 1

Pertempuran pertama. 2

Pertempuran kedua. 5

Kesimpulan akhir 9

 

 

Pendahuluan

Pada tulisanyang ini saya sudah pernah bercerita tentang ratu kalinyamat mulai dari asal usulnya, keterlibatanya dalam perebutan kekuasaan di kesultanan islam demak binroro, lalu keberhasilanya membangus jepara sebagai kota niaga yang besar dan misi penyeranganya terhadap dominasi portugis dimalaka.

Lalu pada tulisan yang ini saya bercerita tentang balas dendamnya ratu kalinyamat terhadap arya penangsang dan naiknya jaka tingkir menjadi sultan pajang. Maka pada tulisan kali ini saya akan bercerita tentang penyebab kegagalanya menyerang portugis dimalaka. Untuk mempersingkat waktu langsung saja kita mulai ceritanya.

 

Pertempuran pertama

Setelah kematian Arya Penangsang pada tahun 1549 M, Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati di Jepara. wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya sesuai kesepakatanya dengan ratu kalinyamat dahulu. Meskipun demikian, Sultan Hadiwijaya tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormatinya.

Ratu Kalinyamat bersikap anti atau tidak menyukai terhadap bangsa Portugis sebagaimana bupati Jepara sebelumnya yakni Pati Unus yang telah gugur. Pada tahun 1550 M beliau mengirimkan 4.000 tentara Jepara dengan membawa 40 buah kapal perangnya. Hal ini beliau lakukan untuk memenuhi permintaan sultan Johor yang meminta bantuan kepada ratu kalinyamat agar membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa tersebut.

Pasukan ratu kalinyamat yang datang dari jepara tersebut kemudian bergabung dengan pasukan persekutuan melayu hingga jumlahnya mencapai 200 kapal perang dari yang tadinya hanya 40 buah kapal perang saja. Pasukan gabungan tersebut menyerang portugis dari arah utara. Hal ini membuat portugis kalang kabut dan akhirnya pasukan gabungan tersebut berhasil merebut sebagian malaka. Akan tetapi tidak berapa lama portugis berhasil membalas serangan besar tersebut hingga berhasil memukul mundur pasukan persekutuan melayu. Sedangkan pasukan jepara masih tetap bertahan, sampai akhirnya pemimpin pasukan jepara ini gugur dimedan perang maka mau tidak mau pasukan jepara ditarik mundur. Sesudah itu pertempuran besar terus terjadi disepanjang bibir pantai dan laut malaka. Dalam pertempuran yang panjang dan melelahkan ini menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak. Korban jiwa dari pihak jepara mencapai 2.000 prajurit.

Ditengah pertempuran yang dahsyat ini tiba-tiba terjadi badai besar yang menerjang bibir pantai malaka hingga menyeret dua buah kapal perang milik jepara, sepontan hal ini dimanfaatkan oleh pihak portugis yang langsung membantai seluruh prajurit yang ada di dua kapal yang terdampar tadi. Melihat arah kemenangan yang sepertinya masih jauh maka paukan jepara kemudian ditarik pulang lagi dengan membawa kegagalan. Pasukan jepara yang berhasil pulang kejawa, jumlahnya tinggal setengah dari jumlah awal dikirimkan bahkan kurang dari itu.

 

Pertempuran kedua

Pertempuran kedua ratu kalinyamat dengan portugis dimulai Pada tahun 1564 M, ketika itu Sultan Alauddin Al-Qahhar dari Kesultanan Aceh, awalnya meminta bantuan Demak bintoro untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak bintoro dipimpin oleh Arya Pangiri yakni, putra Sunan Prawata. Jadi setelah sunan prawoto meninggal dunia dibunuh arya penangsang, anaknya yang bernama arya pangiri dirawat oleh ratu kalinyamat dan suaminya lalu dikembalikan ke demak menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Akan tetapi kedudukan arya pangiri ketika itu sebatas adipati bukan sultan lagi, sebab demak telah menjadi daerah bawahan kesultanan pajang yang dipimpin sultan hadiwijaya atau jaka tingkir.

Saat Utusan Aceh datang kedemak, utusan tersebut malah dibunuh oleh adipati arya pangiri karena menaruh curiga terhadap utusan tersebut. Arya pangiri ketika itu memang terkenal mudah menaruh curiga terhadap siapapun dan tidak mempercayai siapapun, mungkin karena masa lalunya yang dulu suram ketika melihat orang tuanya sendiri dibunuh dengan kejam oleh arya penangsang yang masih terhitung pamanya sendiri.

Setelah arya pangiri penguasa demak tidak mau membantu aceh, bahkan membunuh utusanya, Akhirnya kesultanan Aceh tetap menyerang Malaka pada tahun 1567 M meskipun tanpa bantuan demak. Serangan kesultanan Aceh tersebut dapat dihalao portugis dan akhirnya menemui jalan buntu. Enam tahun kemudian tepatnya Pada tahun 1573 M, sultan Aceh meminta bantuan lagi untuk menyerang portugis, kali ini yang dimintai bantuan adalah penguasa jepara yakni Ratu Kalinyamat. Tanpa berfikir panjang, Ratu kalinyamat segera mengirimkan 300 kapal yang berisi sekitar 15.000 prajurit Jepara.

Pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Demang sbagai Laksamananya. Pasukan ratu kalinyamat tersebut baru tiba di Malaka pada bulan Oktober tahun 1574 M, dan naasnya saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis. Jadi disni ada mis komunikasi antara pasukan aceh dan pasukan jepara yang dikirim oleh ratu kalnyamat, maklum zaman dahulu belum ada telephone apalagi medsos. jadi wajar terjadi mis komunikasi seperti ini dan inilah salah satu alasan atau penyebab kegagalan serangan ratu kalinyamat yang kedua yaitu kekurang kompakan dan mis komunikasi.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itupun langsung memberondong pasukan portugis dengan meriam dan panah-panah yang melesat dengan ganasnya dari Selat Malaka. Keesokan hariya, pasukan jepara tersebut mendarat dan membangun pertahanan. Akan tetapi, pertahanan tersbut akhirnya dapat ditembus juga oleh pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara pun mulai terdesak, akan tetapi mreka tetap menolak perundingan damai yang ditawarkan pihak portugis karena terlalu isi perundingan tersebut terlalu menguntungkan pihak Portugis. Sementara itu, sebanyak enam buah kapal perbekalan/logistik yang dikirim oleh Ratu Kalinyamat kemalaka brhasil direbut Portugis.

Akhirnya Pihak Jepara kekurangan bahan pangan dan kondisi mereka semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang berhasil pulang ke Jepara.

Kendati gagal dua kali dalam menyerang portugis dimalaka, ratu kalinyamat tetap dikenang sebagai "Rainha de Jepara senhora Poderosa e ride", yang artinya Ratu Jepara seorang perempuan kaya dan mempunyai kekuasaan yang besar. Jasa-jasa beliau sangat besar bagi bangsa Indonesia bahkan belakangan namanya disebut oleh ibu megawati soekarno putri agar diusulkan menjadi pahlawan nasional bersama tokoh wanita lain dari aceh yakni laksamana malahayati yang lain waktu kita bahas.

Kesimpulan akhir

Pelajaran yang dapat kita ambil dari sini adalah jangan pernah menyerah dan persiapkan segala sesuatu semaksimal mungkin. Walaupun kita dijalan yang benar dan musuh kita dijalan yang salah, akan tetapi jika kita tidak mempersiapkan dan merencanakan sesuatunya dengan matang dan teliti, sedangkan musuh kita mempersiapakan dan merencanakan sesuatunya dengan matang dan teliti, pada akhirnya kita juga yang akan dikalahkan. Dalam peperangan hukum alam lah yang berlaku bukan hukum keimanan.




 

 

Dendam Ratu Kalinyamat dan naiknya Jaka Tingkir menjadi Raja

By On Jumat, Desember 16, 2022


Daftar isi

 

PENDAHULUAN.. 1

BAB 1│ DELIK ADUAN.. 2

BAB 2 │ PELARIAN.. 3

BAB 3 │BERTAPA TELANJANG DAN MENGIKRARKAN SUMPAH.. 4

BAB 4│PERUNDINGAN DAN KESEPAKATAN.. 7

BAB 5│SAYEMBARA.. 11

BAB 6│SENJATA MAKAN TUAN.. 13

BAB 7│AKHIR PERTAPAAN.. 17

 

 

PENDAHULUAN

Pada tulisan yang lalu yang ini saya sudah pernah bercerita tentang ratu kalinyamat mulai dari asal usulnya, keterlibatannya dalam perebutan tahta kesultanan demak, perseteruanya dengan arya penangsang, sampai akhirnya beliau menjadi penguasa tunggal dijepara dan berperang melawan portugis di malaka. maka pada tulisan kali ini saya akan bercerita tentang balas dendamnya kepada arya penangsang dan naiknya jaka tingkir menjadi sultan pajang. Akan tetapi sekedar mengingatkan bahwa cerita kali ini bersumber dari cerita rakyat dan buku-buku babad seperti babad tanah jawa, babad demak dan babad Cirebon yang kebenaranya sangat diragukan alias tidak valid atau tidak bisa dipertanggung jawabkan. Buku babad Kalau dalam ilmu hadits setara dengan hadits dha’if atau hadits lemah. Agar tidak terlalu lama langsung saja simak jalan ceritanya.


BAB 1│ DELIK ADUAN

Setelah terbunhnya sunan prawoto raja demak keempat dan juga merupakan kakak dari ratu kalinyamat, ratu kalinyamat bersama suaminya pergi menemui sunan kudus untuk meminta penjelasan prihal penyebab kematian kakaknya tersebut. Sebab Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok menancap pada mayat kakaknya itu. Keris kyai betook adalah keris milik arya penangsang yang merupakan murid dari sunan kudus. Nah dari bukti eris tersebut kecurigaan langsung mengarah kepada arya penangsang. untuk memastikan kecurigaan tersebut, makanya ratu kalinyamat dan suaminya mendatangi sunan kudus untuk memastikan kebenaranya. Akan tetapi jawaban dari sunan kudus tidak bisa diterima oleh mereka berdua. Jawaban dari sunan kudus seperti ini : “Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh ayah Arya Penangsang yang bernama Pangeran Surowiyoto atau raden kikin alias Pangeran Sekar Seda ing Lepen. jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan yang setimpal.”


BAB 2 │ PELARIAN  

Setelah Ratu Kalinyamat dan suaminya mendengar jawaban sunan kudus tersebut, mereka berdua sangat kecewa, mereka berdua kemudian memutuskan untuk langsung pulang ke Jepara. Akan tetapi ditengah perjalanan, mereka berdua dikejar oleh anak buah Arya Penangsang dan terjadilah pertempuran. dalam pertempuran tersebut Pangeran Kalinyamat meninggal dunia seperti yang sudah pernah saya ceritakan disini. Akan tetapi untungnya ratu kalinyamat berhasil selamat. Konon ia sempat merambat atau ngesot ditanah dengan sisa-sisa tenaganya, sehingga kemudian hari oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Pangeran Kalinyamat disebut desa Prambatan.

Selanjutnya, dengan membawa jenazah suaminya, Ratu Kalinyamat meneruskan pelarian hingga sampai disebuah sungai, dan darah yang berasal dari jenazah suaminya menetes kesungai tersebut dan menjadikan air sungai tersebut berwarna ungu, dan kemudian hari daerah tersebut dikenal oleh penduduk sekitar dengan nama Kaliwungu. Kemudian pelarian ratu kalinyamat dilanjutkan kearah barat, hingga melewati daerah Pringtulis dalam kondisi lelah dan berjalan sempoyongan (moyang-moyong) kemudian hari oleh penduduk sekitar daerah tersebut dikenal dengan nama desa Mayong. Kemudia melewati daerah Purwogondo, kemudian melewati daerah Pecangaan dan sampai dimantingan.


BAB 3 │BERTAPA TELANJANG DAN MENGIKRARKAN SUMPAH

Setelah Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Beliau  kemudian melakukan ritual tapa wuda' atau bertapa telanjang di Gunung Danaraja. Dalam pertapaan tersebut, beliau menggunakan rambutnya yang panjang terurai nan lebat sebagai penutup auratnya. beliau bahkan bersumpah tidak akan menghentikan laku bertapanya, apabila belum bisa keramas (mencuci rambut) dengan darah Arya Penangsang dan menggunakan jambul (rambut/mahkota) Arya Penangsang sebagai keset kakinya. Ini mengingatkan kita kepada kisah dalam mahabarata dimana drupadi yang ditelanjangi oleh dursasana bersumpah akan keramas dengan darah dursasana. Kembali kecerita tadi, sumpah ratu kalinyamat dalam bahasa jawa seperti ini : "Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung iso kramas getihe lan keset jambule Arya Penangsang!" Demikian sumpah Ratu Kalinyamat.

Ada berbagai macam penafsiran tentang laku 'tapa wuda' alias bertapa telanjang yang dijalani Ratu Kalinyamat tersebut. Sebagian sejarawan menafsirkan sebagaimana apa adanya yakni ratu kalinyamat benar-benar bertapa dengan bertelanjang  tanpa busana, sebab orang jawa dimasa lalu jika menginginkan sesuatu atau hajat tertentu, mereka biasanya memang suka melakukan  tirakat yang unik-unik seperti tapa ngeluwang yaitu bertapa dengan mengubur badan didalam tanah, tapa ngalong yaitu bertapa dengan menggantungkan badan dipohon dalam posisi badan terbalik seperti kelelawar, tapa kumkum yaitu bertapa dengan merendam badan disungai yang mengalir atau air terjun, tapa jejeg yaitu bertapa dengan duduk bersila sebagaimana yang kita kenal dll.

Sebagian sejarawan lain banyak yang meragukan jika Ratu Kalinyamat benar-benar bertapa telanjang tanpa busana. Apalagi beliau adalah putri keraton dan istri seorang ulama, sehingga sangat mustahil jika beliau membuka aurat. ada sebagian sejarawan yang menafsirkan bahwa 'tapa wuda' atau bertapa telanjang yang dijalani oleh ratu kalinyamat hanyalah bahasa kiasan yang dalam tradisi masyarakat jawa kuno dinamakan ungkapan sanepo. Jadi Sang Ratu tidak benar-benar telanjang bulat, tetapi maknanya adalah sang ratu meninggalkan singgasana keraton, menanggalkan semua atribut kerajaan, kemudian berpakaian layaknya rakyat biasa dan berbaur dengan masyarakat desa seperti rakyat jelata pada umumnya.

Dari dua penafsiran yang berseberangan tersebut, kita tidak tau entah apa yang sebenarnya terjadi di masa itu, karena tidak ada data yang pasti untuk mengonfirmasi kejadian tersebut. Tapi Yang jelas di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, terdapat Pertapaan Sonder, yang dipercaya sebagai petilasan Ratu Kalinyamat. Tempat tersebut berupa bebatuan yang tertata rapi dan disekelilingnya terdapat mata air. konon Di lokasi itulah Ratu Kalinyamat menjalani laku 'tapa wuda' tersebut. Bahkan Pada waktu-waktu tertentu, seperti malam Jum’at Wage, tempat itu ramai didatangi para peziarah yang kebanyakan perempuan. Mereka biasanya menyucikan diri dengan mandi dan berwudu di sungai kecil di sekitar petilasan tersebut, bahkan ada yang sampai bertapa selama 40 hari yang tujuannya untuk memohon berkah kepada Sang Kuasa, dan agar bisa menjadi cantik alami seperti Ratu Kalinyamat.

 

BAB 4│PERUNDINGAN DAN KESEPAKATAN

Kita flash backs sebentar. Pada tahun 1549 M Arya Penangsang membunuh sunan prawoto yang merupakan raja demak keempat sekaligus sepupunya sendiri, Arya penagsang membunuh sepupunya dengan menyuruh anak buahnya yang bernama rangkud yang dibekali sebuah keris bernama Keris kyai betook. Setelah sunan prawoto terbunuh, kemudian dia menjadi raja demak yang kelima dan berkedudukan dijipang. Motif pembunuhan ini sudah diceritakan pada episode yang lalu yaitu karena untuk membalas dendam kematian ayahnya. Sebab dahulu sunan prawoto membunuh ayahnya arya penangsang yang bernama raden kikin yang berjuluk Pangeran Sekar Seda ing Lepen artinya "Bunga yang gugur di sungai". karena tempat pembunuhan tersebut dipinggir sungai. Motif pembunuhan tersebut adalah agar ayah sunan prawoto yaitu pangeran trenggono menjadi raja demak menggantikan raden fatah. Sebab raden kikin maupun pangeran trenggono adalah kakak adik.

Jadi ceritanya setelah sultan fatah raja demak pertama meninggal dunia, yang seharusnya menggantikanya adalah pati unus, akan tetapi beliau gugur dimalaka ketika berperang melawan portugis, kemudian seharusnya yang menggantikan pati unus adalah adiknya yakni raden kikin, namun dia dibunuh sunan prawoto agar tahta jatuh ketangan ayahnya yakni pangeran trenggono sekaligus adik raden kikin sendiri. Nah karena kejadian dimasa lalu tersebutlah yang memicu dendam arya penangsang kepada sunan prawoto karena seharusnya ayahnya lah yang menjadi raja demak setelah raden fatah meninggal dunia. Setelah arya penangsah berhasil membunuh sunan prawoto dan pangeran kalinyamat, kemudian dia mengangkat dirinya sebagai sultan demak yang kelima dan berkedudukan dijipang. Akan tetapi dirinya belum tenang karena masih ada orang yang sewaktu-waktu bisa menggulingkan pemerintahannya. Orang tersebut adalah jaka tingkir atau adipati hadiwijaya. kenapa dirinya hawatir kepada jaka tingkir atau adipati hadiwijaya ? sebab hadiwijaya adalah menantu sultan trenggono. hadiwijaya menikahi puri sultan trenggono yang bernama ratu cempaka emas.

Maka sasaran arya penangsang selanjutnya adalah adipati hadiwijaya alias jaka tingkir. Arya penangsang mengirim dua pembunuh bayaran yang bernama kertajaya dan jagasatru untuk menghabisi jaka tingkir, namun sayangnya berkat kesaktian yang dimiliki oleh jaka tingkir, dua pembunuh bayaran tersebut berhasil dilumpuhkan dengan mudah dan disuruh kembali kemajikannya yakni arya penangsang. Sejak saat itu hubungan antara adipati hadiwijaya dan arya penangsang semakin memburuk. Untuk meredakan suasana maka sunan kali jaga selaku guru jaka tingkir dan sunan kudus selaku guru arya penangsang mencoba mendamaikan keduanya dengan mengundang jaka tingkir dan rombonganya kejipang untuk mediasi perdamaian. Nah disini ada cerita aneh yang lebih tepatnya adalah mitos bahwa konon dalam pertemuan tersebut sunan kudus menyipkan sebuh kursi yang sudah di beri rajah kala cakra yang apabila diduduki oleh jaka tingkir maka kesaktian jaka tingkir akan musnah, namun sayang sekali yang menduduki kursi tersebut adalah arya penangsang sendiri. jadi yang musnah adalah kesaktian arya penagsang. Namun ini adalah cerita rakyat yang sangat aneh dan 99 % sangat diragukan kebenaranya. Singkat cerita ketika suasana sudah menegang dan memanas dalam pertemuan tersebut, maka baik arya penangsang maupun jaka tingkir, keduanya sudah menghunuskan keris mereka masing masing. Arya penangsang sudah menghunus keris andalanya yakni keris kyai setan kober, dan hadiwijaya atau jaka tingkir sudah menghunus keris kyai crupuk. Melihat kejadian itu sunan kudus datang dan langsung melerai mereka berdua, merekapun berdamai untuk sementara waktu.

Kemudian rombongan jaka tingkirpun kembali kepajang sambil menyusun rencana. Ditengah perjalanan anak buahnya memberitahu bahwa retna kencana atau ratu kelinyamat sedang bertapa digunung dana raja menunggu kedatangannya. Anak buah tersebut juga menceritakan tentang sumpah ratu kalinyamat bahwa ratu kalinyamat akan terus bertapa dan baru akan mengakhiri pertapaanya jika sudah keramas dengan darah arya penangsang dan berkeset dengan kepala arya penangsang. Merasa mendapat sekutu,  Kemudian rombongan jaka tinggkir pun menemui ratu kalinyamat yang sedang bertapa digunung dana raja. Sesudah keduanya berdiskusi kemudian terjadilah kesepakantan yang isinya bahwa jika jaka tingkir berhasil membunuh arya penangsang maka tahta kerajaan demak akan diserahkan kepadanya, sedangkan ratu kalinyamat akan kembali ke jepara dan tunduk pada kekuasaan jaka tingkir atau hadiwijaya.

 

BAB 5│SAYEMBARA

Sesudah terjadi kesepakatan antara jaka tingkir dan ratu kalinyamat, maka segera dia menyusun rencana untuk menggulingkan arya penangsang yang sekarang setatusnya sebagai raja demak kelima. Jaka tingkir karena tidak mau berkonfrontasi langsung dengan arya penangsang karena sungkan sebab masih ada hubungan kerabat dan juga sengkan kepada gurunya yakni sunan kalijaga dan sunan kudus, maka kemudian dia mengumumkan sayembara bahwa barang siapa yang bisa memenggal kepala arya penagsang, maka akan mendapat hadiah berupa tanah pati dan alas mentaok (bumi mataram). Setelah pengumuman tersebut datanglah orang-orang terdekatnya yakni ki ageng pamanahan, ki penjewi,  ki juru martanai dan anaknya ki ageng pamanahan yang bernama danang sutawijaya. Keempat orang ini kemudian menghadap jaka tingkir dan mengatur siasat untuk membunuh arya penangsang. Jaka tingkir kemudian membekali danang sutawijaya anak ki ageng pamanahan yang juga sudah diangkat sebagai anak angkatnya sendiri dengan sebuah pusaka yang bernama tombak kyai plered.

 

BAB 6│SENJATA MAKAN TUAN

Dalam melaksanakan misi tersebut, Ki Juru Mertani menyeberangi sungai bengawan sore, kemudian dia memotong telinga seorang pekatik /perawat kudanya arya penangsang. Kemudian, dia  menulis surat yang dikalungkan dileher pekatik tersebut, yang berisi tantangan dari adipati hadiwijaya/jaka tingkir kepada Arya Penangsang untuk berduel. Arya Penangsang yang sedang  menyelesaikan ritual puasanya selama 40 hari, untuk memulihkan kesaktianya yang lenyap akibat menduduki kursi yang ada rajah kala cakra milik sunan kudus pun akhirnya terprovokasi dengan surat tantangan tersebut. Ia pun bergegas menunggangi kudanya yang bernama Gagak Rimang, ke arah sungai dengan kondisi tubuh yang belum fit diikuti oleh para prajuritnya. Arya penangsang dengan gagah berani menerima tantangan tersebut karena dirinya punya ilmu ajian tameng waja yang menjadikan dirinya kebal terhadap semua jenis senjata. Senjata setajam apapun dan sesakti apapun tidak akan bisa melukai tubuhnya. Akan tetapi dirinya punya dua kelemahan yang dimanfaatkan oleh musuh musuhnya yaitu sifat ceroboh dan temperamental yang dimilikinya, sifat ceroboh ini Nampak ketika dahulu sewaktu ingin menjebak jaka tingkir agar mau duduk dikursi yang sudah diberi rajah kala cakra oleh sunan kudus malah dirinya sendiri yang duduk dikursi tersebut hingga kesaktianyya hilang dan harus berpuasa 40 hari untuk mengembalikan kesaktianya tersebut. Dan kali ini para penantangnya juga sudah mempersipkan jebakan yang kalau berhasil akan mengakhiri hidup arya penangsang walau dirinya punya ilmu ajian tameng waja tersebut.

Oke kita lanjut keceritanya, setelah arya penangsang sampai dipinggir sungai bengawan sore, kemudian danang sutawijaya yang membawa tombok kyai plered milik jaka tingkir kemudian memprofokasi arya penangsang dari seberang sungai agar arya penangsang menyebrangi sungai tersebut dan berduel denganya satu lawan satu. Cerdiknya danang sutawijaya menunggangi kuda betina untuk menarik perhatian kuda jantan milik arya penangsang yang bernama gagak rimang. Ide ini adalah pemikiran ki juru mertani. Tidak lama kuda jantan milik arya penangsang tiba tiba menyebrangi sungai bengawan sore untuk mengejar kuda betina milik danang sutawijaya. Ini kasusnya mirip seperti kisah fir’aun dulu yang sebenarnya takut melihat lautan terbelah, fir’aun dulu sempat berfikir untuk kembali dan melepaskan bani israil, akan tetapi disaat saat terakhir malaikat jibril turun dengan rupa manusia yang menaiki kuda betina berwarna putih yang langsung menyeberangi laut yang terbelah, maka otomatis kuda jantan fir’aun yang dimabuk birahi terhadap kuda betina milik malaikat jibril langsung mengikutinya menyebrangi laut merah. dan karena fir’aun nekat memasuki laut merah yang terbelah tersebut, maka otomatis bala tentaranya yang ada dibelakangnya juga mengikuti sang fir’aun dan tenggelam bersama sama. Nah kejadian tersebut juga terulang kembali kali ini,

Karena kuda milik arya penangsang yang tiba-tiba hilang kendali dan langsung menyebrangi sungai, maka arya penangsang sibuk mengendalikan kudanya dan melihat kejadian tersebut danang sutawijaya tersenyum senang sambil mencari kesempatan untuk menombak perut arya penangsang. Setelah menunggu beberapa saat, maka dengan secepat kilat danang sutawijaya menghampiri arya penangsang dan langsung menusukan pusaka sakti milik jaka tingkir yaitu tombak kyai plered tepat diperutnya hingga konon usus arya penangsang terburai keluar. Loh kok bisa hal ini terjadi, katanya arya penangsang sakti kebal senjata apapun karena punya ilmu ajian tameng waja. Mari kita flesbek kebeberapa tahun sebelumnya.

Saat berkauasa sebagai adipati, Arya Penangsang membuat saluran air yang mengelilingi wilayah Jipang Panolan dan dihubungkan dengan sungai Bengawan Solo yang airnya mengalami pasang naik, maka air di saluran yang mengelilingi Jipang Panolan tersebut pun juga mengalami pasang naik. Oleh karena itulah, saluran air tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan sungai Bengawan Sore. Konon, Sunan Kudus memberi mantra ke dalam saluran air ini supaya apabila jika ada musuh yang menyebrangi Bengawan Sore, maka kesaktiannya akan menjadi sirna atau musnah. Nah dengan demikian, maka pagar pengaman yang dibuat oleh Sunan Kudus dibobol sendiri oleh Arya Penangsang karena dirinyalah yang menyeberangi sungai bengawan sore, maka otomatis keaktianya menjadi sirna dan tidak kebal senjata lagi makanya dengan mudah danang sutawijaya menombak perutnya hingga ususnya terburai keluar.

Tapi karena arya penangsang pendekar sejati dia masih tidak menyerah, dia mengikatkan usunya yang terburai keluar kegagang keris yang diselipkan dipinggangnya dan lanjut bertarung dengan danang sutawijaya hingga berhasil mendesak dan melumpuhkan danang sutawijaya, sampai akhirnya ketika akan menghabisi danang sutawijaya, arya penangsang mencabut keris andalannya yakni keris kyai setan kober. Saat mengeluarkan keris andalannya tersebut, usunya yang tadi dililitkan pada gagang keris malah terpotong hingga membuatnya meninggal seketika.

 

BAB 7│AKHIR PERTAPAAN

Setelah arya penangsang meninggal, adiknya yakni ki mataram dan istrinya sertta beberapa kerabat pergi mengungsi kepalembang. Kemudian kepala arya penangsang diserahkan kepada adipati hadiwijaya atau jaka tingkir, lalu oleh jaka tingkir diserahkan kepada ratu kalinyamat dengan semangkuk darah milik arya penangsang. Sesudah berkeset kepala Arya Penangsang, dan mencuci rambutnya dengan darah milik arya penangsang, Ratu Kalinyamat mengakhiri tapa wuda asinjang rikma-nya itu. Dia kemudian menjadi Bupati Jepara di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang.  Kendati demikian, Sultan Hadiwijaya tetap menghormati Ratu Kalinyamat sebagai sesepuh yang pantas diluhurkan. kemudian hari ratu kalinyamat membangun jepara sampai menjadi sangat maju dizamanya hingga berani menyerang portugis dua kali seperti tulisan yang ini.